Selasa, 07 Maret 2017

8 Prinsip Pengusaha

8 Prinsip Pengusaha

Tahun lalu resign dari pegawai tetap sebuah bank, mungkin salah satu keputusan yang cukup berani dalam hidup saya. Bukan mengundurkan diri, tapi menurut saya istilah yang tepat adalah memajukan diri. Yup memajukan diri untuk menjemput rezeki lebih banyak dari Allah dan memajukan diri untuk lebih bermanfaat dengan membuka lapangan kerja bagi banyak orang :)

Karena pilihan jatuh pada wirausaha, kondisinya jelas berbeda ketika masih kerja ikut orang.
Karena ketika masih bekerja, setiap bulan hampir dipastikan menerima gaji yang bisa diandalkan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan dalam dunia usaha, penghasilan kadang nggak menentu. Pilihannya hanya dua : kadang banyak, kadang banyak bangeeeet. #lhoh
Sedihnya, sudah nggak pernah digaji orang. Tapi, Alhamdulillah kini senengnya malah bisa menggaji banyak orang ^^

Semangat untuk berwirausaha sudah mulai muncul semenjak kuliah, semangat untuk punya penghasilan sendiri semangat meringankan beban orang tua. Saat itu ada beberapa usaha yang saya jalani, mulai bisnis aksesoris hp, usaha susu kambing, beternak kelinci, usaha celengan karakter, hingga usaha tela-tela dan jagung manis. Alhamdulillaah semuanya berhasil, berhasil ditutup.hehehe
Tapi itu semua memberikan pengalaman yang sangat berharga dalam perjalanan hidup selanjutnya.

Lulus kuliah pun saya nggak langsung terjun ke dunia usaha, saya memilih untuk bekerja dulu. Melatih otot kerja, melatih otot disiplin, melatih public speaking, melatih kepemimpinan dsb yang bisa saya terapkan untuk usaha yang kini sudah berjalan di almumtaz group.

Oya, dulu walau masih berstatus karyawan, saya sudah mulai mengikuti beberapa komunitas dan buku-buku bisnis. Ada salah satu buku pernah saya baca yang mau saya share, judulnya "Semua Bisa Jadi Pengusaha", karya UYM.

Dalam isi bukunya ada 8 prinsip, yang mungkin bisa bermanfaat untuk kita renungkan bersama ketika kita ingin menjadi seorang pengusaha

8 prinsip pengusaha adalah pilar-pilar yang sebaiknya kita pegang untuk menjadi spiritual entrepreneur.

8 prinsip tersebut di ekstrak oleh Ust Yusuf M dari Q.S. Ali Imran ayat 14-17.

8 prinsip itu membentuk mozaik postur pengusaha yang selalu diliputi pertolongan Sang Pemilik Modal Utama.

Prinsip pertama : Aamanna, YAKIN hanya ALLAH yang berkehendak. Inilah titik zero yang justru jadi pelipat ganda kekuatan.

Prinsip kedua : Faghfirlana, minta ampunan Allah SWT atas dosa masa lalu yang kerap menghalangi pertolonganNya.

Prinsip ketiga : Waqina ‘adzabannaar, jaga diri dari neraka. Inilah prinsip yang membangun komitmen selalu bersih.

Jika prinsip pertama adalah pondasi, prinsip kedua, ketiga adalah “pembersihan” atas segala penghalang pertolongan-Nya.

Prinsip selanjutnya, prinsip keempat : Ash-Shobiriina. SABAR. Baik dalam amaliyah, menahan diri dari maksiat atau ketika mengelola nafsu.

Prinsip kelima : Ash-Shodiqiina. Lurus dan jujur selalu baik hati, pikiran maupun tindakan.

Prinsip keenam, Al-Qonitiina. TAAT selalu. Perintah Allah adalah prioritas di atas segala aktivitas.

Ketika prinsip kedua, ketiga telah membersihkan diri kita, prinsip keempat, kelima, keenam menjadi pagar penjagaan.

Dua prinsip berikutnya adalah roket pendorong untuk bergerak lebih cepat, yaitu prinsip ketujuh, Al-Munfiqiina, menafkahkan harta di jalan Allah. Baik lapang maupun sempit.

Prinsip kedelapan, Mustaghfiriina bil ashhaar, beristighfar di waktu sahur, berdiri hidupkan malam dengan tahajud.

Prinsip ketujuh, kedelapan adalah tradisi para kekasih Allah, prinsip yang akan jadi “pesawat jet” bagi para pengusaha.

Itulah ilmu langit yang bisa kita terapkan sebelum menerapkan ilmu bumi lebih jauh lagi, semoga kita tak hanya jadi pengusaha yang bersemangat untuk dunia saja, tapi juga mempunyai semangat akhirat yang bisa menjadi wasilah kita menuju ke surgaNya. Aamiin
#copas

4 (EMPAT) "AS" YANG AKAN MENENTUKAN HASIL KERJA

Guru boleh sama.
Ilmu boleh sama.
Bahkan, actionpun juga sama.
Lalu apa sih yang menentukan hasil orang jadi berbeda selain takdir ???

Ternyata ada 4 point menjadikan seseorang itu bisa naik kelas dalam bisnis.

◆◆◆ 4 (EMPAT) "AS" YANG AKAN MENENTUKAN HASIL KERJA ◆◆◆

1. KERJA KER'AS'
Kerja keras selalu berdampingan dengan hasil. Karena tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil.

2. KERJA CERD'AS'
Tahukah mak apa yang menjadi pembeda antara kerja fisik dengan kerja cerdas ? Kerja fisik cenderung akan cepat lelah, karena bergerak sendiri. Untuk penjual kerja fisik ini akan mencari pembeli. Berbeda dengan kerja cerdas, dia tidak bekerja untuk kesuksesan dirinya sendiri. Semua dikerjakan oleh tim. Dan untuk work smart ini penjual hanya menjual kepada penjual. Di ulang ya, menjual hanya kepada penjual.

3. KERJA TUNT'AS
Hayoo ngaku, siapa yang sering memulai tapi jarang mengakhiri ? Tobat ya mak :D selain fokus, selalu selesaikanlah apa yang sudah kita mulai. Gagal bukan berarti kita lantas mencari peluang baru untuk memulai kembali. Karena jika kita gagal dan tidak bangkit untuk meneruskannya, yakin deh kita akan selalu menjadi yang terbelakang. Pelari itu kalau jatuh saat di lintasan, pasti akan bangkit dan melanjutkan larinya. Bukan bangkit, lalau balik lagi ke garis start untuk melanjutkan larinya :)

Nah point terakhir ini yang terpenting. Point penentu dari semuanya. Ilmu boleh sama, Action boleh sama, tapi hasil bisa berbeda karenanya. Apakah itu ?

4. KERJA IKHL'AS
Luruskan niat mak saat kita memutuskan untuk memulai bisnis. Ilmu itu milik Allah. Niatkan usaha kita hanya untuk ibadah. Ikhlaskan lillahi ta'ala. Serahkan semua hasil yang di dapat hanya kepada Allah. Karena hasil hanya sebagai bonus yang diberikan Allah. Keikhlasan kita, insyaa Allah akan menyelamatkan kita kelak di akhirat. Orang lain boleh kerja keras untuk mengejar omset, biarkan kita kerja keras untuk mengharap ridho dari Allah.

***

Ayo mak sama-sama kita kembalikan niat awal kita saat membangun bisnis :)

Semoga bermanfaat ya :* :* :*

(BAGAIMANA KITA BISA MENGALAHKAN KOMPETITOR YANG JAUH LEBIH BESAR)

HOW TO BEAT YOUR GOLIATH?

(BAGAIMANA KITA BISA MENGALAHKAN KOMPETITOR YANG JAUH LEBIH BESAR)

Seorang sahabat saya (sebut  saja namanya Luna)  mempunyai rumah sakit di sebuah kota kecil di Jawa Barat. Rumah sakit itu dirintis puluhan tahun yang lalu oleh almarhum ayahnya yang memang seorang Dokter.
Dari hanya sebuah klinik kecil pada awalnya sekarang rumah sakitnya sudah berkembang menjadi 5 lantai dengan fasilitas yang cukup lengkap dan juga tim dokter dokter spesialis yang lengkap.
Bahkan rumah sakit tumbuh dengan sehat menjadi salah satu yang terfavorit di kota itu.
So far ... so good.
And then suddenly ....

Mereka menghancurkan bekas mall tua di kota itu, dan di atas nya akan dibangun sebuah rumah sakit yang jauh lebih besar dan jauh lebih modern, dan hanya berjarak kurang darin1 kilometer.
Rumah sakit yang besar itu dibangun oleh salah satu group konglomerat terbesar di negeri ini.
Rumah sakit yang baru itu memang belum jadi, tetapi Luna mulai bertanya tanya:
-  bagaimana dengan nasib rumah sakitnya di masa depan?
- apakah dia bisa memenangkan kompetisi sementara pesaingnya jauh lebih besar ( dan bermodal yang jauh lebih besar)
- apakah pelanggan pelanggannya akan setia berobat ke rumah sakitnya atau lari ke rumah sakit yang baru?
Dan ada seribu pertanyaan lain menghantuinya ...

What would you do if you were Luna ...?

By the way ... selalu begitu kan yang terjadi di bisnis?
Pada saat kita pikir kita berlayar di laut tenang, ternyata badai dan topan menerpa dan siap merobek robek layar kita .

Saat Kodak sedang menikmati profit , ternyata orang tidak mencetak foto lagi.
Saat Nokia sedang complacent, ternyata customer beralih ke i-Phone.
Saat sebuah perusahaan taxi menikmati kenaikan nilai sahamnya, ternyata datanglah aplikasi on-line.
Pada saat seorang teman saya menikmati pekerjaannya di perusahaan minyak, ternyata harga minyak jatuh.

And I can go on ... and on ... dan semuanya mengalami krisis yang sama.
Jangan berfikir bahwa phenomena ini hanya ada di perusahaan anda atau di kindustry yang anda geluti.
This phenomena is everywhere.
Attacking your company ...
Attacking your industry ...
Atacking your country ..

BE PREPARED!

Jaman sudah berubah.
Jaman dulu TVRI cukup mempunyai satu program bernama Kamera Ria.
Dan selama mereka menyiarkan itu pada hari Kamis malam ( setelah Dunia Dalam Berita selesai dibacakan oleh Tuti Aditama ), TVRI bisa berjaya bertahun tahun dengan mengandalkan satu program.
Itu dulu ...
That was in the past ....
Pada saat mereka tidak punya kompetitor.
But now the time has changed.
Kompetitor anda sudah bersiap siap dan mengintai anda setiap kali. Siap dengan jurus jurus barunya untuk menarik pelanggan pelanggan anda.
Dan bila anda tidak waspada, dan bila anda tidak berubah, nasib anda akan segera mengikuti ... Kodak, Sony Walkman, Nokia, Blackberry, dan lain lain.

Di sinilah pemahaman kelakuan pelanggan (consumer behavior) menjadi penting.
Mengerti behavior mereka, memahami trend perilaku mereka, dan menyesuaikan strategy bisnis kita (accordingly) adalah satu satunya kunci untuj sukses kita di masa depan.

Sebuah perusahaan rokok mengerti bahwa perilaku orang semakin lama akan semakin sehat, mereka menjual saham pabrik rokok mereka, dan menggunakannya untuk berinvestasi di sebuah bank retail di negeri ini.
Mereka sukses.

Sebuah gerai pencetakan foto mengubah dirinya menjadi convenient store, pada saat pelanggan berhenti mencetak foto.

Sebuah bank di Singapore sedang mentransformasi menjadi fully digital bank (tanpa cabang) pada saat mereka melihat trend bahwa pelanggan tidak lagi pergi ke branch (cabang) tetapi menggunakan mobile banking, Internet, atau ATM.

That is how the successfull companies are doing.
Begitulah perusahaan perusahaan yang sukses melakukannya.
Tidak ada yang memulai dari analisa keuangan, tidak ada yang memulai dari strategy yang digambar di flipchart, tidak ada yang dimulai dari rekomendasi konsultan strategy.
Semuanya bermula dari pemahaman perilaku pelanggan di lapangan, mengerti trend yang terjadi dan menyesuaikan strategy accordingly.

Luna dengan bisnis rumah sakitnya perlu melakukan hal yang sama ...
Dan mestinya Luna punya strength tersendiri, karena Luna dan rumah sakitnya sudah ada di kota itu sejak puluhan tahun lalu, bayangkan dengan kompetitornya yang  baru saja akan membuka rumah sakit baru.
Siapa yang lebih mengenal pelanggan di kota itu?
Siapa yang mengerti trend perilaku mereka?
Inilah yang harus dimanfaatkan Luna.

Dalam dunia olah raga kita pernah mendengar kata kata ini.
Jangan bermain sepakbola melawan Brazil.
Jangan bermain rugby melawan Afrika Selatan.
Jangan mau bermain di cabang olahraga yang jelas jelas mereka jauh lebih kuat.
Refuse to play their game.
Create your rule.
Play with your strength.
Use it for your competitive advantage.
David tidak mau berkelahi dengan Goliath.
Ya pasti kalah.
Goliath adalah raksasa yang tingginya 3 meter.
David cuma anak kecil biasa.
Kalau mereka benar benar berkelahi, pasti dengan mudah Goliath menghajar dan melemparkan tubuh David yang mungil itu ke udara.
David menolak berkelahi.
Dia membawa batu dan melemparkannya tepat ke dahi Goliath di antara kedua matanya.
Goliath terhuyung huyung, kehilangan keseimbangannya dan jatuh tersungkur.
Luna harus menjadi sepintar David.
Jangan mencoba berkompetisi dengan franchise rumah sakit besar (yang milik konglomerat itu) dengan menggunakan aturan main mereka.
Luna harus menggunakan kekuatannya sendiri, kekuatan yang tidak dipunyai rumah sakit besar itu, yaitu pemahaman tentang pelanggan dan trend perilaku mereka dan menggunakannya for their advantage!

Terus bagaimana dong?
Luna bisa mencoba langkah langkah di bawah ini ...

1. DEFINE and CLARIFY YOUR POSITIONING

Perjelas apakah value proposition anda, apakah differentiator anda, apakah yang anda miliki dan tidak dimiliki oleh rumah sakit lain ...
- apakah dokternya lebih berpengalaman?
- apakah pelayanan yang lebih ramah?
- apakah suasana di dalam rumah sakit yang lebih nyaman?
- apakah cepatnya mendapatkan pelayanan?
- atau apa?
Gali, perjelas, kemudian komunikasikan ke seluruh karyawan

2. START A MOVEMENT

Setelah value proposition anda jelas, start a movement. Komunikasikan ke seluruh karyawan ( dari dewan direksi, mid management, supervisor, dokter, suster, satpam, sopir sampai office boy).
Start a movement sampai semua karyawan melakukan seperti value proposition anda dan akhirnya semua pelanggan merasakan perbedaan yang mereka dapatkan di sini, dan tidak di tempat lain.

3. LEARN FROM OTHERS

Dont re-invent the wheel. Jangan memulai dari scratch. Lihat dan pelajari apa yang pernah dilakukan orang lain. Belajarlah dari kesalahan mereka , jangan diulangi. Belajarlah dari yang mereka lakukan , hal hal yang membawa hasil positive, tiru dan adopsi konsp yang sama di tempat anda.

4. DEVELOP YOUR PEOPLE

Focus pada pelatihan dan pengembangan karyawan.
Mungkin rumah sakit yang baru akan lebih modern.
Mungkin mereka lebih lengkap.
Mungkin alat alatnya lebih canggih.
Tapi ingat ... akhirnya yang akan menjalankan adalah karyawan anda.
Dan karena Luna sudah memulai rumah sakit duluan mestinya staffnya lebih berpengalaman dan lebih professional.
Terus meneruslah kembangkan mereka, training mereka., agar differentiatornya makin tajam.

5. CREATE YOUR OWN GROUPIES, FANS AND ADVOCATES

Mulailah membentuk komunitas pelanggan, group para konsumen yang nge-fans dengan pelayanan rumah sakit anda, bikin mereka benar benar engage.
Kalau dilakukan dengan benar, mereka akan menjadi kekuatan yang luar biasa dahsyatnya untuk menyebarkan word to mouth marketing.

By the way, meskipun teknik teknik itu dituliskan untuk Luna dan rumah sakitnya, saya yakin bahwa anda bisa menerapkannya untuk bisnis anda ....

IZINKAN AKU CEMBURU...

*IZINKAN AKU CEMBURU....*
Ustd. Bendri J.

Cemburu adalah fitrah. ALLAH pun cemburu. Dikisahkan dalam sebuah hadits tentang kecemburuan Sa'ad bin 'Ubadah.
*"Seandainya ada seorang lelaki menggangu istriku, niscaya aku tebas dg pedangku." Sampai akhirnya hal ini terdengar ke telinga Rasululluh. Rasulullah SAW bersabda : apakh engkau heran dg perkataan Sa'ad? Demi Allah aku lebih cemburu padanya. Dan Allah lebih cemburu padaku." (HR. Muslim)*

Cemburu ada 2 macam. Yaitu
*Pembelaan* terhadap apa yg dicinta (ghirotul makhbuub). Dan *Penjagaan* agar tdk ada pihak lain yg mencintai (ghirotu 'alal makhbuub)

Kecemburuan dalam kehidupan suami istri terjadi ketika usia pernikahan semakin bertambah. Terjadi saat jarak/spasi makin lebar antara swmi dan istri.

Konon, semakin bertambah usia, lelaki semakin mempesona. Sebaliknya semakin bertambah usia seorang wanita, bertambah pula berat badan, kulit makin keriput dan kecantikan makin berkurang.
*Jangan cuek pada penampilan/perawatan diri. Dalam Islam urusan merawat diri adalah urusan swmi istri.* *Jgn sampai ada jarak/spasi terlalu lebar antara swmi n istri.* Perbedaan usia Rasulullah dg Aisyah sangat jauh. Bahkan ketika Rasulullah meninggal, ada sumber yg mengatakan Aisyah masih berusia 18th. Meski sdh tua, rasulullah rajin merawat diri, dg bersiwak, rambut selalu tersisir rapi dan tubuhnya selalu wangi. Bagi seorang wanita merawat diri dalam rangka menjaga jarak agar spasi terlalu jauh. Jangan sampai ketika berjalan dg swmi dikira swmi  berjalan dg ibunya.😱 *Perdekat jarak dg rajin n serius merawat diri....💐*

*🌾Fitrah Cemburu bagi Wanita🌾*
"Suatu ketika nabi dirumah salah seorg blio, tiba2 istri yg lain mengirimkan mangkuk yg berisi makanan utk rasulullah. Melihat itu, istri yg kedatangan Rasulullah memukul tangan pelayan pembawa makanan itu. Maka jatuhlah mangkuk itu pecah perkeping2. Rasul mengumpulkan kepingan2 itu dan berkata kpd pelayan tsb "ibu kalian sedang cemburu. Makanlah utk kalian..". Kemudian Rasulullah mengganti piring yg pecah itu dg piring yg masih utuh milik Aisyah."

*Kondisi Cemburu bagi Laki - Laki hukumnya wajib‼*
"Ada 3 golongan manusia yg tdk akan dilihat Allah (dg pandangan kasih sayang) pada hari kiamat nanti. Yaitu org yg durhaka kepada orgtua, perempuan yg menyerupai laki2 dan dayyuts..."
(An Nasa-i dan Ahmad)

*URGENSI CEMBURU*
Bagi lelaki, cemburu adalah sesuatu yg wajib. Sbg eksistensi akan qowwam - an. Misal cemburu melihat istrinya mempertontonkan kecantikan utk umum. Wajib cemburu ketika mempertontonkan Aurat dll.
Sedang Bagi seorang wanita, cemburu adalah *upgrading diri*. Meningkatkan diri utk pandai memasak, memaksakan diri utk mnjd wanita/istri yg terbaik.

Cemburu.... Dasarnya adalah Cinta Yg Kuat. Cinta yg kuat yg memaksa laki2 utk memberikan yg terbaik utk istrinya. Cemburu adalah memaksakan diri lbh baik. Cemburu bisa menjadi booster positif.

*WASPADA SAAT CEMBURU*
Al hujarat : 121
"Hai org2 yg beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa. Dan janganlah kalian mencari - cari kesalahan org lain."
Saat cemburu mulai datang, cegah dg segera klarifikasi.

*Apa yg dilakukan Jika Pasangan Cemburu??*
-  Diam n pahami
- Tdk menasehati n merespons
- Ungkapkan cinta dg cara yg disuka pasangan
- Usahakan *tutup* sumber kecemburuan
- Perkuat komitmen

*Daan.... bagaimana Jika Diri yg Cemburu??*
- banyak istighfar
- ungkapan perasaan dg bijak
- kecemburuan jgn ceritakan ke pihak ketiga
- Segera minta maaf jika sdh tenang apabila kecemburuan berdampak kerusakan

Semoga bermanfaat... dan Allah menjadikan keluarga kita, keluarga yg sakinah mawaddah warahmah.

KITA SUDAH BERADA DI LEVEL YG MANAKAH..

Resum Jaulah UKHTI part 2

*KITA SUDAH BERADA DI LEVEL YG MANAKAH....*

Kita sering dengar kata *pengusaha*. Apa yg anda bayangkan jika anda mendengar kata *pengusaha*?
Ada yg mengatakan, pengusaha adalah org sukses, kaya, hidupnya bahagia, bisa piknik kemana2...
Ada juga yg mengatakan pengusaha adalah setiap org yg memiliki usaha sendiri (bisnis).

Naah... klo kamuu.. iyaaa kamuuu... pengusaha itu apaaa... 😄

Ternyata... org yg melakukan usaha sendiri (bisnis), sdh punya mobil n rumah mewah... belum tentu disebut pengusaha. Ternyata pengusaha itu adalaaah....

Yuuk.. kita simak level per level. Cek dimana posisi kita saat ini..

*Level 0. Karyawan*
Berbahagialah kita yg berada di level ini. Posisi ini adalah posisi belajar mjd pengusaha. Bagi anda yg saat ini masih bekerja sbg karyawan, manfaatkan kesempatan ini utk belajar. Bagi anda yg sdh memiliki bisnis dan anda sendiri sbg karyawannya (blm ada bantuan/membutuhkan karyawan), maka nikmati proses ini, krn anda sedang belajar mjd pengusaha. *Terus pupuk mimpi anda. Terus perbaiki mindset, mental n attitude. Berpura2 mjd pengusaha smp anda benar2 jadi pengusaha*.
#attention : nunjuk diri sendiri. ANDA = SAYA🙈
#berpura2 mjd pengusaha = meningkatkan kapasitas diri smp Allah memutuskan bhw kita layak sebagai pengusaha🐝

*Level 1. Wirausaha*
Di level ini masih bertumpu pada diri sendiri. Jika tdk bekerja, maka tdk mendapatkan uang. Memiliki uang, tp baru mampu menggaji diri sendiri.
Pada level ini mulai memikirkan visi n misi bisnis. Mulai fokus, tp masih tergoda palugada. Dan mulai membutuhkan karyawan.
*#stop dulu! Cek 'n ricek🙈🙉*

*Level 2. Manajer*
Akan ada saatnya bisnis sdh tdk bisa ditangani sendiri. Di sinilah mulai memutuskan utk merekrut karyawan utk membantu bisnisnya.
Mulai ada pendelegasian kerja agar smua bisa dikerjakan dg baik. Namun hasilnya belum sesuai dg spt apa yg kita harapkan. *Dilevel ini, seorang manajer bisa jadi lebih sibuk krn hrs membereskan problem bawahan*

#tahan nafas... cek 'n ricek.. 💪🏻

*Level 3. Owner*
Nahh.. level ketiga adalah owner. Ternyataa.. disebut owner bukan semata - mata memiliki usaha. Di level ini seorang owner sdh tdk terlibat langsung dalam bisnis. Owner sdh menggunakan sistem. Shg bisnis tetap berjalan tnp kehadirannya. Owner mulai memfokuskan dirinya mjd seorg pemimpin yg efektif. Tim yg menjalankan bisnisnya.
Disinilah seorang owner fokus memikirkan strategi : bina jaringan, ikut komunitas, dll.

*Level 4. Investor*
Owner yg sdh mulai tdk terlibat dlm bisnis biasanya akan *bosan* krn tantangan sdh mulai berkurang. Namun insting bisnis tetap membara shg ia akan mencari peluang bisnis baru utk ditanami modal. Dilevel ini sdh mempunyai pemikiran yg matang, mengerti konsep bisnis yg sukses dan mempunyai intuisi yg teruji.

*Level 5. Pengusaha*
Ini adalah level tertinggi. Dimana orang menjalankan bisnis dg uang orang lain ato melibatkan pihak ketiga dalam permodalan. Biasanya para pengusaha sdh mumpuni. Shg dg menarik pihak lain utk investasi dlm proyek2 mrk.

Nahhh... dimanakah level kita??
*Tdk masalah level kita saat ini diposisi yg mana, namun kitalah yg memutuskan kapan kita akan naik level.💪🏻✊🏻👊🏻*

Jualan akhlak islami


Saya jadi kepikiran. . .
Benar-benar kepikiran.

Dulu Rasul, sahabat, dan pedagang-pedangan Arab lainnya kok bisa bergelimangan harta ya?

Harta mereka bukan lagi ratusan juta. Tapi miliaran, beberapa sahabat, contohnya Umar Bin Khattab dan Abdurahman Bin Auf bahkan tembus Triliunan.

Umar mewariskan 11 Triliun ketika beliau wafat.
Dikisahkan Abdurahman Bin Auf hartanya melebihi seluruh sahabat.

Ini Harta lho, bukan Omzet.

Padahal yang dijual juga nggak macam-macam.
Ada yang jual kain, ada yang jual madu, ada yang jual hewan ternak, ada yang jual hasil kebun.

Menariknya, mereka dulu nggak pakai ilmu Copywriting, Hipnowriting, covert Selling, dan ing ing lainnya.

Kok bisa begitu?

Ya, mungkin mereka nggak pakai ilmu itu karena mereka nggak jualan Online, hehe.

Tapi serius. . . .
Pencapaian bisnis Rasul dan Para Sahabat itu bukan pencapaian yang biasa.

Makin luar biasa lagi ketika mereka juga mencetak pencapaian Akhirat.

Di dunia lapang, di akhirat menang.

Siapa sih yang nggak ingin seperti itu?
Justru aneh kalau ada yang nggak pengin itu semua.

Apapun terjadi semua karena ijin Allah.

Lama saya merenungi, apakah strateginya, apakah amalnya, apakah managemen bisnisnya, apakah apakah. . . .

Tapi karena keterbatasan ilmu, saya sampai di satu kesimpulan.

Akan banyak teori yang menjelaskan hal-hal di atas, dan mungkin Setiap orang berbeda-beda penafsirannya.

Tapi memang, ada yang dimiliki Rasul dan para sahabat yang tidak dimiliki banyak penjual.

Apakah itu?

Itu adalah "Akhlak"

Saat berbisnis, Rasul akhlaknya terpuji, sahabat pun begitu.

Bisnis bukan hanya tentang strategi.
Bisnis bukan hanya tentang jual beli.
Bisnis juga butuh akhlak.

Siapa sih pembeli yang tidak suka, jika sikap penjualnya terpuji?

Sebaliknya, tidak ada pembeli yang suka jika sikap penjual seenaknya.

Saya pernah beli buku bisnis ke seseorang penjual. Saat bertanya harga, si penjual jawabannya ketus tanpa emot-emotan, hehehehe.

Ups, seandainya saja dia lebih ramah, mungkin saya akan pesan beberapa buku :)
Mungkin dia belum tau teknik cross selling.

Saya positif saja, semoga sikap seperti itu hanya ditujukan ke Saya.

Ternyata, ada seorang teman yang juga beli ke penjual itu. Perlakuannya juga sama.

Teman Saya sampai menyimpulkan si penjual itu sombong.

Saya sih nggak peduli apa kesimpulan teman Saya.
Tapi sejak saat itu kami tidak pernah lagi beli ke penjual tersebut. Lihat kan?
Dia kehilangan 2 pelanggan. Hehehehe.

Kita jualan, yang butuh pembeli itu adalah kita.
Jadi janganlah jadi penjual yang ketus, sombong, angkuh, pamer. Allah nggak suka.

Beli nggak beli, ramah ke semua orang itu harus menjadi sikap kita.

Sekarang masyaAllah.
Ada orang berjualan, yang broadcast sembarangan, ada juga yang nyulik-nyulik grup semaunya, dan hal-hal keji lainnya.

Promosi via Broadcast boleh, tapi ada aturannya.
Mau masukin orang ke grup boleh, via UNDANGAN, bukan langsung dijebloskan.
Ngetag ke dagangan kita juga harus ijin orangnya dulu, jangan sampai dia jadi terganggu.

Sekali lagi, bisnis perlu akhlak.

Jika jalankan bisnis kecil saja nggak pakai akhlak, nggak pantas jalankan bisnis yang lebih besar.

Emak-emak Ini juga penyakit :
Janganlah engkau katakan pembeli itu PHP, bisa jadi cara jualan kita yang masih salah.
Janganlah engkau caci orang yang telat transfer, bisa jadi mereka ada keperluan.
Janganlah engkau hina-hina calon pembeli mu di status-status postinganmu.

Buat apa saudaraku?
Belum tentu mereka baca :)

Sudahlah, bagaimana cara mereka memperlakukanmu itu urusan mereka dengan Allah.
Tapi kamu juga punya urusan dengan Allah. Kamu akan dimintai pertanggung-jawaban tentang bagaimana kamu memperlakukan pembelimu.

Boleh punya ribuan strategi untuk jualan. Tapi pastikan terselip akhlak yang mulia disana.

Omzet hanya angka.
Ada yang lebih bernilai dari itu.
Yakni pahala.

Kita lebih butuh pahala dibanding jualan kita laris. Dan lebih enak jika jualan kita laris juga berbuah pahala.

Maka,
Jadilah penjual yang punya akhlak.
Ini juga jadi pengingat diri sendiri

AYAH SMART MENCARI NAFKAH

🎯🎯 *Resume Kulwap HEbAT Community* 🎯🎯

Live from Grup Kader Nasional

🏵Hari, tanggal : Senin, 6 Maret 2017
🕰 pukul : 19:30 - 21:00 WIB
👳🏻Narasumber : Ust. Adriano Rusfi
🎙Host : Bunda Noni
📲 Tim Kompilasi : Bunda Deasy, Bunda Yuli, Bunda Siwi dkk
🔊Relayer : Admin Kota
💻Notulis : Bunda Dinda

📸📸 *Materi* 📸📸

*AYAH SMART MENCARI NAFKAH*
by Ustadz Adriano Rusfi

Banyak diantara kita yang berkata

_"Aku mencari nafkah demi keluarga dan anak-anakku"_.

Tapi anehnya justru gara-gara mencari nafkah yang pertama kali kita korbankan adalah keluarga dan anak-anak kita.

Kesibukan dalam mencari nafkah telah membuat kita tak punya kesempatan dalam mendidik anak-anak kita sendiri. Akibatnya terpaksa pendidikan mereka kita serahkan ke sekolah. Sehingga lahirlah generasi yang terlambat aqilnya.

Untuk itu, kita perlu smart dalam mencari nafkah, memiliki strategi dan sikap tertentu dalam mencari nafkah, sehingga kita masih memiliki waktu dan energi yang cukup untuk mendidik dan mendewasakan anak-anak kita sendiri.

Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan agar kita smart dalam mencari nafkah :

Pertama, berusahalah bekerja dengan efisien, agar waktu yang kita miliki cukup banyak untuk keluarga dan mendidik anak-anak kita sendiri.

Kedua, jauhilah berburu kenyamanan, kemapanan, kekuatan finansial dan karir ketika anak-anak kita masih kecil dan lebih membutuhkan waktu, perhatian dan pendidikan kita. Percayalah, waktu terbaik untuk berburu kemapanan adalah ketika umur kita telah memasuki usia 40 atau 50 tahun, ketika anak-anak kita sudah mulai besar, Mandiri dan akil baligh.

Jangan terjebak ada anggapan "Mumpung masih muda", padahal justru masa tua itulah Masa terbaik dalam kehidupan kita, karena akhir itu lebih baik daripada permulaan.

Ketiga, Pilihlah ikhtiar mencari nafkah yang membuat kita lebih memiliki kemerdekaan waktu dan finansial, sehingga kita mampu mengelola waktu waktu tersebut untuk kepentingan keluarga kita.

Di antara ikhtiar yang terbaik adalah wirausaha, bekerja part-time, project-based income dsb. Bagi yang percaya pada rezeki dari Allah, mereka tidak akan takut untuk melakukan pekerjaan pekerjaan outsourcing dan sebagainya.

Bagi kita yang lebih memfokuskan diri dan waktu untuk mendidik anak-anaknya di waktu kecil, justru anak-anaknya akan menjadi lebih cepat Mandiri dan tidak akan menjadi beban ekonomi dan finansial berkepanjangan.

Jangan lupa, habis-habisan dalam mencari nafkah mungkin akan membuat kita memiliki kemapanan finansial di dunia. Namun mendidik anak sholeh justru akan membuat kita memiliki kemapanan hidup di akhirat kelak.

📹📹 *Profil SME* 📹📹

🎓 Profil

👤 Nama : Adriano Rusfi
🔹Tempat & Tanggal Lahir: Bukit tinggi, 4 Maret 1964
🔹Pendidikan Terakhir: Psikologi, UI
🔹Domisili: Yogyakarta
🔹Ayah dari 4 orang anak
🔹SME Utama HEbAT Community

🔻Aktivitas Beliau antara lain :
* 1989 – 1992  Pimpinan Umum Majalah Wanita UMMI
* 1994 – 1995  Ka. Div Program P3UK
* 1995 – 1998  Direktur Program Sinergi Indonesia
* 1998 – 2002  Direktur Program INVENTRA
* 2002 – 2004   Direktur Utama PT. Sajadah Edutama Indonesia
* 2005 – 2007   Learning Manager PT. NSI Edukomunikasi
* 1995 – skrng  Konsultan SDM & Pendidikan independen
* 2000 - sekarang Konsultan Senior @PPSDM Consultant
* Anggota Dewan Pakar Masjid Salman ITB

🔊 *Sesi Tanya Jawab* 🔊

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

🎙 *Host*

Wa'alaikumsalam wr wb...
Alhamdulillah... Barrakallah... Ustad Aad sudah hadir bersama ayah bunda semua... Untuk membersamai kita semua dalam membangun peradaban...

Apa kabar Ustad Aad...

Semoga Allah selalu melimpahi kebarokahan, kesehatan, kebahagian bersama keluarga besar semua...

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Alhamdulillah, baik.

Aamiin..

🎙 *Host*

Ustad mohon nasihat pembukanya untuk kami semua di sini...

Khususnya para ayah pejuang pencari nafkah.

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Ayah Bunda sekalian yang dirahmati Allah. semoga dalam kehidupan ini kita lebih mengutamakan kebahagiaan hidup akhirat kita daripada kehidupan di dunia ini.

Oleh karena itu segala hal yang membuat akhirat kita menjadi baik harus kita utamakan,  termasuk di antara nya dalam mendidik anak-anak kita agar menjadi anak yang sholeh yang mendoakan orang tuanya.

🎙 *Host*

Masya Allah... Matur nuwun Ustadz nasihatnya...

Kami mendengar bahwa keutamaan adalah kebahagian akhirat...

Namun mengapa diri ini masih banyak mengabaikan hal2 penting...

Maka apa yang menghalangi kami ustadz sehingga masih mengabaikan hal2 penting tersebut...

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Salah satu penghalang nya adalah karena kenikmatan dunia bisa kita rasakan saat ini juga. Sedangkan kenikmatan akhirat belum bisa kita rasakan saat ini juga. Sedangkan manusia cenderung bersifat tergesa-gesa.

🎙 *Host*

Baik ustadz Aad... Ini akan kami jadikan pegangan untuk tidak tergesa2 akan makna kenikmatan..

Selanjutnya sudah ada 30an pertanyaan yang masuk dari seluruh group HEbAT se indonesia...

Kita langsung mulai masuk pertanyaan yang sudah di kompilasi yaa Ustadz Aad.

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Silakan

🎙 *Host*

*Peran Ayah*

1⃣ *Bunda Ida Nayu-Sidoarjo*

Ketika bayi, anak akan menganggap ibu adalah dunianya. Nah, diusia berapakah peran bapak menjadi urgent buat anak?

*2⃣ Bunda Maharani - Depok*

Assalamu'alaykum
1. Apakah ada dalil Syari'at yg menyatakan bahwa Ayah pencari nafkah, Ibu yg mengurus anak-anak dan rumah tangga, Bagaimana Islam memandangnya?
Jazakallahu khoiroon

3⃣ *Bunda Raras - Surabaya*

Bagaimana jika menghadirkan sosok ayah pd anak yatim? Sedangkan saudara laki2 kami tinggal nya jauh dan jarang ketemu.

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

1⃣ *Bunda Ida Nayu dari Sidoarjo,* pada dasarnya urgensi kehadiran ayah pada seorang anak telah ada sejak anak masih dalam rahim bundanya. Seorang ayah harus mampu menjaga emosi istrinya saat istrinya hamil, karena emosi istri yang bergejolak saat hamil akan berpengaruh terhadap emosi anak Nantinya. Anak-anak tantrum, misalnya, dalam banyak kasus adalah anak yang lahir dari ibu yang emosinya tidak stabil saat hamil.

Begitu juga saat anak lahir. Pada saat itu seorang ayah diminta untuk mengazankan nya. Jadi suara ayahnya lah yang pertama kali dia dengar di dunia ini. Jika suara Ayah ini dia dengar untuk pertama kalinya, Maka insya Allah dia akan menjadi anak yang patuh pada ayahnya, karena dalam Islam berlaku prinsip "kami dengar dan kami taat". Jadi ketaatan itu ada kaitan nya dengan pendengaran.

Dan peran-peran ayah tersebut tidak akan berhenti sepanjang perjalanan hidup dan pendidikan anak. Saat anak belum berusia 7 tahun, maka dia membutuhkan pendidikan ego dan individuasi. Itupun membutuhkan Peran ayah.

2⃣ *Bunda Maharani dari Depok,* terdapat sejumlah dalil baik dalam Al Quran maupun hadis tentang Peran ayah maupun Bunda dalam rumah tangga. Dalam surah Annisa ayat yang ke 34, misalnya, itu digambarkan salah satu peran laki-laki adalah menafkahi keluarganya.

Dalam sebuah hadis juga diceritakan bahwa seorang istri adalah pemimpin dan pemelihara rumah tangga serta harta suaminya.

Dalil tentang kedua hal itu cukup banyak.

3⃣ *Bunda Raras dari Surabaya,* oleh karena itu ajaran Islam sangat mendorong kepada seorang perempuan yang ditinggal oleh suaminya sehingga anak-anaknya menjadi yatim, dia sangat disarankan untuk menikah lagi, karena bagaimanapun anak-anak itu tetap membutuhkan sosok laki-laki yang akan menjadi pengganti ayahnya.

Itulah hikmahnya Kenapa Islam sangat menganjurkan untuk menikahi janda janda. Karena bagaimanapun anak dari janda janda tersebut sangat membutuhkan sosok laki-laki yang akan menggantikan ayahnya.

Namun, jika ayah pengganti memang belum didapatkan oleh anak-anak yatim tersebut, maka fungsi ayah dalam keluarga tersebut bisa diisi oleh anak laki-laki di antara mereka, oleh pamannya dan seterusnya.  ✅

🎙 *Host*

Barrakallah ustadz Aad atas jawaban pertama... Selanjutnya...

Tapi ustadz punten🙏� soal pertanyaan yang ke 3 ... Terkadang bagi seorang perempuan ketika sudah di tinggal "cerai" baik cerai mati atau hidup terkadang sulit dan menolak untuk menikah kembali... Apakah pilihan ini dibenarkan...

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Mungkin seseorang tak ingin menikah kembali karena cinta yang dibawa mati atau karena trauma terhadap pernikahan itu sendiri. Tapi Mari kita pikirkan pendidikan dan masa depan anak-anak kita. Kepentingan mereka lebih harus kita prioritaskan daripada kepentingan dan ego kita sendiri.

Bagaimanapun mereka membutuhkan sosok ayah, minimal Ayah pengganti dari ayah kandung mereka. Penelitian yang kami lakukan di BNN menunjukkan bahwa remaja yang kurang dekat dengan ayahnya 7 Kali lebih mudah terkena narkoba dari pada remaja yang dekat dengan ayahnya.

Ini Bukan soall kemandirian hidup, tapi ini soal kebutuhan seorang anak atas sosok ayah dan sosok Bunda dalam pendidikan dan perjalanan hidupnya.

🎙 *Host*

Selanjutnya ustadz...

*4⃣ Bunda Ani Ch - Sidoarjo*

Assalamualaikum,

Katanya komunikasi antara ayah dan anak yang penting 'kualitas' bukan kuantitas.. Meskipun sedikit waktu untuk anak, asal berkualitas tidak apa. Apakah hal ini benar? Jika tidak seharusnya bagaimana. Jika ya, apa saja ukuran/definisi/ciri-ciri 'komunikasi berkualitas' antara ayah dan anak? Terima kasih.

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

4⃣ *Bunda Ani dari Sidoarjo,* pada dasarnya dalam komunikasi baik kualitas maupun kuantitas sama-sama pentingnya. Misalnya kita berkomunikasi secara berkualitas dengan anak kita yang masih balita, tetapi secara kuantitas sangat jarang, maka percayalah anak kita akan mengalami kelambatan bicara.

Tentunya dalam hal ini komunikasi ayah lebih ditekankan pada aspek kualitas daripada kuantitas, sedangkan aspek kuantitas lebih dibebankan kepada Bunda.

Itu sesuai dengan fitrah masing-masing, karena memang Ayah lebih irit bicara sedangkan Bunda lebih rajin bicara.

Ciri-ciri komunikasi yang berkualitas adalah komunikasi yang sarat dengan unsur-unsur pendidikan, memecahkan masalah anak, memenuhi kebutuhan anak, dan menggunakan pendekatan pendekatan komunikasi yang tepat : bahasa yang baik, susunan kata yang runtut, pilihan kata yang beradab, dan intonasi yang tepat. Tentunya disesuaikan dengan perkembangan anak ✅

🎙 *Host*

*Indikator Komunikasi Berkualitas*

5⃣ *Ayah Indra - Palopo Sulsel*

Assalamualaikum Ustadz, mau bertanya.
Apakah kualitas mendidik anak untuk para Ayah harus dengan waktu yang banyak? Jazakallah.

6⃣ *Erina - Bengkulu*

Suami saya kerjanya dari subuh - magrib dan kadang isya baru sampai dirumah..pulang2 sudah capek.kebersamaan dg anak hanya lebih kurang 2 jam.itupun kurang dimanfaatkan dg maximal oleh suami, beliau msh blm ngeh dg dunia parenting.bgaimna cara meningkatkan hub yg erat antara ayah dg anak ,terutama utk anak laki2 yg butuh figur ayah. mksh.

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

5⃣ Ayah Indra dari Palopo, semakin kecil anak kita mereka memang membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk bersama ayah bundanya. Mereka Butuh ditemani, butuh sahabat bermain dan sebagainya. Tentunya intensitas waktu antara Ayah dengan anak tak sama dengan intensitas waktu antara Bunda dengan anak. Tapi kita tak dapat mengingkari kebutuhan anak dengan ayahnya.

6⃣ Bunda Erina dari Bengkulu, lemahnya kesadaran seorang ayah dalam pendidikan anak-anaknya lebih banyak disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang Peran ayah dalam pendidikan anak-anak mereka.

Oleh karena itu saya sangat menyarankan agar suami dibelikan buku tentang perenting, khususnya tentang Peran ayah. Setelah itu suami tolong didorong-dorong untuk mengikuti seminar seminar parenting.

Dalam sejumlah seminar penting yang saya lakukan, khususnya tentang pendidikan aqil baligh, setelah seorang ayah mengetahui peran dan tanggung jawabnya di dunia dan akhirat, toh pada akhirnya mereka cukup Intens dalam mendidik anak-anaknya. Sehingga di beberapa daerah saat ini telah berdiri majelis Lukmanul Hakim, tempat ayah belajar tentang pendidikan anak dengan antusias.

Suami juga harus diingatkan untuk tidak terlalu menghabiskan waktu dalam mencari nafkah. Keletihan mencari nafkah akibatnya membuat mereka tidak lagi memiliki energi dan waktu bagi pendidikan anak-anaknya.

Saat anak-anak kita masih kecil dan butuh pendidikan dari ayah dan bundanya, cukuplah mencari nafkah itu sekadarnya saja. Yang penting hak-hak primer dan sekunder dari keluarga terpenuhi. Disitulah pentingnya prinsip smart dalam mencari nafkah ✅

🎙 *Host*

Ustadz Aad... Untuk pertanyaan selanjutnya ini... mengingat yang lain banyak pertanyaan yang senada... Jadi team kulwap nasional telah membuat dan mengumpulkan kompilasi pertanyaan senada... agar Ustadz tidak perlu menjawab satu persatu...
Mohon di jawab sekaligus saja🙏�🙏�🙏�

😊😊😊

*Ayah sebagai Pendidik*

7⃣ *Bunda Nauli - Bogor*

Assalamu'alaikum.. ustadz mau tanya, bagaimana seharusnya sosok ayah sebagai pendidik dalam keluarga? Pada realitanya ada juga yg tidak biasa, belum bisa mendidik padahal fungsi ayah dalam keluarga sebagai qowwam penting sekali.

8⃣ *Bunda Lena - Depok*

1. Suami saya pulang malam terus pulang kerjanya bagaimana agar suami saya quality time bersama anak terjalin, 2 anak saya memang sangat dekat sekali dgn ayahnya, bagaimana proses pendidikan sebaiknya ketika pulang kantor malam terus, tapi kalau pagi alhamdulillaah msh bs anter anak sekolah serta main sm anak walau sebentar, namun saya merasa masih kurang dlm proses pendidikan pd anak  mohon pencerahan serta masukan nya. jazzakillahu khoiron

9⃣ *Ayah Indra - Palopo Sulsel*

Assalamualaikum Ustadz, mau bertanya.
Apakah kualitas mendidik anak untuk para Ayah harus dengan waktu yang banyak? Bisakah kehadiran Ayah bisa digantikan dengan menghadirkan dalam cerita atau imaji positif tentang Ayah oleh Bundanya anak-anak? Jazakallah.

🔟  *Gustyana indra - Bandung*

Saat ini sy bkerja di jkrta dan kluarga di bandung namun sy plg seminggu skali untuk mendidik anak dan isteri, apakah sy ayah yg krg baik krn sy tidak memiliki cukup waktu untuk kluarga dan bagaimna caranys untuk lbih bnyk waktu luang?

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Ayah Bunda sekalian, pada dasarnya yang bertanggung jawab dalam pendidikan anak secara harian adalah bundanya. Wajar jika ayah memiliki waktu yang terbatas dalam mendidik anak-anaknya.

Oleh karena itu mereka harus memanfaatkan waktu yang terbatas tersebut Untuk membimbing istri bagaimana caranya mendidik anak-anak. Lalu memanfaatkan segala media yang ada untuk mengefektifkan waktu yang terbatas tersebut.

Tapi jangan sampai Keterbatasan waktu yang kita miliki lebih karena disebabkan oleh keserakahan kita untuk mencari harta dan penghidupan sebanyak-banyaknya, walaupun itu dengan alasan demi keluarga.

Kita seringkali dijebak oleh asumsi "Mumpung masih muda", sehingga waktu muda kita begitu kita kuras untuk memburu kehidupan dunia.

Kita begitu inginnya segera punya rumah, segera punya mobil, segera punya ini itu. tentunya dengan alasan untuk kebahagiaan istri dan anak-anak kita. Padahal di sisi lain justru pendidikan mereka terlantar.

Percayalah, anak-anak kita lebih membutuhkan pendidikan daripada harta. Justru keterbatasan ekonomi akan menyebabkan anak-anak kita berjuang dalam hidup dan itu bagus bagi perkembangan jiwa, kemandirian, dan daya juangnya.

Istilah tidak biasa mendidik anak itu sebenarnya janggal, karena mendidik anak itu sebenarnya sesuatu yang bersifat naluriah. Ketika kita memiliki anak pada dasarnya Allah juga membekali kepada kita tentang prinsip, strategi. dan kiat-kiat mendidik anak. Jadi istilahnya bukan tidak bisa, tapi tidak biasa. Nah soal biasa itu akan terbentuk dengan melakukannya secara berulang-ulang. Percayalah Allah akan membimbing kita dalam mendidik anak-anak kita, kalau kita memang mau dan serius untuk mendidik anak-anak kita.

Soal jarang pulang dengan alasan mencari nafkah atau menuntut ilmu, sayapun Dari dulu hingga sekarang juga begitu begitu. Juga kalau kita lihat Nabi Ibrahim, Imam Syafi'i dan sebagainya.

Namun, sekali lagi, jangan sampai hal itu lebih disebabkan oleh hasrat yang berlebihan untuk mendapatkan penghasilan yang tinggi.

Kita juga jangan lupa akan perintah Allah untuk menempatkan istri dan keluarga kita di tempat kita bertempat tinggal. Jadi seharusnya perlu kita hindari kita bekerja dan tinggal di tempat yang berbeda dengan tempat tinggal istri dan anak-anak kita.

Allah berfirman :

"wa askinu hunna Min haitsu sakantum".

Yang artinya

"Dan tempatkanlah istrimu di mana engkau bertempat tinggal" ✅

🎙 *Host*

*Mengelola Emosi Orangtua dan Anak*

1⃣1⃣ *Bunda Elin - Depok*

Jika ayah bekerja dan melakukan aktivitas dakwah hingga larut malam... Hanya bertemu saat pagi ketika mereka mau berangkat sekolah... Kemudian di pagi hari banyak hal yg memancing emosi meninggi.. Krn anak anak sulit dibangunkan... (Anak kesulitan bangun subuh), dan yg lainnya tidur lagi krn setelah subuh udara masih sangat dingin... Walhasil hubungan ayah dan anak anak kurang terasa nikmat... Bagaimana mengurai masalah ini? Mohon pencerahannya.

1⃣2⃣ *Bunda Muthi - Bandung 2*

1. Izin bertanya, seringkali ayah sudah lelah karena mencari nafkah sehingga kurang sabar dalam menghadapi anak. Baiknya bagaimana ya?

1⃣3⃣ *Bunda Nur - Medan*

Assalamualaikum...
Anak kami 21 bulan jika melihat ayahnya mau pergi kerja itu nangis histeris. Jadi kami sering nya mengelabui anak. Anak dibawa menjauh dulu dari ayahnya waktu ayahnya mau pergi sehingga ayah jadi tak berpamitan sama anak.
Apa kah ada pengaruh psikologis ke anak kelak?
Kadang merasa bersalah karna sudah mengelabui :(

1⃣4⃣ *Bunda Iis - Bandung*

Assalamu'alaykum.. Bun izin bertanya: saya punya metode untuk mendidik anak saya, yakni anak2 dibuat takut, segan, terhadap ayahnya. Kalo terhadap ibu kan identik dengan gak tegaan, manja, makanya salah satu dari kqmi sbg orangtua harus ada yang disegani, tujuannya agar anak2 menjadi penurut & tentu mudah diarahkan. Nah metode seperti ini baik tidak? Jzk...

👳🏽‍♀ *Ust Aad*

Bagi saya adalah hal yang sangat mengherankan bahwa waktu, Tenaga, pikiran, kreativitas para Ayah lebih ditujukan kepada orang lain daripada kepada keluarganya.

Mereka berdakwah untuk orang lain, padahal keluarganya lebih patut untuk dia dakwahi. Pada akhirnya yang tersisa untuk anak-anak nya tinggal kelelahan, keletihan, kehabisan waktu dan emosi.

Padahal seharusnya yang emosi terhadap anak-anak adalah Bundanya, karena mereka telah letih setiap hari mengurus anak. Seharusnya emosi seorang ayah jauh lebih terkendali, sehingga dia yang lebih diharapkan untuk mengatasi masalah anak-anaknya. Bukankah seorang ayah lebih rasional dan seorang bunda lebih emosional ?

Percayalah, Andai Habis Waktu kita untuk mendidik anak-anak kita, sehingga tak ada waktu lagi untuk berdakwah kepada orang lain, maka itu jauh lebih baik bagi masa depan peradaban umat ini. Sekali lagi, seandainya.

Begitu pula dengan seorang anak yang menangis histeris ketika ayahnya berangkat kerja. Pada dasarnya tangisan seorang anak itu terjadi karena anak belum cukup puas bersama ayahnya. Kebutuhannya untuk dekat dengan ayahnya masih tergolong tanggung.

Anak yang tak dekat dengan ayahnya, atau anak yang telah cukup diberikan kebutuhan emosi oleh ayahnya, kedua-duanya tidak akan menangis saat ayahnya berangkat kerja.

Jadi, yang dibutuhkan sebenarnya adalah bukan menjauhkan anak dari ayahnya saat anak saat ayahnya berangkat kerja. tetapi mencukupkan kebutuhan emosi anak bersama ayahnya.

Anak jangan sampai dibuat takut kepada ayahnya. Yang anak butuhkan adalah rasa hormat terhadap ayahnya. Jika rasa hormat itu telah terbentuk, maka ia akan mentaati perintah ayahnya dan meninggalkan larangan ayahnya, tanpa harus punya perasaan takut.

Dan rasa hormat tersebut justru lahir karena ketegasan seorang ayah, kemampuan seorang ayah untuk memenuhi kebutuhan emosional anak-anaknya. ✅

🎙 *Host*

Masih ada waktu buat 1 kompilasi terakhir yaa... Ustadz...

Dan apakah pertanyaan tersisa masih dijawab melalui jaringan pribadi ustadz Aad...

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Silakan

🎙 *Host*

*Strategi Smart Mencari Nafkah*

1⃣5⃣ *Ayah Lukman - Semarang*
Assalaamualaikum.. Bang Aad, terima kasih sebelumnya dan sebanyak2nya utk kesempatannya.. saya kebetulan saat ini berprofesi sebagai pegawai negeri.. Memang dari fleksibilitas waktu ngga seperti usahawan.. Jam kerja saya senin - jumat dari jam 07.30 - 17.00 plus ditambah perjalanan pulang pergi kurang lebih sejam.. Saat ini waktu utk anak saya hanya malam hari dan sabtu minggu saja, walau masih kepotong utk pengajian, seminar, workshop, dll.. Anak pun selalu saya bawa berkegiatan tersebut.. Namun seringkali anak saya protes ayahnya ngga punya waktu, padahal menurut saya itu udh maksimal yg bisa saya berikan.. Saya punya keinginan utk resign kemudian wirausaha, namun dari hasil Talent Mapping saya, selling memiliki warna hitam alias tidak berbakat dan saya tidak merasa mampu.. Rasa malu untuk menawarkan dagangan tuh rasanya besar sekali.. Sudah saya coba selama setahun ini membantu menjualkan dagangan istri namun rasa malu itu masih sebesar dulu.. Dengan keadaan seperti itu:

1. Apa saya harus tetap memupuk keinginan utk resign?

2. Apakah ada cara smart mencari nafkah utk pegawai negeri?

3. Saya punya keinginan untuk membesarkan usaha istri dan bersama anak saya dan istri menjadikan ini sebagai usaha keluarga, namun posisi pekerjaan saya saat ini yg berpindah2 tiap 4-5 tahun sekali agak menyulitkan utk menentukan tempat fix usaha kami.. Sementara kalau mau resign langsung (supaya bisa menetap di suatu tempat) saya blm punya pegangan (uang) bahkan utk ngontrak rumah atau toko..

Menurut bang Aad apa yang bisa dilakukan?

1⃣6⃣ *bunda Aisyah - Bandung 2*

Materinya membuat ketar ketir, sebagai ayah dan jg ibu buat anak2 kadang sy khawatir dgn rezeki dan masa depn anak2 sehingga sy all out mencari rezeki. Buka warung, menjahit, menulis dan menjadi Marketing Hurriyah Property Syariah. Semua dikerjakn di rumah. Bagaimana ini, Apakah sy salah? 😓

1⃣7⃣ *NN - Aceh*
Assalamu'alaikum ustaz,
Bagaimana jika kondisi ayah yg dituntut utk lebih banyak melayani masyarakat.. manakah yang harus diprioritaskan? Mengingat keduanya amanah?

1⃣8⃣ *bunda Safira - Aceh*
Assalamu'alaikum. Gimana siasahnya mencari nafkah di luar kota, tanpa perlu melalaikan hak anak akan kasih sayang dan  perhatian si ayah....

1⃣9⃣ *Ayah Andri - Medan*
Bagaimana solusi dari kesulitan yang dihadapi yaitu membagi waktu kerjaan dan membersamai anak anak, yang terkadang anak anak hanya mendapat waktu lelahnya saja dan juga membagi pikiran yang seringnya ketika membersamai anak dan keluarga belum dapat membagi pikiran kerjaan, pikiran masalah, dan bermain bersama anak, terkadang bercampur baur, yang efeknya tingkah anak menjadi pemicu dari emosi yang labil karena pikirant pikiran tadi dan itu bukan hanya membersamai anak tetapi juga dengan pasangan.

2⃣0⃣ *Ayah Djainul - Surabaya*

Anak full homeschooling, istri full day di rumah
Saya bekerja 8 jam waktunya ada di pabrik ,

1. Bagaimana agar bisa optimal buat anak di rumah?
Saat ini yang saya lakukan, membersamai mereka saat di rumah, hari libur, menyiapkan agenda kegiatan dan review, tapi masih khawatir dak bisa mengejar kebutuhan pendidikan mereka, belum bisa rileks

2. Apa kiat memberanikan diri memulai bisnis di rumah, dan meninggalkan kenyamanan di kantor. Masih khawatir anak dan istri susah setelah lama menerima kenyamanan dari hasil kerja

2⃣1⃣ *Ayah Ari Setiawan - Surabaya*

ada tidak titik dimana kita harus sampai memutuskan memilih antara pekerjaan atau keluarga 🙏

Alhamdulillah.... Barrakallah... Karna waktu sudah menunjukkan pukult 21:43..
Sudah lewat dari jadwal yang di tetapkan...
Pertanyaan no.22-30 akan di japri melalui team kulwap...

Mohon... Ustad, sebagai pesan penutup...
Bolehkah ustad memberikan nasehat bagi para istri utk ikhlas dan sabar menerima keadaan jika suatu waktu Allah mentakdirkan para suami memilih jalan Smart Mencari Nafkah dg "meninggalkan" kenyamanan dan kemapanan yg selama ini sudah diterima 😊🙏🏽

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Ayah Bunda sekalian, sekali lagi, Peran ayah dalam pendidikan anak lebih kepada penanggung jawab utama pendidikan, bukan pada pelaksana harian pendidikan. Karena itu adalah tugas Bunda

Jadi, sebenarnya banyak hal yang dapat kita lakukan di luar sana, Apakah itu kegiatan sosial, dakwah, kemanusiaan, kebangsaan. Karena pada dasarnya peran laki-laki itu memang sangat luas.

Jadi,  pertanyaan bagi seorang ayah adalah "Apakah tanggung jawab mendidik anak sudah dia tunaikan ?",  bukan "Apakah tugas mendidik anak telah Ia laksanakan ?"

Maka tidak ada masalah bahwa seorang ayah banyak waktunya yang dihabiskan di luar rumah, bahkan beberapa hari sekalipun, sebagaimana yang selama ini saya pun lakukan sejak menikah hingga sekarang.

Yang patut kita permasalahkan adalah jika hal ini lebih disebabkan karena hasrat berburu materi yang berlebihan.

Seharusnya kita tidak perlu ketar-ketir terhadap masa depan ekonomi anak-anak kita. Kalau kita fokus saat ini untuk mendidik anak-anak kita yang masih kecil, justru mereka akan lebih cepat Mandiri dan tidak menjadi beban ekonomi kita berlarut-larut.

Begitu pula jika anak-anak kita kita didik untuk hidup prihatin, berdaya juang, bersabar, maka Insya Allah ekonomi kita yang sekadarnya ini memang cukup untuk menghidupi mereka

Seandainya kita mampu dan fokus untuk mendidik mereka saat mereka masih kecil, justru tidak lama lagi kita akan punya waktu begitu banyak untuk melakukan aktualisasi diri.

Tentang memulai bisnis, pada dasarnya Rasulullah telah mengingatkan kita bahwa 90% dari rezeki Allah itu Allah turunkan melalui bisnis. Maka siapapun yang berikhtiar untuk berbisnis pada dasarnya akan Allah cukupkan. Memang dalam bisnis itu ada ketidakpastian ada gonjang-ganjing, tapi Pertolongan Allah di dalamnya juga luar biasa.

Pada dasarnya antara pekerjaan dengan keluarga itu bukanlah pilihan, sehingga tidak perlu kita harus mengambil keputusan apakah memilih keluarga atau memilih bekerja

Kalau kita memilih bekerja, pertanyaannya adalah "bekerja untuk apa ? bekerja untuk siapa ?". Lagipula orang-orang yang bekerja tidak untuk keluarga maka rezekinya pun sangat terbatas.

Makanya tak mengherankan jika para lajang biasanya rezekinya pas-pasan. Trus terang pada dasarnya rezeki kita itu menjadi besar karena Allah titip rezeki istri kita, rezeki anak kita, rezeki orang tua kita, dan rezeki orang lain

Saya beberapa kali menyaksikan saat seorang laki-laki bercerai dengan istrinya, maka tiba-tiba rezekinya dan kondisi ekonominya jauh merosot. Itu wajar karena boleh jadi rejeki istrinya yang selama ini Ia jemput lebih besar daripada rezekinya sendiri ✅

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Ayah Bunda sekalian, saat ini di luar sana tugas dan pekerjaan saya begitu banyak dan padat, dari sebuah kota ke kota lain, dari sebuah training ke training lain, dari sebuah desain-desain lain.

Hal itu saat ini dapat saya lakukan karena urusan keluarga dan anak-anak saya telah saya selesai kan sebelumnya, sehingga pada saat saya berusia 40 tahun saya sudah tidak dibebani oleh persoalan-persoalan domestik atau permasalahan-permasalahan kelakuan yang dibuat oleh anak-anak.

Dan saya dapat lebih fokus untuk persoalan-persoalan keumatan, kebangsaan, kemanusiaan dan sebagainya. Saya juga tidak terbebani dengan beban mencari nafkah yang sangat besar, karena saya mencoba untuk mendidik keluarga agar berdaya Juang, agar terbiasa menghadapi fluktuasi ekonomi, dan sebagainya

Bahkan dalam beberapa hal kenyamanan dan kemapanan ekonomi saat anak-anak kita masih kecil itu justru membahayakan kekuatan mental mereka. Kita tidak siap mendidik mereka dalam sebuah kawah Candradimuka kehidupan, karena kita sendiri Memang telah terlanjur mapan. ✅

🎙 *Host*

🙏�🙏�🙏�🙏� Masya Allah... Sekali lagi barrakallah... Ahamdulillah... jazakumullah khairan ustad Aad... Atas semua ilmu dan waktu nya yang telah membersamai kami para orangtua pembelajar untuk peradaban yang lebih baik

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

W iyyakum. Semoga bermanfaat dan mohon maaf jika ada kesalahan.

🎙 *Host*

Silahkan ustad jika ingin beristirahat malam kami persilahkan untuk undur diri dari ruang kulwap...

Kami tak bosan menanti ilmu baru...

In sya Allah bermanfaat untuk kami semua...

👳🏽‍♀ *Ust. Aad*

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

🎙 *Host*

Dan terakhir ayah bunda semua kami crew yang bertugas hari ini mohon pamit juga undur diri dari ruang kulwap...
Jika ada kesalahan kata dan laku mohon di maafkan dan di ikhlaskan...
Wassalam...
See u on kulwap selanjutnya...
😊😊😊😘😘😘

Wa'alaikumsalam wr wb... Ustad Aad...

=========########=========
💐💐💐🦋🦋🦋💐💐💐