Kamis, 23 Juni 2016

Benarkah mendengar dan menerima perasaan anak adalah hal yang penting?

[Sharing Parenting]

Benarkah mendengar dan menerima perasaan anak adalah hal yang penting?

Ternyata, Rasulullah saw memerintahkan kita untuk peka terhadap perasaan kita sendiri ketika akan membuat keputusan atau menimbang perbuatan kita benar atau salah.

Dari Nawwas bin Sam’an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang terasa mengaggu jiwamu dan engkau tidak suka jika diketahui  manusia “
(Riwayat Muslim)

Dan dari Wabishah bin Ma’bad radhiallahuanhu dia berkata : Saya mendatangi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, lalu beliau bersabda : Engkau datang untuk menanyakan kebaikan?

saya menjawab : Ya.

Beliau bersabda : Mintalah pendapat dari hatimu, kebaikan adalah apa yang jiwa dan hati tenang karenanya, dan dosa adalah apa yang terasa mengganggu jiwa dan menimbulkan keragu-raguan dalam dada, meskipun orang-orang memberi fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.

(Hadits hasan kami riwayatkan dari dua musnad Imam Ahmad bin Hanbal dan Ad Darimi dengan sanad yang hasan)

Jika sedari ia masih bayi kita tidak peka pada perasaan anak, mengabaikan, dan menolak perasaannya, terlalu banyak bicara daripada mendengar, bagaimana cara anak kita belajar memahami perasaannya?

bagaimana kelak dewasa ia memaknai perasaannya untuk mempertimbangkan sesuatu sebelum mengambil keputusan penting?

Catatannya, sudahkah kita sebagai orangtua terbiasa mendengar, memahami, dan bertanya dengan jujur pada perasaan kita sendiri?

Saat merespon anak tantrum, apakah kita bertanya pada diri sendiri, "responku dilandasi rasa malu, rasa kesal, atau rasa sayang?"

Saat marah memuncak, sikap dan kata-kata kita bertujuan untuk melampiaskan atau untuk mengendalikan keadaan?

Yuk, jujur pada perasaan dan sapalah..

Pada anak kita..
Katakan,
"kelihatannya kamu sedih ya?"
Daripada,
"kenapa?"

Katakan,
"Adek takut ya suara petirnya keras sekali?"
Daripada,
"gapapa, petir itu ciptaan Allah"

Katakan,
"sakit, Nak?. Bunda kasih obat ya lututnya"
Daripada,
"kan Bunda udah bilang, jangan lari-lari nanti jatuh. Sini diobatin dulu"

Sapa perasaan, karena ini menyehatkan hati, melatih emosi, menyuburkan empati, menguatkan kontrol diri, mengembangkan budi pekerti, dan membuatnya percaya diri.

Bila dari kecil hatinya sunyi dan sepi, ketika menjelang remaja, rasa sunyi dan sepi di jiwa itulah yang mendorongnya main games dan menikmati pornografi..  Disangkanya itu akan menjadi "obat", ternyata menjebaknya dalam kecanduan tak bertepi.

Jangan abaikan rasa anakmu..  Jangan abaikan kebutuhan  Jiwanya...

Sapa perasaan...

Enjoy yourself, enjoy your child!

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
Yayasan Kita dan Buah Hati
〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Fanpage:
Yayasan Kita dan Buah Hati
Twitter:
@kitadanbuahhati
Alamat:
Jalan Tamansari Persada Raya Blok 1 No. 12, Bekasi
No HP:
0856 7010 222

Manajemen Emosi Pada Ibu

Hasil Diskusi HSMN Grup 1

Hari/tgl: Kamis/17 Desember 2015
Pukul: 19.30 – 21.30
Narasumber : Irawati Istadi
Tema: Manajemen Emosi Pada Ibu
Moderator: Fieki Rahmatillah
Notulensi: Hana Afiifah

Assalamualaikum .....bunda2 pembelajar hebat......
Alhamdulillah bertemu kembali......Kali ini diskusi tentang manajemen emosi bunda, ya......
Materi ini saya ambil dari beberapa buku saya, seperti buku 'Bunda Manajer Keluarga', juga buku 'Ayo Marah' dan buku 'Ayo Bicara'. Saya sudah siapkan materi prolognya sebagai umpan untuk bahan diskusi kita. Materinya agak panjang, tapi bunda2 jangan buru2 membacanya.....Santai saja dan nikmati....Baru nanti kita diskusikan...
Kita mulai ya.....
Bismillahirrahmanirrahim..
Marah, bisa dialami oleh setiap orang. Seperti halnya setiap orang pun bisa bahagia maupun sedih. Namun marah harus dikelola dengan baik, mengingat bahwa marah yang salah bisa memberikan dampak yang sangat buruk.
Marah yang diperbolehkan adalah marah pada saat yang tepat dan dengan cara yang benar.
Nah, kedua hal inilah yg akan kita bahas.
Marah diperbolehkan jika dilakukan di saat yg tepat, yaitu di saat :
1. Membela Islam jika dilecehkan atau diganggu orang lain. Rasulullah tidak marah jika dirinya dihina orang lain, namun beliau akan marah jika ada orang yang menghina al quran, memainkan ayat2 Allah.
2. Bertujuan membuat perubahan positif. Seperti ingin mengajarkan anak shalat, mengaji, melatih disiplin shalat,dsb. Tapi ingat bahwa marah di sini harus dilengkapi dg cara yg benar.
3. Sebagai cara akhir setelah berbagai cara lain yg lebih smart gagal untuk merubah keadaan.
Sementara itu, walaupun ada marah yabg diperbolehkan, tetap harus diperhatikan CARA MARAH YANG BENAR. Antara lain :
1. Hindari emosi. Belajarlah untuk bisa marah tanpa emosional. Lebih tepat disebut tegas, mungkin ya. Walaupun mengeluarkan kata2 dengan nada keras dan tinggi pertanda tak suka, namun tetap bisa tenang.
2. Tetap selalu menggunakan kata2 positif. Jadi tidak ada kata2 yang meremehkan, menghina bahkan menghancurkan harga diri anak atau orang yg dimarahi.
3. Berhenti marah secepatnya, setelah anak menunjukkan rasa bersalah atau efek jera. Ini penting, karena jika marah berlebihan akan menghancurkan harga diri anak dan justru menumbuhkan dendam.

Tanya Jawab
1.Hana
#tanya narsum
Assalamu'alaykum bu ira, saya mau bertanya, Bagaimana bisa marah tanpa emosi dan hanya mengeluarkan kata2 positif? Karena biasanya saya selalu meledak saat marah terutama ketika punya permasalahan dgn suami terkadang anak jadi pelampiasan. Syukron ibu ✅

#Jawab
Waalaikumsalam, bunda Hana. Bisa kok, kita marah dengan tidak emosional. Maksudnya, kita tetap marah dengan suara yang keras dan tinggi, tapi batasi di sikap yang tegas saja, dan emosi tetap terkontrol.
Jika emosi masih terkontrol, maka kita bisa kendalikan agar kata2 yabg keluar dari mulut kita walaupjn bernada tinggi, namun tetap positif.
Marah tanpa emosional ini memang perlu latihan, bunda..... Misal, seorang bunda marah dengan emosional sehingga keluar kata2 : 'Kalian ini memang selalu cari gara2. Selalu bikin ribut kalau mau tidur.Tukang kelahi!'
Nah, marah kita lebih smart jika emosi lebih terkontrol shg kita berpikir dulu sebelum marah, mencari kata2 yg positif , seperti : 'Sudah ! Hentikan pertengkaran kalian. Semua anak bunda hebat! Tidak usah saling menyalahkan ! Ayo kita kerjakan lain saja!'
Nah, kemarahan kedua tetap suara tinggi, tapi tak ada kalimat negatif yg menyakiti hati anak....

Berarti perlu banyak berlatih dan saling mengingatkan ya bu ira. Kontrol diri juga penting ya bu terutama saat hanya berdua dgn anak. Kadang kalau hanya berdua dan tidak ada yg mengingatkan suka gemess tp saya jg takut menyakiti hati anak.

▶Betul, bunda. Sangat2 banyak perlu latihan untuk manajemen diri....

2.Nailah
#tanyanarsum
Assalamu'alaykum.. Terima kasih ibu Irawati atas materi yg sgt bermanfaat utk para ibu.
Pertanyaan sy bgmn sikap ibu jika setelah kita marah, anak (3y9m) msh mengulangi kesalahan yg sama?  Apakah marah kita yg blm benar ataukah ada panduan marah sesuai dgn usia anak2? Spy tanpa berulang kali marah, anak bisa mengerti maksud baiknya. Jazakillah ibu..

#Jawab
Waalaikumsalam, bunda Nailah.... Saat anak berbuat salah, maka kita marah dengan target agar anak sadar kesalahannya. Target marah bukanlah agar anak bisa berubah. Sebab untuk beeubah anak butuh waktu lama, masih mungkin dia akan mengulang bbrp kali kesalahan lagi sampai dia benar2 berhasil berubah.
Apalagi semakin kecil usia anak, seharusnya semakin besar toleransi yg kita berikan. Jadi, marah itu tujuannya hanya untuk menyadarkan kesalahan anak dan memotivasi untuk berubah.
Untuk supaya anak benar2 berubah dan tidak mengulangi kesalahan tsb, harus berbagai pendekatan dan penanaman nilai lain kita lakukan dan butuh waktu lama.✅

Baik bu. Lalu, apakah marah itu berbeda2 metode sesuai umur anak, bu?

▶Ya, sebab semakin kecil usia anak, permakluman kita harus semakin besar, jadi tingkat kemarahan pun harus semakin rendah.

3.Ilma
#tanyanarsum
Bu, saya pernah membaca bahwa marah bisa mematikan sel otak anak, bila benar, adakah cara mengembalikan keadaan jika sudah terlanjur memarahi anak? Saya biasanya meminta maaf sambil memeluk anak, apakah itu cukup mengobati luka yg terlanjur tergores di hati anak? ✅

#Jawab
Untuk bunda Ilma..... Jika kita terlanjur memarahi anak, maka untuk memperbaiki memang paling bagus diawali dg minta maaf sambil memeluk. Bisa jadi itu sudah cukup untuk mengobati luka anak, jika lukanya masih kecil. Tetapi jika kemarahan bunda kepada anak sudah membekaskan luka yg parah, maka biasanya akan menyebabkan luka2 kepribadian yg membekas dalam, seperti hilangnya rasa percaya diri, munculnya keinginan balas dendam, memberontak, dsb. Jika sudah sampai seperti ini, maka permintaan maaf sj tak cukup. Harus dengan menghentikan gaya marah yg salah, dan mulai menggunakan cara marah yg smart, serta memberikan  terapi pengobatan sesuai dg penyakit karakter yg ditimbulkannya tadi. ✅

4.Husnul
#tanyanarsum
Assalamualaikum
Klo anak kita sudah terlanjur menjadi korban ortu yg dulunya pemarah dan skrng lagi bljr untuk tdk menjadi pemarah lagi, otomatis anak trsbt sdh mengikuti apa yg ortu dulu lakukan(pemarah) bgmn mangajarkan anak untuk belajar sabar.

#Jawab
Wlkmslm bunda Husnul.... Jawabannya mirip yang sebelumnya. Intinya adalah minta maaf, kemudian menghentikan pola marah yang salah dan mulai menggunakan pola marah yg benar, sambil mengajarkan bgmn cara marah yg benar pd anak. Yg perlu bunda ketahui, untuk anak yg sudah terlanjur mendapat pola asuh salah, bisa jadi butuh waktu lebih lama untuk menumbuhkan kesabarannya. ✅

5.Hesti
#tanyanarsum
Bismillah
Bu ira saya adalah ibu dari 4 anak laki2 semua. Anak sy semuanya aktif dan rumah sering berantakan krn keaktifan mereka. Hampir tiap hari sy marah selalu saja ada penyesalan. Bu ira bagaimana ya mengendalikan emosi yg terarah? Sering punya keinginan kuat untuk tak terpancing emosi tp saat lelah dan cape hawanya ingin marah akan segala keaktifan mereka yg bikin keributan... ✅
Pertanyaan yang sama juga Dari Bu redni mengenai cara memanage diri ketika dalam kondisi yang lelah..

#Jawab
Bunda, kita harus pandai menyesuaikan antara tuntutan dan tantangan. Kalau hanya punya satu atau dua anak, bolehlah kita punya keinginan atau tuntutan agar rumah bisa selalu rapi, cantik karena banyak hiasan, dan masih sempat masak sendiri.
Tetapi jika rejeki bunda punya anak laki2 banyak yang aktif semua, wajarlah jika rumah tidak bisa serapi dan secantik yg diharapkn semula.... jadi, santai saja. Turunkan tuntutan dengan hanya menstandarkan cukup ruang tamu saja yg harus bersih sesuai standar. Atau ijinkan anak2 berantakan di ruangan khusus mereka bermain.... Kalau kondisi badan lelah, sudah pasti emosi sulit termanage. Jadi yg harus dimange adalah pengaturan waktu dan beban tugas, agar fisik bunda bisa fresh setidaknya di waktu2 spesial yg sdh disepakati bersama anak. Tidak mungkin kuta bisa fresh selama 24 jam. Jadi, rencanakan bersama anak kapan waktu kebersamaan special itu dijadwal setiap hari. Misal bunda pilih di sore hari, maka managelah tugas2 bunda sebelum atau sesudah waktj tsb, shg cukup di sepuluh atau limabelas menit waktu spesjal itu sj yg bunda perlu fresh....✅

6.Ira
#tanya narsum
Sebenernya berapa lama kita boleh Marah pada anak? Terimakasih  ✅

#Jawab
Kita ingat bahwa target marah kita adalah untuk menumbuhkan kesadaran anak ttg kesalahannya, shg marah kita sudah harus berhenti ketika sudah muncul efek jera.
Semakin cepat muncul efek jera akan semakin baik.
Jadi bunda harus belajar csra marah yg efektif, yg bisa cepat memunculkn efek jera, shg marah tidak perlu lama2. ✅

7.Metha
#tanya narsum

Ini terkait komunikasi dg suami. Saya sdh bbrp kali mengkomunikasikan cara marah yg benar kpd suami tp masih sering kebablasan juga. Pas diingatkan (pd saat anak2 tdk ada) jawabannya khilaf . Tapi khilafnya sering banget. Gimana cara komunikasi efektifnya y, spy "marah cara lama" pd suami berubah? Terima kasih bu ✅

#Jawab
Sulit tifaknya mengubah pola marah , tergantung dari kuatnya pola yg salah tsb tertanam di bawah sadar, tergantung kuatnya tekad berubah yg ada, serta kualitas latihan utk berubahnya. Kalau belum ada tekad (baru keinginan sj), perubahan sulit tercapai. Jadi, sering2lah diskusikn kpd suami agar dia punya tekad berubah.... Keberadaan tekad tsb bisa jg diwujudkn dg keberanian utk menghukum diri sendiri. Ajak suami untuk berani menghukum diri sendiri dengan membayar denda duaratus ribu rupiah setiap kali tak berhasil menahan marah, misalnya.... Utk latihan, buat kesepakatan bentuk dan tahapannya seperti apa, lalu bantu suami spy disiplin dg latihan2nya.
Bantu dg membuat ceklis, misalnya, tempel di dinding almari, untuk menghitubg brp kali suami marah dalam sepekan, misalnya. Nah,dengan tekad yg kuat, rencana yg baik, latihan yg istiqamah, insya Allah akan ada perubahan, walau pun masih tetap membutuhkan waktu brerbulan2, bahkan sampai bertahun2.....

〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara
FB: HSMuslimNusantara pusat
instagram: @hsmuslimnusantara
twitter : @hs_muslim_n
web : hsmuslimnusantara.org

Rabu, 22 Juni 2016

Pengaruh Maksiat menurut Ibnu Qoyyim

Pengaruh Maksiat menurut Ibnu Qoyyim

MAKSIAT adalah lawan dari taat, istiqomah dan taqwa. Sikap wara’ adalah berhati-hati dari berbuat ma’siat. Perbuatan maksiat sangat banyak ragam dan macamnya.

Melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah Subhanahu Wata’ala terhitung sebagai maksiat. Demikian pula meninggalkan perkara yang diperintah dan diwajibkan oleh Allah juga dianggap sebagai maksiat. Maka perbuatan dusta, ghibah, mengadu domba, mencuri, berzina, minum khomer, membunuh jiwa yang diharamkan Allah, sihir, makan riba, makan harta anak yatim, durhaka kepada kedua orang tua, berjudi dan lain sebagainya semua itu terhidtung sebagai perbuatan maksiat kepada Allah.

Orang yang berbuat maksiat adalah orang yang berbuat hal yang sia-sia, orang menyia-nyiakan waktu, yang berbuat jelek, pendosa, orang fasik dan orang yang mencampur aduk amal sholeh dengan amal buruk. Semua kriteria tersebut telah disebut di dalam Al-Qur’anul Karim.

Bila disebut Istilah maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya bisa bermakna kufur dan berbuat fasik, demikian Ibnu Taimiyah mengatakan.

وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولهُ فَإِنَّ لهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS: Jin 23)

Awal mula Terjadinya Maksiat

Maksiat yang pertama kali terjadi di langit adalah karena adanya sifat dengki (hasud). Ini adalah maksiatnya Iblis ketika ia enggan bersujud kepada Adam alaihis salam, dan tidak mau melaksanakan perintah Allah serta menyombongkan diri, maka dari itu ia dihukumi sebagai golongan yang kafir kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Maksiat yang pertama kali terjadi di bumi adalah maksiat yang dilakukan putra Adam, ketika ia membunuh saudaranya  juga terjadi karena sifat dengki. Ketika mereka berdua mempersembahkan qurban untuk Allah Subhanahu Wata’ala. Qurban yang pertama diterima sedangkan qurban yang lain ditolak oleh Allah, maka yang qurbannya ditolak muncul sifat dengkinya kepada saudaranya yang diterima qurbannya sehingga ia membunuhnya.

Pengaruh Maksiat dalam Kehidupan

Di dalam Kitab Al-Jawabul Kafi, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah merinci dampak-dampak buruk dari perbuatan dosa dan maksiat terhadap kehidupan seorang hamba baik di dunia maupun di akhirat. Diantaranya;

1. Terhalang untuk mendapatkan keberkahan ilmu. Ilmu adalah cahaya yang dinyalakan Allah di dalam hati seorang hamba, dan maksiat mematikan cahaya tersebut.
Kegelisahan yang dirasakan pelaku maksiat di dalam hatinya, dan hilangnya ketenangan dari dalam hati.
Allah akan mempersulit setiap urusan dalam hidupnya.
2. Menimbulkan sifat lemah baik pada agama dan badannya, sehingga pelaku maksiat terasa berat dan malas untuk melakukan ketaatan.
3. Maksiat menghilangkan keberkahan umur dan melenyapkan kebaikannya.
Perbuatan maksiat akan mengundang perbuatan maksiat lainnya, sebagaimana ketaatan akan mengundang ketaatan yang lain.
4. Maksiat akan menghalangi seseorang dari taubat kepada Allah dan pelaku maksiat akan menjadi ‘tawanan’ bagi syaitan yang menguasainya
5. Maksiat yang dilakukan berulang-ulang akan menanamkan rasa cinta terhadap maksiat itu sendiri di dalam hati, sehingga pelaku maksiat akan merasa bangga dengan maksiat yang dia lakukan
Maksat akan menghinakan dan menjatuhkan kedudukan seorang hamba di hadapan Tuhannya.
Akibat buruk dari maksiat akan menimpa semua makhluk; manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan
6. Maksiat akan melahirkan kehinaan
7. Maksiat bisa merusak akal fikiran dan menghilangkan kecerdasannya
8. Maksiat akan menutup mata hati, menyebabkan kerasnya hati, dan pelakunya dianggap sebagai orang yang lalai.
9. Maksiat mendatangkan laknat Allah dan Rasul-Nya
Maksiat akan menghalangi doa malaikat dan Rasulullah
10. Maksiat menyebabkan kerusakan, keguncangan, gempa dan musibah
11. Maksiat bisa mematikan semangat, menghilangkan rasa malu, membutakan mata hati
12. Maksiat dan dosa bisa melenyapkan nikmat dan mendatangkan bencana
14. Maksiat dan dosa akan meninggalkan tatatan masyarakat yang rusak akhlak dan agamanya.
(Hidayatullah)

Andai saja umat Islam masih seperti in...

Andai saja umat Islam masih seperti in...

Ceritanya bagus...jd pengen share
Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Di sekelilingnya, para sahabat sedang asyik mendiskusikan sesuatu.
Tiba-tiba datanglah 3 orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang diapit oleh mereka.

Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata kakak beradik itu berkata :
"Tegakkanlah keadilan untuk kami, wahai Amirul Mukminin!"

"Qishashlah pembunuh ayah kami sebagai had atas kejahatan pemuda ini !".

Umar segera bangkit dan berkata :
"Bertakwalah kepada Allah, benarkah engkau membunuh ayah mereka, wahai anak muda?"

Pemuda lusuh itu menunduk sesal dan berkata :
"Benar, wahai Amirul Mukminin."

"Ceritakanlah kepada kami kejadiannya.", tukas Umar.

Pemuda lusuh itu kemudian memulai ceritanya :

"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua pemuda ini."

"Wahai, Amirul Mukminin, kau telah mendengar ceritanya, kami bisa mendatangkan saksi untuk itu.", sambung pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Tegakkanlah had Allah atasnya!" timpal yang lain.

Umar tertegun dan bimbang mendengar cerita si pemuda lusuh.

"Sesungguhnya yang kalian tuntut ini pemuda shalih lagi baik budinya. Dia membunuh ayah kalian karena khilaf kemarahan sesaat", ujarnya.

"Izinkan aku, meminta kalian berdua memaafkannya dan akulah yang akan membayarkan diyat (tebusan) atas kematian ayahmu", lanjut Umar.

"Maaf Amirul Mukminin," sergah kedua pemuda masih dengan mata marah menyala,

"Kami sangat menyayangi ayah kami, dan kami tidak akan ridha jika jiwa belum dibalas dengan jiwa".

Umar semakin bimbang, di hatinya telah tumbuh simpati kepada si pemuda lusuh yang dinilainya amanah, jujur, dan bertanggung jawab.

Tiba-tiba si pemuda lusuh berkata :
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku ridha dengan ketentuan Allah", ujarnya dengan tegas.

"Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku. Berilah aku tangguh 3 hari. Aku akan kembali untuk diqishash".

"Mana bisa begitu?", ujar kedua pemuda yang ayahnya terbunuh.

"Nak, tak punyakah kau kerabat atau kenalan untuk mengurus urusanmu?", tanya Umar.

"Sayangnya tidak ada, Amirul Mukminin".
"Bagaimana pendapatmu jika aku mati membawa hutang pertanggung jawaban kaumku bersamaku?", pemuda lusuh balik bertanya kepada Umar.

"Baik, aku akan memberimu waktu tiga hari
. Tapi harus ada yang mau menjaminmu, agar kamu kembali untuk menepati janji." kata Umar.

"Aku tidak memiliki seorang kerabatpun di sini. Hanya Allah, hanya Allah-lah penjaminku wahai orang-orang beriman", rajuknya.

Tiba-tiba dari belakang kerumunan terdengar suara lantang :
"Jadikan aku penjaminnya, wahai Amirul Mukminin".

Ternyata Salman al-Farisi yang berkata.

"Salman?" hardik Umar marah.
"Kau belum mengenal pemuda ini, Demi Allah, jangan main-main dengan urusan ini".

"Perkenalanku dengannya sama dengan perkenalanmu dengannya, yaa, Umar. Dan aku mempercayainya sebagaimana engkau percaya padanya", jawab Salman tenang.

Akhirnya dengan berat hati, Umar mengizinkan Salman menjadi penjamin si pemuda lusuh. Pemuda itu pun pergi mengurus urusannya.

Hari pertama berakhir tanpa ada tanda-tanda kedatangan si pemuda lusuh. Begitupun hari kedua. Orang-orang mulai bertanya-tanya apakah si pemuda akan kembali. Karena mudah saja jika si pemuda itu menghilang ke negeri yang jauh.

Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka mulai mengkhawatirkan nasib Salman, salah satu sahabat Rasulullah S.A.W. yang paling utama.

Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir, orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan si pemuda lusuh. Umar berjalan mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.

Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.

Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit, kembali jatuh, lalu bangkit kembali.

”Itu dia!” teriak Umar.
“Dia datang menepati janjinya!”.

Dengan tubuhnya bersimbah peluh dan nafas tersengal-sengal, si pemuda itu ambruk di pangkuan Umar.

”Hh..hh.. maafkan.. maafkan.. aku, wahai Amirul Mukminin..” ujarnya dengan susah payah,
“Tak kukira... urusan kaumku... menyita... banyak... waktu...”.
”Kupacu... tungganganku... tanpa henti, hingga... ia sekarat di gurun... Terpaksa... kutinggalkan... lalu aku berlari dari sana..”

”Demi Allah”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,

“Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan menghilang?” tanya Umar.

”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan... di kalangan Muslimin... tak ada lagi ksatria... menepati janji...” jawab si pemuda lusuh sambil tersenyum.

Mata Umar berkaca-kaca, sambil menahan haru, lalu ia bertanya :
“Lalu kau, Salman, mengapa mau- maunya kau menjamin orang yang baru saja kau kenal?"

Kemudian Salman menjawab :
" Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.

Hadirin mulai banyak yang menahan tangis haru dengan kejadian itu.

”Allahu Akbar!”, Tiba-tiba kedua pemuda penggugat berteriak.

“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”.

Semua orang tersentak kaget.

“Kalian...” ujar Umar.
“Apa maksudnya ini? Mengapa kalian..?” Umar semakin haru.

Kemudian dua pemuda menjawab dengan membahana :
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.

”Allahu Akbar!” teriak hadirin.

Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua orang.
MasyaAllah..., saya bangga menjadi muslim bersama kita ksatria-ksatria muslim yang memuliakan al islam dengan berbagi pesan nasehatnya untuk berada dijalan-Nya..
Allahu Akbar…!

Senin, 20 Juni 2016

ZAKAT

Bismillahirrahmaanirrahiim


ZAKAT

1. Zakat adalah salah satu rukun Islam, hukumnya WAJIB. Zakat dikeluarkan BUKAN karena kita baik hati, sholeh, atau pemurah. Namun karena harta tersebut memang bukan milik kita. Tapi milik mustahiq yang masih bercampur dengan harta kita.
"Golongan yang tidak mengeluarkan zakat akan ditimpa kelaparan dan kemarau panjang" (Hadits Thabrani)
"Bila zakat itu bercampur dengan kekayaan lain maka kekayaan itu akan binasa" (Hadits Bazzar)

2. Zakat penghasilan adalah zakat yang dikeluarkan dari penghasilan yang baik-baik, setiap mendapatkan penghasilan tersebut (umumnya bulanan).
“Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (keluarkan zakat) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.“ (QS, Al-Baqarah (2): 267)
Nishabnya diqiyaskan dengan zakat pertanian, adalah setara dengan 653kg beras atau sekitar 6.5 juta rupiah per bulan. Bagi yang  penghasilannya belum mencapai nilai tersebut, maka belum wajib zakat.
Jumlah yang dikeluarkan adalah 2.5% dari penghasilan bruto (gross)

3. Zakat maal (tabungan) adalah zakat harta yang tidak dimanfaatkan selama satu tahun penuh (haul). Nishabnya 20 dinar emas (85gr emas).
Harta yang dipergunakan, seperti rumah tinggal, kendaraan sehari-hari, perhiasan yang dipakai tidak wajib dikeluarkan zakatnya.

Tabungan dengan nilai nishab yang setara, dijumlahkan dan dikeluarkan zakatnyasebesar 2,5%. Jika memiliki nishab sendiri-sendiri, maka tidak dijumlahkan. Misalnya domba dengan uang, tidak perlu dijumlahkan, namun dikeluarkan jika masing-masing mencapai nishab.

4. Mustahiq zakat adalah INDIVIDU yang terdiri dari 8 asnaf (At Taubah : 60)
"Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana"
Harta zakat hendaknya tidak disalurkan untuk membiayai pembangunan masjid, perpustakaan, infrastruktur, dll. Tapi boleh disalurkan pada personalnya (marbot mesjid, guru/pengajar di masjid atau lembaga al Qur'an), dll yang termasuk ke dalam 8 golongan mustahiq tersebut

5. Infaq sunnah dan sedekah bisa disalurkan untuk segala macam kebaikan, dengan nilai yang tidak ditentukan. Bulan Ramadhan adalah bulan terbaik untuk memperbanyak infaq sunnah

6. Waqaf adalah dana abadi, diperuntukkan untuk pembangunan infrastruktur atau membiayai kebutuhan ummat yang sifatnya jangka panjang, seperti masjid, buku, perpustakaan, ambulan, rumah sakit, sekolah, dll. BUKAN untuk individunya

7. Fidyah dibayarkan sebagai pengganti shaum yang ditinggalkan di bulan Ramadhan, untuk orang yang sakit menahun, orang yang tua renta, orang yang bekerja berat dan tidak mungkin melaksanakan shaum di bulan Ramadhan, ibu hamil dan menyusui (bukan nifas dan haid) yang khawatir akan keselamatan bayinya atau yang berada dalam kondisi hamil dan menyusui terus menerus

Fidyah dibayarkan dalam bentuk MAKANAN atau uang yang disalurkan pada makanan, seperti pada program Sembako murah, dll. Tidak dikeluarkan untuk membayar sekolah, transportasi, dll.

Kadar fidyah adalah memberi makan satu orang miskin setiap hari yang ditinggalkan dengan porsi yang mengenyangkan.  Para sahabat membayar fidyah untuk satu kali makan dari setiap hari yang ditinggalkan (bukan jumlah makan sehari). Namun jika ingin memberi makan dengan jumlah yang setara dengan yang dimakan setiap hari, maka tidak ada larangan (misalnya 2 atau 3 kali).

Jika dibayarkan dalam bentuk makanan pokok (mentah) adalah sejumlah 1/2 sha' beras atau sekitar 1.5kg beras.

Jazakumullahu khairan katsiiraa

Minggu, 19 Juni 2016

Sederhana... Namun lebih dari kemewahan

Sederhana...
Namun lebih dari kemewahan

Sempit....
Namun cukup lebar untuk kutapaki
Jalan itu hanya setapak
Namun menjanjikan kebahagian

Jalan itu begitu asri dan sejuk
Menampakkan keindahan diri pemiliknya

Kutapaki jalan itu sendiri
Namun tak sedikitpun diriku merasa sepi
Kutapaki jalan itu pagi dan malam
Namun semuanya amat terang gemintang

Aku tak pernah tau kemana jalan ini membawaku
Namun ku yakin jalan ini menuju ke arah kebahagiaan
Karna ku berjalan di jalan setapak
Jalan setapak di hatimu.

Rabu, 15 Juni 2016

Rindu

Kehadiranmu kini,,
Telah berdendang sendu
Dengan seuntai senandung rindu
Diantara rintihan sang kalbu
Yang terus tenggelam dalam kubangan pilu
Terinjak-injak derap langkah sang waktu

Kehadiranmu kini,,
Yang menimpakanku ber ton-ton rindu
Dengan sejuta lembar bayangmu
Merebut tiap hempasan nafasku
Mengikat tiap persendian tulangku
Dengan merindukanmu.. Aku menemukanmu

Kehadiranmu kini,,
Yang mencintaiku
Yang melengkapi semua asaku
Yang bermain di atas taman hatiku
Yang selalu berdendang di ujung rinduku
Yang takkan hilang meski disapa mesra sang bayu

Kehadiranmu kini,,
Yang perlahan tp pasti telah menaklukanku..