Rabu, 22 Mei 2019

Pengaruh Tilawah terhadap kesehatan tubuh

Mau Sehat ? Baca terus Al Quran, Sel Kanker pun Bunuh Diri
Pengaruh Tilawah terhadap kesehatan tubuh*

Masya Allah,

Bukti-bukti ilmiah Al Qur'an sudah nampak di akhir zaman ini, kemukzijatan Al Qur'an sudah di ketahui dunia saat ini, dan membuat mereka para saintific terpesona atas keilmiahan dan kemukjizatan Al Qur'an tersebut.

Prof. Dr. dr Suzane moore PhD telah merilis dalam journalnya, ia berkata : ini sebuah kitab yg menakjub kan karena terbukti kemukjizatannya, ia telah memperlihat kan bagaimana Al Qur'an merupakan sebuah obat penyakit manusia.

Suara yang keluar dari tilawah seseorang akan melayang ke udara dan kemudian masuk melewati telinga dan seterusnya di serap oleh tubuh, kemudian ia masuk ke sel-sel yang ada dalam tubuh kita. Suara yang terdengar dgn irama dan frekuensi tertntu mengandung informasi spesifik sehingga dapat memberi rangsangan kepada sel-sel dalam tubuh kita.

Al Qur'an yang tersusun secara sistematik dengan irama yang indah karena bacaan yang tartil dan pengulang an kata-katanya sungguh menakjub kan karena ia membuat sel-sel dalam tubuh kita bisa melawan penyakit-penyakit yang berbahaya, dengan bahasa yang menyentuh, ternyata mengandung informasi spesifik pada setiap ayat-ayatnya. Dengan informasi yang spesifik ini bisa membuat sel-sel yang sakit menjadi sembuh.

Hasil penelitian terkini seperti yang diungkapkan Prof. Dr. dr. Abraham nicole PhD, bahwa sel-sel darah merah yang telah dibacakan ayat-ayat Al Qur'an dengan bacaan tartil artinya bacaan yang indah dengan memakai kaidah Tahsin Tajwid, ia memperlihatkan respon tertentu.

Sehingga sel-sel kanker pun bunuh diri. Bahkan virus auto imunpun lenyap. Terbukti dari hasil penelitian Prof. Dr. dr Victor Iron PhD USA

Sehingga sel-sel kanker pun bunuh diri. Bahkan virus auto imunpun lenyap. Terbukti dari hasil penelitian Prof. Dr. dr Victor Iron PhD USA

Penelitian lainnya membuktikan bahwa sel-sel kanker ganas menjadi normal kembali dengan bacaan ayat-ayat Al Qur'an.

Di samping itu penelitian memperlihat kan bahwa media yang paling baik untuk informasi Al Qur'an adalah air putih, madu, minyak zaitun, air zam-zam dan makanan alami yang sangat banyak ragamnya di dunia ini, ia bisa menjadi media informasi gelombang energi dari sebuah bacaan Al Qur'an.

*Inilah Manfaat Membaca Al-Qur'an bagi Kesehatan*

Menurut sebuah survey yang di lakukan oleh dr. Al-Qodhi di Klinik Besar Florida, Amerika Serikat, berhasil membuktikan hanya dengan mendengar kan ayat suci Al-Qur'an, baik mereka yg mengerti bahasa Arab atau tidak, ternyata *memberikan perubahan fisiologis yang sangat besar.* Termasuk salah satunya dapat *menangkal berbagai macam penyakit*.

Hal tsb dikuatkan lagi oleh Penemuan Muhammad Salim yang dipublikasikan Universitas Boston.

Mengapa di dalam Islam, ketika kita *mengaji disarankan untuk bersuara?* Minimal untuk diri sendiri alias terdengar oleh telinga kita.
http://tedi.sukses.family

Berikut penjelasanya :

Setiap sel di dalam tubuh kita bergetar di dalam sebuah sistem yang seksama, dan perubahan sekecil apapun dalam getaran ini akan menimbulkan potensi penyakit di berbagai bagian tubuh...

Nah... sel-sel yang rusak ini harus di getarkan kembali untuk mengembali kan keseimbangan nya.

*Hal tersebut arti nya harus dengan suara.* Maka munculah TERAPI SUARA yang ditemu kan oleh *dr. Alfred Tomatis, seorang dokter di Perancis*.

Sementara dr. Al-Qodhi menemukan, bahwa MEMBACA AL-QUR'AN DENGAN BERSUARA, *Memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap sel-sel otak untuk mengembalikan keseimbangannya.*

Penelitian berikut nya membuktikan *Sel Kanker dapat hancur* dengan menggunakan FREKUENSI SUARA saja.

Dan kembali terbukti bahwa, Membaca Al-Qur'an memiliki dampak hebat dalam proses penyembuhan penyakit sekaliber kanker.

Virus dan kuman berhenti bergetar saat dibacakan ayat suci Al-Qur'an, dan di saat yang sama , sel-sel sehat menjadi aktif.

Mengembalikan keseimbangan program yang terganggu tadi.

*Silakan dilihat *QS. Al-Isro' ayat 82*

Dan yang lebih menguatkan supaya diri ini semakin rajin dan giat membaca Al-Qur'an adalah karena menurut survey :

SUARA YANG PALING MEMILIKI PENGARUH KUAT TERHADAP SEL-SEL TUBUH, ADALAH SUARA SI PEMILIK TUBUH ITU SENDIRI.

Lihat *QS. 7 ayat 55 dan QS. 17 ayat 10*.

Mengapa Sholat berjama'ah lebih di anjurkan?.

*Karena ada do'a yang dilantunkan dengan keras, sehingga terdengar oleh telinga, dan ini bisa mengembalikan sistem yang seharian rusak.*

Mengapa dalam Islam mendengarkan lagu dan musik diharam kan?
*Karena survey membuktikan, bahwa getaran suara hingar bingar MEMBUAT TUBUH TIDAK SEIMBANG.*
http://tedi.sukses.family

Maka kesimpulannya adalah :

*1. Bacalah Al-Qur'an di pagi hari dan malam hari sebelum tidur* untuk mengembalikan sistem tubuh kembali normal.

*2. Tinggalkan mendengarkan musik hingar bingar,* ganti saja dengan *murotal* yang jelas-jelas memberikan efek menyembuhkan.

Siapa tahu kita punya potensi terkena kanker, tapi karena rajin mendengarkan murotal, penyakit tersebut bisa hancur sebelum terdeteksi.

*3. Perbaiki baca Al-Qur'an (baca dengan tartil, penuhi Hukum Tajwid),* karena efek suara kita sendirilah yang paling dasyat dalam penyembuhan.

Dengan hanya tilawah yang baik dan Tartil Tajwid Tahsin maka kesehatanmu akan terjaga. In Syaa Allah

Sumber : WAG 212 MART

Kamis, 14 Maret 2019

*Akrablah dengan Anak*

*Akrablah dengan Anak*

Oleh : Abah Ihsan Baihaqi Bukhari

Ingin anak anda berkurang perbuatan buruknya? Ingin anak menurut dan patuh pada kita? *AKRABLAH DENGAN ANAK ANDA*

Seorang ayah, dengan mimik sedih bercerita pada saya :
"Abah, anak saya perempuan, kelas 2 SMA. Masuk sekolah favorit dan masuk kelas unggulan. Dia tidak bersemangat sekolah. Saya sangat susah mengorek apa yang terjadi. Saat masuk ke kamarnya, ibunya sering sekali menemukan handphone di bawah bantal."

Saya wawancarai, saya korek. Lalu ujung-ujungnya saya bilang "Mulai sekarang, akrabi anak anda"

Setelah kira-kira dua tahun, ayah ini menelpon saya : "abah, terima kasih. Setelah konsultasi selama 2 tahun, anak saya memang berhenti sekolahnya. Tapi setelah saya mengakrabinya, saya jadi tahu yang dirasakannya. Ia memutuskan kejar paket dan bersemangat hidup lagi. Sekarang ia kuliah di perguruan tinggi sesuai keinginannya."

Parents, coba periksa anak-anak bermasalah di sekitar anda. Wawancarai dan periksa bagaimana hubungan mereka dengan orangtuanya. Apakah mereka sering diajak ngomong orang tuanya setiap hari? Diajak ngomong, loh ya, bukan diomongin!

Wawancarai anaknya ya, bukan orang tuanya. Sebab sebagian orang tua dari anak bermasalah ini sering tidak menyadari bahwa mereka berkontribusi besar terhadap perilaku anaknya sehingga bermasalah meski mungkin tidak disengaja dan tidak disadari.

Ketika anaknya bermasalah, mereka terus saja mengatakan, "Apa yang kurang dari saya? Apa yang kurang? Handphone, mobil, motor, jalan-jalan ke luar negri, semua saya fasilitasi untuk anak saya! Apa lagi yang kurang dari saya?!"

Lalu, anda mungkin akan mengatakan, *"yang dibutuhkan anak adalah teladan!"*
Coba deh, periksa orang-orang di sekitar anda. Tak sedikit anak yang ayahnya rajin shalat ke mesjid, anaknya begitu santai menunda-nunda shalat di rumah. Kurang teladan apa?

Anda lihat ke desa-desa. Sebagian ayah mereka bekerja keras di sawah atau ladang, sementara sebagian anaknya asyik Facebook-an. Kurang teladan apa?

Atau anda lihat anak pejabat, orang kaya, pengusaha sukses, ayahnya sukses jadi pejabat atau pengusaha, tetapi sebagian anaknya menghamburkan uang ayahnya, mengoleksi mobil atau motor balap, nongkrong di jalan, kongkow di kafe tiap hari menghabiskan uang orang tuanya. Kurang teladan apa?

Atau anda juga akan berkata, *"kurang perhatian, kali!"*
Mereka juga tak akan kalah argumen. Sebagian akan berkata, "Apa? Kurang perhatian? Anda tahu tidak, saya sudah bosan menasihati anak saya. Saya nasihati anak saya tiap hari. Itu kan bentuk perhatian dan kasih sayang saya"

Bahwa teladan itu penting, saya setuju. Itu hal "wajib a'in" yang tak usah lagi diperdebatkan. Bahwa perhatian itu penting, saya juga setuju. Tapi apakah menasihati anak tiap hari akan diterima anak sebagai sebuah bentuk perhatian?

Coba tanya anak, siapa di antara mereka yag betah dinasihati tiap hari? Bagaimana dengan anda? Posisikan diri anda sebagai anak, apakah dinasihati tiap hari itu membuat anda merasa diperhatikan? Merasa dicintai dan disayangi? Mana yang membuat anda merasa disayangi orangtua anda : DIOMONGI orang tua tiap hari, atau DIAJAK NGOMONG orangtua tiap hari?

Ini hasil riset tidak langsung saya. Ini fakta yang dapat anda temukan di sekitar anda dan mungkin tidak anda sadari. Ini bukti nyata yang sangat mudah anda temukan. Lihat kiri kanan anda.

Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

*1. Siapa di antara anda yang waktu remaja dahulu sering curhat pada orang tua?*
Dari sekian ribu yang ditanya, hanya sebagian kecil saja yang mengangkat tangan. Ciri akrab yang sederhana adalah sangat terbuka menceritakan masalah, mulai dari lawan jenis yang disukai, pelajaran, pertemanan, dll. Sering diajak ngomong orang tua, bukan hanya diomongin orang tua (beda, kan?)

*2. Kepada yang akrab dengan orangtuanya ini, saya ajukan pertanyaan lagi : apakah anda merasa dekat dan lebih mudah mendengar nasihat orang tua plus jadi lebih menurut atau justru jadi lebih sering membantah orang tua?* Jawaban mereka hampir kompak, "jadi lebih nurut dgn orang tua"

Banyak orang tua menyangka agar anak dapat dengan mudah dikuasai, agar anak patuh dan menurut, agar anak menghormati orang tua, adalah dengan mengedepankan hukuman fisik berupa kekerasan pada anak. Bahkan dari sekitar 70 kota di 22 propinsi yang sudah menyelenggarakan program pendidikan orang tua, kekerasan fisik pada anak adalah keniscayaan. Istilah "kalau tidak dipukul, anak akan kurang ajar", masih saja ada yang meyakininya

Bahwa mencubit atau memukul supaya anak menjadi patuh, bisa jadi betul. Coba diingat-ingat kita yang pernah atau sering dicubit waktu kecil, apakah kepatuhan itu betul2 karena kesadaran atau karena TAKUT?

Kepatuhan karena keakraban sangat berbeda. Anak yang tanpa dipukul, tanpa dicubit, tanpa dibentak, ternyata lebih mudah dikuasai orang tuanya. Lebih mudah mendengar orangtuanya, lebih mudah patuh.

Bahkan saya ingin "memprovokasi" anda lebih keras lagi berkaitan dengan masalah keakraban ini. *JANGAN PERNAH MENCOBA MENDISIPLINKAN ANAK JIKA ANDA TIDAK PERNAH MEMILIKI KEDEKATAN EMOSIONAL DENGAN ANAK*

Mendisiplinkan anak tanpa disertai  kelengketan emosional hanya akan membuat hubungan orang tua dengan anak menjadi hubungan yang kering, garing, atau hubungan tanpa makna dan tanpa jiwa. Hubungan seperti ini hanya akan menjadi seperti "komandan dan prajurit" yang formalitas dan minim ekspresi emosi

*Fungsi pertama keakraban dengan anak adalah "penjaga kedamaian hati anak"* Ketika anda mendisiplinkan anak, ketika anda mencoba menghentikan perilaku buruk anak, maka suatu saat anda tidak dapat menghindari utk memberikan konsekuensi pada anak.

Ketika anak berlebihan main game atau nonton tv, misalnya, anda bisa jadi mencabut hak main game atau nonton tvnya. Lalu karena tidak nyaman, kemudian anak mencoba mengekspresikan ketidaknyamanannya kepada orgtua "Ayah jahat!" atau "Mama tidak sebaik nenek" atau "temanku tidak pernah dibatasi nonton, kenapa aku dibatasi?!"

Dengan menerapkan hukuman atau konsekuensi pada anak, suatu saat anda akan sampai pada suatu titik keraguan yang akan menggoda anda untuk tidak konsisten menjalankan ketegasan anda. Mungkin sebagian orang tua khawatir "Apakah saya ini akan dianggap anak sebagai ayah/ibu yang jahat dan tidak sayang anak?"
Ada juga seorang ibu berkata dengan mimik sedih "Ya Allah..abah, anak saya ngomong saya jahat. Sedih betul saya!"

Saya akan katakan : TIDAK AKAN PERNAH! tidak akan pernah anak memiliki pemikiran dan perasaan bahwa anda adalah ayah atau ibu yang jahat meski mulutnya bicara spt itu. Tidak akan pernah anak memiliki pikiran orangtuanya jahat hanya karena anda memberikan konsekuensi pada anak.

Bahwa anak tidak nyaman saat diberi konsekuensi, itu benar! Namun, konsekuensi tidaklah pasti berarti akan membuat anak kemudian beranggapan bahwa orangtuanya tidak sayang padanya. Selama anda menjaga keakraban dengan anak, itu hanya EKSPRESI EMOSIONAL sesaat dari anak.

*Fungsi kedua keakraban adalah "pemupuk kasih sayang"*.
Maksud saya begini. Orang tua yang akrab dengan anaknya adalah tanda bahwa mereka menyediakan sebagian tubuh, waktu, pikiran, dan perasaan mereka untuk anak. mereka memupuk cinta pada diri anak-anaknya. Tidak hanya sebatas merasa sayang dalam "pikiran", tapi mengekspresikan kasih sayang itu secara konkret dalam tindakan nyata.

Maaf jika agak melebar sedikit. Pernah mendengar kisah nyata suami setia yang tidak pernah menikah lagi meski istrinya bertahun-tahun menderita penyakit? Pernah mendengar cerita cinta Habibie dan Ainun yang melankolis itu? Pernah mendengar cerita Muhammad sang Rasulullah yang ketika berumahtangga dengan Khadijah tidak melakukan poligami sama sekali?

Semua lelaki ini mungkin memiliki sejumlah alasan. Jauh hari sebelum sang istri sakit, jauh hari ketika sang Ainun meninggalkan dunia, jauh hari sebelum sang Rasulullah menjadi penguasa, para perempuan ini memiliki persamaan : mereka memberikan cinta terbaik mereka untuk suami mereka. Mereka membangun ikatan emosional dengan suami mereka. Menjalin keakraban.

Apa yang saya ingin ungkapkan adalah ketika kita merasa dicintai dengan sebenar-benarnya, ada perasaan tak nyaman jika kita menyakiti orang yang memberikan cinta itu. Semua lelaki, yang tak bersedia melakukan poligami di atas -meski mereka bisa melakukannya- bisa jadi karena memiliki perasaan tidak nyaman untuk melakukannya. Saking karena merasa sangat dicintai sang istri.
Demikian pula anak-anak kita.

Sekarang, anda coba fokuskan pikiran. Bayangkan anda adalah remaja lelaki berusia 14 tahun. Bayangkan anda sering menghabiskan waktu utk kegiatan bersama ayah (walau tidak setiap hari). Atau setiap akhir pekan anda bersepeda atau main bulu tangkis dengan orangtua anda. Anda punya kegiatan insidental setiap bulan dengan orang tua. Dua bulan lalu kemping ke gunung, bulan lalu mancing di sungai. Pekan ini anda nonton bola di stadion bersama. Sementara musim liburan sekolah nanti, anda sudah bersepakat akan keluar kota selama 4 hari.

Kira-kira apa perasan yang muncul dalam benak anda? Lalu, apa yang akan anda berikan untuk orang tua anda?

Atau, bayangkan anda seorang anak perempuan, usia 13 tahun. Setiap hari anda bebas cerita masalah anda pada ibu anda di kasur, di meja makan, di sofa. Jika ada masalah, pasti anda akan meminta pendapat ibu anda. Ketika anda difitnah teman, anda menangis sesenggukan di pangkuan ibu. Lalu  punggung anda diusap-usap ibu.
Anda pun sering melakukan kegiatan bersama ibu. Bulan lalu, anda diajak kursus membuat brownies. Ibu anda selalu menyempatkan nonton pertandingan basket anda meski kadang terlambat datang.
Kira-kira apa pula perasaan yang muncul dalam benak anda?  Lalu apa yang ingin anda berikan untuk orang tua anda?

Apapun jawabannya, insya Allah yang positif kan? Mungkin sebagian anda akan rajin berdoa dan mendoakan orangtua "Ya Allah..aku sayang ayahku. Jaga ayahku, ya Allah. Bantu aku jadi anak yang menyenangkan orangtuaku, ya Allah"

Jadi, tidak berlebihan rasanya jika saya ingin mengatakan pada anda: *ANDAIKAN SEMUA ORANGTUA DI DUNIA AKRAB DENGAN ANAKNYA, RASANYA KITA AKAN SULIT MENEMUKAN ANAK BERMASALAH DI DUNIA INI* : terkena narkoba, hamil di luar nikah, tawuran, dsb.nya.

(Buku "7 kiat orang tua shalih menjadikan anak disiplin dan bahagia" karya Ihsan Baihaqi halaman 40-47)

Selasa, 12 Maret 2019

Doa group sehat

"Saudaraku mari kita buka group hari ini dengan Do'a"

اَللّٰهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً

"Allahumma inni as aluka ‘ilman naafi’aa wa rizqan toyyibaa wa ‘amalan mutaqabbalaa"

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepadaMu ilmu yang manfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima.”

DAN KITA DO'AKAN SAUDARA KITA, SAAT INI SEDANG SAKIT.

اللَّهُمَّ رَبَّ النَّاسِ مُذْهِبَ الْبَاسِ اشْفِ أَنْتَ الشَّافِى لاَ شَافِىَ إِلاَّ أَنْتَ ، شِفَاءً لاَ يُغَادِرُ سَقَمًا

*ALLAHUMMA RABBAN NAAS MUDZHIBAL BA’SI ISYFI ANTASY-SYAAFII LAA SYAFIYA ILLAA ANTA SYIFAA’AN LAA YUGHAADIRU SAQOMAN.*

Artinya:
*“Ya Allah Wahai Tuhan segala manusia,* *hilangkanlah penyakitnya, sembukanlah ia. (Hanya) Engkaulah yang dapat menyembuhkannya,* *tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dariMu,* *kesembuhan yang*
*tidak kambuh lagi"* ( HR. Bukhari, no. 5742; Muslim, no. 2191).

Senin, 18 Februari 2019

Kakak blm mau berbagi


a ini mama salah nak...
Anak pertamaku Reyhan dan adiknya Arsyad.. ma'afkan mama ya sayangkuuh... 😭😭😭

Beberapa hal yang ku pelajari dalam menghadapi sibling rivalry selama beberapa tahun ini..

***

SITUASI 1
Kakak pegang makanan/mainan. Adeknya minta, tapi gak dikasih. Adek nangis jejeritan.

Saat ku respon dengan memaksa Kakak untuk ngebagi mainannya. Dihembus hembus dengan omelan, "Bagi adeknya dong, Kaak.. jangan pelit!"

ternyata membuat si Kakak mau berbagi makanan/mainan. Dengan terpaksa, tentunya. Adek berhenti nangis. Suasana rumah kembali tentram.

Tapi apa yang dirasakan anak? Si Kakak belajar bahwa jadi kakak itu rasanya menyebalkan. Dan adek belajar bahwa ia bisa dapetin segala sesuatu cukup dengan nangis jejeritan.

Ternyata, saat di lain hari ku pilih untuk membiarkan Kakak mempertahankan makanan/mainan yang ia punya. Sembari menghibur adek dengan bilang, "Maaf ya Deek.. Kakaknya belum mau berbagi. Kakak baik kok, sayang sama adek. Tapi sekarang belum mau berbagi.."

Si Kakak yang dibiarkan mempertahankan miliknya, diam diam ngeliatin adek nangis dan jadi gak tega. Pelan pelan dia sodorin makanan/mainan yang dia punya sambil bilang, "Adek mau? Kita makan/main sama sama yaa.."

***

SITUASI 2
Mainan adek jatuh ke kolong dan nangis minta diambilin. Berhubung tangan emak lagi repot nan nanggung di dapur.. dan ngeliat si Kakak lagi ada di deket situ, emak pun minta tolong si Kakak buat bantu adeknya. Tapi si Kakak nolak. Ga mau bantu.

Saat ku selesaikan masalah dengan ninggiin suara sambil bilang, "Kaak bantuin adeknya napa siihh.. itu adeknya minta tolong bukannya ditanggepin. Gimana siih.."

Si Kakak pun beringsut bantu adeknya. Adek berhenti nangis karna keperluannya terpenuhi. Rumah kembali tentram.

Tapi apa yang dirasakan si Kakak?

Dibantu sihhh adeknya.. dengaan.. ogah ogahan, wkwkw.. Terpaksa. Dan ngedumel dalam hati. Diam diam nyeletuk, "Diih.. Malesin banget sih punya adek.."

Tapi setelah kemudian polanya ku ubah menanggapi rengekan adek dengan selow, "Waah.. mobilan adek jatuh ke Kolong ya? Sebentar ya Dek, Ami nyelesaiin ini dulu. Di situ ada Kakak ya, Deek? Biasanya Kakak mau bantu loh Dek, Kakak kan baik dan hebat sekali!"

Ternyata yang terjadi adalah, si Kakak bangga sekali disebut baik dan hebat, dan tentu dooong.. dia ingin kasih liat ke adek bahwa dia betul betul baik dan hebat. Jadilah, jeng jeeeeng... bersegera dia bantu ambil mainan adeknya.. dengan penuh suka cita! 😁

***

SITUASI 3
Kakak lagi asik gambar, adeknya lari larian. Karena gerakannya belum sempurna, adek gak sengaja nyenggol Kakak. Gambar Kakak pun kecoret dan Kakak nangis karna sedih.

Ketika ku tanggapi si Kakak dengan bilang, "Gitu doang masa nangis sih Kak, adeknya kan masih kecil. Ga sengaja doang itu maaah.. udah ah nangisnya. Gambar lagi aja yang baru giih.."

Efeknya adalah.. Karna diomelin, Kakak pun berhenti nangis. Rumah kembali ayem.. tapi di dalam hati si Kakak merasa asyeeem.. ohh jadi kalo adek bikin salah mah gapapa ya? Enakan jadi adek dong daripada Kakak?

Tapiii.. di lain kesempatan emak mencoba memanjangkan sedikit sumbu sabar yang dipunya dan memberikan respon berbeda,

Menggandeng Adek dibawa deketin Kakak sambil diajak, "Dek.. say sorry ke Kakak, ya.. tadi adek ga sengaja nyenggol Kakak. Tuh liat gambar Kakak jadi kecoret. Sedih deh Kakaknya.. Maaf ya Kaak.. kakak butuh kertas baru? Yuk kita ambilin buat Kakak yuk, Dek!"

Ini yang akan kita dapatkan! 😍

Kakak tersenyum dan bilang, "Iya adek gakk sengaja. Hati hati ya adeek.." dan dia lanjutin gambar dengan gembira.

Adik dan Kakak sama sama belajar bahwa di rumah ini, SIAPAPUN yang salah, wajib minta maaf. Ah ya.. siapapun.. termasuk.. ayah ibuknya 😂

***

Seorang teman pernah berkata, bahwa anak anak yang terlahir lebih dulu punya potensi yang saangaat besar untuk mencintai adik adiknya.

Hanya saja, mereka butuh sedikit dibantu oleh kita. Ayah Ibunya.

Dengan menghargai haknya,

Tidak memaksa harus selalu mengalah pada adiknya,

Dengan memahami perasaan yang mereka punya soal kebat kebitnya hati saat perhatian Ayah Ibu gak lagi bisa ia nikmati sendiri..

"Ketika orang tua memberikan waktu dan ruang untuk bersimpati dan berempati dengan si Sulung, anak sulung itu akan memiliki waktu dan ruang untuk bersimpati dan berempati pada adik adiknya.."

Sibling rivalry? We shall overcome Bu Ibuuk! Semangaat! 😁

Copas dari akun humaero Ummu umar

Minggu, 17 Februari 2019

Doa

🌹🌹🌹🌹🌹🌹

*Allohumma yaa mudabbir dabbir wa yaa muyassir yassir yassir wa yaa musahhil sahhil sahhil umuronaa umuuroddun yaa wal aakhiroh aamiin aamiin aamiin ya mujiibassaailiin*

🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Ya Allah yang maha agung
Panjangkan umur kami
Dalam  penuh taat kepadaMu
Sehatkan jiwa raga kami
Jauhkan dari penyakit
Yang menyusahkan
Hiasi kami dengan qonaah waro senang bersedekah
Bahagiakan kami
Izinkan kami umroh haji
Bersama anak keturunan kami
Satukan kami di Padang Mahsyar bersama Rasulullah
Masukkan kami kesyurgaMu
Aamiin aamiin aamiin ya mujiibassaailiin

🌹🌹🌹🌹🌹🌹

_Selamat menikmati cinta Allah. Mari kita awali hari indah ini dengan tahajud, doa, Shubuh jamaah semoga hari ini penuh berkah aamiin_

🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

Selasa, 12 Februari 2019

Bahaya Kesehatan Bagi Si Penggemar Mie Instan

Bahaya Kesehatan Bagi Si Penggemar Mie Instan

Mie instan sudah menjadi ‘teman akrab’ masyarakat Asia. Selain rasanya memang nikmat, penyajiannya mudah dan harganya terjangkau. Tidak dipungkiri, mie instan menjadi makanan kesukaan semua kalangan, terutama para pekerja dan mahasiswa. Bagaimanapun juga, bahaya makan mie instan bagi kesehatan sudah jadi rahasia umum. Sebenarnya, sebahaya apa, sih, mie instan? Berikut infonya:

Merusak Pencernaan


Tahukah Anda? Satu porsi mie instan baru bisa dicerna oleh usus dalam waktu tiga hari. Jika Anda sering mengonsumsi mie instan, tentu tidak baik untuk pencernaan Anda. Kesehatan lambung, usus, dan organ pencernaan lainnya akan terganggu.

Pemicu Kanker


Mie instan biasanya mengandung bahan pengawet, terutama mie instan dalam cup. Pengawet makanan memicu pertumbuhan sel kanker. Karena itu, semakin sering Anda mengonsumsi mie instan, semakin besar kemungkinan sel kanker berkembang dan merugikan kesehatan Anda.

Memperlambat Metabolisme


Bahaya mie instan lainnya adalah memperlambat sistem metabolisme dalam tubuh. Jika Anda sering mengonsumsi mie instan, bukan tidak mungkin berat badan Anda akan naik secara drastis. Sebab, kalori yang menumpuk dalam tubuh tidak dapat diproses secara baik.

Kerusakan Hati


Zat berbahaya lainnya yang terkandung dalam mie instan adalah propylene glycol. Zat ini jika terkonsumsi dalam jumlah banyak dapat merusak fungsi hati. Fungsi hati yang terganggu bisa mengakibatkan banyak penyakit seperti kanker hati, hepatitis, atau pengendapan batu pada empedu. Duh… Mengerikan, ya?

Obesitas


Tepung terigu sebagai bahan baku dalam mie instan juga merugikan bagi kesehatan karena tidak mengandung vitamin apapun yang bermanfaat bagi tubuh. Untuk Anda yang gemar mencuri-curi waktu malam untuk menyantap mie instan, hati-hati obesitas mengancam! Efek obesitas tentu banyak, mulai dari gangguan jantung, diabetes, kolesterol, sampai hipertensi.
Sudah tahu, kan, bahaya mie instan bagi kesehatan? Kalau sedang ingin sekali makan mie instan, boleh saja sesekali, asalkan jangan terlalu sering. Jangan sekadar menuruti nafsu, ya, Moms, karena kesehatan lebih utama!

Minggu, 27 Januari 2019

Memaafkan Orang Tua

Memaafkan Orang Tua

"Pak, sepertinya saya stress"

"Stress seperti apa yang ibu rasakan?"

"Rasanya hati saya penuh sekali. Dongkol. Dan setiap kali anak-anak saya melakukan kesalahan, meskipun kecil, saya mudah marah, Pak. Padahal saya ini rajin membaca buku parenting. Pernah ikut seminar juga. Pokoknya saya tahu lah pak bagaimana cara menjadi orang tua yang baik."

"Ah, memang wajar kan kalau kita sekali-sekali marah pada anak-anak." Terapis itu memancing.

"Tidak Pak, ini tidak wajar. Sepertinya saya benci sekali kepada anak saya. Beberapa kali bahkan saya berfikir akan senang sekali kalau anak-anak ini tidak ada. Tapi kemudian cepat-cepat saya tepis pikiran itu. Saya merasa ngeri dengan diri saya sendiri."

"Hmm.. baiklah.. coba ibu mengomel tapi tanpa kata-kata selama 5 menit."

"Yang seperti apa itu, Pak?"

" Contohnya begini: wawawawalalalahohehewala.. begitu saja terus sambil tutup mata ibu selama 5 menit. Kita akan mencoba mengeluarkan "batu" dari hati ibu."

Lalu ibu itupun mengomel. Awalnya pelan, kemudian semakin lama semakin cepat, dan akhirnya ibu itu menangis tersedu-sedu. Menangis histeris tergugu.

Ketika ibu itu sudah tenang, sang terapis bertanya, "siapa yang ada dalam pikiran ibu ketika tadi mengomel?"

"Saya melihat ibu saya, Pak"

Terapis itu menghela nafas. Sepertinya dia tahu apa yang sedang terjadi.

Pasien itu melanjutkan, "Sewaktu kecil, bahkan sampai sekarang, ibu saya sering sekali marah kepada saya untuk hal-hal yang sangat kecil. Saya ingat pernah dimarahi hanya gara-gara menjatuhkan tutup panci di dapur, atau menumpahkan air ke lantai. Kalau ingat wajah ibu saya pada saat marah, saya merasa sakit sekali"

"Apakah ibu merasa marah kepada ibu anda selama ini?"

"Perasaan saya campur aduk pak. Ibu saya orang baik. Segala keinginan saya dituruti. Saya juga merasa bingung dengan sikap ibu saya"

"Baiklah. Sepertinya kita sudah mengetahui pokok permasalahannya. Ijinkan saya menjelaskan sedikit kepada ibu"

"Silakan, Pak"

"Ada luka-luka pengasuhan dari masa kecil ibu, yang secara tidak sadar ibu bawa sampai sekarang. Luka itu mungkin awalnya hanya kecil, tapi karena tidak ditangani dan terus saja ditambahi, akhirnya menjadi besar. Dan Ibu tadi juga mengatakan kalau sudah membaca buku-buku parenting. Kemungkinan besar ibu membandingkan pola pengasuhan orang tua ibu dulu dengan pola pengasuhan yang benar menurut teori pakar parenting. Akhirnya terbentuk citra bahwa dulu ibu diasuh dengan cara yang tidak benar. Lalu ibu berusaha untuk tidak mengulanginya pada anak ibu. Tapi yang terjadi malah ibu mengcopy paste pola pengasuhan ibu anda. Apa ada yang salah dari penjelasan saya?"

"Tidak pak. Sepertinya bapak benar."

"Saya lanjutkan ya. Membaca buku-buku parenting itu tidak salah. Malah bagus karena akhirnya kita punya panduan untuk menjadi orang tua. Tetapi yang salah adalah ketika kita menghakimi masa lalu kita dengan teori-teori itu. Kita sudah bersikap tidak adil terhadap orang tua yang selama ini sudah mendidik dan membesarkan kita."

"Lalu apa yang harus saya lakukan, Pak?"

"Maafkan. Maafkan ibu anda. Meskipun tidak di depan ibu anda, katakanlah dengan jelas bahwa anda memaafkan ibu anda. Memaafkan segala macam tindakan ibu anda di masa lalu. Ubah mindset ibu bahwa itu adalah pengalaman yang mendewasakan ibu hingga sekarang. Orang tua dahulu mendidik kita tanpa panduan. Hanya melihat pengalaman orang lain atau bahkan hanya berdasarkan insting sebagai orang tua. Resapi dalam hati bahwa ibu memaafkan segala kekurangan mereka. Lebih bagus lagi jika ibu juga meminta maaf pada mereka karena selama ini sudah menyimpan dendam."

"Ah, baiklah Pak. Mendengar penjelasan bapak saja saya sudah merasa lega. Terima kasih banyak pak."

"Sama-sama"

Kisah diatas adalah nyata, rangkuman percakapan seorang terapis dan kliennya. Dan saya ( Meda Rosaline) diberi ijin untuk menuliskannya.

Terkait memaafkan orang tua ini saya jadi ingat ada satu ungkapan dalam bahasa Jawa yang bagus sekali ketika hari raya Idul Fitri. Yaitu ketika yang lebih muda mengucapkan

"Pak/Bu ngaturaken sedaya kelepatan (Pak/Bu saya minta maaf atas segala khilaf."

Orang tua akan menjawab, "Iyo nduk/le, wong tuwo akeh lupute. Sing enom gedhe pangapurane. Dosaku lan dosamu dilebur ning dina riyaya iki. (Iya nak, orang tua banyak salahnya. Yang muda besar pengampunannya. Dosa kita habis ya di hari lebaran kali ini)."

Bukankah itu ungkapan yang luar biasa sekali. Yang muda minta maaf, dan yang tua malah mengakui kalau sebenarnya mereka lebih banyak salah dan minta dimaafkan juga. Minta agar anak-anak mereka tidak menyimpan dendam pada orang tuanya agar kehidupannya tidak susah.

Sewaktu mengikuti seminar parenting bersama bunda Kurnia di UB bulan puasa kemarin, saya juga mendapatkan penjelasan yang serupa. Bahkan menurut bunda Kurnia, perkara ini juga menyangkut rejeki sang anak. Ketika anak-anak terjebak pada memori-memori masa lalu, rejekinya akan terhenti sesuai usia yang ada pada ingatannya. Ada anak yang sakit hati pada orang tuanya karena dulu pernah dipukul usia 3 tahun. Dan sampai sekarang masih dia ingat. Ternyata benar, rejekinya juga seret. Setelah diminta untuk memaafkan orang tuanya, alhamdulillah rejekinya jadi lancar. Memang benar lahir, mati, jodoh, rejeki ada di tangan Allah. Tetapi tidak ada salahnya kita melapangkan hati agar rejeki kita tidak sempit.

Selagi masih sempat, peluklah dan maafkan para ibu dan ayah kita. Minta maaflah untuk dendam yang tak pernah terkatakan. Seandainya orang tua sudah meninggal, tetaplah minta maaf dan maafkan segala kesalahan mereka. Kirimkan doa-doa terbaik. Dan kita akan mendapati hati kita menjadi lapang sehingga tidak mudah marah pada anak-anak kita. Sehingga Allah meridhoi hidup kita. Aamiin. Seburuk-buruknya orang tua, atas perantara mereka lah kita ada.

Sering-seringlah minta maaf juga kepada anak, agar mereka tidak menyimpan dendam juga pada kita.

"Ayah Ibu, maafkan anakmu ini...."

"Nak, maafkan ayah ibumu.."

Meda Rosaline

#memaafkan_orang_tua

Mohon maaf kalau masih banyak yang salah 😇, terima kasih untuk kritik dan sarannya