Kamis, 09 Juni 2011

Cara tepat Menasehati Anak

Menasihati adalah keahlian bawaan lahir yang dimiliki setiap orang, bahkan tak jarang dilakukan dengan cara yang berlebihan. Begitupun dengan kebiasaan menasihati yang dilakukan oleh para orangtua terhadap anaknya.

Pada dasarnya, menasihati anak dengan cara yang berlebihan bisa jadi tidak menghasilkan apapun. Bahkan mungkin, anak tidak akan pernah mengikuti apa yang menjadi nasihat orangtuanya. Namun, kemampuan memberi nasihat yang baik itu sebenarnya bisa dipelajari dan dilatih lho. Dengan begitu, mereka akan lebih menerima nasihat tersebut.
Nah, berikut ini adalah cara memberikan nasihat yang tepat pada anak.
  1. Mulai dengan pertanyaan dan bukan pernyataan.
         Misalnya anak kita pulang telat dari waktu yang ditentukan. Sebaiknya mulailah dengan pertanyaan, "Eh anak mama… habis dari mana kok baru sampai?" Jangan mulai dengan, "Kamu pulang terlambat, main dulu ya…?!"
  2. Jangan paksa apabila anak belum ingin bicara.
         Tiap anak memiliki tipe yang berbeda. Ada anak yang ingin langsung ditanya dan menjelaskan saat itu juga. Ada tipe anak yang ingin diam, istirahat bersih-bersih badan dulu, baru setelah merasa nyaman mau ditanya. Ada juga anak yang ingin kita duduk di sampingnya, kemudian dia bicara sendiri sebelum ditanya. Hal ini penting sekali untuk diketahui agar tidak ada yang merasa disakiti antara orangtua dan anak. Jika kita berhasil mengetahui ciri masing-masing anak, pasti kita akan bisa mengajaknya untuk berdialog.
  3. Tugas kita adalah hanya bertanya dan mendengar saja.
         Pada saat anak beranjak dewasa, ubahlah cara mendidiknya. Jangan samakan dengan cara mendidik saat anak masih di bangku TK atau SD. Kasus terbesar dan sering terjadi antara orangtua dengan anaknya adalah tidak menyadari bahwa anak sudah beranjak dewasa.
         Kondisi anak yang sudah beranjak dewasa cenderung lebih membutuhkan pola asuh yang lebih mengakomodasikan kepentingan anak, seperti ingin mengambil keputusan sendiri, bukan mematuhi apa yang diputuskan oleh orangtua. Ini sangat bagus karena anak akan mampu mengambil keputusan sendiri saat ia berada jauh dari orangtuanya.
         Jadi, tugas kita setelah bertanya pada saat yang tepat adalah mendengar dan merespon secara positif. Hal itu untuk menunjukkan bahwa kita tidak hanya mendengar, melainkan "menyimak" dan merespon dengan baik ceritanya.
  4. Bersabarlah untuk terus mendengarkan, jangan bicara, berkomentar, atau menasihati sampai anak meminta Anda berbicara.
         Mungkin bisa 15 menit, 30 menit, atau 2 jam anak kita bercerita, jangan sekali-kali Anda bosan untuk mendengarkannya. Kapan saatnya boleh berbicara? Saat anak Anda sudah mengeluarkan kalimat, "Oh iya Ma, gimana Ma… menurut Mama bener gak sih aku?" atau "Oh iya Ma, menurut Mama, mestinya aku harus bagaimana…?" atau pertanyaan anak lainnya agar Anda nemberi pendapat. Apabila anak sudah puas berbicara dan sudah mengeluarkan kalimat semacam itu, telinga dan hatinya sudah siap dan terbuka lebar untuk menerima masukan dari kita.
  5. Sampaikan nasihat dalam bentuk metafora atau cerita pengalaman masa lalu.
         Jangan terpancing untuk memberi nasihat langsung. Akan sangat baik jika menggunakan sebuah cerita yang menggambarkan pengalaman kita atau orang lain yang mirip dengan kasus yang dialami oleh anak kita. Ceritakan yang detail tanpa bermaksud untuk menyindir. Kemudian, jelaskan hikmah dari kisah yang Anda ceritakan. Sisipkan nasihat-nasihat Anda yang sesungguhnya dalam hikmah cerita tersebut agar anak tidak menyadari bahwa sebenarnya ia sedang dinasihati.
  6. Akhiri pembicaraan dengan membiarkan anak menentukan pilihan yang terbaik bagi dirinya.
  7. Jangan risaukan pilihan atau keputusan anak.
         Anda tidak perlu takut atau risau akan pilihan dan keputusan anak. Jika anak salah dalam memilih atau memutuskan, itu sebenarnya bagian dari proses belajar dan pendewasaan mental anak. Ingatlah, tugas orangtua adalah bukan membuat anak tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan anak bisa belajar dari kesalahannya atau tidak mengulangi kesalahan yang sama yang pernah dibuat oleh orang lain.

Menjadi Istri Shalihah adalah Jihad

Istri sholihah merupakan sebaik-baik perhiasan dunia, begitu sabda Rasulullah Saw. Dunia ini yang bergelimang perhiasan seperti harta, wanita, anak-anak. Tetapi, Rasulullah memilihkan sebaik-baik perhiasan dan sangat spesifik, yaitu istri sholihah. Artinya seorang perempuan yang tidak menikah walaupun ia sangat sholihah tetap belum dikatakan sempurna. Dan disini pula letak dari begitu besarnya nilai dari pernikahan, yaitu setengah dari dien. Dien Islam yang sempurna dan indah, dengan syariatnya ternyata sebagiannya adalah pernikahan.

Aku berbicara disini, sebagai seorang istri (baru) yang ingin menjadi istri sholihah. Peran seorang istri tidaklah sama dengan peran wanita single. Ia tidak lagi bebas keluar rumah, tapi harus izin kepada suami. Ia mempunyai tanggungjawab melayani suami, dalam menyiapkan makanan dan minuman, pakaian. Ia pun adalah pemimpin bagi keluarganya, menjaga harta suaminya jika suami tidak ada di rumah. Tanggungjawab yang diemban seorang istri tidak lah ringan, karena akan dimintai pertanggungjawabannya.
Ketika peristiwa isra mi’raj, Rasulullah diperlihatkan oleh Allah bagaimana kondisi neraka. Dan disitu banyak terdapat wanita. Ketika ditanyakan, kenapa banyak wanita di neraka? Jawabannya adalah karena banyak istri yang tidak taat pada suaminya.Nilai ketaatan seorang istri kepada suami sangat besar. Ketika wanita itu belum nikah, maka masih ada ridho orang tua. Tapi ketika sudah menikah, ridho itu datang dari suami dan secara otomatis seorang istri harus taat dalam kebaikan kepada suaminya.
Allah memberikan contoh bagaimanakah sosok istri yang durhaka, yaitu ada dalam Al Qur’an surat At Tahrim ayat 10 yang artinya: “Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Lut. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh diantara hamba-hamba kami, lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, tetapi kedua suaminya itu tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada kedua istri itu), “Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orangyang masuk (neraka).”
Na’udzubillahmin dzalik.
Allah memberi petunjuk bagi para istri, bahwa sudah jelas ganjaran ketidaktaatan pada suami adalah neraka. Apalagi jika suami itu adalah orang yang taat pada Allah. Sudah sepatutnya kita taat, agar ridho Allah membersamai istri.
Tapi, jangan khawatir. Ada pula contoh yang Allah berikan, yaitu seorang istri sholehah yang tetap taat pada Allah, walaupun suaminya kafir. Yaitu istri Fir’aun, Asiah ra. Masih dalam surat At Tahrim ayat 11, artinya: “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata, “Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatanya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.”
Subhanallah, perumpamaan yang sangat indah. Aku terbayangkan sosok Asiah yang tegar, sabar dan sholehah. Dalam rintihan doanya, ia memohon balasan dari Allah atas kezhaliman suaminya. Tetapi, yang didoakan bukan azab untuk suaminya, melainkan imbalan baginya sebagai penghibur hati yaitu sebuah rumah di surga. Begitu kokohnya iman ibunda Asiah. Jihadnya sebagai istri akan Allah bayarkan di surga.
Menjadi istri sholihah adalah perjuangan, jihad. Karena tidak mudah untuk mendapat gelar istri sholihah. Paling tidak sebagai usaha untuk membebaskan diri dari belenggu siksa neraka.
Bagaimanakah istri sholihah itu? Dalam Al Qur’an surat An Nisa ayat 34, “Maka perempuan-perempuan yang sholih adalah mereka yang taat kepada Allah dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka).”
Jihad seorang istri sholihah adalah ketaatan pada Allah, juga ketaatan pada suaminya.
Semoga aku dan para istri mukmin lainnya, mampu untuk mencapai derajat istri sholihah sebagaimana para shohabiyah telah mencontohkan. Mereka ada dan pernah hidup di dunia yang sama dengan kita, hanya berbeda zaman saja. Berarti seharusnya, kita juga mampu mengikuti dan mencontoh. Insya Allah. Amiin.