Selasa, 31 Oktober 2017

10 kata yang merusak perasaan anak-anak

1. Kita suKa mencaci maKi anaK Kita ini sebuah bahaya apalagi kalau kita sedang emosi Halo lagi emosi jauh dari anak Jangan jadikan anak korban yang mungkin kita malu mengatakannya kepada orang lain tapi kepada anak kita sembarangan
2. Menghina anak kita di depan kawan-kawannya misalnya ketika sedang antar jemput sekolah di depan teman-temannya kita mengatakan hal-hal yang tidak patut untuk dirinya. malah ada yang pernah berkata saking kesalnya dia mengatakan saya heran kenapa bisa punya anak seperti kamu .
Bisa jadi dia diam saja tetapi seBenarnya hati amat sangat hancur sehingga dia susah dinasehati dan mengeras hatinya
Jika kita punya sesuatu hal yang perlu kita nasehat ketika dia Jangan di depan orang .
Walaupun niatnya menasehati tidak di depan orang lain yang dipakai di dalam keadaan yang berdua saja
3. MeMbandingkan kamu tuh jangan seperti itu Lihatlah Adek kamu kalau kamu dia baik devinta dikejar pinter ngaji pencerna pelajaran kamu apa sih . Menyakiti anak terlihat seperti itu itu bahaya lidah salah satunya. Kita yang dewasa saja jiKa Kita dibandingKan dengan orang lain pasti tersinggung Padahal kita orang dewasa yang tidak paham
4. MeMberikan persyaratan-persyaratan cinta dg syarat. Umi sayang kamu aku cinta kamu kalau kamu sholat kalau kamu ngaji kalau kamu berbuat baik jika kita tidak mencintainya atau tidak memperhatikan  ikan dia dan mencerahkan ketikan kita pada dia maka dia akan pergi mencari orang lain yang bisa Mencintainya. Walaupun itu orang lain dan orang jauh yang mungkin tidak terlalu Dia kenal.
5. Kita menyampaiKan info info atau informasi yang salah maksudnya apa Eh laki-laki nggak boleh nangis Siapa bilang gak boleh nangis boleh laki-laki itu boleh nangis. itu mengakibatkan sakit jiwa Karena dia Bertahan bahan-bahan menjadi beban lama-lama stress dan sakit jiwa. kelihatannya sepele ya Bu
6. Kita selalu memberiKan ancaman . Ayah abisin kalau ngga nanti datang hantu loh . Niat kita supaya dia cepat makaN cepat tidur tapi jadi Nggak bagus padahal dalam psikologi anak-anak kecil itu dalam sampai 6 tahun itu dia mampu menghafal 7 bahasa. Jadi kalau kita mengadakan hal-hal yang belum tentu dia akan langsung menyimpan di dalam dirinya. Tapi kiTa sia-siakan kesempatan emas ini
7. Melarang sesuatu tapi tanpa sebab . Saya mau ke sini mau saya mau ke situ tidak boleh jangan tidak ada tidak bisa tapi kita tanpa menjelaskan Sebab kenapa. Kalau Kita mau melarang Kita tentu harus menjelasKan apa sebabnya misalnya jangan nonton TV dekat-dekat nanti mengganggu matamu. Kalau maKan Abisin ya deK Karena di dalam maKanan itu ada berKah jadi Kita nggaK tahu berKahnya ada dimana.
Ayo Sana tidur jangan nonton TV tapi ketika anak di kamar aku mengendap-endap nonton TV.
Coba Bagaimana perasaan anak di kali anak tahu ibunya melarang Nonton TV tapi ibunya mengendap-endap nonton TV

8.  menghancurkan kepercayaan anak pada dirinya. Kamu bodoh banget ngga baKal bisa ada yang mau ngapain juga jadi orang tua mengajarkan dirinya dan dia berusaha dengan kuat tapi dalam mansetnya dia tetap merasa dia tidak bisa . seminar sel melahirkan kamu kamu tuh belajar gimana juga bodoh dan pintar.
Saya benci sama benci  lahiran kamu .

9. Kita mendoaKan hal-hal yang buruK . Rasulullah mengatakan kepada orang tua bahwa tidak boleh mendoakan hal-hal yang buruk. Misalnya ketika anak pergi di ruMah tanpa paMit ya seperti gajah LoMbok dan celaka atau apa gitu Ya tapi walaupun itu terjadi dia pasti sedih juga akan kalah.
Tidak bisa bilang baik lebih baik diam . Karena doa orang tua itu Insyaallah diKabulKan oleh Allah. 
Kalau Kamu bohong mudah-mudahan celaKa Kamu .
Bisa juga Berkah karena dengan kondisi yang tidak Bisa Bergerak sama sekali dia pergi ke pulau Quran dan dia tidak pernah tinggal sholat malam dan ceramah di mana-mana.

10.  membuka dan membongkar aib anak kita di hadapan orang lain. Ini anakku gak tau malu suka pipis di tempat tidur Capek membersihkan. Jadi kesempatan teman-temannya untuk mengaJak dia itu tidak baik
.

Minggu, 29 Oktober 2017

JANGAN TERPEDAYA DENGAN GEMERLAP DUNIA..

*📚JANGAN TERPEDAYA DENGAN GEMERLAP DUNIA.. !!!*

OCTOBER 9, 2017 ADMIN

رَغِيْفُ خُبْزٍ يَابِسٍ = تَأْكُلُهُ فِي زَاوِيَةْ

“Sepotong roti kering yang engkau makan di pojokan….”

وَكُوْزُ ماءٍ باردٍ = تَشْرَبُهُ مِنْ صَافِيَةْ

“Dan secangkir air dingin yang kau minum dari mata air yang jernih….”

وَغُرْفَةٌ ضَيِّقَةٌ = نَفْسُكَ فِيْهَا خَالِيَةْ

“Dan kamar sempit yang jiwamu merasa kosong di dalamnya…”

أَوْ مَسْجِدٌ بِمَعْزِلٍ = عَنِ الْوَرَى فِي نَاحِيَةْ

“Atau mesjid yang terasing dan jauh dari manusia, lalu engkau berada di sudut mesjid tersebut…”

تَقْرَأُ فِيْهِ مُصْحَفاً = مُسْتَنِداً لِسَارِيَةْ

“Engkau membaca Al-Qur’an sambil bersandaran di sebuah tiang mesjid…”

مُعْتَبِراً بِمَنْ مَضَى = مِنَ الْقُرُوْنِ الْخَالِيَةْ

“Seraya mengambil ibroh/pelajaran dari kisah-kisah orang-orang terdahulu yang telah tiada…”

خَيْرٌ مِنَ السَّاعَاتِ فِي = فَيْءِ الْقُصُوْرِ الْعَالِيَةْ

“Itu lebih baik daripada berlama-lama di dalam istana-istana yang megah…”

تَعْقُبُهَا عُقُوْبَةٌ = تَصْلَى بِنَارٍ حَامِيَةْ

“Yang akhirnya mengakibatkan dosa yang menyebabkan engkau masuk dalam api yang panas…”

فَهَذِهِ وَصِيَتِي = مُخْبِرَةٌُ بِحَالِيَةْ

“Ini adalah washiatku yang mengabarkan tentang dirinya…”

طُوْبَى لِمَنْ يَسْمَعُهَا = تِلْكَ لَعُمْرِي كَافِيَةْ

“Sungguh beruntung orang yang mendengarnya…demi Allah washiat ini sudahlah cukup (memberi pelajaran…)”

فَاسْمَعْ لِنُصْحِ مُشْفِقٍ = يُدْعَى أَبَا الْعَتَاهِيَةْ

“Maka dengarlah nasehat orang yang sayang dan khawatir kepadamu yang dikenal dengan Abul ‘Ataahiyah..”

Sungguh indah sya’ir Abul ‘Ataahiyah di atas, terutama bagi yang mengerti bahasa arab.

Sedikit waktu yang disempatkan untuk membaca Al-Qur’an di pojokan mesjid jauh dari pandangan manusia…ternyata jauh lebih bernilai dari kemegahan istana yang hanya sementara.

Benarlah jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan ;

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيْهَا

“Sholat sunnah dua rakaat qobliah subuh lebih baik daripada dunia dan seisinya”

Janganlah terpedaya dengan kenikmatan dunia…sesungguhnya ia adalah kenikmatan yang semu dan sementara…

Ingatlah akan kenikmatan akhirat yang jauh lebih baik dan abadi.
Jika seseorang disuruh memilih mendapatkan kenikmatan secangkir susu, akan tetapi kapan saja bisa ia minum dan tersedia, atau memilih kambing guling akan tetapi hanya sekali saja bisa santap, tentu orang yang berakal akan memilih secangkir susu –meskipun sedikit- akan tetapi terus tersedia selama puluhan tahun, kapan saja siap untuk diminum.

Maka bagaimana lagi jika perkaranya sebaliknya…kambing guling yang terus siap tersedia kapan saja bisa disantap, dibandingkan dengan secangkir susu yang hanya bisa sekali diminum??

Bagaimana lagi dengan hanya secangkir air putih…???

Demikianlah…kenikmatan dunia selain sedikit iapun fana dan akan sirna. Adapun kenikmatan akhirat sangat banyak dan abadi…

Jika engkau terpedaya dan terkagum-kagum bahkan kepingin tatkala melihat kenikmatan dan kemewahan benda-benda dunia, sedangkan engkau sedang menghadapi sulitnya kehidupan dunia maka agar engkau tidak terpedaya… ucapkanlah doa yang diucapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إِلاَّ عَيْشُ الآخِرَةِ

“Yaa Allah tidak ada kehidupan yang hakiki kecuali kehidupan akhirat” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Doa ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ucapkan tatkala Nabi dan para sahabat kaum muhajirin dan anshor sedang menggali parit dalam perang Khandak, sementara perut-perut mereka keroncongan karena kelaparan, bahkan mereka mengikatkan batu ke perut-perut mereka untuk menahan rasa lapar.

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

📕📗📙📒📘📕📗📙📒📘

ANCAMAN BERDUSTA ATAS NAMA ALLAH DAN RASUL…

ANCAMAN BERDUSTA ATAS NAMA ALLAH DAN RASUL…

OCTOBER 22, 2017 ADMIN

Perkataan dalam agama yang “Tidak Ada Keterangannya” di dalam al-Qur’an, hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang shahih, perkataan para sahabat Nabi dst tidak boleh dijadikan sandaran dalam berdalil atau disebarluaskan !

Pada saat ini semakin banyak orang yang tidak berhati-hati dalam menukil tulisan, pembicaraan, artikel dll, baik di group WA, Telegram, Facebook atau media sosial lainnya, tanpa memastikan terlebih dahulu tentang kebenarannya, sehingga mereka sering kali dengan mudahnya menshare dari hadits palsu, bathil, tidak ada asal usulnya, munkar, dho’iifun jiddan dll. Hal itu jelas dapat menyesatkan manusia dan memfitnah mereka serta membawa kepada kedustaan.

Dan ini merupakan perbuatan dosa besar, karena menyandarkan suatu perkataan dusta kepada Allah dan Rasul-Nya, padahal Allah dan Rasul-Nya tidak pernah berkata seperti itu.

Tidakkah takut dengan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

رَأَيْتُ اللَّيْلَةَ رَجُلَيْنِ أَتَيَانِي قَالَا الَّذِي رَأَيْتَهُ يُشَقُّ شِدْقُهُ فَكَذَّابٌ يَكْذِبُ بِالْكَذْبَةِ تُحْمَلُ عَنْهُ حَتَّى تَبْلُغَ الْآفَاقَ فَيُصْنَعُ بِهِ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Semalam aku melihat dua orang mendatangiku (yaitu dua malaikat yang menjelma menjadi dua lelaki), mereka berdua berkata : “Orang yang engkau lihat dirobek sisi mulutnya hingga pipinya adalah seorang pendusta yang berdusta dengan satu dusta, lantas dusta tersebut disebarkan hingga mencapai penjuru ufuq, maka dia disiksa demikian hingga hari kiamat” (HR. Bukhari no.6096, hadits dari Samuroh bin Jundub)

Allah Ta’ala telah mengingatkan kita agar senantiasa dan selalu mengecek kebenaran suatu berita :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

(1). “Wahai orang-orang yang beriman ketika datang kepada kalian orang yang fasik dengan membawa suatu berita maka tabayyunlah (carilah kebenaran berita itu)…” (QS. Al-Hujurat : 6)

(2). “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (QS. Al-Israa’ : 36)

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ , إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

(3). “Dan tiadalah yang diucapkan (Rasul) itu (yaitu Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)” (QS. An-Najm : 3-4)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

(4). “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya di Neraka” (HR. Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3, hadits dari Abu Hurairah).

إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

(5). “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama orang lain. Karena barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya dari Neraka” (HR. Bukhari no. 1291 dan Muslim no. 4, hadits dari al-Mughirah)

إِنَّ الَّذِي يَكْذِبُ عَلَيَّ يُبْنىَ لَهُ بَيْتٌ فىِ النَّارِ

(6). “Sesungguhnya orang yang berdusta atas namaku akan dibangunkan untuknya sebuah rumah di dalam Neraka” (HR. Ahmad II/ 32, 103, 144, hadits dari Ibnu Umar, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no. 1694 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no. 1618)

سَيَكُوْنُ فىِ آخِرِ الزَّمَانِ نَاسٌ مِنْ أُمَّتىِ يُحَدِّثُوْنَكُمْ بِمَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَ لاَ آبَاؤُكُمْ فَإِيَّاكُمْ وَ إِيَّاهُمْ

(7). “Pada akhir zaman nanti akan ada orang-orang dari umatku yang memberitakan kepada kalian suatu hadits yang tidak pernah didengar oleh kalian dan juga oleh bapak-bapak kalian. Oleh karena itu berhati-hatilah kalian kepada mereka. Sehingga mereka tidak akan bisa menyesatkan kalian dan juga tidak bisa menebar fitnah kepada diri kalian” (HR. Muslim no.7, hadits dari Abu Hurairah)

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

(8). “Cukuplah seseorang dianggap pendusta ketika dia menceritakan (menyebarkan) setiap apa saja yang dia dengar” (HR. Muslim no.5 dan Abu Dawud no.4992, lihat ash-Shahiihah no.205).

Imam Ibnu Hibban berkata : “Di dalam hadits ini ada ancaman bagi seseorang yang menyampaikan setiap apa yang dia dengar sampai dia tahu dengan seyakin-yakinnya bahwa hadits atau riwayat itu adalah shahih” (Kitab Majruhin minal Muhadditsin I/16-17).

Imam an-Nawawi dalam Kitab Syarah Shahih Muslim berkata :

وَأَمَّا مَعْنَى الْحَدِيث وَالْآثَار الَّتِي فِي الْبَاب فَفِيهَا الزَّجْر عَنْ التَّحْدِيث بِكُلِّ مَا سَمِعَ الْإِنْسَان فَإِنَّهُ يَسْمَع فِي الْعَادَة الصِّدْق وَالْكَذِب ، فَإِذَا حَدَّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ فَقَدْ كَذَبَ لِإِخْبَارِهِ بِمَا لَمْ يَكُنْ

“Makna hadits dan atsar yang ada dalam bab ini adalah peringatan agar tidak menyampaikan apa saja yang didengarnya. Karena biasanya berita itu ada yang benar dan ada yang dusta. Maka apabila ia membicarakan semua yang didengarnya maka sungguh dia telah dusta karena menyampaikan apa yang sebenarnya tidak ada“

Berhati-hatilah dalam menulis, berbicara dan menyebarkan berita yang seperti itu, karena orang itu akan tertuduh sebagai “PENDUSTA“.

Allah Ta’ala berfirman :

قُتِلَ الْخَرَّاصُونَ

(9). “Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta” (QS. Adz-Dzaariyaat : 10)

فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

(10). “Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu ? Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al-An’aam : 144).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(11). “Sesungguhnya kedustaan itu akan menjerumuskan kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke dalam Neraka. Seseorang yang biasa berdusta maka di sisi Allah ia akan dicap sebagai PENDUSTA” (HR. Bukhari no.6094 dan Muslim no.2606, hadits dari Abdullah bin Mas’ud).

إِيَّاكُمْ وَ كَثْرَةَ اْلحَدِيْثِ عَنىِّ فَمَنْ قَالَ عَلَيَّ فَلْيَقُلْ حَقًّا أَوْ صِدْقًا وَ مَنْ تَقَوَّلَ عَلَيَّ مَا لَمْ أَقُلْ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ

(12). “Waspadalah kalian dari banyak menyampaikan hadits dariku. Barangsiapa yang hendak berkata maka berkatalah yang benar atau yang hak. Dan barangsiapa yang berucap atas namaku yang TIDAK pernah aku ucapkan maka bersiaplah tempatnya di Neraka” (HR. Ibnu Majah no.35, Ahmad V/ 297 dan ad-Darimi I/ 77, hadits dari Abu Qatadah, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.2684 dan Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah no.1753)

Berhati-hatilah, sudah banyak ikhwan dan akhawat yang tergelincir…

Berhati-hatilah, karena Allah akan menghisab apa yang ditulis dan di sebarkan…

Ini adalah permasalahan besar, hendaklah berilmu terlebih dahulu sebelum beramal…

Maka dari itu, sebelum menyebarkan artikel perhatikanlah adab-adab berikut ini :

(1). Periksa terlebih dahulu kevalidan artikel tersebut.

(2). Bila bc itu berisi pesan agama, maka pastikan keshohihan isi bc tersebut baik dari sisi materi, dalil dan sisi pendalilannya. Bertanyalah pada orang yang berilmu.

(3). Bila hanya menukil artikel, maka berilah keterangan sumber artikel tersebut.

(4). Bila terlanjur salah dalam menyampaikan artikel maka segeralah meluruskan artikel tersebut dan tidak perlu malu, karena kesempurnaan hanyalah milik Allah.

(5). Tidak semua yang didengar atau dibaca lantas langsung disebarkan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

“Diharuskan bagi seorang yang ingin menilai suatu ucapan, perbuatan atau golongan untuk berhati-hati dalam menukil dan tidak memastikan kecuali (setelah) benar-benar terbukti, tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan isu yang beredar, apalagi jika hal itu menjurus kepada celaan terhadap seorang ulama” (Dzail at-Tabr al-Masbuk hal 4 oleh as-Sakhawi, dari Qashash Laa Tatsbutu II/16 oleh Masyhur bin Hasan Salman).

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

http://bbg-alilmu.com/archives/31827

TIDAK MEMBERSIHKAN DIRI DARI AIR KENCING SEBAB SIKSA KUBUR*

‼ 📚  *TIDAK MEMBERSIHKAN DIRI DARI AIR KENCING SEBAB SIKSA KUBUR*

✍ Oleh : Ustadz Abu Isma’il Muslim al-Atsari

Islam adalah agama yang sempurna. Semua perkara yang dibutuhkan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti telah dijelaskan. Termasuk masalah kesucian dan kebersihan. Banyak ayat  al-Qur’an dan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan atau menganjurkan kebersihan. Allâh Azza wa Jalla berfirman,

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ

Dan pakaianmu bersihkanlah. [Al-Mudatsir/74: 4]

Allâh Azza wa Jalla juga berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Sesungguhnya Allâh menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. [Al-Baqarah/2: 222].

_*Air Kencing Itu Najis*_

_*Air kencing manusia termasuk najis, maka badan, pakaian, atau tempat yang terkena air kencing harus dibersihkan.  Jika tidak dibersihkan, maka itu bisa menjadi penyebab siksa kubur.*_

عَنْ أَنَسٍ , قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ :  تَنَزَّهُوا مِنَ الْبَوْلِ فَإِنَّ عَامَّةَ عَذَابِ الْقَبْرِ مِنْهُ

Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bersihkanlah diri dari air kencing. Karena sesungguhnya kebanyakan siksa kubur berasal darinya.” [HR. Ad-Dȃruquthnȋ dalam Sunannya, no. 459. Dan hadits ini dinilai shahȋh oleh Syaikh al-Albani dalam Irwȃul Ghalȋl, no. 280]

Oleh karena itu Imam adz-Dzahabi rahimahullah berkata, “Dosa Besar ke-36: Tidak Membersihkan Diri Dari Air Kencing, Dan Itu Termasuk Syi’ar Nashara”. [Al-Kabȃir, hlm. 141]

Pada zaman dahulu di kalangan Bani Israil, jika baju mereka atau bahkan kulit mereka terkena air kencing, maka mereka mengguntingnya.

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَسَنَةَ، قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ   وَفِي يَدِهِ الدَّرَقَةُ، فَوَضَعَهَا، ثُمَّ جَلَسَ فَبَالَ إِلَيْهَا، فَقَالَ بَعْضُهُمْ: انْظُرُوا إِلَيْهِ يَبُولُ كَمَا تَبُولُ الْمَرْأَةُ، فَسَمِعَهُ النَّبِيُّ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ: “وَيْحَكَ، أَمَا عَلِمْتَ مَا أَصَابَ صَاحِبَ بَنِي إِسْرَائِيلَ؟ كَانُوا إِذَا أَصَابَهُمْ الْبَوْلُ قَرَضُوهُ بِالْمَقَارِيضِ، فَنَهَاهُمْ ، فَعُذِّبَ فِي قَبْرِهِ”

Dari Abdurrahman bin Hasanah Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menemui kami, Beliau membawa tameng kulit  di tangannya, lalu Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkannya. Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk lalu buang air menghadap kepadanya (yakni menggunakan tameng itu sebagai penutup-pen). Sebagian orang berkata (mencela Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ), “Lihat orang ini, dia buang air seperti wanita buang air (yakni Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menjaga aurat ketika buang air-pen)”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengarnya, maka Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kasihan engkau, tidakkah engkau tahu siksa yang menimpa seorang lelaki Bani Israil? Jika air kencing mengenai mereka, mereka biasa mengguntingnya dengan gunting. Lalu lelaki itu melarang mereka, sehingga dia disiksa di dalam kuburnya”. [HR. Ibnu Majah, no. 346. Dishahȋhkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arnauth]

_*Penyebab Siksa Kubur*_

Hadits Abdullah bin ’Abbâs Radhiyallahu anhuma, dia berkata:

مَرَّ النَّبِيُّ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ قَبْرَيْنِ فَقَالَ إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لَا يَسْتَتِرُ مِنْ الْبَوْلِ وَأَمَّا الْآخَرُ فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ ثُمَّ أَخَذَ جَرِيدَةً رَطْبَةً فَشَقَّهَا نِصْفَيْنِ فَغَرَزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةً قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ فَعَلْتَ هَذَا قَالَ لَعَلَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُمَا مَا لَمْ يَيْبَسَا

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewati dua kuburan, lalu Beliau bersabda: _*“Sesungguhnya keduanya ini disiksa, dan tidaklah keduanya disiksa dalam perkara yang berat (untuk ditinggalkan). Yang pertama, dia dahulu tidak menutupi dari buang air kecil. Adapun yang lain, dia dahulu berjalan melakukan namimah (adu domba)”.*_

Kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil sebuah pelepah kurma yang basah, lalu membaginya menjadi dua, kemudian Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menancapkan satu pelepah pada setiap kubur itu. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasûlullâh, kenapa anda melakukannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Semoga Allâh meringankan siksa keduanya selama (pelepah kurma ini) belum kering”.
[HR. Bukhari, no. 218; Muslim, no. 292]

Di dalam hadits lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan penyebab keringanan siksa kubur itu adalah syafa’at Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي مَرَرْتُ بِقَبْرَيْنِ يُعَذَّبَانِ، فَأَحْبَبْتُ، بِشَفَاعَتِي، أَنْ يُرَفَّهَ عَنْهُمَا، مَا دَامَ الْغُصْنَانِ رَطْبَيْنِ

Aku melewati dua kuburan yang (penghuninya) sedang disiksa, maka Aku suka agar siksa keduanya diringankan selama kedua pelepah kurma itu masih basah. [HR. Muslim, no. 3012; dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu anhu]

Hadits di atas juga memberikan faedah agar menutupi diri ketika buang air, baik dengan masuk kamar kecil, atau jika berada di tempat terbuka dengan menjauh dari pandangan orang. Itu adalah sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diterangkan di dalam hadits berikut ini,

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي قُرَادٍ قَالَ: خَرَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْخَلَاءِ، وَكَانَ إِذَا أَرَادَ الْحَاجَةَ أَبْعَدَ

Dari Abdurrahman bin Abi Quraad Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Aku pernah keluar bersama Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju tempat buang air, dan kebiasaan beliau jika menginginkan buang hajat beliau pergi ke tempat yang jauh.” [HR. Nasai, no. 16;  dishahihkan oleh  Syaikh Al-Albani. Lihat Silsilah Ash-Shahȋhah, no. 1159]

_*⚠  Maka termasuk perbuatan kurang adab ketika sebagian orang, baik orang tua atau anak-anak, laki-laki atau perempuan, buang air di pinggir jalan. Bau kencing tersebut juga akan mengganggu orang lain, sehingga menyebabkan cacian kepada pelakunya.*_

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ  صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : اتَّقُوا الْمَلَاعِنَ الثَّلَاثَةَ: الْبَرَازَ فِي الْمَوَارِدِ، وَقَارِعَةِ الطَّرِيقِ، وَالظِّلِّ

Dari Mu’adz bin Jabal Radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jagalah dirimu dari tiga tempat yang membawa laknat: buang hajat di tempat-tempat berkumpulnya air, di jalan raya, dan di tempat bernaung”. 
[HR. Abu Dawud, no. 26;  dihasankan oleh  Syaikh Al-Albani]

Alangkah agungnya agama Islam, yang memberikan pengajaran adab dan tidak merusak atau menodai fasilitas-fasilitas umum yang dibutuhkan oleh masyarakat. Semoga Allâh Subhanahu wa Ta’ala selalu membimbing kita di atas kebaikan dan menjauhkan dari segala keburukan. Aamiin.


Jumat, 20 Oktober 2017

*Meng-aqil Baligh-kan Anak*

*Meng-aqil Baligh-kan Anak*

oleh : Ustadz Adriano Rusfi, Psi.

_Libatkan anak dalam masalah_

Saya baru punya mobil usia 42 tahun. Rumah baru punya 2 tahun lalu, sebelumnya ngontrak.

Dulu saat usia saya 28 tahun, teman-teman saya bilang, _“Lu makanya yang fokus dong cari duit.”_

Saya cuek saja, saya memilih fokus mendidik anak. Saya percaya dengan prinsip "Life begin at forty". Bagaimana pun waktu bersama dengan anak tidak akan bisa diulang saat anak2 sudah dewasa.

Kalau sekarang teman-teman saya kagum dan bilang, _“Lu hebat banget sih?”_

Saya sekarang bisa membalas, _“Mungkin dulu Lu kecepetan fokus sih.”_

Karena setelah menikah dan mempunyai anak, saya memilih fokus untuk mendidik anak-anak saya.

*Supaya beban finansial saya cepat beres, saya fokus meng-aqilbaligh-kan anak-anak.*

Anak saya dari usia SMP sudah menjadi loper koran, membuka jasa servis tamiya, membantu scoring lembar psikotest.

Saya memberikan syarat jika anak meminta sesuatu, maka 10% haruslah memakai uangnya sendiri. Sehingga setiap permintaan anak saya akan dimulai dengan pertanyaan: “Abi ada duit nggak?”

Ketika anak saya ingin sepeda motor, saya katakan, “Bebas boleh pilih yang mana saja, asal 10% uang sendiri.”

Anak saya jadi berpikir juga. Yang 16 juta, harus ada 1,6 juta. Akhirnya anak saya memilih yang 9 juta saja, karena merasa mampu menyediakan 10%-nya. Abi nya senang, anak senang.

Ketika anak meminta barang baru sementara barang yang lama masih bisa dipakai, saya hanya katakan, _"Harusnya kamu bersyukur abi sudah belikan yang itu dan kamu masih bisa gunakan itu."_

Salah satu cara mendidik anak menjadi Aqil Baligh adalah dengan tidak menyembunyikan masalah dari anak. Rem masa baligh anak dengan membantu orang tua menyelesaikan masalahnya.

*Jadi kurang tepat juga ketika mengatakan, “Biar Ayah saja yang menderita, kamu belajar saja yang rajin.”*

Itu adalah kalimat kurang ajar. Bukti bahwa si Ayah Egois. Mengapa si ayah tidak mengijinkan anaknya mengikuti jalan suksesnya? Tidak ada sejarahnya orang sukses hanya dari gelimangan kemudahan.

Konglomerat Tionghoa itu sadis-sadis sama anaknya. Kalau anak mereka minta macam-macam, jawabnya “Sudah bagus Bapak kasih segitu.”

Kita saja yang Melayu ini suka memanjakan anak. Ada tetangga saya Tionghoa yang pengusaha kaya raya. Ketika hujan, ia memberikan payung buat anaknya supaya jadi ojek payung.

Ketika anak saya sudah memasuki usia aqil baligh, anak saya beritahu. “Kamu ini sebenarnya sudah bisa abi suruh pindah, tapi sekarang masih boleh tinggal dirumah. Hanya kamu statusnya numpang. Numpang makan, numpang tidur. Jadi tahu diri ya sebagai penumpang. Baik-baik sama tuan rumah.”
Maka anak pun akan berusaha mematuhi tata tertib untuk tidak pulang malam, dll.

Hadapkan anak dengan berbagai masalah dan harus mencari solusinya sendiri adalah bagian dari upaya meng-aqilbaligh-kan anak kita. Ajari anak cari uang, ajari anak berorganisasi. Libatkan anak dengan masalah.

Anak mulai bisa diajarkan kemandirian saat usia di atas 7 tahun. Itu sudah fitrahnya. Didik anak dengan penuh optimis, tidak perlu rekayasa. Dan jangan lupa untuk meminta kepada Allah melengkapi kekurangan kita dalam mendidik anak-anak.

#PendidikanAqilBaligh
#SeniMendidikAnak
#GoodJob
#SmartAndReligius

MEMAHAMI WATAK

MEMAHAMI WATAK
Oleh Dr. Aisha Dahlan

Watak diturunkan secara genetik. Tidak berubah tapi bisa dibentuk. Program watak yang diturunkan secara genetik melalui kromosom itu, Allah simpan di bagian otak yang dinamakan lobus parietal. Sedangkan program pembentukan karakter disimpan di lobus frontalis.

Berapa ilmuan sudah mempelajari tentang watak semenjak 300 SM diantaranya Hipocrates, dilanjutkan Galen (149 SM) hingga abad 18, Florence Littauer (1928-2015). Seiring perkembangan zaman ditemukanlah bahwa watak diturunkan secara genetik dan selalu melekat pada manusia. Watak manusia terbagi menjadi 4 jenis yang bisa diidentifikasi dengan bermacam cara.

Cara yang paling sederhana untuk mendeteksi watak dengan akurasi 80% adalah dengan menjawab spontan pertanyaan sbb:
Apabila kita disuruh membuat suatu pentas drama peran apa yang kau ingin mainkan? Pilih salah satu kemudian pilih lagi satu diantara 3 pilihan yang belum dipilih.
1. Artis            2. Sutradara
3. Penonton   4. Penulis skenario

Pilihan yang lazim diantaranya 1&2, 2&4, 1&3, 3&4. Sedangkan pilihan yang beseberangan 1&4, 2&3 merupakan pilihan yang tidak lazim.

Mari kita lihat penjelasan pilihan peran tersebut jika dihubungkan dengan tipe watak manusia.
Tipe watak manusia ada 4:
1. Pembicara (Sanguinis), hasrat : gembira
2. Pelaku (Koleris), hasrat: mengatur
3. Pengamat (Plegmatis), hasrat: damai
4. Pemikir (Melankolis), hasrat: sempurna

Pilihan Artis adalah tipe Pembicara, hasratnya gembira. Selalu mau spontan, cepat gembira, kalau bercerita asyik, kreatif, banyak ide, sulit mengerjakan detail, bagus jadi marketing.

Pilihan Sutradara adalah tipe Pelaku yang berhasrat mengatur, menyuruh, memimpin. Dikaruniai Allah untuk bisa mengambil keputusan dalam keadaan darurat. Dapat mengambil keputusan dengan cepat meskipun salah.

Pilihan Penonton adalah tipe Pengamat yang memiliki hasrat damai. Ciri-cirinya: Tidak enak menyuruh, jarang marah tapi sekali marah serem, tempat curhat, bemper, suka menolong. Kekuatannya adalah tenang dan damai. Kekurangannya terlalu damai, sering menunda-nunda, tidak mau buru-buru, sering capek menahan amarah. Buku bagus yang harus dibaca orang tipe ini diantranya "Malas tapi sukses" dan "The Power of Kepepet". Karena kekuatannya keluar kalau sedang kepepet 😊.

Pilihan Penulis Skenario adalah Pemikir. Memiliki hasrat sempurna.
Ciri khas : Apa-apa dipikir. Sudah tidak dilihat tapi masih dipikir.
Kebiasaan dari kecil pencet odol dari bawah walaupun gak diajari (sempurna habisnya), rapi dan detil.
Kelemahannya: Takut salah, perfeksionis, standart tinggi, target nilai, susah tidur, sering memakan waktu lama untuk mengambil keputusan, sering capek, dendam (ingat terus kalau disakiti).

🌷 Bagaimanakah watak menurut agama Islam?

Dalam Islam keempat tipe watak ini diwakilkan oleh 4 sahabat Rasulullah SAW, yaitu:
Abu Bakar  (tipe Pengamat, Plegmatis),
Umar bin Khatab (tipe Pelaku, Koleris),
Ustman bin Affan (tipe Pemikir, Melankolis) dan
Ali bin Abi Thalib (tipe Pembicara, Sanguinis).

Dalam Qs Al Isra' : 84 Allah berfirman:
"Setiap orang berbuat dengan pembawaannya masing-masing maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya."

Bukan berarti dua watak yang melekat tersebut dibiarkan berkembang dengan sendirinya tanpa pembentukan karakter. Pembentukan karakter ini adalah dengan mencontoh sifat dan perbuatan Rasulullah Saw. Sebagaimana para sahabat mencontoh Rasulullah saw tanpa menghilangkan pembawaannya masing-masing. Abu Bakar tetap menjadi Abu Bakar, Umar tetap Umar, Utsman tetap Utsman dan Ali tetaplah Ali.

Pembentukan karakter ini disimpan dalam program otak bagian depan (lobus frontalis). Jika 2 watak bawaan disimpan di otak bagian parietal maka 2 watak yang lain disimpan di bagian frontalis.
Tugas  orang tuanyalah untuk membentuk karakter sang anak. Pembentukan karakter haruslah dengan cara yang tepat sesuai dengan watak sang anak. Analoginya  jika kita membuat suatu barang perlu perkakas yang sesuai dengan bahan bakunya. Tidak perlu gergaji untuk memotong plastik.
Anak Melankolis lebih mudah diatur untuk rapi.
Tetapi untuk membuat anak Sanguinis menaruh handuknya dengan rapi tidaklah mudah dan kita harus memakluminya dengan usahanya sudah mau menaruh handuk pada tempatnya meski tidak rapi.
Anak Koleris lebih susah tersenyum menerima tamu.
Banyak korban narkoba yang merupakan anak Sanguinis yang tidak didengar cerita lucunya oleh orang tuanya yang selalu menanggapinya dengan serius.

Allah mengaruniai pasangan (belahan jiwa) yang memiliki watak bersebrangan. Mitra yang yang terbaik adalah mitra yang terbalik. Saling mengisi untuk saling melengkapi dan belajar.

Semoga bermanfaat. 🌻

Kamis, 19 Oktober 2017

▪ *SABAR* ▪

Mutiara Jum'at 💧🌿

▪ *SABAR* ▪

~Direndahkan tidak mungkin jadi *SAMPAH,*
~Disanjung tidak mungkin jadi *REMBULAN.*
Maka jangan risaukan *OMONGAN* orang, sebab setiap orang membacamu dengan pemahaman dan pengalaman yang berbeda.

Teruslah melangkah selama engkau di jalan yang *BENAR,* meski terkadang *KEBAIKAN TIDAK SELALU DIHARGAI.* Tidak usah repot-repot menjelaskan tentang dirimu, sebab yang menyukaimu *TIDAK BUTUH* itu dan yang membencimu *TIDAK PERCAYA* itu.

*HIDUP* itu bukan tentang siapa yang *TERBAIK,* tapi tentang SIAPA yang mau *BERBUAT BAIK.*
Jika didzalimi orang *JANGAN BERPIKIR* untuk *MEMBALAS DENDAM,* tapi berpikirlah cara *MEMBALAS dengan KEBAIKAN.*

Jangan mengeluh, teruslah *BERDOA dan BERSYUKUR.* Sibukkan diri dalam *KEBAIKAN* hingga *KEBURUKAN LELAH MEMGIKUTIMU.*

Orang *TAK BERIMAN* berkata, *SABAR itu ADA BATASNYA.*
Tapi bagi orang yang *BERIMAN, SABAR itu TANPA BATAS.*

Jadi , sabar itu menerima dahulu kehadiran tamu yang bernama *"MASALAH"* sebelum kita melepaskannya. Sebab kita tokh tak akan mudah melepas sesuatu yang belum kita terima
Masalah itu akan mudah berpamitan bila sudah kita jamu dengan *BERSYUKUR.*

So , sebaiknya hindari mengatakan
*"BERSABARLAH SEGALANYA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA "*
Sebab dengan pernyataan semacam ini membuat kita " *MENUNGGU "* keindahan itu hadir. Dan apapun yang ditunggu itu bisa *TERASA LAMA dan MELELAHKAN*
Jadi, *SABAR* itu bukan seberapa lama kita *MENUNGGU,*
*SEBERAPA BERAT KITA DITEKAN, SEBERAPA PAHIT KITA DI UJI.*
Tapi seberapa hebat tekanan itu mampu mengasah kita meng create gagasan dan ketrampilan diri  untuk lepas dari tekanan tersebut.
Dan disaat itu pula kita  berhasil menemukan " *SOLVE "* laksana cahaya di ujung terowongan yang gelap...

Selamat beraktivitas &
Tetap semangat...🙏🏻