Jumat, 28 November 2014

Keyakinan yg berujung kebahagiaan

Kisah Nyata dari Tanah Arab
Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ...

Di tengah gemuruhnya kota, ternyata Riyadh menyimpan bayak kisah. Kota ini menyimpan rahasia yang hanya diperdengarkan kepada telinga dan hati yang mendengar. Tentu saja, hidayah adalah kehendak-NYA dan hidayah hanya akan diberikan kepada mereka yang mencarinya.

Ada sebuah energi yang luar biasa dari cerita yang kudengar beberapa hari yang lalu dari sahabat. Saya mengenal banyak dari mereka, ada beberapa dari Palestina, Bahrain, Jordan, Syiria, Pakistan, India, Srilanka, dan kebanyakan dari Mesir dan Saudi Arabia sendiri. Ada beberapa juga dari suku Arab yang tinggal di benua Afrika. Salah satunya adalah teman dari Negara Sudan, Afrika. Saya mengenalnya dengan nama Ammar Mustafa, dia salah satu muslim kulit hitam yang juga kerja di hotel ini. Beberapa bulan ini saya tidak lagi melihatnya berkerja. Biasanya saya melihatnya bekerja bersama pekerja lainnya menggarap proyek bangunan di tengah terik matahari kota Riyadh yang sampai saat ini belum bisa ramah di kulit saya.

Hari itu Ammar tidak terlihat. Karena penasaran, saya coba tanyakan kepada Iqbal tentang kabarnya. “Oh kamu tidak tahu?” Jawabnya balik bertanya, memakai bahasa Ingris khas India yang bercampur dengan logat urdhu yang pekat.

“Iya beberapa minggu ini dia gak terlihat di Mushola ya?” Jawab saya.

Selepas itu, tanpa saya duga Iqbal bercerita panjang lebar tentang Ammar. Dia menceritakan tentang hidup Ammar yang pedih dari awal hingga akhir, semula saya keheranan melihat matanya yang menerawang jauh. Seperti ingin memanggil kembali sosok teman sekamarnya itu. Saya mendengarkan dengan seksama. Ternyata Ammar datang ke kota Riyadh ini lima tahun yang lalu, tepatnya sekitar tahun 2004 lalu. Ia datang ke negeri ini dengan tangan kosong, dia nekad pergi meninggalkan keluarganya di Sudan untuk mencari kehidupan di kota ini.

Saudi Arabia memang memberikan free visa untuk negara-negara Arab lainnya termasuk Sudan, jadi ia bisa bebas mencari kerja di sini asal punya pasport dan tiket. Sayang, kehidupan memang tidak selamanya bersahabat. Do’a Ammar untuk mendapat kehidupan yang lebih baik di kota ini demi keluarganya ternyata saat itu belum terkabul.

Dia bekerja berpindah pindah dengan gaji yang sangat kecil, uang gajinya tidak sanggup untuk membayar apartemen hingga ia tinggal di apartemen teman-temannya. Meski demikian, Ammar tetap gigih mencari pekerjaan. Ia tetap mencari kesempatan agar bisa mengirim uang untuk keluarganya di Sudan. Bulan pertama berlalu kering, bulan kedua semakin berat.. Bulan ketiga hingga tahun-tahun berikutnya kepedihan Ammar tidak kunjung berakhir. Waktu bergeser lamban dan berat, telah lima tahun Ammar hidup berpindah-pindah di kota ini. Bekerja di bawah tekanan panas matahari dan suasana kota yang garang. Tapi Ammar tetap bertahan dalam kesabaran.

Kota metropolitan akan lebih parah dari hutan rimba jika kita tidak tahu caranya untuk mendapatkan uang, di hutan bahkan lebih baik. Di hutan kita masih bisa menemukan buah-buahan, tapi di kota? Kota adalah belantara penderitaan yang akan menjerat siapa saja yang tidak mampu bersaing.

Riyadh adalah ibu kota Saudi Arabia.
Hanya berjarak 7 jam dari Dubai dan 10 jam jarak tempuh dengan bis menuju Makkah. Di hampir keseluruhan kota ini tidak ada pepohonan untuk berlindung saat panas. Di sini hanya terlihat kurma
kurma yang berbuah satu kali dalam setahun. Ammar seperti terjerat di belantara kota ini. Pulang ke Suddan bukan pilihan terbaik, ia sudah melangkah, ia harus membawa perubahan untuk kehidupan keluarganya di negeri Sudan. Itu tekadnya. Ammar tetap tabah dan tidak berlepas diri dari keluarganya. Ia tetap mengirimi mereka uang meski sangat sedikit, meski harus ditukar dengan lapar dan haus untuk raganya di sini. Sering ia melewatkan harinya dengan puasa menahan dahaga dan lapar sambil terus melangkah, berikhtiar mencari suap demi suap nasi untuk keluarganya di Sudan.

Tapi Ammar pun manusia.
Di tahun kelima ini ia tidak tahan lagi menahan malu dengan teman temannya yang ia kenal, sudah lima tahun ia berpindah-pindah kerja dan numpang di teman-temannya tapi kehidupannya tidak kunjung berubah. Ia memutuskan untuk pulang ke Sudan. Tekadnya telah bulat untuk kembali menemui keluarganya, meski dengan tanpa uang yang ia bawa untuk mereka yang menunggunya. Saat itupun sebenarnya ia tidak memiliki uang, meski sebatas uang untuk tiket pulang. Ia memaksakan diri menceritakan keinginannya untuk pulang itu kepada teman terdekatnya. Dan salah satu teman baik Ammar memahaminya. Ia memberinya sejumlah uang untuk beli satu tiket penerbangan ke Sudan. Hari itu juga Ammar berpamitan untuk pergi meninggalkan kota ini dengan niat untuk kembali ke keluarganya dan mencari kehidupan di sana saja. Ia pergi ke sebuah Agen di jalan Olaya, Riyadh, untuk menukar uangnya dengan tiket. Sayang, ternyata semua penerbangan Riyadh – Sudan minggu ini susah didapat karena konflik di Libya, negara tetangganya. Tiket hanya tersedia untuk kelas executive saja.

Akhirnya ia beli tiket untuk penerbangan minggu berikutnya. Ia memesan dari saat itu supaya bisa lebih murah. Tiket sudah di tangan, dan jadwal terbang masih minggu depan. Ammar sedikit kebingungan dengan nasibnya. Tadi pagi ia tidak sarapan karena sudah tidak sanggup lagi menahan malu sama temannya, siang inipun belum ada celah untuk makan siang. Tapi baginya ini bukan hal pertama. Ia hampir terbiasa dengan kebiasaan itu. Adzan dzuhur bergema.. Semua toko-toko, supermarket, bank, dan kantor pemerintah serentak menutup pintu dan menguncinya. Security kota berjaga jaga di luar kantor-kantor, menunggu hingga waktu sholat berjamaah selesai.

Ammar tergesa menuju sebuah masjid di pusat kota Riyadh. Ia mengikatkan tas kosongnya di pinggang, kemudian mengambil wudhu, membasahi wajahnya yang hitam legam, mengusap rambutnya yang keriting dengan air. Lalu ia masuk masjid. Sholat 2 rakaat untuk menghormati masjid. Ia duduk menunggu mutawwa memulai shalat berjamaah. Hanya di setiap sholat itulah dia merasakan kesejukan. Ia merasakan terlepas dari beban dunia yang menindihnya, hingga hatinya berada dalam ketenangan di tiap menit yang ia lalui. Sholat telah selesai. Ammar masih bingung untuk memulai langkah. Penerbangan masih seminggu lagi. Ia diam ... Dilihatnya beberapa mushaf Al-Qur’an yang tersimpan rapi di pilar pilar masjid yang kokoh itu. Ia mengmbil salah satunya, bibirnya mulai bergetar membaca taawudz dan terus membaca Al-Qur’an hingga adzan Ashar tiba menyapanya. Selepas maghrib ia masih di sana.

Beberapa hari berikutnya, ia memutuskan untuk tinggal di sana hingga jadwal penerbangan ke Sudan tiba. Ammar memang telah terbiasa bangun awal di setiap harinya. Seperti pagi itu, ia adalah orang pertama yang terbangun di sudut kota itu. Ammar mengumandangkan suara indahnya memanggil jiwa jiwa untuk sholat, membangunkan seisi kota saat fajar menyingsing menyapa kota. Adzannya memang khas. Hingga bukan sebuah kebetulan juga jika Prince (Putra Raja Saudi) di kota itu juga terpanggil untuk sholat Subuh berjamaah di sana. Adzan itu ia kumandangkan di setiap pagi dalam sisa seminggu terakhirnya di kota Riyadh. Hingga jadwal penerbanganpun tiba. Di tiket tertulis jadwal penerbangan ke Sudan jam 05:23 am., artinya ia harus sudah ada di bandara jam 3 pagi atau 2 jam sebelumnya. Ammar bangun lebih awal dan pamit kepada pengelola masjid, untuk mencari bis menuju bandara King Abdul Azis Riyadh yang hanya berjarak kurang dari 30 menit dari pusat Kota. Ammar sudah duduk diruang tunggu di bandara. Penerbangan sepertinya sedikit ditunda, kecemasan mulai meliputinya. Ia harus pulang ke negerinya tanpa uang sedikitpun, padahal lima tahun ini tidak sebentar, ia sudah berusaha semaksimal mungkin.

Tapi inilah kehidupan, ia memahami bahwa dunia ini hanya persinggahan. Ia tidak pernah ingin mencemari kedekatannya dengan Penggenggam Alam Semesta ini dengan mengeluh. Ia tetap berjalan tertatih memenuhi kewajiban-kewajibannya, sebagai Hamba Alloh, sebagai Imam dalam keluarga dan ayah buat anak-anaknya. Diantara lamunan kecemasannya, ia
dikejutkan oleh suara yang memanggil manggil namanya. Suara itu datang dari speaker di bandara tersebut, rasa kaget belum hilang, Ammar dikejutkan lagi oleh sekelompok berbadan tegap yang menghampirinya. Mereka membawa Ammar ke mobil tanpa basa basi, mereka hanya berkata “Prince memanggilmu”. Ammar-pun semakin kaget jika ia ternyata mau dihadapkan dengan Prince. Prince adalah Putra Raja, kerajaan Saudi tidak hanya memiliki satu Prince. Prince dan Princess mereka banyak tersebar hingga ratusan di seluruh jazirah Arab ini. Mereka memiliki Palace atau Istana masing-masing.

Keheranan dan ketakutan Ammar baru sirna ketika ia sampai di masjid tempat ia menginap seminggu terakhir itu. Di sana pengelola masjid menceritakan bahwa Prince merasa kehilangan dengan adzan fajar yang biasa ia lantunkan. Setiap kali Ammar adzan, Prince selalu bangun dan merasa terpanggil. Hingga ketika adzan itu tidak terdengar, Prince merasa kehilangan.

Saat mengetahui bahwa sang Muadzin itu ternyata pulang ke negerinya, Prince langsung memerintahkan pihak bandara untuk menunda penerbangan dan segera menjemput Ammar yang saat itu sudah mau terbang untuk kembali ke negerinya.

Singkat cerita, Ammar sudah berhadapan dengan Prince. Prince menyambut Ammar di rumahnya, dengan beberapa pertanyaan tentang alasan kenapa ia tergesa pulang ke Sudan. Ammar-pun menceritakan bahwa ia sudah lima tahun di Kota Riyadh ini dan tidak mendapatkan kesempatan kerja yang tetap serta gaji yang cukup untuk menghidupi keluarganya. Prince mengangguk-anguk dan bertanya: “Berapakah gajimu dalam satu bulan?” Ammar kebingungan, karena gaji yang ia terima tidak pernah tetap. Bahkan sering ia tidak punya gaji sama sekali, bahkan berbulan-bulan tanpa gaji di negeri ini. Prince memakluminya. Beliau bertanya lagi: “Berapa gaji paling besar dalam sebulan yang pernah kamu dapati?” Dahi Ammar berkerut mengingat kembali catatan hitamnya selama lima tahun ke belakang. Ia lalu menjawabnya dengan malu: “Hanya SR 1.400″, jawab Ammar. Prince langsung memerintahkan sekretarisnya untuk menghitung uang. 1.400 Real itu dikali dengan 5 tahun (60 bulan) dan hasilnya adalah SR 84.000 (84 Ribu Real = Rp. 184.800.000). Saat itu juga bendahara Prince menghitung uang dan menyerahkannya kepada Ammar. Tubuh Ammar bergetar melihat keajaiban dihadapannya. Belum selesai bibirnya mengucapkan Hamdalah, Prince baik itu menghampiri dan memeluknya seraya berkata: “Aku tahu, cerita tentang keluargamu yang menantimu di Sudan.
Pulanglah temui istri dan anakmu dengan uang ini. Lalu kembali lagi setelah 3 bulan. Saya siapkan tiketnya untuk kamu dan keluargamu kembali ke Riyadh. Jadilah Bilal di masjidku .. dan hiduplah bersama kami di Palace ini.” Ammar tidak tahan lagi menahan air matanya. Ia tidak terharu dengan jumlah uang itu, uang itu memang sangat besar artinya di negeri Sudan yang miskin. Ammar menangis karena keyakinannya selama ini benar, Allah sungguh sungguh memperhatikannya selama ini, kesabarannya selama lima tahun ini diakhiri dengan cara yang indah.

Ammar tidak usah lagi membayangkan hantaman sinar matahari di siang hari yang mengigit kulitnya. Ammar tidak usah lagi memikirkan kiriman tiap bulan untuk anaknya yang tidak ia ketahui akan ada atau tidak. Semua berubah dalam sekejap! Lima tahun itu adalah masa yang lama bagi Ammar. Tapi masa yang teramat singkat untuk kekuasaan Allah.

Nothing Imposible for Allah, Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah ...

Bumi inipun Milik Allah ,..
Alam semesta,
Hari ini dan Hari Akhir serta Akhirat berada dalam Kekuasaan-Nya.
Inilah buah dari kesabaran dan keikhlasan. Ini adalah cerita nyata yang tokohnya belum beranjak dari kota ini, saat ini Ammar hidup cukup dengan sebuah rumah di dalam Palace milik Prince. Ia dianugerahi oleh Allah di Dunia ini hidup yang baik, ia menjabat sebagai Muadzin di Masjid Prince Saudi Arabia di pusat
kota Riyadh.

Subhanallah…
Seperti itulah buah manis dari kesabaran.
“Jika sabar itu mudah, tentu semua orang bisa melakukannya. Jika kamu mulai berkata sabar itu ada batasnya, itu cukup berarti pribadimu belum mampu menetapi kesabaran karena sabar itu tak ada batasnya. Batas kesabaran itu terletak didekat pintu Syurga dalam naungan keridhoanNya”.

Wallahu a'lam bishshawab, ..
...

Semoga tulisan ini dapat membuka pintu hati kita yang telah lama terkunci ...

Kecintaan kita thdpn Allah harus lbh besar dr kpd istri/ suami

BUYA SEPENINGGAL ISTRI

KETIKA dalam sebuah acara Buya Hamka dan istri beliau diundang, mendadak sang pembawa acara meminta istri Buya untuk naik panggung. Asumsinya, istri seorang penceramah hebat pastilah pula sama hebatnya.

Naiklah sang istri, namun ia hanya bicara pendek. “Saya bukanlah penceramah, saya hanyalah tukang masaknya sang Penceramah.” Lantas beliau pun turun panggung.

Dan berikut adalah penuturan Irfan, putra Buya, yang menuturkan bagaimana Buya sepeninggal istrinya atau Ummi Irfan.

“Setelah aku perhatikan bagaimana Ayah mengatasi duka lara sepeninggal Ummi, baru aku mulai bisa menyimak. Bila sedang sendiri, Ayah selalu kudengar bersenandung dengan suara yang hampir tidak terdengar. Menyenandungkan ‘kaba’. Jika tidak Ayah menghabiskan 5-6 jam hanya untuk membaca Al Quran.

Dalam kuatnya Ayah membaca Al Quran, suatu kali pernah aku tanyakan.

“Ayah, kuat sekali Ayah membaca Al Quran?”tanyaku kepada ayah.

“Kau tahu, Irfan. Ayah dan Ummi telah berpuluh-puluh tahun lamanya hidup bersama. Tidak mudah bagi Ayah melupakan kebaikan Ummi. Itulah sebabnya bila datang ingatan Ayah terhadap Ummi, Ayah mengenangnya dengan bersenandung. Namun, bila ingatan Ayah kepada Ummi itu muncul begitu kuat, Ayah lalu segera mengambil air wudhu. Ayah shalat Taubat dua rakaat. Kemudian Ayah mengaji. Ayah berupaya mengalihkannya dan memusatkan pikiran dan kecintaan Ayah semata-mata kepada Allah,” jawab Ayah.

“Mengapa Ayah sampai harus melakukan shalat Taubat?” tanyaku lagi.

“Ayah takut, kecintaan Ayah kepada Ummi melebihi kecintaan Ayah kepada Allah. Itulah mengapa Ayah shalat Taubat terlebih dahulu,” jawab Ayah lagi. 

Rabu, 26 November 2014

Panduan seorang istri

TIPS MENJADI BIDADARI DUNIA DAN AKHIRAT (UNTUK SANG ISTRI)

Oleh: ustadz Firanda Andirja, MA

1. Segera menyahut dan hadir apabila diajak utk berhubungan.
2. Tidak membantah perintah suami selagi tidak bertentangan dgn syariat.
3. Tidak bermasam muka terhadap suami.
4. Senantiasa berusaha memilih perkataan yg terbaik ketika berbicara.
5. Tidak memerintahkan suami utk mengerjakan pekerjaan wanita.
6. Keluar rumah hanya dgn izin suami.
7. Berhias hanya untuk suami.
8. Tidak memasukkan orang ke dalam rumah tanpa seijin suami.
9. Menjaga waktu makan dan waktu istirahat suami.
10. Menghormati mertua serta kerabat keluarga suami. Terutama ibu mertua.
11. Berusaha menenangkan hati suami jika suami galau.
12. Segera minta ma’af jika melakukan kesalahan kpd suami.
13. Mencium tangan suami tatkala datang dan pergi.
14. Mau diajak oleh suami utk sholat malam, dan mengajak suami utk sholat malam.
15. Tidak menyebarkan rahasia keluarga terlebih lagi rahasia ranjang!!
16. Tidak membentak atau mengeraskan suara di hadapan suami.
17. Berusaha untuk bersifat qona’ah (nerimo) sehingga tidak banyak menuntut harta kpd suami.
18. Sedih dan bergembira bersama suami dan berusaha pandai mengikuti suasana hatinya.
19. Perhatian akan penampilan, jangan sampai terlihat dan tercium oleh suami sesuatu yg tidak
disukainya.
20. Berusaha mengatur uang suami dan tidak boros.
21. Tidak menceritakan kecantikan dan sifat-sifat wanita lain kpd suaminya.
22. Berusaha menasehati suami dgn baik tatkala suami terjerumus dlm kemaksiatan, bukan malah
ikut-ikutan.
23. Menjaga pandangan dan tidak suka membanding-bandingkan suami dgn para lelaki lain.
24. Lebih suka menetap di rumah, dan tidak suka sering keluar rumah.
25. Jika suami melakukan kesalahan maka tidak melupakan kebaikan-kebaikan suami selama ini.
Krn ini sebab terbesar wanita masuk neraka. (Smoga bermanfaat dan dapat diwujudkan dlm
kehidupan sehari-hari kita).

*RemindeR* buat kita semua...

Semoga manfa'at

Sabtu, 22 November 2014

Waspada MAC Cosmetics Abal-Abal Dengan Harga Murah

Waspada MAC Cosmetics Abal-Abal Dengan Harga Murah

Nama Makeup Art Cosmetics atau yang disingkat MAC tentunya sudah banyak dikenal sebagian besar wanita. Kosmetik ini pertama kali ditemukan oleh Frank Toskan di Toronto, Ontario, Kanada, tahun 1984.

Dedikasinya di dunia kecantikan sudah tak diragukan lagi dengan pulasan warna-warna elegannya. Meninggalkan pulasan kecantikan di setiap sudut wajah. Sayangnya, saat ini banyak kosmetik bermerk MAC abal-abal yang beredar di Indonesia. Kosmetika yang mengurangi esensi kecantikan ala MAC Cosmetics.

Bahaya kosmetik abal-abal ini bukan main-main lagi lho. Selain dapat menyebabkan problem kulit ringan seperti jerawat atau gatal-gatal, ancaman kanker kulit juga menanti. Pasalnya, kosmetika abal-abal terbuat dari bahan-bahan yang belum melewati penelitian. Bahkan warna-warnanya tidak menggunakan pewarna yang aman. Bisa dibayangkan apabila setiap hari dipulaskan ke kulit, perlahan kulit berhadapan dengan bahaya yang bisa mengancam kecantikan dan kesehatannya seumur hidup. Relakah Anda kecantikan direnggut oleh kosmetika palsu?

Inilah MAC Cosmetics yang palsu | Courtesy macmakeupsupplier2012

Agar tak terjebak kosmetik MAC abal-abal, cermati beberapa petunjuk berikut yuk.

Membedakan kosmetik palsu dan asli pada umumnya sangat mudah. Beli saja di counter asli, atau memesan di webstore MAC cosmetics langsung.
Tidak pernah ada aplikator (brush) di eyeshadow palette keluaran MAC Cosmetics. Aplikator (brush) dibeli terpisah.
Case box utuh dan tidak ada kaca, sehingga warna eyeshadow tidak bisa dilihat dari luar tanpa membuka case terlebih dahulu. Warna case box hitam dengan logo MAC di atasnya.
Warna-warna MAC umumnya bright color, sedangkan yang palsu cenderung lebih gelap.
MAC tidak pernah mengeluarkan eyeshadow 12-palette, 14-palette, 16-palette atau 20-palette. Produk ASLI keluaran MAC Cosmetics hanya 2-palette, 4-palette, 6-palette atau cream eye shadow satuan saja.
Cek apakah barcode antara kemasan dengan kotak sama. Umumnya yang palsu tidak ada barcode di kemasan produk, atau barcodenya berbeda.
Yang lebih mudah lagi adalah mencari di webstore MAC cosmetics, apakah produk tersebut ada atau tidak. Jika tidak ada, maka sudah bisa dipastikan produk tersebut PALSU!
Memang sih bila ditilik dari harganya, MAC abal-abal ini sangat terjangkau di kantong. Hanya dengan uang 100 ribu rupiah saja, Anda bisa mendapatkan sepaket lengkap eyeshadow hingga lipstick. Bahkan untuk cream eye shadow satuan, hanya dipatok seharga 20-30 ribuan. Sedangkan untuk membeli merk aslinya, Anda harus merogoh kocek cukup dalam, bisa sampai ratusan ribu. Tetapi, bila memang kecantikan Anda terawat dan kesehatan kulit terjamin, mengapa tidak membeli yang asli saja?

Rabu, 19 November 2014

"RAHASIA SUJUD KETIKA SHOLAT"

"RAHASIA SUJUD KETIKA SHOLAT"

Sujud melibatkan 5 anggota badan yang bertumpu pada bumi, yaitu dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut dan kedua ujung jari kaki.Sujud adalah konsep merendahkan diri, memuji Allah dan meminta segala macam permintaan kepada Allah. Sekaligus, mengikis sifat sombong, riya', takabur, dll.

Dr Fidelma O'Leary, Phd Neuroscience dari St Edward's University, telah menjadi mu'allaf, karena mendapati fakta tentang manfaat sujud bagi kesehatan.Dalam kajiannya ditemukan ada beberapa urat syaraf di dalam otak manusia yg tidak dimasuki darah, dan urat ini baru bisa dimasuki darah ketika manusia bersujud.Tetapi urat saraf ini hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Yaitu, pada waktu-waktu sholat yang telah ditetapkan Islam (shubuh, dzuhur, 'ashar, maghrib, Isya').

Subhanallah...Jadi, siapa yang tidak sholat maka urat ini tidak menerima darah sehingga otaknya tidak berfungsi secara normal. Salah satu indikasinya adalah timbul macam-macam gejala sosial di masyarakat yg tidak bersholat saat ini.Karena letak otak di atas jantung, maka kata Prof Hembing, jantung hanya mampu membekalkan 20% darah ke otak manusia, maka dibantu lagi dengan sujud yang lebih lama agar menambah kekuatan aliran darah ke otak.Hal ini sesuai dengan apa yang disampaikan Rasulullah, supaya kita sujud berlama-lama pada raka'at terakhir. Manfaat sujud berlama-lama ini, untuk menolak pening, dan migrain, menyegarkan otak,menajamkan akal pikiran (peka), melegakan sistem pernapasan, membetulkan pundi peranakan yang jatuh, memperbaiki kedudukan bayi sungsang, dll.

Dan yang menakjubkan, jika kita memperhatikan, bentuk saraf yang ada dalam otak kita berbentuk seperti orang yang bersujud..

SUBHANALLAH....

Sabtu, 15 November 2014

renung Prof. Renald Khasali >>>>> Nice to share... Prof Rhenald Kasali Senin, 3 November 2014

Selalu menarik membaca daya renung Prof. Renald Khasali >>>>> Nice to share... Prof Rhenald Kasali
Senin, 3 November 2014

KOMPAS.com — Saya kebetulan mentor bagi dua orang ini:
Dian Sastro dan Mooryati Soedibyo.

Akan tetapi, pada Susi Pudjiastuti yang kini menjadi menteri, saya justru belajar.

Ketiganya perempuan hebat, tetapi selalu diuji oleh sebagian kecil orang yang mengaku pandai.
Entah ini stereotyping, atau soal buruknya metakognisi bangsa, saya kurang tahu persis.

☑Mooryati Soedibyo.
Sewaktu diterima di program doktoral UI yang pernah saya pimpin, usianya saat itu sudah 75 tahun. Namun,
berbeda dengan mahasiswa lain yang datang pakai jins,
dia selalu berkebaya. Anda tentu tahu berapa lama waktu yang diperlukan untuk berkebaya, bukan? Akan tetapi, ia memiliki hal yang tak dimiliki orang lain:
self discipline.

Sampai hari ini, dia adalah satu-satunya mahasiswa saya yang tak pernah absen barang sehari pun. Padahal, saat itu ia salah satu pimpinan MPR.Memang ia tampak sedikit kewalahan "bersaing" dengan rekan kuliahnya yang jauh lebih muda. Akan tetapi, rekan-rekan kuliahnya mengakui, kemajuannya cepat. Dari bahasa jamu ke bahasa strategic management dan science yang banyak aturannya.

Teman-teman belajarnya bersaksi: "Pukul 08.00 malam, kami yang memimpin diskusi. Tetapi pukul 24.00, yang muda mulai ngantuk, Ibu Moor yang memimpin. Dia selalu mengingatkan tugas harus selesai, dan tak boleh asal jadi."

Masalahnya, ia pemilik perusahaan besar, dan usianya sudah lanjut. Ada stereotyping dalam kepala sebagian orang. Sosok seperti ini jarang ada yang mau kuliah sungguhan untuk meraih ilmu. Nyatanya, kalangan berduit lebih senang meraih gelar doktor HC (honoris causa) yang jalurnya cukup ringan.

Akan tetapi, Mooryati tak memilih jalur itu. Ia ingin
melatih kesehatan otaknya, mengambil risiko dan lulus 4
tahun kemudian. Hasil penelitiannya menarik perhatian Richard D’aveni (Tuck School-USA), satu dari 50 guru strategi teratas dunia. Belakangan, ia juga sering diminta memaparkan kajian risetnya di Amerika Serikat, Belanda, dan Jerman.

Meski diuji di bawah guru besar terkemuka Prof Dorodjatun Kuntjoro Jakti, kadang saya masih mendengar ucapan-ucapan miring dari orang-orang
yang biasa menggunakan kacamata buram dan lidahnya pahit. Ada saja orang yang mengatakan ia "diluluskan" dengan bantuan, "sekolahnya hanya dua tahun", dan seterusnya.

Anehnya, kabar itu justru beredar di kalangan perempuan yang tak mau tahu keteladanan yang ia tunjukkan. Kadang ada juga yang merasa lebih tahu dari apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, ada satu hal yang sulit mereka sangkal. Perempuan yang meraih doktor pada usia 79 tahun ini
berhasil mewujudkan usahanya menjadi besar tanpa.fasilitas. Perusahaannya juga go public.

Padahal, yang menjadi dosennya saja belum tentu bisa melakukan hal itu, bahkan membuat publikasi ilmiah internasional saja
tidak. Namun, Bu Moor juga berhasil mengangkat reputasi jamu di pentas dunia.

☑Dian Sastro
Dia juga mahasiswi saya yang keren. Sewaktu diterima
di program S-2 UI, banyak juga yang bertanya: apa benar artis mau bersusah payah belajar lagi di UI?
Anak-anak saya di UI tahu persis bahwa saya memang
cenderung bersahabat, tetapi mereka juga tahu sikap
saya: "no bargain on process and quality".

Dian, sudah artis, dan sedang hamil pula saat mulai kuliah. Urusannya banyak: keluarga, film, dan seabrek tugas. Namun lagi-lagi, satu hal ini jarang dimiliki yang lain: self discipline. Ia tak pernah abai menjalankan tugas.

Sebulan yang lalu, setelah lulus dengan cum laude dari
MM UI, ia berbagi pengalaman hidupnya di program S-1 pada kelas yang saya asuh.

"Saat ayah saya meninggal dunia, ibu saya berujar:
kamu bukan anak orang kaya. Ibu tak bisa menyekolahkan kalau kamu tidakoutstanding," ujarnya. Ia pun melakukan riset terhadap putri-putri terkenal. Di situ ia melihat nama-nama besar yang tak lahir dari kemudahan. "Saya tidak cantik, dan tak punya apa-apa," ujarnya.

Dengan uang sumbangan dari para pelayat ayahnya, ia
belajar di sebuah sekolah kepribadian. Setiap pagi, ia
juga melatih disiplin, jogging berkilo-kilometer dari Jatinegara hingga ke Cawang, ikut seni bela diri.

"Mungkin kalian tak percaya karena tak pernah menjalaninya," ujarnya.

Itulah mental kejuangan, yang kini disebut ekonom James Heckman sebagai kemampuan nonkognisi.

Dian lulus cum laude dari S-2 UI, dari ilmu keuangan pula,
yang sarat matematikanya. Padahal, bidang studi S-1
Dian amat berjauhan: filsafat.

☑Metakognisi Susi
Sekarang kita bahas menteri kelautan dan perikanan yang ramai diolok-olok karena "sekolahnya". Beruntung,
banyak juga yang membelanya.

Khusus terhadap Susi, saya bukanlah mentornya. Ia
terlalu hebat. Ia justru sering saya undang memberi kuliah. Dia adalah "self driver" sejati, yang bukan putus sekolah, melainkan berhenti secara sadar. Sampai di sini, saya ingin mengajak Anda merenung, adakah di antara kita yang punya kesadaran dan keberanian sekuat itu?

Akan tetapi, berbeda dengan kebanyakan orangtua yang membiarkan anaknya menjadi "passenger", ayah Susi justru marah besar.

Pada usia muda, di pesisir selatan yang terik, Susi memaksa hidup mandiri. Ditemani sopir, ia menyewa truk dari Pangandaran, membawa ikan dan udang, dilelang di Jakarta. Hal itu dijalaninya selama
bertahun-tahun, seorang diri.

Saat saya mengirim mahasiswa pergi "melihat pasar" keluar negeri yang terdiri dari tiga orang untuk satu negara, Susi membujuk saya agar cukup satu orang satu negara.

Saya menurutinya (kisah mereka bisa dibaca dalam buku 30 Paspor di Kelas Sang Profesor).

Dari usaha perikanannya itu, ia jadi mengerti penderitaan yang dialami nelayan. Ia juga belajar seluk-beluk logistik ikan, menjadi pengekspor, sampai terbentuk keinginan memiliki pesawat agar ikan
tangkapan nelayan bisa diekspor dalam bentuk hidup,
yang nilainya lebih tinggi.

Dari ikan, jadilah bisnis carter
pesawat, yang di bawahnya ada tempat penyimpanan
untuk membawa ikan segar.

Dari Susi, kita bisa belajar bahwa kehidupan tak bisa
hanya dibangun dari hal-hal kognitif semata yang hanya
bisa didapat dari bangku sekolah. Kita memang
membutuhkan matematika dan fisika untuk memecahkan
rahasia alam. Kita juga butuh ilmu-ilmu baru yang basisnya adalah kognisi. Akan tetapi, tanpa kemampuan nonkognisi, semua sia-sia.

Ilmu nonkognisi itu belakangan naik kelas, menjadi metakognisi: faktor pembentuk yang paling penting dibalik lahirnya ilmuwan-ilmuwan besar, wirausaha kelas dunia, dan praktisi-praktisi andal.

Kemampuan bergerak,
berinisiatif, self discipline, menahan diri, fokus, respek,
berhubungan baik dengan orang lain, tahu membedakan
kebenaran dengan pembenaran, mampu membuka dan mencari "pintu" adalah fondasi penting bagi pembaharuan, dan kehidupan yang produktif.

Manusia itu belajar untuk membuat diri dan bangsanya
tangguh, mengatasi masalah, mampu mengambil
keputusan, bisa membuat kehidupan lebih produktif dan
penuh kedamaian. Kalau cuma bisa membuat keonaran dan adu pandai saja, kita belum tuntas mengurai persepsi, baru sekadar mampu mendengar, tetapi belum bisa menguji kebenaran dengan bijak dan
mengembangkannya ke dalam tindakan yang produktif.

Ketiga orang itu mungkin tak sehebat Anda yang senang
melihat kecerdasan orang dari pendekatan kognitif yang
bermuara pada angka, teori, ijazah, dan stereotyping.

Akan tetapi, saya harus mengatakan, studi-studi terbaru menemukan, ketidakmampuan meredam rasa tidak suka atau kecemburuan pada orang lain, kegemaran menyebarkan fitnah dan rasa benar sendiri, hanya akan
menghasilkan kesombongan diri.

Anak-anak kita pada akhirnya belajar dari kita, dan apa
yang kita ucapkan dalam kesaharian kita juga akan
membentuk mereka