Selasa, 11 Agustus 2015

Cerita kocak

  Santai sejenak...
Ada seorang suami yang istrinya bawel sekali. 
Suatu hari saking keselnya, istrinya dijeburin ke sumur.  Beberapa saat kemudian, sang suami menyesal dan menurunkan timba sumur ke bawah dan meminta isttinya untuk naik. 
Tetapi  yang naik adalah Jin penunggu sumur . 
Sang suami membentak, " kenapa kamu yang naik ?!".  Dengan kalem sang jin menjawab, " abis engga tahan, mas.  Ada perempuan bawel banget di bawah".
[

SEORANG ISTRI & LAMPU ALADDIN:Seorang istri menemukan lampu Aladdin, lalu ia menggosoknya hingga keluarlah jin dari lampu tersebut. Dia mengajukan 5 permohonan kepada jin :1. Aku ingin mata suamiku hanya kepadaku, 2. Aku ingin selalu diperhatikan dan diingat oleh suamiku. 3. Aku ingin jadi milik satu2nya dari suamiku. 4. Aku ingin suamiku selalu tidur di sisiku, dan 5. Aku ingin jadi yang setiap pagi paling awal diraba, dijamah dan selalu diingat oleh suamiku.Jin mengabulkan permintaan tersebut dan....whoosh....si istri berubah jadi HP......!!!!Via DR Anang EndaryantoSuka

Hebatnya Huruf T ::.

Tatkala Temperatur Terik Terbakar Terus, Tukang Tempe Tetap Tabah, "Tempe... Tempe...," Teriaknya.

Ternyata Teriakan Tukang Tempe Tadi Terdengar Tukang Tahu.
Terpaksa Teriakannya Tambah Tinggi, "Tahu... Tahu... Tahu...!"

"Tempenya Terbaik, Tempenya Terenak, Tempenya Terkenal," Timpal Tukang Tempe.

Tukang Tahu Tidak Terima, "Tempenya Tengik, Tempenya Tawar, Tempenya Terjelek!"

Tukang Tempe Tertegun, Terhenyak, "Teplak!!!" Tamparannya Tepat Terkena Tukang Tahu. Tapi Tukang Tahu Tidak Terkalahkan. Tendangannya Tepat Terkena Tulang Tungkai Tukang Tempe.

Tukang Tempe Terjengkang Tumbang! Tapi Terus Tegak, Tatapannya Terhunus Tajam Terhadap Tukang Tahu. Tetapi Tukang Tahu Tidak Terpengaruh Tatapan Tajam Tukang Tempe Tersebut.

"Tidak Takut!" Tantang Tukang Tahu.

Tidak Ternyana Tangan Tukang Tempe Terkepal, Tinjunya Terarah, Terus Tonjokannya Tepat Terkena Tukang Tahu. Tak Terelakkan!
Tujuh Tempat Terkena Tinjunya. Tonjokan Terakhir Tepat Terkena Telak. Tukang Tahu Terjerembab.

"Tolong... Tolong... Tolong..." Teriaknya Terdengar Tinggi. Tanpa Tunda Tempo, Tukang Tempe Teruskan Teriakannya, "Tempe... Tempe... Tempe...!"

Tapi Terus Terdengar Tembakan. Tukang Tempe pun Tertembak Tentara Teroris, "Tetetetetetetetetetetetetetet..." Tukang Tempe Terkapar Tertembak. Tukang Tahu pun Tertawa Terbahak-bahak.

Teletai Telitanya. Tapek Tau...!

[8:42 24/08/2015] ‪+62 878-8658-2079‬: Pesan utk bu nov yg hobi tempe
Jangan sering mengkonsumsi tempe, krn menurut Riset terbaru :
"Mengkonsumsi Tempe ternyata lebih memicu darah tinggi drpd daging kambing.."

Untuk mendekatkan kebenaran, Riset sampling dilakukan pada 2 org bersaudara (Ony dan Ega) yg berusia 45-47 th. Makan hanya 1 kali sehari selama 3 hari.

Hari 1
Ony makan sop kambing
Ega makan tempe bacem
Reaksi normal

Hari 2
Ony makan gule kambing
Ega makan tempe balado
Reaksi Ony normal, Ega mulai gusar dan mulai melirik2 makanan Ony

Hari 3
Ony makan sate kambing
Ega makan tempe goreng
Reaksi Ony normal, sedangkan reaksi Ega membanting piring dan merampas sebagian sate si Ony sambil berteriak tempe lagi... tempe lagi...!!!

Kesimpulan :
tempe lebih memicu darah tinggi dan membuat emosi tdk terkendali....!

[

‬: HATI2 DLM MEMBAGI KASIH SAYANG

Informasi bagi rekan sekalian, Hati hatilah bagi ibu ibu yg punya anak balita, ada kejadian memilukan, si kecil yg cemburu dgn kelahiran adiknya.

Di Cawang Jakarta Timur ada seorang anak berusia 6 tahun cemburu pada adiknya yg berumur 5 bulan, karena ia merasa sang Ibu lebih memperhatikan sang adik ketimbang dirinya. Suatu malam si anak yg cemburu ini mengoleskan racun tikus di puting susu Ibu nya yg sedang lelap tidur, apa yg terjadi keesokan harinya ....
Sopir mereka ditemukan tewas di garasi.....!!!

[

‬: Pasti mumet punya murid kayak Bejo ini

Guru : Bejo..kamu tahu siapa Pattimura..
Bejo ; Tidak bu..
Guru : kalau Wolter Monginsidi,
Bejo : tidak kenal juga bu....
Boleh tidak saya tanya bu guru ....apakah kenal sama  Peter , Dora?
Guru ; tidak....memang siapa mereka.?
Bejo : itulah bu....saya juga tidak kenal teman2 ibu tadi....karena kan kita punya kenalan sendiri~sendiri...
Guru : Bejoooooooo

Guru: Bejo, setelah 7 berapa?"
Bejo: "8, 9, 10, Bu."
Guru: "Bagus! Siapa yang ajarin?"
Bejo: "Bapak aku, Bu."
Guru: "Terus, setelah 10 apa?"
Bejo: "Jack, Queen, King...
Guru :

Bapak: "Bejo, kalau UAN ini kamu gagal lagi, ga usah kenal sama Bapak!"
..........*Setelah UAN* .........
Bapak: "Bejo, gimana UAN kamu?"
Bejo: "Maaf, Bapak siapa, ya?".

Tertawa sejenak yuuk..biar rame..

Keluguan & Kepolosan
BEJO (Murid SD)

Guru: "Bejo! Di mana letak Jantung?"
Bejo: "Gak tau, Pak."
Guru: "Bodoh! Keluar!"
(keluar sebentar dan masuk lg)
Bejo: "Pak, di luar juga gak ada Jantung."
Guru:

Guru: "Kenapa telat?"
Bejo: "Saya dicopet, Bu"
Guru: "Terus kamu ga apa-apa?"
Bejo: "Ga apa-apa, Bu."
Guru: "Apa yang hilang?"
Bejo: "Buku PR, Bu."
Guru:

Guru: "Siapa yang ingat pelajaran minggu lalu?"
(hening)
Guru: "Bejo? Kamu ingat?"
Bejo: "Sudahlah, Bu! Yang lalu, biarlah berlalu."
Guru:

Guru: "Bejo, jangan nyontek!"
Bejo: "Gak, Pak."
Guru: "Terus ngapain nengok-nengok ke Erby?"
Bejo: "Ini soal-soalnya kayaknya sama, Pak. Jadi, saya cuma mencocokkan jawaban!"
Guru:

Guru: "Oke, siapa yang bisa jawab, boleh pulang."
(Bejo lempar tas ke jendela)
Guru: "Siapa yang lempar tadi?"
Bejo: "Saya, bu! Horee bisa pulang!"
Guru:
[19:28 25/08/2015] Noviar: Hhmm...mungkin gak banyak juga yg tahu kalau penemu formalin itu org Minang... Berawal dari rendang yg memang makanan paling awet dibanding yg lain...sehingga bisa dikirim dg paket... Duluu..., waktu Malin Kundang berlayar dg kapalnya dan saat berhenti dinegara lain..., makanannya selalu tdk cocok... sehingga ibunya selalu mengirimkan rendang..., dan ditulis.. For Malin... Dan akhirnya ketika bahan pengawet ditemukan..., diberi nama formalin....

SERIAL BEJO

Bejo : "Dok, tolong selametin anak saya!"
Dokter : " Tenang dulu pak! Anak bpk kenapa? Bejo : " Anak saya ulang tahun dok! Selametin ya…"
Dokter : "???!!!"

Mak : "Rapi amat lo Jo, mau kemana?".           Bejo : "Nonton konser Mak!"
Mak : "Dimana?"
Bejo : "Di Youtube"
Mak : " Oh, baek baek yak Jo".
Bejo : "Iye mak".

Bejo : "Bang, bakso dong"
Pedagang: "Boleh"
Bejo : " Sambelnya banyakin dikit".
Pedagang : "Mau lu apa sih, banyak ape sedikit... gitu aja  ngomong nya  biar jelas  guaa  ?".

Bejo : "Bang, nasi goreng satu".
Pedagang : "Pedes apa ga?".
Bejo : "Mana gue tau? Kan belum juga di goreng nasi nya  apa  lagi  nyicipin"
Pedagang : "???!!!".

Bejo : "Bang bubur satu ya".
Pedagang : "Pakai kacang?".
Bejo : "Ya Pakee..".
Pedagang : "Dikasih ayam  nggak  ?"
Bejo : " Lah ... kalau dikasih ayam gue makan apa?"

Bejo : "Saya mau ngelamar kerja, ini foto copy ijazah saya".
Petugas : "Kok foto copy?!? Aslinya mana…???". 
Bejo : "Asli  Tegal…!!"
Petugas : ????

Petugas : "Bang maaf, disini ruangan ber-AC, jadi nggak boleh ngerokok."
Bejo : "Oh maaf pak, lupa matiin AC-nya!!!". (Ambil remote)
Petugas : ?????.

Bejo : "Bang, kok mie ayamnya gak ada ayamnya?!"
Pedagang: "Lah, lu kalau beli lem tikus emang ada tikusnya?!" Bejo : :Gerrrrrrr"

Kisah dari Madura:

Dalam kesempatan lomba nyanyi lagu Hari Kemerdekaan. Dengan semangat Cak Sakerah mulai menyanyi:
"Enam belas Agustus tahun empat lima ..."
Juri : "Bapak, salah itu... Ulangi !"
Cak Sakerah mulai lagi:
"Enam belas Agustus tahun empat lima ..."
Juri : "Masih salah ... Ini kesempatan terakhir!"
Cak Sakera: "Saya ndak salah pak, sampean dengar saya nyanyi dulu"
Akhirnya juri serius mendengarkan,
"Enam belas Agustus tahun empat lima... BESOKNYA hari Kemerdekaan kita ..." ����������������.

Perang Mu’tah – 3000 Pasukan Muslim Melawan 200.000 Pasukan Romawi

Menu


Perang Mu’tah – 3000 Pasukan Muslim Melawan 200.000 Pasukan Romawi
      29 Votes

PERTEMPURAN paling heroik dan dahsyat yang dialami umat Islam di era awal perkembangan Islam adalah saat mereka yang hanya berkekuatan 3000 orang melawan pasukan terkuat di muka bumi saat itu, pasukan romawi dengan kaisarnya Heraclius yang membawa pasukan sebanyak 200.000 orang. Pasukan super besar tersebut merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi dan Nashara Arab sekitar dataran Syam, jajahan Romawi. Perang terjadi di daerah Mu’tah –sehingga sejarawan menyebutnya perang Mu’tah  (sekitar Yordania sekarang), pada tanggal 5 Jumadil Awal tahun 8 H atau tahun 629 M.

LATAR BELAKANG PEPERANGAN

Penyebab perang Mu’tah ini bermula ketika Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mengirim utusan bernama al-Harits bin Umair al-‘Azdi yang akan dikirim ke penguasa Bashra (Romawi Timur) bernama Hanits bin Abi Syamr Al-Ghassani yg baru diangkat oleh Kekaisaran Romawi. Di tengah perjalanan, utusan itu dicegat dan ditangkap penguasa setempat bernama Syurahbil bin ‘Amr al-Ghassani, pemimpin dari bani Gasshaniyah (daerah jajahan romawi) dan dibawa ke hadapan kaisar Romawi Heraclius. Setelah itu kepalanya dipenggal.

Dan pada tahun yg sama, 15 orang utusan Rasulullah dibunuh di Dhat al Talh daerah disekitar negeri Syam (Irak). Sebelumnya, tidak pernah seorang utusan dari Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam dibunuh dalam misinya.

Pelecehan dan pembunuhan utusan negara termasuk menyalahi aturan politik dunia. Membunuh utusan sama saja ajakan untuk berperang. Hal inilah yang membuat Rasulullah marah.

Mendengar utusan damainya dibunuh, Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sangat sedih. Setelah sebelumnya berunding dengan para Shahabat, lalu diutuslah pasukan muslimin sebanyak 3000 orang untuk berangkat ke daerah Syam, sebuah pasukan terbesar yang dimiliki kaum muslim setelah perang Ahzab. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam sadar melawan penguasa Bushra berarti juga melawan pasukan Romawi yang notabene adalah pasukan terbesar dan adidaya di muka bumi ketika itu. Namun ini harus dilakukan karena bisa saja suatu saat pasukan lawan akan menyerang Madinah. Kelak pertempuran ini adalah awal dari pertempuran Arab – Byzantium.

Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam berkata:

“Pasukan ini dipimpin oleh Zaid bin Haritsah, bila ia gugur komando dipegang oleh Ja’far bin Abu Thalib, bila gugur pula panji diambil oleh Abdullah bin Rawahah –saat itu beliau meneteskan air mata- selanjutnya bendera itu dipegang oleh seorang ‘pedang Allah’ dan akhirnya Allah Subhânahu wata‘âlâ memberikan kemenangan. (HR. al-Bukhari)

Ini pertama kali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat tiga panglima sekaligus karena beliau mengetahui kekuatan militer Romawi yang tak tertandingi pada waktu itu.

Ketika pasukan ini berangkat Khalid bin al-Walid secara sukarela juga ikut menggabungkan diri. Dengan keikhlasan dan kesanggupannya dalam perang hendak memperlihatkan itikad baiknya sebagai orang Islam. Masyarakat ramai mengucapkan selamat jalan kepada komandan-komandan beserta pasukannya itu, dan Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam juga turut mengantarkan mereka sampai ke Tsaniatul Wada’, diluar kota Madinah dengan memberikan pesan kepada mereka: Jangan membunuh wanita, bayi, orang-orang buta atau anak-anak, jangan menghancurkan rumah-rumah atau menebangi pohon-pohon. Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam mendoakan dan kaum Muslimin juga turut mendoakan dengan berkata:

Allah menyertai dan melindungi kamu sekalian. Semoga kembali dengan selamat.

Komandan pasukan itu semula merencanakan hendak menyergap pasukan Syam secara tiba-tiba, seperti yang biasa dilakukan dalam ekspedisi-ekspedisi yang sebelumnya. Dengan demikian kemenangan akan diperoleh lebih cepat dan kembali dengan membawa kemenangan. Mereka berangkat sampai di Ma’an di bilangan Syam dengan tidak mereka ketahui apa yang akan mereka hadapi di sana.

JALANNYA PEPERANGAN

Kaum Muslimin bergerak meninggalkan Madinah. Musuh pun mendengar keberangkatan mereka. Dipersiapkanlah pasukan super besar guna menghadapi kekuatan kaum Muslimin. Kaisar Heraclius mengerahkan lebih dari 100.000 tentara Romawi sedangkan Syurahbil bin ‘Amr mengerahkan 100.000 tentara yang terdiri dari kabilah Lakham, Juzdan, Qain dan Bahra‘. Kedua pasukan itupun bergabung. Berdasarkan informasi, pasukan tersebut dipimpin oleh Theodore, saudara Heraklius.

Mendengar kekuatan musuh yang begitu besar, kaum Muslimin berhenti selama dua malam di daerah bernama Ma’an wilayah Syam guna merundingkan apa langkah yang akan diambil. Beberapa orang berpendapat,

“Sebaiknya kita menulis surat kepada Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam, melaporkan kekuatan musuh. Mungkin beliau akan menambah kekuatan kita dengan pasukan yang lebih besar lagi, atau memerintahkan sesuatu yang harus kita lakukan.”

Tetapi Abdullah bin Rawahah tidak menyetujui pendapat tersebut. Bahkan ia mengobarkan semangat pasukan dengan ucapan berapi-api:

“Demi Allah Subhânahu wata‘âlâ, sesungguhnya apa yang kalian tidak sukai ini adalah sesuatu yang kalian keluar mencarinya, yaitu syahid (gugur di medan perang). Kita tidak berperang karena jumlah pasukan atau besarnya kekuatan. Kita berjuang semata-mata untuk agama ini yang Allah Subhânahu wata‘âlâ telah memuliakan kita dengannya. Majulah! Hanya ada salah satu dari dua kebaikan; menang atau gugur (syahid) di medan perang.” Lalu mereka mengatakan, “ Demi Allah, Ibnu Rawahah berkata benar.”

Demikianlah, pasukan terus ke tujuannya, dengan bilangan yang jauh lebih sedikit menghadapi musuh yang berjumlah 200.000 yang berhasil dihimpun orang Romawi untuk menghadapi suatu peperangan dahsyat yang belum ada taranya pada masa sebelum itu.

Perlu kita ketahui, tentara di medan perang dibagi menjadi lima pasukan, yaitu: pasukan depan, belakang, kanan, kiri, dan tengah sebagai pasukan inti. Tentara musuh dengan jumlah yang sangat banyak mengharuskan seorang tentara dari sahabat melawan puluhan tentara musuh. Akan tetapi, tentara Allah yang memiliki kekuatan iman dan semangat jihad untuk meraih kemulian mati syahid tidak merasakannya sebagai beban berat bagi mereka sebab kekuatan mereka satu banding sepuluh –sebagaimana digambarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya,

“Jika ada di antara kalian 20 orang yang bersabar maka akan mengalahkan 200 orang.” (QS. Al Anfal: 65)

Tentara Allah sebagai wali dan kekasih-Nya yang berperang untuk meninggikan agama-Nya, maka pasti Allah bersama mereka. Adapun orang-orang kafir sebanyak apapun bilangan dan kekuatan mereka, maka ibarat buih yang tidak berarti apa-apa.

KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA ZAID BIN HARITSAH

Sesuai perintah Rasulullah, pasukan Islam dipimpin Zaid bin Haritsah dengan bendera di tangannya. 3.000 pasukan Islam melawan 200.000 tentara Romawi jelas tak seimbang. Zaid bertempur dengan gagah berani. Sampai kemudian sebuah tombak Romawi menancap di tubuhnya. Darah segar assaabiquunal awwalun tumpah di bumi Mu’tah. Andaikan memiliki air mata, tanah di sana sudah menangis sejak tubuh mulia itu terjatuh. Zaid tergeletak sudah. Syahid

KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA JA’FAR BIN ABU THALIB

Melihat Zaid jatuh, Ja’far bin Abu Thalib segera melompat dari punggung kudanya yang kemerah-merahan, lalu dipukulnya kaki kuda itu dengan pedang, agar tidak dapat dimanfaatkan musuh selama-lamanya. Kemudian secepat kilat disambarnya bendera komando Rasulullah dari tangan Zaid, lalu diacungkan tinggi-tinggi sebagai tanda pimpinan kini beralih kepadanya

Ja’far bertempur dengan gagah berani sambil memegang bendera pasukan. Beliau maju ke tengah-tengah barisan musuh sambil mengibaskan pedang kiri dan kanan memukul rubuh setiap musuh yang mendekat kepadanya sampai akhirnya, pasukan musuh dapat mengepung dan mengeroyoknya. Ja’far berputar-putar mengayunkan pedang di tengah-tengah musuh yang mengepungnya. Dia mengamuk menyerang musuh ke kanan dan kiri dengan hebat sambil bersenandung:

Wahai … surga nan nikmat sudah mendekat
Minuman segar, tercium harum
Tetapi engkau Rum … Rum….
Menghampiri siksa
Di malam gelap gulita, jauh dari keluarga
Tugasku … menggempurmu ..

Sampai suatu ketika, ada seorang pasukan Romawi yang menebas tangan kanannya hingga putus. Darah suci pahlawan Islam tertumpah ke bumi. Lalu bendera dipegang tangan kirinya. Rupanya pasukan Romawi tidak rela bendera itu tetap berkibar. Tangan kirinya pun ditebas hingga putus. Kini ia kehilangan dua tangannya. Yang tersisa hanyalah sedikit lengan bagian atas. Dalam kondisi demikian, semangat beliau tidak surut, Ja’far tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara memeluknya sampai beliau gugur oleh senjata lawan.  Ada diantara mereka yang menyerang Ja’far dan membelah tubuhnya menjadi dua.

Berdasarkan keterangan Ibnu Umar Radhiyallâhu ‘anhu, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak kurang 90 luka di bagian tubuh depan beliau akibat tusukan pedang dan anak panah.

KEPAHLAWANAN DAN SYAHIDNYA ABDULLAH BIN RAWAHAH

Ketika ia bertempur sebagai seorang prajurit, ibnu Rawahah menerjang ke muka dan ke belakang, ke kiri dan ke kanan tanpa ragu-ragu dan perduli. Sekarang setelah menjadi panglima seluruh pasukan yang akan dimintai tanggung jawabnya atas hidup mati pasukannya, setelah terlihat kehebatan tentara romawi seketika seolah terlintas rasa kecut dan ragu-ragu pada dirinya. Tetapi saat itu hanya sekejap, kemudian ia membangkitkan seluruh semangat dan kekutannya dan melenyapkan semua kekhawatiran dari dirinya, sambil berseru:

“Aku telah bersumpah wahai diri, maju ke medan laga

Tapi kenapa kulihat engkau menolak syurga …..
Wahai diri, bila kau tak tewas terbunuh, kau kan pasti mati
Inilah kematian sejati yang sejak lama kau nanti …….
Tibalah waktunya apa yang engkau idam-idamkan selama ini
Jika kau ikuti jejak keduanya, itulah ksatria sejati ….!”

(Maksudnya, kedua sahabatnya Zaid dan Ja’far yang telah mendahului gugur sebagai syuhada).

Jika kamu berbuat seperti keduanya, itulah ksatria sejati…..!”

Ia pun maju menyerbu orang-orang Romawi dengan tabahnya. Kalau tidaklah taqdir Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menentukan, bahwa hari itu adalah saat janjinya akan ke syurga, niscaya ia akan terus menebas musuh dengan pedangnya, hingga dapat menewaskan sejumlah besar dari mereka. Tetapi waktu keberangkatan sudah tiba, yang memberitahukan awal perjalananya pulang ke hadirat Alloh, maka naiklah ia sebagai syahid.

Jasadnya jatuh terkapar, tapi rohnya yang suci dan perwira naik menghadap Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Tinggi, dan tercapailah puncak idamannya: “Hingga dikatakan, yaitu bila mereka meliwati mayatku: Wahai prajurit perang yang dipimpin Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan benar ia telah terpimpin!” “Benar engkau, ya Ibnu Rawahah….! Anda adalah seorang prajurit yang telah dipimpin oleh Allah…..!”

KABAR SYAHIDNYA PARA KOMANDAN PERANG MU’TAH SAMPAI KE RASULULLAH

Selagi pertempuran sengit sedang berkecamuk di bumi Balqa’ di Syam, Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam sedang duduk beserta para shahabat di Madinah sambil mempercakapkan mereka. Tiba-tiba percakapan yang berjalan dengan tenang tenteram, Nabi terdiam, kedua matanya jadi basah berkaca-kaca. Beliau mengangkatkan wajahnya dengan mengedipkan kedua matanya, untuk melepas air mata yang jatuh disebabkan rasa duka… ! Seraya memandang berkeliling ke wajah para shahabatnya dengan pandangan haru, beliau berkata:

“Panji perang dipegang oleh Zaid bin Haritsah, ia bertempur bersamanya hingga ia gugur sebagai syahid. Kemudian diambil alih oleh Ja’far, dan ia bertempur pula bersamanya sampai syahid pula.”. Be!iau berdiam sebentar, lain diteruskannya ucapannya: “Kemudian panji itu dipegang oleh Abdulah bin Rawahah dan ia bertempur bersama panji itu, sampai akhirnya ia·pun syahid pula”.

Kemudian Rasul diam lagi seketika, sementara mata beliau bercahaya, menyinarkan kegembiraan, ketentraman dan kerinduan, lalu katanya pula : “Mereka bertiga diangkatkan ke tempatku ke syurga …”

Para sahabat di sisi Rasulullah juga tidak henti-hentinya meneteskan air mata. Tangis duka. Tangis kehilangan. Kehilangan sahabat-sahabat terbaik. Kehilangan pahlawan-pahlawan pemberani. Namun bersamaan dengan tangis itu juga ada kabar gembira bagi mereka. Bahwa ketiga orang itu kini disambut para malaikat dengan penuh hormat, dijemput para bidadari, dan mendapati janji surga serta ridha Ilahi. Secara khusus kepada Ja’far bin Abu Thalib yang terbelah tubuhnya, ia dijuluki dengan Ath-Thayyar (penerbang) atau Dzul-Janahain (orang yang memiliki dua sayap) sebab Allah menganugerahinya dua sayap di surga, dan dengan sayap itu ia bisa terbang di surga sekehendaknya.

BERITA SYAHIDNYA JA’FAR DISAMPAIKAN LANGSUNG OLEH RASULULLAH KEPADA KELUARGA JA’FAR

Rasulullah pun pergi ke rumah Ja’far, didapatinya Asma’, istri Ja’far, sedang bersiap-siap menunggu kedatangan suaminya. Dia mengaduk adonan roti, merawat anak-anak, memandikan dan memakaikan baju mereka yang bersih.

Asma’ bercerita,

“Ketika Rasulullah mengunjungi kami, terlihat wajah beliau diselubungi kabut sedih. Hatiku cemas, tetapi aku tidak berani menanyakan apa yang terjadi, karena aku takut mendengar berita buruk.”

Rasulullah memberi salam dan menanyakan anak-anak Ja’far dan menyuruh mereka ke hadapan Rasulullah.

Asma’ kemudian memanggil mereka semua dan disuruhnya menemui Rasulullah SAW. Anak-anak Ja’far berlompatan kegirangan mengetahui kedatangan beliau. Mereka berebutan untuk bersalaman kepada Rasulullah. Beliau menengkurapkan mukanya kepada anak-anak sambil menciumi mereka penuh haru. Air mata beliau mengalir membasahi pipi mereka.
Asma’ bertanya,

“Ya Rasulullah, demi Allah, mengapa anda menangis? Apa yang terjadi dengan Ja’far dan kedua sahabatnya?”

Beliau menjawab, “Ya, mereka telah syahid hari ini.”

Mendengar jawaban beliau, maka reduplah senyum kegirangan di wajah anak-anak, apalagi setelah mendengar ibu mereka menangis tersedu-sedu. Mereka diam terpaku di tempat masing-masing, seolah-olah seekor burung sedang bertengger di kepala mereka.

Rasulullah berdoa sambil menyeka air matanya,

“Ya Allah, gantilah Ja’far bagi anak-anaknya… Ya Allah, gantilah Ja’far bagi istrinya.”

Kemudian beliau bersabda,

“Aku melihat, sungguh Ja’far berada di surga. Dia mempunyai dua sayap berlumuran darah dan bertanda di kakinya.”

STRATEGI PERANG KHALID BIN WALID

Tsabit bin Arqam mengambil bendera komando yang telah tak bertuan itu dan berteriak memanggil para shahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum muslimin. Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid

Khalid bin Walid Radhiyallâhu ‘anhu sangat sadar, tidaklah mungkin menandingi pasukan sebesar pasukan Romawi tanpa siasat yang jitu. Ia lalu mengatur strategi, ditebarkan rasa takut ke diri musuh dengan selalu mengganti formasi pasukan setiap hari. Pasukan di barisan depan ditukar dibelakang, dan yang dibelakang berada didepan. Pasukan sayap kanan berganti posisi ke kiri begitupun sebaliknya. Tujuannya adalah agar pasukan romawi mengira pasukan muslimin mendapat bantuan tambahan pasukan baru.

Selain itu, khalid bin Walid mengulur-ulur waktu peperangan sampai sore hari karena menurut aturan peperangan pada waktu itu, peperangan tidak boleh dilakukan pada malam hari. Khalid memerintahkan beberapa kelompok prajurit kaum muslimin pada pagi harinya agar berjalan dari arah kejauhan menuju medan perang dengan menarik pelepah-pelepah pohon sehingga dari kejauhan terlihat seperti pasukan bantuan yang datang dengan membuat debu-debu berterbangan.

Pasukan musuh yang menyaksikan peristiwa tersebut mengira bahwa pasukan muslim benar-benar mendapatkan bala bantuan. Mereka berpikir, bahwa kemarin dengan 3000 orang pasukan saja merasa kewalahan, apalagi jika datang pasukan bantuan. Karena itu, pasukan musuh merasa takut dan akhirnya mengundurkan diri dari medan pertempuran.

Pasukan Islam lalu kembali ke Madinah, mereka tidak mengejar pasukan Romawi yang lari, karena dengan mundurnya pasukan Romawi berarti Islam sudah menang.

HASIL PEPERANGAN

Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam menyebutkan bahwa pertempuran ini berakhir imbang. Hal karena kedua belah pasukan sama-sama menarik mundur pasukannya yang lebih dahulu dilakukan oleh Romawi. Sedangkan Ibnu Katsir menyebutkan bahwa dalam pertempuran ini kemenangan berada di tangan pasukan Muslimin.

Imam Ibnu katsir mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui hasil peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum muslimin dengan berkata,

“Ini kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang di jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala, dengan kekuatan 3000 orang. Dan pihak lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. 100 ribu orang dari Romawi dan 100 ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum muslimin, padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak.”

Sebenarnya tanpa ada justifikasi kemenanganpun akan diketahui ada dipihak siapa. Keberanian pasukan yang hanya berjumlah 3.000 dengan gagah berani menghadapi dan dapat mengimbangi pasukan yang sangat besar dan bersenjata lebih canggih dan lengkap cukup menjadi bukti. Bahkan jika menghitung jumlah korban dalam perang itu siapapun akan langsung mengatakan bahwa umat islam menang. Mengingat korban dari pihak muslim hanya 12 orang (al-Bidayah wan Nihayah (4/214)). Menurut riwayat Ibnu Ishaq 8 orang, sedang dalam kitab as-Sîrah ash-Shahîhah (hal.468) 13 orang) sedangkan pasukan Romawi tercatat sekitar 20.000 orang.

Menurut Imam Ibnu Ishaq – imam dalam ilmu sejarah Islam –, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 sahabat saja. Secara terperinci, yaitu (1) Ja’far bin Abi Thalib, dan mantan budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (2) Zaid bin Haritsah Al-Kalbi, (3) Mas’ud bin Al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah Al-Adawi, (4) Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh. Sementara dari kalangan kaum Anshar, (5) Abdullah bin Rawahah, (6) Abbad bin Qais Al-Khazarjayyan, (7) Al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin Nadhlah an-Najjari, dan (8) Suraqah bin Amr bin Athiyyah bin Khansa Al-mazini.

Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam dengan berlandaskan keterangan Az-Zuhri, menambahkan empat nama dalam deretan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang gugur di medan perang Mu’tah. Yakni, (9) Abu Kulaib dan (10) Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah Amr bin Amir putra Sa’d bin Al-Harits bin Abbad bin Sa’d bin Amir bin Tsa’labah bin Malik bin Afsha. Mereka juga berasal dari kaum Anshar. Dengan ini, jumlah syuhada bertambah menjadi 12 jiwa.

Perang ini adalah perang yang sangat sengit meski jumlah korban hanya sedikit dari pihak muslim. Di dalam peperangan ini Khalid Radhiyallâhu ‘anhu telah menunjukkan suatu kegigihan yang sangat mengagumkan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Khalid sendiri bahwa ia berkata:

“Dalam perang Mu‘tah, sembilan bilah pedang patah di tanganku kecuali sebilah pedang kecil dari Yaman.” (HR. Al-Bukhari 4265-4266)

Ibnu Hajar mengatakan, hadits ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin telah banyak membunuh musuh mereka.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

“Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata, “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah: 249)

IBRAR YANG KITA BISA AMBIL DARI PERANG MU’TAH

Kita merasa berat padahal kita tidak pernah berjihad. Kita mengeluh sering pulang malam dan kecapekan karena kita tidak pernah membayangkan mobilitas para sahabat seperti Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah yang menempuh perjalanan beberapa pekan, lalu berperang beberapa pekan pula. Kita mengeluhkan hari libur yang tersita sehingga jarang berekreasi bersama keluarga karena kita tak pernah menempatkan diri seperti Zaid, Ja’far dan Ibnu Rawahah yang setiap kali berangkat jihad mereka meninggalkan wasiat pada istri dan keluarganya. Kita mengeluh korban tenaga, kehujanan, sampai terkena flu bahkan masuk rumah sakit. Karena kita tak pernah membayangkan jika kita yang menjadi para sahabat. Bukan flu yang menyerang tetapi anak-anak panah yang menancap di badan. Bukan panas dan meriang yang datang tetapi tombak yang menghujam. Bukan batuk karena kelelahan tapi sayatan pedang yang membentuk luka dan menumpahkan darah.

Kita mengeluh dengan pengeluaran sebagian kecil uang kita karena kita tidak membayangkan betapa besarnya biaya jihad para sahabat. Mulai dari membeli unta atau kuda, baju besi sampai senjata. Kita mengeluhkan masyarakat kita yang tidak juga menyambut dakwah sementara Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah bahkan tak pernah mengeluh meskipun berhadapan dengan 100.000 pasukan musuh. Kita merasa berat dan seringkali mengeluh karena kita tak memahami bahwa perjuangan Islam resikonya adalah kematian. Maka yang kita alami bukan apa-apa dibandingkan tombak yang menghujam tubuh Zaid bin Haritsah. Yang kita keluhkan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sabetan pedang yang memutuskan dua tangan Ja’far bin Abu Thalib dan membelah tubuhnya. Yang kita rasa berat tidak seberapa dibandingkan luka-luka di tubuh Ibnu Rawahah yang membawanya pada kesyahidan.

Lalu pantaskah kita berharap Rasulullah menangis karena kematian kita? Pantaskah kita berharap malaikat datang menyambut kita? Atau bidadari menjemput kita? Kemudian pintu surga dibukakan untuk kita?

Ya Allah, jika kami memang belum pantas untuk itu semua, jangan biarkan kami mengeluh di jalan dakwah ini. Ya Allah, anugerahkanlah hidayah-Mu kepada kami, dan janganlah Engkau jadikan hati kami condong pada kesesatan sesudah Engkau memberi hidayah pada kami. Amin.

Sumber : madinatulilmi.com, rasulullahsaw.atwiki.com, mwindriyanto.web.id

About these ads
Share this:
TwitterFacebookEmailPrint
Loading...

April 7, 201137 Replies
« Previous
Next »
Leave a Reply
Your email address will not be published. Required fields are marked *
Name *
Email *
Website
Comment

Notify me of new comments via email.
Notify me of new posts via email.
cold4hands on April 12, 2011 at 3:05 PM
Pertamax nih bro,. Saya like dulu, nanti bacanya ya?,
salam kenal bro,.

Reply
danny on June 17, 2011 at 11:37 AM
riwayat yang luar biasa, ditambah ibrah yang amat mengena, jazakallah.. ijin copas di FB ane ya Ustadz…

Reply
jagatbirung on October 10, 2011 at 6:48 PM
luar biasaaaaaaaaa….maju terussssss….

Reply
rizqi on October 22, 2011 at 12:52 AM
ralat *
mutah itu bukan d sekitar yordania tp memang di daerah yordania
dan skarang tempt perangnya d gunakan belajar universitas mutah

Reply
Nabil on October 26, 2011 at 5:34 PM
@cold4hands : Salam kenal juga bro…
@danny : silahkan….btw, ane bukan ustadz kok, hanya hamba Allah. Semua ilmu hanya milik Allah
@jagadbirung : sampaikan dan sebarkan ke saudara-saudara muslim kita yang lain ya akhi…agar sejarah Islam tidak terlupakan oleh fitnah dunia
@rizqi : ya, anda benar…terimakasih atas ralatnya

Reply
t3mpl4r on February 26, 2012 at 10:43 PM
gk terkenal ceritanya
kok spertinya niru2 ceritanya 300 spartan ya ?

Reply
Nabil on March 5, 2012 at 1:08 PM
Jumlah 300 hanya rekaan para cinemas holywood, yang benar jumlahnya bukan 300 Sparta, tetapi lengkapnya 300 Sparta, 700 Thespians, and 400 Thebans semuanya dipimpin oleh raja Sparta bernama King Leonidas. Dan pasukan Immortal Turki bukan seperti gambaran di film, tetapi hanya manusia biasa.

Reply
nur on August 11, 2012 at 5:54 AM
islam agama paling benar

Reply
SA on January 1, 2014 at 11:16 AM
Lebih tepatnya, Islam adalah agama yang benar.
Kalau sama agama lain, kita toleransi.

Reply
t4m3nx on March 26, 2013 at 7:20 PM
film 300 yang niru2 cerita ini bro… biasa kerjaan orang amerika…. :)

Reply
krisnadwi on July 17, 2014 at 8:00 AM
kayaknya nih orang di pihak orang yang kalah deh. gak terima begitu. kasian

Reply
buto galak on May 29, 2012 at 8:09 PM
300 sparta didukung oleh kondisi medan celah thermopylae yg sempit sehingga keunggulan jumlah pasukan persia jadi tidak berarti, sementara dalam perang mut’ah pasukan muslim kalah mutlak dalam jumlah, posisi dan lain-2, hanya pertolongan Allah yg mereka menangkan

Reply
nabilmufti on June 1, 2012 at 4:09 PM
mas buto, tidak ada bukti sejarah kalau jumlah pasukan sparta cuma 300 orang. Menurut info yang ana dapat, bukan jumlahnya 300, tapi 5000-7000 orang. Pasukan sparta hanya sebagian kecil dari total pasukan Yunani (Greek) dalam menghadapi pasukan Persia. Lihat disini http://en.wikipedia.org/wiki/Battle_of_Thermopylae

Reply
01031993 on August 11, 2012 at 6:09 AM
subhanallah peruangan nya……
kita juga harus menirunya ,,, !

Reply
laily on August 11, 2012 at 6:42 AM
assalamualaikum,saya bnar2 tau sejarah islam dari serial UMAR BIN KHOTTOB,dan ada yg membuat bingung di film umar bin khottob terjadi peperangan dgn bangsa romawi stlah rosul Allah wafat tp di sini perang mut’ah rosul Allah msh hidup,apa perang dgn romawi tidk sekali?minta penjelasanya bt hamba yang awam ini.wassalamualaikum

Reply
nabilmufti on August 12, 2012 at 8:17 PM
waalaikum salam wr.wb..dilihat dari tahun kejadian perang mu’tah pada tahun 8 H, maka saat itu Rasulullah masih hidup.Karena Rasulullah wafat pada tahun 11 H.Penunjukan panglima perang mu’tah juga dilakukan sendiri oleh Rasulullah,yg seperti pada kisah,ketiganya menemui syahid…jazakallah atas komentarnya

Reply
Elfin thecop on August 17, 2012 at 10:04 AM
Subhanallah….
3 jendral utama perang mut’ah sangat berjasa bagi islam…
Mereka mati demi menegakkan islam dan syahid….
Klau cerita tentara romawi yg brjumlah 300 orang itu cuma omong kosong…
Buktinya romawi hancur di tangan islam…!!

Reply
Oktaviana Miftakhuljanah on August 20, 2012 at 11:08 AM
Reblogged this on bil qolam.. and commented:
#DHEGGG T_T

Reply
Oktaviana Miftakhuljanah on August 20, 2012 at 11:13 AM
izin reBlog…

Reply
Fredy Agsuwansyah on October 24, 2012 at 12:33 PM
Kisah luar biasa ini belum selesai, karena peperangan menaklukkan bizantium berlanjut hingga masa pemerintahan Kholifah Umar Ibn Khotob, dimana kalau tidak salah pasukan Muslim berjumlah 40.000 berhadapan dengan pasukan Romawi berjumlah 400.000 orang…..

Reply
Alfa on December 23, 2012 at 5:09 AM
Jazakalloh kisahnya akhi, ana pernah berkunjung bersama rombongan GMJ Indonesia ke mu’tah untuk mengenang perang ini.
Subhanalloh..

Reply
nabilmufti on December 23, 2012 at 8:47 PM
@fredy : betul akhi, kisah ini berlanjut ke perang Yarmuk yang dapat saudara baca di blog ana juga atau sumber referensi lainnya
@ Alfa: syukran atas kunjungannya ya akhi alfa, semoga ana diberi kesempatan oleh Allah SWT seperti yang sudah akhi lakukan bersama rombongan GMJ

Reply
Irwan on February 23, 2013 at 12:23 AM
Subhanallah…
Sungguh.. Semangat mereka harus kita tiru dalam hal Ibadah, kehidupan, atau hal lainnya.
Hanya kepada Allah laah kita kembali,,
Semoga Cerita ini Menebalkan Iman Kita.. Dan menyadarkan kita akan Kuasa Allah SWT.
Aamiin.. Aamiin… Ya Robbal A’lamin.

Reply
Hendra on April 17, 2013 at 11:45 AM
cerita ini ada filmnya gak???

Reply
Abu Ahmad on April 20, 2013 at 2:05 PM
@Hendra: Mungkin ada berniat membuat film-nya..?? karena mana ada sutradara kafir yang mau bikin film tentang hal ini, kan menjatuhkan marwah mereka sendiri… sebagai pembenci… :)

Reply
Hendra on April 21, 2013 at 12:04 PM
Benar juga ya……

Reply
Hendra on April 21, 2013 at 12:47 PM
Mudah-mudahan akan ada sutradara muslim hebat yang bisa mengangkat kisah-kisah hebat kaum muslimin kedalam sebuah film

Reply
Denny on July 16, 2013 at 10:52 AM
semuanya nga mungkin terjadi tampa pertolongan Allah.. nga bs dgn perhitungan otak manusia yg terbatas ini…Subhanallahu….Alllahu Akbar..

Reply
Riadii Ajachh on August 26, 2013 at 12:56 PM
Gak Kerasa Air Mataku Jatuh,Subhanallah Betapa Mulia Nya Pejuang” Muslimin Dimasa-Masa Itu, Allahuakbar

Reply
Rizki on September 13, 2013 at 2:14 PM
Amin Ya Allah…

Reply
charlie sahar on October 29, 2013 at 12:46 PM
JIHAD fIsabillAH AYO semua muslimin…..
Kembalikan KEHEBATAN ISLAM..di mata kaum kafirun

Reply
nuha on October 31, 2013 at 8:23 PM
subhanallaah balasan syurga mengalahkan apapun yang ada di dunia ini, nyawapun menjadi sesuatu yang mudah ketika itu menjadi penebus untuk masuk kedalamnya

Reply
alfi on January 14, 2014 at 12:26 AM
Intinya bukan jumlah pasukan atau kecanggihan alat tapi niat dan tekad….

Reply
Pingback: Vote for your Leader! | My Life My Kimchi
agus on October 18, 2014 at 7:58 PM
Ya…bklo skrang mah kmakan sma tivi doank….udh taunya dri tivi ngotot….lah ga tau malu…..tpi yg pnting ambil hikmah bkan serunya doank…..

Reply
yusuf on January 31, 2015 at 9:56 AM
mdh2an pedang allah bnyak ada dipalestina

Reply
darman on May 31, 2015 at 5:03 PM
Subhanallah, Allah bersama orang2 yang sbar berjuang dijalannya…

Reply

Top Posts
Sejarah Perang Dunia I
Perang Khandaq (Ahzab) – Perang Parit
Perang Yarmuk – Takluknya Kerajaan Romawi dibawah Pasukan Islam
Perang Mu’tah – 3000 Pasukan Muslim Melawan 200.000 Pasukan Romawi
Usamah Bin Zaid bin Haritsah – Panglima Perang Termuda Kesayangan Rasulullah SAW
Perang Badar – Perang Besar Pertama Umat Islam
Sejarah Sniper
Kategori
Kesehatan (6)
Sahabat Rasulullah (14)
Sejarah (14)
Sirah Nabawiyah (10)
Arsip Blog
Arsip Blog
Statistik Blog
359,113 pengunjung
Berita Eramuslim
An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
Hikmah Islami
An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
Komentar Anda
Adi on Perang Yarmuk – Taklukny…
darman on Perang Mu’tah – 30…
kaizi cho on Usamah Bin Zaid bin Haritsah…
khairul on Usamah Bin Zaid bin Haritsah…
ariefirfan on Perang Badar – Perang Be…
Jacket Army M65 - Ti… on Sejarah Sniper
Download MP3 Ceramah Islami

Statistik Pengunjung

Email Subscription
Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 30 other followers



View Full Site

Blog at WordPress.com.

Now Available! Download WordPress for Android

Selasa, 04 Agustus 2015

Pencipta lagu bintang kecil

Siapapun di Indonesia Pasti mengenal lagu anak2 yg judulnya "BINTANG KECIL"

Namun Siapa yang kenal pencipta lagu tersebut?

Sang Pencipta lagu tersebut ibu Meinar Louis, telah meninggal dunia di RSCM (28/07/2015) pukul 12.00 WIB di Usia 85 Tahun.

Rumah duka jl padang no 20 Manggarai - Jakarta Selatan

Semoga Ibu Meinar Louis mendapat tempat yang terbaik disisi-NYA.. Aamiin YRA...

Kisah kehidupan Meinar Louis:

Anak kedua dari pasangan Luis Imam Pamuncak Nan Koening dan Ratna Rusana ini merantau ke Jakarta dari kampung halamannya di Padang, Sumatera Barat, akhir Desember 1949.

Pada awalnya ia ditentang oleh kedua orangtua, namun karena tekadnya sudah bulat, akhirnya mereka tak kuasa menghalangi. Setiba di Jakarta pada 3 Januari 1950, Meinar tinggal bersama tantenya.

Dua tahun kemudian, orang tuanya menyusul ke Jakarta dan membeli rumah peninggalan Belanda di kawasan Manggarai yang ditempatinya sampai sekarang.

Selain belajar musik di sekolah B1 musik di Salemba, di asrama guru yang ditinggalinya selama lima tahun ia terus berlatih piano. Ia terus pula mengasah keterampilan bermain piano di Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari), kini Dharma Wanita. Setelah dirasa mahir, Meinar mengajar di SPG Negeri 1.

Sudah tak terhitung murid yang pernah belajar piano kepadanya, termasuk Marissa Haque bersama saudaranya, Shahnaz dan Soraya. Namun, murid tertuanya adalah Soedomo (alm) semasa menjabat menteri Orde Baru.

Beragam penghargaan diraih. Tapi yang paling berkesan adalah penghargaan dari istri Gubernur DKI Soerjadi Soedirja pada 1995

Meinar Louis telah memainkan piano sejak belia hingga di akhir hayatnya

Pernah tenar sebagai pengiring acara-acara di TVRI era 70-80an, seperti Cerdas Cermat dan Ayo Menyanyi.

Kesetiaan dan pengabdiannya pada seni musik tak sedikit pun kendur dimakan umur, bahkan ketika denting piano tua milik satu-satunya itu tidak lagi mengeluarkan nada-nada nan harmonis.

Meinar mulai dikenal sebagai pianis ketika mengisi acara kuis di TVRI era tahun 70 hingga 80-an. Kala itu, Meinar kerap tampil dalam acara Cerdas Cermat, Pramuka, Taman Indira, Lagu Pilihanku, Ayo Menyanyi, Bintang Kecil, Bu Kasur, dan masih banyak lagi. Boleh jadi, generasi di masa itu akan ingat betul dengan gaya Meinar saat memainkan jemarinya di atas tuts piano merampungkan penggalan lagu.

Lewat TVRI pula, Meinar bersama sahabat karibnya, Abdullah Totong (AT) Mahmud dan Fatma unjuk kebolehan lewat panggung musik anak-anak bertajuk Ayo Menyanyi. Di samping aktif sebagai seorang guru, selama 30 tahun pula mereka mendedikasikan hidupnya di dunia anak-anak dan seni musik.

Ketika kontraknya dengan TVRI berakhir, dan pensiun sebagai guru, Meinar tak lantas berdiam diri. Perempuan kelahiran Sijunjung, 14 Mei 1930 ini memilih mengajar musik di sejumlah lembaga pendidikan TK di Jakarta. Sebut saja TK Aisyah, TK Bintara 1-4, TK Ade Irma dan TK Budi Asih. Di sisa usianya, Meinar yang mencintai dunia anak-anak dan seni itu masih tekun mengajar dan mendedikasikan hidup sebagai guru musik.

Tanpa mengenal lelah, apalagi mengeluh, ia sambangi tempat mengajar dengan menumpang bajaj langganan. Bisa jadi honor yang diterima pun tak sebanding, bahkan habis untuk membayar ongkos bajaj. Tapi itulah Meinar, saking cintanya pada pekerjaan, ia tak sedikit pun mengeluh. Termasuk ketika dulu honor dari TVRI sempat tertunda pembayarannya, ia tetap show must goes on, menghibur masyarakat lewat layar kaca.

Setelah kedua orangtuanya meninggal, tak lama kemudian menyusul sang kakak. Jamulus Luis meninggal karena pembuluh darahnya pecah, sedangkan adik bungsunya, Sudarti Luis, terkena serangan jantung. Satu setengah tahun lalu, adik kesayangannya, Darmansyah Luis, meninggal juga akibat serangan jantung.

Suami Meinar telah tiada sejak 20 tahun yang lalu. Dari pernikahannya ia dikaruniai dua orang putera, yakni Indra Utama dan Indra Budi. Namun, Meinar tak kuasa melawan takdir, putra pertamanya yang akrab disapa Bang Oce itu meninggal karena serangan jantung pada 2002. Pun dengan Indra Budi, telah pergi mendahuluinya 2 tahun lalu, tepat seminggu setelah Meinar merayakan  ulang tahun ke-83.

Kini Sang BINTANG KECIL Telah tiada, Tapi lagu itu akan terus dinyanyikan dan dikenang sepanjang masa...

Allahummaghfirlaha warhamha waafihi wa'fuanha birahmatika yaa arhamarraahimien.

Membangun Kerjasama Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan. ======================

RESUME SAFARI RAMADAN HE BPA SEMARANG

Selasa, 7 Juli 2015
Pukul 20.00-22.00
Narasumber : Kiki Barkiah
Host & Notulis : Zahara NMH
Tema : Membangun Kerjasama Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan.
======================
Profil Narasumber :

Nama : Kiki Barkiah
Lahir : Bandung, 29th yang lalu
Status : Menikah dengan Aditya Irawan
Ibu dari Ali, Shafiyah, Shiddiq, Faruq, Fatih
Pendidikan terakhir : Teknik elektro ITB
Aktivitas saat ini : Homeschooler 5 anak, founder Komunitas homeschooling dan Rumah Tahfidz Al-Kindi Mahardika Batam, Presenter program "Ibu Indonesia Berbagi" at radiopengajian.com
Motto : Berjuang dan berusahalah, berikan yang terbaik untuk ummat meskipun kamu harus berkorban
Alamat : San Jose, California

"Membangun Kerjasama Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan"
Oleh Kiki Barkiah

Mungkin kita sering menyebut istilah super mom atau super woman kepada seseorang. Atau mungkin kita sering berusaha untuk bisa menjadi seorang super woman atau super mom. Saya percaya bahwa dalam lubuk hati yang paling dalam, tidak ada seorang ibupun yang benar benar menginginkan menjadi super mom atau super woman yang dapat melakukan segalanya dalam dunia pengasuhan anak. Kecuali bagi mereka yang tidak memiliki pilihan lain kecuali menjalankan pengasuhan sendirian.

Sebaliknya betapa banyak para ibu yang mengeluhkan keadaan mereka yang merasa berjuang sendirian dalam dunia pengasuhan anak. Sementara para ayah hanya fokus dalam mencari mencari nafkah. Keadaan ini biasanya tidak hanya dipicu oleh ritme kerja para ayah yang tinggi karena tuntutan kebutuhan materi di era masa kini, tetapi sebagian juga dipicu oleh paradigma klasik yang dianut sebagian masyarakat Indonesia.

Paradigma yang memilah wilayah kerja antara ibu dan ayah. Ayah urusan uang sementara tek tek bengek rumah dan anak-anak adalah urusan ibu. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa mencari nafkah adalah sebuah pekerjaan yang memiliki porsi yang besar dalam keberlangsungan sebuah keluarga. Sesuatu yang harus sangat disyukuri oleh seorang wanita yang hanya disibukkan oleh urusan pengasuhan anak, tanpa harus berada dalam sebuah kondisi yang memaksanya untuk turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Betapa banyak problematika keluarga yang muncul diawali oleh permasalahan pemberian nafkah yang tidak memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk itu, betapa banyak hal yang masih dapat disyukuri para ibu yang saat ini merasa berjuang sendirian dalam pengasuhan, sementara suami hanya mencari nafkah.

Namun apakah keadaan ini cukup menjadi sebuah bekal bagi kita dalam mempertanggungjawabkan amanah berupa keturunan di depan Allah??

Ada sebuah pernyataan yang disampaikan suami saya Aditya Irawan yang masih teringat dalam memori saya. "Jika hanya karena bekerja orang akan masuk surga, maka semua orang akan masuk surga karena semua orang pun bekerja" Tentu tidaklah cukup seseorang hanya bekerja untuk meraih surga. Pasti ada hal yang membedakan manusia yang bekerja dalam kelayakannya untuk masuk surga. Maka tidak cukup pula kita mempertanggungjawabkan amanah kita sebagai orang tua hanya dengan memenuhi kebutuhan mereka melalui pemberian nafkah. Sementara kebutuhan manusia terdiri dari 3 dimensi, dimensi ragawi, rohani, dan akal.

Dalam pandangan islam, tidak hanya seorang suami yang berperan sebagai pemimpin, namun seorang istripun menjadi pemimpin dalam urusan rumah tangga suaminya. Meskipun dalam pelaksananya kewajiban tersebut bisa dilakukan sendirian, melibatkan pihak profesional atau bahkan di bantu pelaksanaannya oleh suaminya.

Sementara perkara perintah memimpin keluarga termasuk didalamnya melaksanakan perintah Allah dalam surat at tahrim ayat 6 untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka di tugaskan kepada para suami. Kewajiban ini melekat bagi seorang suami meskipun pelaksanaannya dapat dilakukan sendiri, dibantu oleh istri atau melibatkan pihak profesional.

Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (Bukhori, Muslim)

Lalu bagaimanakah kerjasama ayah dan ibu dalam dunia pengasuhan? Kerjasama akan kita bangun jika sebuah keluarga memiliki kesamaan visi serta memahami misi yang perlu dilakukan dalam meraih sebuah visi. Bagaimana mungkin kerjasama ayah dan ibu dapat dilakukan secara sinergi jika mereka tidak memahami hendak kemana nahkoda keluarga akan dibawa, serta anak-anak yang seperti apa yang ingin mereka hasilkan. Maka merumuskan tujuan pengasuhan menjadi langkah awal dalam membangun kerjasama para ayah dan ibu.

Setelah tujuan pengasuhan disepakati, pembagian peran dan tugas dalam mencapai tujuan tersebut adalah unsur pembentuk utama dalam sebuah kerjasama. Tidak mungkin ada sebagian pihak yang sekedar menitipkan cita-cita sementara pihak lain yang melaksanakannya. Terlebih lagi jika pihak yang menitipkan cita-cita itu hanya berperan sebagai evaluator di hasil akhirnya. Karena membuat anak tidak dilakukan sendirian maka mengurus, membesarkan dan mendidiknya juga bukan pekerjaan sendirian.

Ibarat dalam sebuah organisasi, hendaklah memberikan sebuah urusan pada ahlinya yang memang sesuai dengan kepribadian dan bakat seseorang.

Sebagai contoh, mungkin ada seorang organisator yang sangat mahir memimpin tetapi sangat buruk dalam hal kerapihan keuangan dan administrasi. Maka pemimpin seperti ini harus dibantu oleh anggota lain yang mahir dalam kerapihan pengarsipan organisasi. Ada orang-orang yang sangat detail dan rapi bekerja tapi mungkin kurang bisa berkomunikasi dan mengemukakan pendapat. Ada orang yang mahir menggerakkan segala sumber daya manusia tapi tidak mahir mengelola sumber daya lainya.

Pembagian tugas dalam organisasi juga tidak harus dibagi berdasarkan jenis kelaminnya. Siapa saja yang memiliki potensi untuk melakukannya, semua pihak harus berkontribusi untuk memperkuat teamnya. Dan siapa saja dapat saling mengingatkan tanggung jawab orang lain atau bahkan sementara menggantikan tugasnya demi terlaksananya target kerja bersama.

Begitu juga dalam dunia pengasuhan. Hendaknya pembagian peran ibu dan bapak dilakukan dengan mempertimbangkan kepribadian dan bakat diantara keduanya. Meskipun hanya bersifat membantu dan tidak menggugurkan kewajiban utama masing-masing. Apabila dalam mencapai tujuan pengasuhan tersebut para ayah dan ibu tidak memiliki kemampuan yang mumpuni sesuai dengan kepribadian dan bakatnya, maka pelibatan pihak lain dilakukan dalam pemenuhan kewajiban tersebut.

Sebagai contoh, mungkin seorang ayah tidak terlalu pandai berkomunikasi dalam menyampaikan ajaran agama, tapi ia memiliki seorang istri yang fasih berbahasa dan menguasai ilmu agama, maka kewajiban ayah dalam memelihara kualitas pemahaman agama keluarganya dapat dibantu pelaksananya oleh sang istri. Atau mungkin jika kurang sempurna dilakukan oleh keduanya, sang ayah dapat mencarikan guru atau lembaga pendidikan yang dapat membantu melaksanakan kewajibannya.

Mungkin ada seorang ibu yang tidak terlalu telaten menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, atau repot karena tugasnya menyusui bayi. Tapi mungkin sang ayah adalah seorang lelaki yang telaten dan tekun dalam bekerja sehingga disela kesibukannya bekerja ia bisa membantu urusan pemenuhan makanan anak-anaknya. Atau mungkin mereka bisa melibatkan seorng profesional yang dapat membantu melaksanakan kewajiban mereka dalam memenuhi kebutuhan ragawi anak-anaknya.

Pembagian tugas dan proses saling membantu semacam inilah yang akan memperkuat tim keluarga dalam mencapai tujuan mereka. Meskipun demikian ada kalanya kita tetap harus menjalankan beberapa peran meski tidak terlalu sesuai dengan kepribadian dan bakat kita. Sebagai contoh, sekaku apapun sang ayah dalam berkomunikasi, anak anak tetap membutuhkan komunikasi bersama ayahnya, anak-anak tetap membutuhkan waktu bermain bersama ayahnya. Atau misalnya, meskipun seorang ibu tidak telaten mengatur urusan rumah tangga, tetap saja ada sisi-sisi dimana pekerjaan tersebut tidak dapat di wakilkan kepada pihak lainnya. Maka menjadi orang tua bukan hanya perjalanan panjang dalam belajar dan terus belajar menyelesaikan masalah. Namun juga perjalanan mendobrak diri, menembus batas, melepas rantai gajah untuk melakukan yang sebelumnya tidak mampu dilakukan menjadi harus dilakukan dan bisa dilakukan lalu mahir melakukannya dan menjadi sepasang super parent.
Mari kita tentukan visi keluarga, pahami kewajiban kita masing-masing, bagi tugas sesuai dengan fungsi dan peran dengan mempertimbangkan kepribadian dan bakat yang kita miliki, bantu yang bisa kiya bantu, lakukan yang bisa kita lakukan, libatkan pihak lain yang bisa membantu, dobrak diri untuk mampu melakukan yang sebelumnya tidak dapat kita lakukan, dan jadilah super parent!!

San Jose, California
Sang Penjelajah Hikmah
Kiki Barkiah

TANYA JAWAB

Pertanyaan 1. Bunda Dinta
1. Jika dlm pengasuhan anak pihak ibu concern ke agama, sebaliknya pihak ayah kurang greget. Bagaimana tepatY ibu menyikapi & menjalaniY?
2. Bagaimana memaksimalkan peran ayah dlm kondisi keluarga LDR ( anak tinggal dgn ibu) supaya anak tdk kehilangan figur ayah?

Jawaban 1 : Bunda dinta, memang pengasuhan akan lebih mudah kalo ayah dan ibu berharmoni. Tetapi takdir setiap orang kan berbeda. Tp bukan berarti ketidakidealan menjadikan kita mundur pada hal hal yg prinsipal. Kalo dilihat dalam sirah sahabat (sayang saya lupa namanya) ada kisah yg serupa tapi karena perjuangan sang ibu, akhirnya kondisi agama anak anak baik sejalan dgn kegigihan sang ibu mendidik anak anaknya. Tapi sesungguhnya keluarga itu ladang dakwah yg paling utama sebelum lainnya, jadi sambil ibu terus bergerak mendidik anak anak dgn bekal agama yg kuat, maka hal yg serupa juga ttp dilakukan kepada ayahnya. Terkadang kesolihan anak juga bs menjadi jalan bagi kesolehan ayahnya. Yg perlu diingat bahwa sebagai manusia ruang wilayah kita adalah menyampaikan, sementara urusan penerimaan ada di tangan Allah. Sehingga jangan terlalu sedih dan kecewa jika sang ayah blm juga konsern pada agama krn Rasululkah saja tidak kuasa mengatur hidayah bagi kerabatnya. Kesimpulannya keep moving forward and keep making dua ya.

Saya pernah LDR waktu bapak pergi ke amerika. Padahal waktu itu anak saya 4 kecil kecil lg gak punya pembantu. Saya lebih merasa bisa memberikan perhatian tanpa membuat bapak tambah pusing dgn tumpukan cuci piring dll. Lebih merasa romantis dan saling perhatian juga. Kami biasa menyalakan skype dalam waktu lama lengkap dgn video webcam. Jd bapak masih sering bisa melihat anak-anak dan aktifitasnya. Anak-anak sering ngobrol dan bercerita lewat webcam sehingga mereka selalu merasa ayahnya ada. Obrolan kita yg senada dgn suami kan soal keluarga dan anak-anak jd di webcam itulah sarananya. Kalau gak sanggup kapasitasnya untuk webcam, maka bisa diganti dgn telepon saja. Memang yg perlu bersabar ibunya krn jd gak ada yg bantu, juga anak anak gak bisa main dgn ayah. Tp kegiatan itu bisa diganti dgn ayah membacakan dongeng di telpon atau membacakan buku bergambar di webcam

Pertanyaan 2 : Bu Arum HE Cilacap
1. Untuk kasus pasutri di mana sang istri begitu ingin mengasuh & mendidik anak2ny sebaik mugkin namun sang suami begitu sibuk bekerja & memasrahkn masalah pengasuhan anak total ke istri semua, adakah saran utk suami yg spt ini? Langkah bijak apa yg sebaiknya dilakukan sang istri?
2. Klo berkenan, boleh tahu bun visi, misi & tujuan pengasuhan keluarga bun Kiki? Jazakillah bunda.

Jawaban 2 :
Bunda arum, kalau bunda mau berdamai dgn keadaan sulit dan berjuang sendirian. Keadaan ini mungkin tidak menjadi prioritas penyelesaian. Tapi kalo bunda mau kebahagiaan yg lebih hakiki serta kemudahan dalam perjuangan maka perbaikan komunikasi harus dilakukan.
Coba tanya sama ayahnya, yang bikin anaknya siapa? Kalo dia jawabnya mbak sendirian, ayo kita urus sendirian. Kalo dia jawabnya berdua, ayo kita diskusikan pembagian perannya. Hidup kita kan gak akan lama, belum tentu selamanya kita berdua. Mungkin ada masa nanti salah satu diantara kita harus berjuang sendirian. Sebelum masa itu tiba, biarlah anak anak merasa bahwa mereka diasuh oleh sosok kedua orang tuanya. Relakah para ayah menjadi ayah yg ada tapi tiada bagi anak anak mereka?
Untuk suami istri:
1. Kedua belah pihak sadar bahwa tanggung jawab pengasuhan berada ditangan keduanya.
2. Kedua belah pihak sadar bahwa perbedaan yang ada harus dikelola sedemikian hingga mampu melahirkan langkah yang sama.
Dalam komunikasi ada beberapa prinsip yang perlu diingat istri
1. Suami adalah pemimpin kita, setelah diskusi kita upayakan pada akhirnya kita ttp harus taat pada keputusan suami selama tidak bertentangan dgn perintah Allah.
2. Laki-laki itu pridenya tinggi. Mereka sangat membutuhkan respek kita. Sangat... Sangat .. jadi jangan sampai langkah kita menjatuhkan harga diri beliau dan jangan sampai langkah kita dilakukan tidak diatas rasa penghormatan kita terhadap suami.
3. Seperti halnya perempuan, laki-laki juga butuh me time, yg kadang buat ibu ibu terasa "gak penting" sebaliknya kadang laki-laki juga merasa me time ibu-ibu "gak penting" karena mmg kita sedikit berbeda. Maka solusinya kasih waktu yg dibatasi agar masing masing melakukan me time nya  setelah itu wajib punya waktu untuk mendiskusikan amanah bersama.
4. Laki-laki itu sangat suka disentuh dgn sisi kewanitaan kita daripada didominasi dan dijatuhkan harga dirinya, maka dalam menyampaikan pendapat gunakan jurus pesona wanita, haha
5. Penting untuk memanfaatkan momentum dimana laki-laki mau mendengar kita, salah satunya (maaf) sekitar waktu waktu intim suami istri.
6. Laki-laki itu banyak menggunakan logika, jd biasanya mereka suka bila pendapat kita berasal dr data data ilmiah, ajak belajar bersama itu penting. Beli buku, baca dan diskusi bersama.
7. Kemukakan perasaan ibu to the point. Jangan berharap laki laki menebak kebutuhan kita, langsung saja diminta.
Silahkan dikoreksi untuk bapak-bapak disini, kira-kira seperti itu kan laki laki?
Visinya meciptakan generasi sholih muslih dan produktif.
Bunda Arum : Jazakillah bun Kiki, insya Allah suami sy siap berjuang bareng mengasuh anak2 bun �� itu kasus seorang temen..

Pertanyaan 3 : Bunda Zahra
Bagaimana cara menjaga "kewarasan" seorg full time IRT . Saya melihat teh kiki luar biasa. Masyaallah, mendidik 5 putra putri jauh dr keluarga tanpa ART pula. Tp teh kiki mampu memanage semua dgn baik. Saya baru satu putra sdh sering d landa stress.

Jawaban 3 : Berikut cara menjaga kewarasan sebagai ibu rumah tangga
1. Pahamilah bahwa rumah tangga kita adalah ladang surga
2. Pahamilah bahwa kita manusia biasa yang tidak sempurna tetapi Allah Maha Kuasa, Maha Bisa, dan Maha penolong
3. Pahami bahwa ikhtiar kita bukanlah penentu hasilnya, tetapi ikhtiar kita adalah cara kita memberikan proposal pemohonan akan pertoongan dan hasil akhir yang baik dr Alah swt
4. Pahami bahwa anak anak adalah mahkluk Allah yang jiwanya digenggam oleh Allah, bukan oleh kita. Maka mintalah kepada Allah
5. Pahami bahwa kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan dan kerjasama dr orang lain. Untuk meminta pertolongan dan kerjasama membutuhkan kesamaan visi yang jelas, komunikasi, pembagian tugas, kemampuan mengharmonisasi potensi, kemampuan mengatasi konflik, kesabaran dalam bekerjasama serta perasaan saling menerima dan memaafkan antar anggota tim
6. Terus belajar untuk mengelola konfik yang beresiko memunculkan ketidakwarasan
7. Miliki teman terbaik tempat berbagi yang halal dan amanah saat muncul tanda tanda ketidakwarasan
8. Alokasikan waktu untuk relaks beristirahat dan menghibur diri dalam batasan yg dibolehkan syariat yang diniatkan dalam rangka mengumpukan energi dan kekuatan baru
9. Berorientasilah pada proses dan pengoptimalisasian potensi dalam berproses sementara hasilnya kita serahkan pada Allah
10. Saat tanda ketidakwarasan mulai kambuh, banyak-banyaklah mengingat karunia yang telah Allah berikan
11. Syukurilah apa yang ada karena yang ada sudah menjadi milik kita
12. Saat ketidakwarasan benar benar terjadi time out lah diri kita agar meminimalisir keburukan yg tidak diharapkan
13. Perbaikilah kondisi ruhiyah karena kondisi ruhiyah sejalan dgn tingat kewarasan
14. Jika penyakit ketidakwarasan sering terjangkit, saatnya menentukan prioritas amanah sesuai dgn kondisi dan kemampuan yang dimiliki. AllahuA'lam.

Pertanyaan 4 : Bunda Endah
Bagaimana mengatur pola pengasuhan tunggal ayah bunda kalau kondisinya tinggal di rumah ortu/mertua. Setidaknya mengantisipasi konflik internal ayah bunda, dan konflik eksternal dengan mertua atau ortu. Karena sedikit banyak pasti turut campur tangan dalam pengasuhan anak.

Jawaban 4 :
Bunda endah, yang perlu diingat adalah semakin banyak kepala yg harus bekerjasama semakin banyak tantangannya. Tetapi percayalah kepala satu tidak lebih baik dari kepala banyak pikiran. Beberapa prinsip yg mungkin perlu diingat sbb:
1. Menyatukan visi dan misi keluarga itu prioritasnya ada ditangan ayah dan ibu. Jadi bisa gak bisa, harmonisasi pengasuhan ayah dan ibu harus dicapai dulu.
2. Kalo keduanya sudah kompak insya Allah timnya akan lebih solid untuk meminta pihak lain bekerjasama meraih visi misi tersebut
3. Perlu adanya kerjasamaa antara semua pihak yang bersinggungan dengan anak anak, dan kerjasama hanya bisa terjadi bila ada kesamaan visi, komunikasi, pengelolaan konflik, harmonisasi potensi, pembagian tugas, serta penerimaan akan keterbatasan setiap pihak serta saling memaafkan atas kesalahan dan kekurangan.
4. Ridho Allah untuk istri salah satunya berhubungan dgn ridho suami terhadap istrinya sementara ridho Allah terhada suami salah satunya berhubungan dengan orang tuanya. Jadi apabila seorang istri ingin mendapat ridho Allah, maka keduanya prinsip ini harus selaras tidak boleh berbenturan
5. Selama perbedaan pola asuh bukan hal hal yang prinsipal maka ingatlah pesan Rasulullah untuk mengambil langkah yang paling mudah dan paling kecil mudhorotnya
6. Saat terjadi perbedaan yang sangat prinsipal, maka terciptanya tujuan bersama, semua pihak harus menjalin komunikasi diatas rasa penghargan terhadap semua pihak.
7. Ingatlah bahwa setinggi apapun ilmu yang kita miliki, jam terbang orang tua sebagai orang tua jauh lebih banyak dari kita
8. Bicaralah sebagai sesama manusia dewasa saat terjadi konfilk sehingga posisinya bisa seimbang.
9. Ingatlah bahwa dalam al quran menaati orang tua itu ada batasannya yaitu selama tidak melanggar perintah Allah. Tetapi menghormati orang tua itu tidak ada batasnya sekalipun mereka berbeda keyakinan dan akidah bahkan memusuhi sekalipun sebagaimana nabi musa yg tetap menghormati firaun yang memusuhinya
10. ingatlah hadist arbain yg no 19 (cmiiw) tentang jagalah Allah, yg intinya bahwa keburukan tidak akan menimpa kecuali yg ditetapkan sekalipun semua pihak berupaya menimpakan keburukan. Maka jagalah Allah niscaya Allah akan menjaga kita

Pertanyaan 5 : Bunda Putri
Assalamualaikum mbak kiky..
Maaf mungkin pertanyaan klise. Bagaimana sih menjaga hubungan suami istri agar tetep kompak, tetap solid bekerja sama mengasuh anak walau usia pernikahan atau masing2 suami/istri menua ? Karena yang saya liat, byk pernikahan semakin tua ada masa2 krn usia juga makin tua sering terjadi konflik antar suami dan istri sendiri. Makanya beberapa orang walo usia pernikahan sudah banyak yg bercerai.

Jawaban 5 :
Mbak anggrahenny, memang nuansa terbesar rumah tangga seseorang sangat ditetukan oleh niat awal menikah serta keberkahan dalam proses menuju pernikahan. Bagi nasi yang sudah terlanjur menjadi bubur, perlu seni tersendiri agar bubur ini menjadi bubur ayam yang special dan enak. Bagi yang terlanjur tidak kompak dan banyak kesalahan, mari kita awali dgn istigfar, taubat, belajar, memperbaiki kesalahan dan mengejar ketertinggalan. Kekompakan hanya akan awet terjadi kalo kesamaaan visi dan tujuan ttp dipertahankan atau di refresh lebih baik dgn kesepakatan bersama. Kekompakan insya Allah akan terus dibutuhkan karena permasalah pengasuhan akan selalu ada, yg berubah hanyalah temanya dari mulai menyusui sampai urusan menikahkan. Makin kompleks temanya makin butuh kekompakan, harusnya makin romantis dan harmonis krn makin butuh mengenggam erat pasangan kita. Biasakan untuk tidak mau menjadi super hero, selesaikan masalah bersama suami sebagai super parent. Semakin kita memberi ruang peran kepada suami, semakin mereka merasa dihargai, semakin sayanglah mereka dgn kita, insya Allah. Makin lama usia pernikahan makin harus sering refresh dgn nostalgia, ingatkan kembali masa masa indah bulan madu. Sering sering mengunjungi kerabat yg menikah untuk merefresh cinta dgn menguatkan memori masa lalu yg indah indah. Kalo kenyataannya takdirnya mmg tdk terasa indah di dunia maka berdoalah agar kepedihan dan kepayahan kita berbuah keindahan di surga

Pertanyaan 6 : Bunda Ina Affandi
Saya selalu merasa ada yang kurang dari rumah tangga saya yaitu komunikasi 2 arah. Suami selalu menganggap bahwa berkomunikasi hanya pada ha2 yang penting saja. Tetapi keinginan saya adalah komunikasi itu ya pada semua hal baik buruk suka dan duka.
Hal ini yang belum dilakukan oleh suami sehingga kadang saya suka nyuri2 baca sms beliau hanya ingin mengetahui apa yang terjadi pd keseharian nya. Bagaimana ya cara mengkomunikasikan hal ini teh kiki

Jawaban 6 :
Bunda ina affandi, iya betul kita harus bs keluar dr rantai gajah masalah komunikasi ini. Mmg bahasannya tersendiri tp prinsip-prinsip yg ditulis diatas cukup mewakili. Sebelumnya diawal jangan sungkan untuk menyampaikan bahwa kita membutuhkan waktu setiap harinya untuk bisa ngobrol dan curhat, kemana lagi kita harus curhat kalo ayah gak mau dengar? Untuk sementara terus saja bercerita suka dan duka, meski mereka cenderung pasif

Pertanyaan 7 : Bunda Arum
Bunda Kiki, mengurus 5 anak tanpa ART, manajemen dapur terkait 'makanan anak2 & suami' gimana bun? Apalagi masih ada yg MPASI ya bun? Bun Kiki hampir setiap hari masak ato sering beli bun? Jazakillah

Jawaban 7 :
Saya masak hanya semacam sehari kadang sudah sama sayur kalo hanya lauk berarti sayurnya salad, pickle atau lalab. Pokoknya simple seputar tumis, goreng atau bakar, atau makanan yg dimasak slow cooker ditinggalin. Saya setok lauk sudah di pack dijatah harian, sudah dipotong dan dibersihkan bahkan sebagian sudah di karinate dengan bumbu dan dibekukan dalam freezer, saat memasak tinggal pangang dalam oven atau goreng. Suami bekal makanan tiap hari, kalo gak sempet menunggu masakan selesai pagi hari, maka bapak bekal sandwich atau makanan kemarin diangetin. Untuk mpasi saya banyaknya pakai buah di awal awal, setelah itu makanan keluarga yang dihancurkan sebelum dibumbui, setelah itu ikut makanan keluarga seperti biasa
Saya jarang beli, lebih sering masak sendiri tiap hari. Tp selalu stock daging cincang yg sudah dimasak dibumbui ala itali. Kalo repot saya tingal bikin sandwich atau sloppy joe ((burger isi cingcang) atau bikin spagetti, lasagna, atau pizza.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Ajarkan Jihad Sejak Dini

Renungan dan PR ortu
Bismillah

Ajarkan Jihad Sejak Dini
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Toleransi tanpa ketegasan adalah ketidakberdayaan. Sedangkan tanpa ilmu adalah keberingasan. Tanpa berpijak pada prinsip yang kukuh dan jelas semenjak dini, anak-anak akan kehilangan orientasi hidup yang menjadikan dirinya bermakna. Betapa banyak bangsa yang meraih kemajuan fisik luar biasa, tetapi jiwa mereka kering dan hidup mereka hampa. Bukankah Jepang mencapai kemajuan dan kemakmuran luar biasa, tetapi pada saat yang sama, banyak orang menagalami kekosongan makna dalam hidup mereka.

Inikah yang akan kita siapkan untuk anak-anak kita? Ataukah kita siapkan mereka untuk menjadi pewaris bumi yang mampu memakmurkan dengan ilmu-Nya dan meninggikan kalimat Allah di muka bumi dengan iman dan kesungguhan untuk berdakwah? Ataukah tidak dua-duanya. Kalimat Allah tidak tegak, kemakmuran tidak dapat. Padahal ketika kita bicara tentang memakmurkan bumi, maknanya tidaklah sesempit dan sedangkal kemakmuran finansial. Tetapi bukan di sini tempatnya untuk berbincang. Kita bertemu sejenak di ruang ini untuk berbincang tentang apa yang harus kita berikan untuk anak-anak kita, agar tidak meninggalkan di belakang kita generasi lemah yang kita khawatiri keadaannya.

Sungguh, kita perlu ajarkan pada anak-anak kita sikap toleran terhadap mereka yang tidak seiman. Tetapi toleransi tanpa ilmu adalah kelemahan dan rasa rendah diri. Kita merasa menjunjung tinggi toleransi, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah meletakkan keyakinan kita kepada Allah di belakang kita. Kita merasa menegakkan toleransi, padahal yang terjadi sesungguhnya menanggalkan pegangan kita pada akidah yang lurus dan iman yang bersih.

Tidak akan pernah lahir toleransi yang bermartabat kecuali apabila kita yakin bahwa hanya agama inilah yang benar. Tidak ada yang lain. Sangat sulit saya membayangkan seseorang mengimani Tuhan, sementara ia tidak merasa benar-benar percaya bahwa yang ia imani benar-benar Tuhan. Padahal tanpa meyakini bahwa agama yang ia peluk adalah yang paling benar, apa pun agama yang ia peluk adalah yang ia yakini, maka sesungguhnya ia bukan sedang bertoleransi terhadap pemeluk agama lain. Bukan. Ia tidak risau dengan apa yang terjadi di sekelilingnya karena ia memang imannya rapuh dan jiwanya gersang.

Jika toleransi kita tegakkan tanpa masing-masing merasa yakin agamanya benar, maka sesungguhnya yang demikian ini adalah jalan menuju tidak adanya keimanan kepada Tuhan. Jika tidak, hanya ada dua kemungkinan; iman kita yang sakit atau kita yang sakit jiwa. Sebab, tidak mungkin jiwa yang sehat meyakini sesuatu sebagai kebenaran dan pada saat yang sama meyakini apa yang ditentangnya sebagai kebenaran juga. Jika sikap beragama yang demikian dianut oleh kebanyakan orang, maka akan kita jumpai masyarakat yang sakit. Ada agama, tetapi tidak memberi pengaruh apa pun bagi kehidupan, cara pandang, kejujuran, kesungguhan kerja, dan seterusnya. Agama berubah menjadi sekadar gaya hidup, atau bahkan sekadar menjadi upacara yang hanya dibutuhkan ketika manusia lahir, kawin, dan mati. Pada tingkat yang lebih parah, agama hanya menjadi upacara pengantar penguburan jenazah.

Jiwa yang sehat serta memiliki kedewasaan beragama akan dapat menghormati keyakinan orang lain. Tidak ada halangan baginya untuk santun terhadap tetangganya yang kafir. Syaratnya, ia sendiri orang beriman yang benar-benar meyakini kebenaran agamanya. Tanpa itu, sesungguhnya yang terjadi bukan toleransi, melainkan sikap tidak peduli pada agama. Dan inilah mimpi buruk bagi peradaban sebuah bangsa. Sebab karakter bangsa hanya akan terbangun dengan kuat apabila memiliki pijakan nilai yang kukuh, hidup, dan jelas.

Maka…

Tak ada pilihan bagi kita dalam mengajarkan toleransi kecuali dengan menanamkan iman yang kuat di dada anak-anak kita semenjak dini. Tidak akan lahir generasi yang kuat bermartabat, dan mampu menghormati orang lain yang tidak seiman kecuali kita besarkan mereka dengan membiasakan berkata yang benar (qaulan sadîda). Bukankah Allah telah mengingatkan kepadamu dalam Surah An-Nisâ’ ayat 9?

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْتَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللهَ وَلْيَقُولُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا

"Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatiri keadaannya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah (fal yattaqullâh) dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (wal-yaqûlû qaulan sadîda)." (Q.s. An-Nisâ` [4]: 9).

Saya tidak memperbincangkan lagi tentang qaulan sadîda pada kesempatan kali ini. Saya kutip ayat ini untuk menegaskan bahwa generasi yang kuat hanya akan lahir apabila kita besarkan di atas pijakan takwa dan berkata dengan perkataan benar (qaulan sadîda). Salah satu makna qaulan sadîda berkata tegas, tidak menutup-nutupi kebenaran. Berpijak pada dua hal inilah akan lahir anak-anak yang kukuh imannya, lembut peranganinya, dan tegas sifatnya. Ia toleran kepada pemeluk agama lain karena seperti itulah contoh yang diberikan oleh NabiShallalâhu ’alaihi wa Sallam Bukan karena kerdilnya jiwa, ciutnya nyali, dan rusaknya iman.

Ia mampu bersikap tegas karena percaya diri yang tinggi, iman yang bersih, dan ilmu yang benar. Bukan karena keberingasan dan kerasnya hati.

Agar anak-anak kita mampu bertoleransi tanpa kehilangan sikap tegas, mereka perlu memiliki keberanian, keyakinan, dan ilmu yang mencukupi. Kita perlu ajarkan kepada mereka bagaimana sikap tegas harus ditegakkan agar kelak mereka dapat melindungi dirinya (hifzh al-nafs),melindungi hartanya (hifzh al-mâl), membela agamanya (hifzh al-dîn),melindungi keturunan (hifzh an-nasb) dan melindungi akal (hifzh al-’aql). Inilah lima tujuan syariah, dan memahami jihad adalah pintu awal untuk menegakkannya.

Kita perlu menanamkan kepada mereka pemahaman tentang jihad secara utuh. Bukan mengajarkan jihad yang benar dan jihad yang salah, sebab tidak ada jihad yang salah. Kalau kemudian ada yang salah memahami jihad sehingga melakukan tindakan yang keliru, maka ini sebenarnya berpangkal pada tidak utuhnya kita memahami jihad. Terlebih ketika hari ini, kita menjumpai banyak sekali istilah yang menggunakan jihad sebelum memahami istilah jihad yang sesungguhnya benar, semakin jauhlah kita dari pemahaman tentang jihad secara utuh.

Hari ini, kita menjumpai ada jihad ekonomi, jihad intelektual, jihad pena dan seribu atau semiliar istilah lain yang menggunakan awalan kata jihad. Jika siapa pun apat menambahkan kata apa saja sesudah kata jihad, maka apakah yang dapat kita ambil dari makna jihad? Tak ada. Karena kita berjalan dengan pikiran kita sendiri-sendiri, bukan dengan petunjuk yang Allah jamin tidak ada keraguan di dalamnya. Pada gilirannya, ini menyebabkan sebagian dari kita menganggap agama tak lagi mencukupi untuk menjawab tantangan zaman dan menyelesaikan persoalan manusia. Padahal pada kitalah kelemahan itu ada. Salah satunya bersumber dari tidak utuhnya pemahaman.

Mengajarkan jihad semenjak dini kepada anak berarti menumbuhkan kepada mereka harga diri dan kepercayaan diri sebagai orang yang beragama. Mereka belajar memiliki rasa tanggung jawab. Pangkalnya sikap al-walâ’ wa al-barâ’ yang kuat, ujung-ujungnya sikap bersungguh-sungguh dalam melakukan setiap amal shalih. Tidaklah kelak mereka menggerakkan pena–jika ia seorang penulis–kecuali untuk mengabarkan kebenaran dan menebar kebaikan. Pada setiap tetes tinta yang dituangkan dengan hati yang hidup dan misi yang kuat, insya Allah akan lahir kata-kata yang menggerakkan jiwa untuk melakukan kebaikan. Yang demikian ini bukan karena ia melakukan jihad pena, tetapi karena kuatnya al-walâ’ wa al-barâ’ yang disertai besarnyarasa tanggung jawab kepada Allah, menjadikan ia tidak membiarkan tintanya tumpah sia-sia.

Tidaklah ia hadir di dunia kecuali untuk menjadi anugerah bagi alam semesta. Ia memberi rasa tenteram bagi tetangganya, sekalipun kafir, bukan karena jihad kemanusiaan. Bukan. Tetapi, ia hadir memberi manfaat bagi masyarakat sekelilingnya karena agama kita menuntut ia untuk meneladani perilaku Nabi Shallalâhu ’alaihi wa Sallam.

Sewaktu-waktu, ia juga mampu bersikap tegas terhadap orang kafir. Bukan karena benci. Bukan pula karena api permusuhan yang berkobar-kobar tanpa sebab, melainkan karena harus menegakkan kebenaran. Ia datang untuk mengingatkan sambil berharap dapat mengantarkan hidayah. Bukan untuk meluapkan amarah yang membabi buta.

Wallâhu a’lam bish-shawâb.

Membangun Kerjasama Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan. ======================

RESUME SAFARI RAMADAN HE BPA SEMARANG

Selasa, 7 Juli 2015
Pukul 20.00-22.00
Narasumber : Kiki Barkiah
Host & Notulis : Zahara NMH
Tema : Membangun Kerjasama Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan.
======================
Profil Narasumber :

Nama : Kiki Barkiah
Lahir : Bandung, 29th yang lalu
Status : Menikah dengan Aditya Irawan
Ibu dari Ali, Shafiyah, Shiddiq, Faruq, Fatih
Pendidikan terakhir : Teknik elektro ITB
Aktivitas saat ini : Homeschooler 5 anak, founder Komunitas homeschooling dan Rumah Tahfidz Al-Kindi Mahardika Batam, Presenter program "Ibu Indonesia Berbagi" at radiopengajian.com
Motto : Berjuang dan berusahalah, berikan yang terbaik untuk ummat meskipun kamu harus berkorban
Alamat : San Jose, California

"Membangun Kerjasama Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan"
Oleh Kiki Barkiah

Mungkin kita sering menyebut istilah super mom atau super woman kepada seseorang. Atau mungkin kita sering berusaha untuk bisa menjadi seorang super woman atau super mom. Saya percaya bahwa dalam lubuk hati yang paling dalam, tidak ada seorang ibupun yang benar benar menginginkan menjadi super mom atau super woman yang dapat melakukan segalanya dalam dunia pengasuhan anak. Kecuali bagi mereka yang tidak memiliki pilihan lain kecuali menjalankan pengasuhan sendirian.

Sebaliknya betapa banyak para ibu yang mengeluhkan keadaan mereka yang merasa berjuang sendirian dalam dunia pengasuhan anak. Sementara para ayah hanya fokus dalam mencari mencari nafkah. Keadaan ini biasanya tidak hanya dipicu oleh ritme kerja para ayah yang tinggi karena tuntutan kebutuhan materi di era masa kini, tetapi sebagian juga dipicu oleh paradigma klasik yang dianut sebagian masyarakat Indonesia.

Paradigma yang memilah wilayah kerja antara ibu dan ayah. Ayah urusan uang sementara tek tek bengek rumah dan anak-anak adalah urusan ibu. Meskipun tidak dapat dipungkiri bahwa mencari nafkah adalah sebuah pekerjaan yang memiliki porsi yang besar dalam keberlangsungan sebuah keluarga. Sesuatu yang harus sangat disyukuri oleh seorang wanita yang hanya disibukkan oleh urusan pengasuhan anak, tanpa harus berada dalam sebuah kondisi yang memaksanya untuk turut membantu memenuhi kebutuhan keluarga.

Betapa banyak problematika keluarga yang muncul diawali oleh permasalahan pemberian nafkah yang tidak memenuhi kebutuhan keluarga. Untuk itu, betapa banyak hal yang masih dapat disyukuri para ibu yang saat ini merasa berjuang sendirian dalam pengasuhan, sementara suami hanya mencari nafkah.

Namun apakah keadaan ini cukup menjadi sebuah bekal bagi kita dalam mempertanggungjawabkan amanah berupa keturunan di depan Allah??

Ada sebuah pernyataan yang disampaikan suami saya Aditya Irawan yang masih teringat dalam memori saya. "Jika hanya karena bekerja orang akan masuk surga, maka semua orang akan masuk surga karena semua orang pun bekerja" Tentu tidaklah cukup seseorang hanya bekerja untuk meraih surga. Pasti ada hal yang membedakan manusia yang bekerja dalam kelayakannya untuk masuk surga. Maka tidak cukup pula kita mempertanggungjawabkan amanah kita sebagai orang tua hanya dengan memenuhi kebutuhan mereka melalui pemberian nafkah. Sementara kebutuhan manusia terdiri dari 3 dimensi, dimensi ragawi, rohani, dan akal.

Dalam pandangan islam, tidak hanya seorang suami yang berperan sebagai pemimpin, namun seorang istripun menjadi pemimpin dalam urusan rumah tangga suaminya. Meskipun dalam pelaksananya kewajiban tersebut bisa dilakukan sendirian, melibatkan pihak profesional atau bahkan di bantu pelaksanaannya oleh suaminya.

Sementara perkara perintah memimpin keluarga termasuk didalamnya melaksanakan perintah Allah dalam surat at tahrim ayat 6 untuk menjaga diri dan keluarga dari api neraka di tugaskan kepada para suami. Kewajiban ini melekat bagi seorang suami meskipun pelaksanaannya dapat dilakukan sendiri, dibantu oleh istri atau melibatkan pihak profesional.

Ibn umar r.a berkata : saya telah mendengar rasulullah saw bersabda : setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. Seorang suami akan ditanya perihal keluarga yang dipimpinnya. Seorang isteri yang memelihara rumah tangga suaminya akan ditanya perihal tanggungjawab dan tugasnya. Bahkan seorang pembantu/pekerja rumah tangga yang bertugas memelihara barang milik majikannya juga akan ditanya dari hal yang dipimpinnya. Dan kamu sekalian pemimpin dan akan ditanya (diminta pertanggungan jawab) darihal hal yang dipimpinnya. (Bukhori, Muslim)

Lalu bagaimanakah kerjasama ayah dan ibu dalam dunia pengasuhan? Kerjasama akan kita bangun jika sebuah keluarga memiliki kesamaan visi serta memahami misi yang perlu dilakukan dalam meraih sebuah visi. Bagaimana mungkin kerjasama ayah dan ibu dapat dilakukan secara sinergi jika mereka tidak memahami hendak kemana nahkoda keluarga akan dibawa, serta anak-anak yang seperti apa yang ingin mereka hasilkan. Maka merumuskan tujuan pengasuhan menjadi langkah awal dalam membangun kerjasama para ayah dan ibu.

Setelah tujuan pengasuhan disepakati, pembagian peran dan tugas dalam mencapai tujuan tersebut adalah unsur pembentuk utama dalam sebuah kerjasama. Tidak mungkin ada sebagian pihak yang sekedar menitipkan cita-cita sementara pihak lain yang melaksanakannya. Terlebih lagi jika pihak yang menitipkan cita-cita itu hanya berperan sebagai evaluator di hasil akhirnya. Karena membuat anak tidak dilakukan sendirian maka mengurus, membesarkan dan mendidiknya juga bukan pekerjaan sendirian.

Ibarat dalam sebuah organisasi, hendaklah memberikan sebuah urusan pada ahlinya yang memang sesuai dengan kepribadian dan bakat seseorang.

Sebagai contoh, mungkin ada seorang organisator yang sangat mahir memimpin tetapi sangat buruk dalam hal kerapihan keuangan dan administrasi. Maka pemimpin seperti ini harus dibantu oleh anggota lain yang mahir dalam kerapihan pengarsipan organisasi. Ada orang-orang yang sangat detail dan rapi bekerja tapi mungkin kurang bisa berkomunikasi dan mengemukakan pendapat. Ada orang yang mahir menggerakkan segala sumber daya manusia tapi tidak mahir mengelola sumber daya lainya.

Pembagian tugas dalam organisasi juga tidak harus dibagi berdasarkan jenis kelaminnya. Siapa saja yang memiliki potensi untuk melakukannya, semua pihak harus berkontribusi untuk memperkuat teamnya. Dan siapa saja dapat saling mengingatkan tanggung jawab orang lain atau bahkan sementara menggantikan tugasnya demi terlaksananya target kerja bersama.

Begitu juga dalam dunia pengasuhan. Hendaknya pembagian peran ibu dan bapak dilakukan dengan mempertimbangkan kepribadian dan bakat diantara keduanya. Meskipun hanya bersifat membantu dan tidak menggugurkan kewajiban utama masing-masing. Apabila dalam mencapai tujuan pengasuhan tersebut para ayah dan ibu tidak memiliki kemampuan yang mumpuni sesuai dengan kepribadian dan bakatnya, maka pelibatan pihak lain dilakukan dalam pemenuhan kewajiban tersebut.

Sebagai contoh, mungkin seorang ayah tidak terlalu pandai berkomunikasi dalam menyampaikan ajaran agama, tapi ia memiliki seorang istri yang fasih berbahasa dan menguasai ilmu agama, maka kewajiban ayah dalam memelihara kualitas pemahaman agama keluarganya dapat dibantu pelaksananya oleh sang istri. Atau mungkin jika kurang sempurna dilakukan oleh keduanya, sang ayah dapat mencarikan guru atau lembaga pendidikan yang dapat membantu melaksanakan kewajibannya.

Mungkin ada seorang ibu yang tidak terlalu telaten menyiapkan makanan untuk anak-anaknya, atau repot karena tugasnya menyusui bayi. Tapi mungkin sang ayah adalah seorang lelaki yang telaten dan tekun dalam bekerja sehingga disela kesibukannya bekerja ia bisa membantu urusan pemenuhan makanan anak-anaknya. Atau mungkin mereka bisa melibatkan seorng profesional yang dapat membantu melaksanakan kewajiban mereka dalam memenuhi kebutuhan ragawi anak-anaknya.

Pembagian tugas dan proses saling membantu semacam inilah yang akan memperkuat tim keluarga dalam mencapai tujuan mereka. Meskipun demikian ada kalanya kita tetap harus menjalankan beberapa peran meski tidak terlalu sesuai dengan kepribadian dan bakat kita. Sebagai contoh, sekaku apapun sang ayah dalam berkomunikasi, anak anak tetap membutuhkan komunikasi bersama ayahnya, anak-anak tetap membutuhkan waktu bermain bersama ayahnya. Atau misalnya, meskipun seorang ibu tidak telaten mengatur urusan rumah tangga, tetap saja ada sisi-sisi dimana pekerjaan tersebut tidak dapat di wakilkan kepada pihak lainnya. Maka menjadi orang tua bukan hanya perjalanan panjang dalam belajar dan terus belajar menyelesaikan masalah. Namun juga perjalanan mendobrak diri, menembus batas, melepas rantai gajah untuk melakukan yang sebelumnya tidak mampu dilakukan menjadi harus dilakukan dan bisa dilakukan lalu mahir melakukannya dan menjadi sepasang super parent.
Mari kita tentukan visi keluarga, pahami kewajiban kita masing-masing, bagi tugas sesuai dengan fungsi dan peran dengan mempertimbangkan kepribadian dan bakat yang kita miliki, bantu yang bisa kiya bantu, lakukan yang bisa kita lakukan, libatkan pihak lain yang bisa membantu, dobrak diri untuk mampu melakukan yang sebelumnya tidak dapat kita lakukan, dan jadilah super parent!!

San Jose, California
Sang Penjelajah Hikmah
Kiki Barkiah

TANYA JAWAB

Pertanyaan 1. Bunda Dinta
1. Jika dlm pengasuhan anak pihak ibu concern ke agama, sebaliknya pihak ayah kurang greget. Bagaimana tepatY ibu menyikapi & menjalaniY?
2. Bagaimana memaksimalkan peran ayah dlm kondisi keluarga LDR ( anak tinggal dgn ibu) supaya anak tdk kehilangan figur ayah?

Jawaban 1 : Bunda dinta, memang pengasuhan akan lebih mudah kalo ayah dan ibu berharmoni. Tetapi takdir setiap orang kan berbeda. Tp bukan berarti ketidakidealan menjadikan kita mundur pada hal hal yg prinsipal. Kalo dilihat dalam sirah sahabat (sayang saya lupa namanya) ada kisah yg serupa tapi karena perjuangan sang ibu, akhirnya kondisi agama anak anak baik sejalan dgn kegigihan sang ibu mendidik anak anaknya. Tapi sesungguhnya keluarga itu ladang dakwah yg paling utama sebelum lainnya, jadi sambil ibu terus bergerak mendidik anak anak dgn bekal agama yg kuat, maka hal yg serupa juga ttp dilakukan kepada ayahnya. Terkadang kesolihan anak juga bs menjadi jalan bagi kesolehan ayahnya. Yg perlu diingat bahwa sebagai manusia ruang wilayah kita adalah menyampaikan, sementara urusan penerimaan ada di tangan Allah. Sehingga jangan terlalu sedih dan kecewa jika sang ayah blm juga konsern pada agama krn Rasululkah saja tidak kuasa mengatur hidayah bagi kerabatnya. Kesimpulannya keep moving forward and keep making dua ya.

Saya pernah LDR waktu bapak pergi ke amerika. Padahal waktu itu anak saya 4 kecil kecil lg gak punya pembantu. Saya lebih merasa bisa memberikan perhatian tanpa membuat bapak tambah pusing dgn tumpukan cuci piring dll. Lebih merasa romantis dan saling perhatian juga. Kami biasa menyalakan skype dalam waktu lama lengkap dgn video webcam. Jd bapak masih sering bisa melihat anak-anak dan aktifitasnya. Anak-anak sering ngobrol dan bercerita lewat webcam sehingga mereka selalu merasa ayahnya ada. Obrolan kita yg senada dgn suami kan soal keluarga dan anak-anak jd di webcam itulah sarananya. Kalau gak sanggup kapasitasnya untuk webcam, maka bisa diganti dgn telepon saja. Memang yg perlu bersabar ibunya krn jd gak ada yg bantu, juga anak anak gak bisa main dgn ayah. Tp kegiatan itu bisa diganti dgn ayah membacakan dongeng di telpon atau membacakan buku bergambar di webcam

Pertanyaan 2 : Bu Arum HE Cilacap
1. Untuk kasus pasutri di mana sang istri begitu ingin mengasuh & mendidik anak2ny sebaik mugkin namun sang suami begitu sibuk bekerja & memasrahkn masalah pengasuhan anak total ke istri semua, adakah saran utk suami yg spt ini? Langkah bijak apa yg sebaiknya dilakukan sang istri?
2. Klo berkenan, boleh tahu bun visi, misi & tujuan pengasuhan keluarga bun Kiki? Jazakillah bunda.

Jawaban 2 :
Bunda arum, kalau bunda mau berdamai dgn keadaan sulit dan berjuang sendirian. Keadaan ini mungkin tidak menjadi prioritas penyelesaian. Tapi kalo bunda mau kebahagiaan yg lebih hakiki serta kemudahan dalam perjuangan maka perbaikan komunikasi harus dilakukan.
Coba tanya sama ayahnya, yang bikin anaknya siapa? Kalo dia jawabnya mbak sendirian, ayo kita urus sendirian. Kalo dia jawabnya berdua, ayo kita diskusikan pembagian perannya. Hidup kita kan gak akan lama, belum tentu selamanya kita berdua. Mungkin ada masa nanti salah satu diantara kita harus berjuang sendirian. Sebelum masa itu tiba, biarlah anak anak merasa bahwa mereka diasuh oleh sosok kedua orang tuanya. Relakah para ayah menjadi ayah yg ada tapi tiada bagi anak anak mereka?
Untuk suami istri:
1. Kedua belah pihak sadar bahwa tanggung jawab pengasuhan berada ditangan keduanya.
2. Kedua belah pihak sadar bahwa perbedaan yang ada harus dikelola sedemikian hingga mampu melahirkan langkah yang sama.
Dalam komunikasi ada beberapa prinsip yang perlu diingat istri
1. Suami adalah pemimpin kita, setelah diskusi kita upayakan pada akhirnya kita ttp harus taat pada keputusan suami selama tidak bertentangan dgn perintah Allah.
2. Laki-laki itu pridenya tinggi. Mereka sangat membutuhkan respek kita. Sangat... Sangat .. jadi jangan sampai langkah kita menjatuhkan harga diri beliau dan jangan sampai langkah kita dilakukan tidak diatas rasa penghormatan kita terhadap suami.
3. Seperti halnya perempuan, laki-laki juga butuh me time, yg kadang buat ibu ibu terasa "gak penting" sebaliknya kadang laki-laki juga merasa me time ibu-ibu "gak penting" karena mmg kita sedikit berbeda. Maka solusinya kasih waktu yg dibatasi agar masing masing melakukan me time nya  setelah itu wajib punya waktu untuk mendiskusikan amanah bersama.
4. Laki-laki itu sangat suka disentuh dgn sisi kewanitaan kita daripada didominasi dan dijatuhkan harga dirinya, maka dalam menyampaikan pendapat gunakan jurus pesona wanita, haha
5. Penting untuk memanfaatkan momentum dimana laki-laki mau mendengar kita, salah satunya (maaf) sekitar waktu waktu intim suami istri.
6. Laki-laki itu banyak menggunakan logika, jd biasanya mereka suka bila pendapat kita berasal dr data data ilmiah, ajak belajar bersama itu penting. Beli buku, baca dan diskusi bersama.
7. Kemukakan perasaan ibu to the point. Jangan berharap laki laki menebak kebutuhan kita, langsung saja diminta.
Silahkan dikoreksi untuk bapak-bapak disini, kira-kira seperti itu kan laki laki?
Visinya meciptakan generasi sholih muslih dan produktif.
Bunda Arum : Jazakillah bun Kiki, insya Allah suami sy siap berjuang bareng mengasuh anak2 bun �� itu kasus seorang temen..

Pertanyaan 3 : Bunda Zahra
Bagaimana cara menjaga "kewarasan" seorg full time IRT . Saya melihat teh kiki luar biasa. Masyaallah, mendidik 5 putra putri jauh dr keluarga tanpa ART pula. Tp teh kiki mampu memanage semua dgn baik. Saya baru satu putra sdh sering d landa stress.

Jawaban 3 : Berikut cara menjaga kewarasan sebagai ibu rumah tangga
1. Pahamilah bahwa rumah tangga kita adalah ladang surga
2. Pahamilah bahwa kita manusia biasa yang tidak sempurna tetapi Allah Maha Kuasa, Maha Bisa, dan Maha penolong
3. Pahami bahwa ikhtiar kita bukanlah penentu hasilnya, tetapi ikhtiar kita adalah cara kita memberikan proposal pemohonan akan pertoongan dan hasil akhir yang baik dr Alah swt
4. Pahami bahwa anak anak adalah mahkluk Allah yang jiwanya digenggam oleh Allah, bukan oleh kita. Maka mintalah kepada Allah
5. Pahami bahwa kita adalah makhluk sosial yang membutuhkan pertolongan dan kerjasama dr orang lain. Untuk meminta pertolongan dan kerjasama membutuhkan kesamaan visi yang jelas, komunikasi, pembagian tugas, kemampuan mengharmonisasi potensi, kemampuan mengatasi konflik, kesabaran dalam bekerjasama serta perasaan saling menerima dan memaafkan antar anggota tim
6. Terus belajar untuk mengelola konfik yang beresiko memunculkan ketidakwarasan
7. Miliki teman terbaik tempat berbagi yang halal dan amanah saat muncul tanda tanda ketidakwarasan
8. Alokasikan waktu untuk relaks beristirahat dan menghibur diri dalam batasan yg dibolehkan syariat yang diniatkan dalam rangka mengumpukan energi dan kekuatan baru
9. Berorientasilah pada proses dan pengoptimalisasian potensi dalam berproses sementara hasilnya kita serahkan pada Allah
10. Saat tanda ketidakwarasan mulai kambuh, banyak-banyaklah mengingat karunia yang telah Allah berikan
11. Syukurilah apa yang ada karena yang ada sudah menjadi milik kita
12. Saat ketidakwarasan benar benar terjadi time out lah diri kita agar meminimalisir keburukan yg tidak diharapkan
13. Perbaikilah kondisi ruhiyah karena kondisi ruhiyah sejalan dgn tingat kewarasan
14. Jika penyakit ketidakwarasan sering terjangkit, saatnya menentukan prioritas amanah sesuai dgn kondisi dan kemampuan yang dimiliki. AllahuA'lam.

Pertanyaan 4 : Bunda Endah
Bagaimana mengatur pola pengasuhan tunggal ayah bunda kalau kondisinya tinggal di rumah ortu/mertua. Setidaknya mengantisipasi konflik internal ayah bunda, dan konflik eksternal dengan mertua atau ortu. Karena sedikit banyak pasti turut campur tangan dalam pengasuhan anak.

Jawaban 4 :
Bunda endah, yang perlu diingat adalah semakin banyak kepala yg harus bekerjasama semakin banyak tantangannya. Tetapi percayalah kepala satu tidak lebih baik dari kepala banyak pikiran. Beberapa prinsip yg mungkin perlu diingat sbb:
1. Menyatukan visi dan misi keluarga itu prioritasnya ada ditangan ayah dan ibu. Jadi bisa gak bisa, harmonisasi pengasuhan ayah dan ibu harus dicapai dulu.
2. Kalo keduanya sudah kompak insya Allah timnya akan lebih solid untuk meminta pihak lain bekerjasama meraih visi misi tersebut
3. Perlu adanya kerjasamaa antara semua pihak yang bersinggungan dengan anak anak, dan kerjasama hanya bisa terjadi bila ada kesamaan visi, komunikasi, pengelolaan konflik, harmonisasi potensi, pembagian tugas, serta penerimaan akan keterbatasan setiap pihak serta saling memaafkan atas kesalahan dan kekurangan.
4. Ridho Allah untuk istri salah satunya berhubungan dgn ridho suami terhadap istrinya sementara ridho Allah terhada suami salah satunya berhubungan dengan orang tuanya. Jadi apabila seorang istri ingin mendapat ridho Allah, maka keduanya prinsip ini harus selaras tidak boleh berbenturan
5. Selama perbedaan pola asuh bukan hal hal yang prinsipal maka ingatlah pesan Rasulullah untuk mengambil langkah yang paling mudah dan paling kecil mudhorotnya
6. Saat terjadi perbedaan yang sangat prinsipal, maka terciptanya tujuan bersama, semua pihak harus menjalin komunikasi diatas rasa penghargan terhadap semua pihak.
7. Ingatlah bahwa setinggi apapun ilmu yang kita miliki, jam terbang orang tua sebagai orang tua jauh lebih banyak dari kita
8. Bicaralah sebagai sesama manusia dewasa saat terjadi konfilk sehingga posisinya bisa seimbang.
9. Ingatlah bahwa dalam al quran menaati orang tua itu ada batasannya yaitu selama tidak melanggar perintah Allah. Tetapi menghormati orang tua itu tidak ada batasnya sekalipun mereka berbeda keyakinan dan akidah bahkan memusuhi sekalipun sebagaimana nabi musa yg tetap menghormati firaun yang memusuhinya
10. ingatlah hadist arbain yg no 19 (cmiiw) tentang jagalah Allah, yg intinya bahwa keburukan tidak akan menimpa kecuali yg ditetapkan sekalipun semua pihak berupaya menimpakan keburukan. Maka jagalah Allah niscaya Allah akan menjaga kita

Pertanyaan 5 : Bunda Putri
Assalamualaikum mbak kiky..
Maaf mungkin pertanyaan klise. Bagaimana sih menjaga hubungan suami istri agar tetep kompak, tetap solid bekerja sama mengasuh anak walau usia pernikahan atau masing2 suami/istri menua ? Karena yang saya liat, byk pernikahan semakin tua ada masa2 krn usia juga makin tua sering terjadi konflik antar suami dan istri sendiri. Makanya beberapa orang walo usia pernikahan sudah banyak yg bercerai.

Jawaban 5 :
Mbak anggrahenny, memang nuansa terbesar rumah tangga seseorang sangat ditetukan oleh niat awal menikah serta keberkahan dalam proses menuju pernikahan. Bagi nasi yang sudah terlanjur menjadi bubur, perlu seni tersendiri agar bubur ini menjadi bubur ayam yang special dan enak. Bagi yang terlanjur tidak kompak dan banyak kesalahan, mari kita awali dgn istigfar, taubat, belajar, memperbaiki kesalahan dan mengejar ketertinggalan. Kekompakan hanya akan awet terjadi kalo kesamaaan visi dan tujuan ttp dipertahankan atau di refresh lebih baik dgn kesepakatan bersama. Kekompakan insya Allah akan terus dibutuhkan karena permasalah pengasuhan akan selalu ada, yg berubah hanyalah temanya dari mulai menyusui sampai urusan menikahkan. Makin kompleks temanya makin butuh kekompakan, harusnya makin romantis dan harmonis krn makin butuh mengenggam erat pasangan kita. Biasakan untuk tidak mau menjadi super hero, selesaikan masalah bersama suami sebagai super parent. Semakin kita memberi ruang peran kepada suami, semakin mereka merasa dihargai, semakin sayanglah mereka dgn kita, insya Allah. Makin lama usia pernikahan makin harus sering refresh dgn nostalgia, ingatkan kembali masa masa indah bulan madu. Sering sering mengunjungi kerabat yg menikah untuk merefresh cinta dgn menguatkan memori masa lalu yg indah indah. Kalo kenyataannya takdirnya mmg tdk terasa indah di dunia maka berdoalah agar kepedihan dan kepayahan kita berbuah keindahan di surga

Pertanyaan 6 : Bunda Ina Affandi
Saya selalu merasa ada yang kurang dari rumah tangga saya yaitu komunikasi 2 arah. Suami selalu menganggap bahwa berkomunikasi hanya pada ha2 yang penting saja. Tetapi keinginan saya adalah komunikasi itu ya pada semua hal baik buruk suka dan duka.
Hal ini yang belum dilakukan oleh suami sehingga kadang saya suka nyuri2 baca sms beliau hanya ingin mengetahui apa yang terjadi pd keseharian nya. Bagaimana ya cara mengkomunikasikan hal ini teh kiki

Jawaban 6 :
Bunda ina affandi, iya betul kita harus bs keluar dr rantai gajah masalah komunikasi ini. Mmg bahasannya tersendiri tp prinsip-prinsip yg ditulis diatas cukup mewakili. Sebelumnya diawal jangan sungkan untuk menyampaikan bahwa kita membutuhkan waktu setiap harinya untuk bisa ngobrol dan curhat, kemana lagi kita harus curhat kalo ayah gak mau dengar? Untuk sementara terus saja bercerita suka dan duka, meski mereka cenderung pasif

Pertanyaan 7 : Bunda Arum
Bunda Kiki, mengurus 5 anak tanpa ART, manajemen dapur terkait 'makanan anak2 & suami' gimana bun? Apalagi masih ada yg MPASI ya bun? Bun Kiki hampir setiap hari masak ato sering beli bun? Jazakillah

Jawaban 7 :
Saya masak hanya semacam sehari kadang sudah sama sayur kalo hanya lauk berarti sayurnya salad, pickle atau lalab. Pokoknya simple seputar tumis, goreng atau bakar, atau makanan yg dimasak slow cooker ditinggalin. Saya setok lauk sudah di pack dijatah harian, sudah dipotong dan dibersihkan bahkan sebagian sudah di karinate dengan bumbu dan dibekukan dalam freezer, saat memasak tinggal pangang dalam oven atau goreng. Suami bekal makanan tiap hari, kalo gak sempet menunggu masakan selesai pagi hari, maka bapak bekal sandwich atau makanan kemarin diangetin. Untuk mpasi saya banyaknya pakai buah di awal awal, setelah itu makanan keluarga yang dihancurkan sebelum dibumbui, setelah itu ikut makanan keluarga seperti biasa
Saya jarang beli, lebih sering masak sendiri tiap hari. Tp selalu stock daging cincang yg sudah dimasak dibumbui ala itali. Kalo repot saya tingal bikin sandwich atau sloppy joe ((burger isi cingcang) atau bikin spagetti, lasagna, atau pizza.