Kamis, 04 Juni 2015

Adabut Taamul Fil Jamaah (Adab Berinteraksi Dalam Jamaah)


Adabut Taamul Fil Jamaah (Adab Berinteraksi Dalam Jamaah)
“Sesungguhnya jika engkau tidak bersama mereka, maka engkau tidak akan bersama orang-orang selain mereka. Sementara jika mereka tidak bersamamu, mereka tetap eksis bersama yang lain.”

Kata-kata salafus shaleh di atas menyadarkan kita tentang kebutuhan kita akan jamaah dan untuk senantiasa berada dalam ruang lingkupnya, karena bila kita tidak lagi bersama mereka, tidak mungkin kita bergaul dengan orang-orang yang standarnya di bawah mereka. Sementara jamaah dan mereka yang ada di dalamnya akan terus eksis dan berjalan dengan atau tanpa kita. Gamblangnya, masuk dan keluarnya kita dari jamaah tidak akan berpengaruh banyak apalagi sampai mengguncangkan jamaah. Dengan kata lain bila kita keluar dari jamaah, kitalah yang merugi. Sementara bagi jamaah boleh dibilang hampir tidak ada kerugian, karena begitu banyak yang siap menggantikan kita.

Karena itu keberadaan kita di dalam jamaah adalah anugerah Allah yang harus disyukuri dan dipelihara. Salah satu upaya menjaga karunia kesertaan kita dalam jamaah adalah dengan senantiasa berinteraksi secara intensif dengan dakwah itu sendiri dan semua elemen-elemen dakwah atau elemen jamaah.

Yang terpenting tentu saja adalah dengan dakwah atau jamaah itu sendiri, kemudian dengan mas’ul atau naqib. Berikutnya dengan sesama ikhwah atau a’dha jamaah. Lalu dengan para muayyid dan akhirnya dengan sang murabbi yang menghantarkan kita ke dalam jamaah.

A. Ma’ad Dakwah (Interaksi dengan dakwah)
1. At-takhally ‘an shillati bi ayyi haiatin aw jamaa’atin. Melepaskan diri dari segala keterikatan dengan lembaga-lembaga atau jamaah- jamaah lainnya (terutama apabila diminta oleh jamaah untuk melakukan itu). Salah satu arkanul ba’iah dalam jamaah kita adalah tajarrud yang penjabarannya adalah kita memberikan loyalitas, keterikatan dan ketaatan kita secara total kepada jamaah. Kalaupun kita memiliki kritik-kritik yang konstruktif terhadap jamaah bukan karena kita tidak tsiqah atau bahkan melirik jamaah lain. Sehingga bila jamaah menilai kita harus memutuskan ikatan dengan yayasan atau jamaah tertentu, karena dinilai membahayakan, seyogianyalah kita menerima dan menaati. Kecuali bila jamaah menugaskan di lembaga atau jamaah tertentu untuk tujuan tertentu (On mission).

2. Ihyaa’ul aadaatil Islamiyah (Menghidupkan kebiasaan-kebiasan Islam). Tujuannya adalah agar kita tetap terpelihara di dalam ruang lingkup jamaah dengan hidayah yang diberikan Allah. Di antara usaha untuk terus meningkatkan kualitas keislaman dan keimanan adalah dengan selalu menghidupkan kebiasaan-kebiasaan Islami seperti menyebarkan salam, membaca doa-doa harian, mendahulukan anggota tubuh yang kanan dan lain-lain. Karena hanya dengan berupaya meningkatkan kualitas diri sajalah kita akan tetap terjaga, kebersamaannya dengan jamaah, dengan homogenitas kebaikan yang dimilikinya.

3. Ta’arruf alal ikhwati dua’ti ma’rifat taamati wayaal’aksa. Berkenalan dengan para du’at dengan pengenalan yang sempurna dan sebaliknya mereka juga mengenal kita dengan sempurna. Selain untuk menunaikan hak-hak dan kewajiban ukhuwah, perkenalan yang intensif dan sempurna dengan para duat akan membuat kita dapat saling berkaca dan memacu diri. Apalagi dengan para ikhwah yang lebih dulu memasuki jamaah dibanding kita. Bukankah Rasulullah saw. bersabda, “Al-mu’minu mir’ah li akhihi” (mu’min cermin bagi saudaranya).

4. Adaaul waajibaatil maaliyyah (zakat, infak dsb) Menunaikan kewajiban-kewajiban maaliyah seperti zakat, infaq, ta’awun dll). Tak pelak lagi masalah ekonomi, maisyah atau maaliyah adalah hal yang penting yang harus diperhatikan oleh a’dha jamaah. Untuk menunaikan kewajiban maaliyah di dalam Islam dan jamaah seperti zakat, ta’awun, infaq dan lainnya tentu saja harus diwujudkan dulu karateristik qaadirun alal kasbi di dalam diri a’dha tersebut.

5. Nasyrud dakwah fi kulli makaan wa ahli alaa dzaalik. Menyebarkan dakwah di setiap tempat dan membentuk keluarga-keluarga dakwah. Pembentukan pribadi muslim di dalam jamaah dimaksudkan tidak saja membuat seorang muslim menjadi saleh tetapi juga harus muslih. Jadi tidak hanya sekadar mengupayakan nilai-nilai kebaikan melekat dalam dirinya, melainkan juga mengupayakan agar keluarga dan masyarakatnya pun terwarnai oleh nilai-nilai kebaikan tersebut. Bahkan harus pula menjadikan keluarga sebagai pendukung-pendukungnya yang utama dalam dakwah.

6. At-ta’arrufu alaal harakati Islamiyah. Mengenal harakah-harakah Islam. Keberadaan kita sebagai a’dha di dalam jamaah ini tentu saja harus membuat kita semakin mengenal jamaah kita, sejarah, visi dan misinya, tokoh-tokohnya dll., sebagai sebuah harakah Islam. Dan sebagai bahan pembanding kita juga perlu mengenal harakah-harakah Islam lainnya.

B. Ma’an Naqib
Naqib atau qiyadah dalam dakwah memiliki hak seorang bapak dalam ikatan hati, hak seorang ustadz dalam hal menambah dan mentransfer ilmu, hak seorang syekh dalam memberikan tarbiyah ruhiyah dan akhirnya hak seorang komandan dalam menentukan atau memberikan kebijakan-kebijakan umum di lapangan dakwah.

Dalam proses interaksi dengan naqibnya, seorang adha atau al akh dituntut supaya bisa berhubungan dengan baik sebagai perwujudan keqiyadahan yang terdekat dengannya. Di antaranya ialah memperhatikan hak-hak naqib seperti tersebut di atas. Selain itu juga berusaha memenuhi hal-hal sebagai berikut:

1. Tha’at. Seorang a’dha hendaknya senantiasa taat melaksanakan perintah-perintah dan arahan-arahannya dalam kondisi senang atau susah serta sulit dan mudah.

2. Tsiqah. Seorang akh dikatakan tsiqah kepada naqibnya jika ia memiliki ketenangan dan ketenteraman jiwa terhadap apa-apa yang datang dari sang naqib Ia tidak pernah ragu- ragu terhadap arahan yang datang darinya.

3. Iltizam. Seorang adho harus berupaya menjaga, melanggengkan iltizam atau komitmennya kepada naqib dan jamaah dengan jalan keterbukaan menginformasikan kondisi diri secara obyektif, sehingga terjaga pula hubungan ruhiyah dan amaliyah dalam ruang lingkup berjamaah.

4. Memiliki sikap ihtiram (menghormati) naqib. Bukanlah suatu ciri feodalisme jika kita menghormati atasan kita yang layak dihormati. Apalagi ia berfungsi sekaligus sebagai orang tua, guru, syekh dan qaid. Bukankah Islam mengajarkan kita menghormati orang yang lebih tua dari kita dan banyak memberikan kebaikan untuk kita seperti orang tua, guru, syekh dan komandan.

5. Memberi nasihat, masukan, saran dan kritik secara halus dan sembunyi-sembunyi alias tidak di depan orang lain. Memang tak bisa dipungkiri, naqib adalah juga manusia biasa yang punya kekurangan dan kelemahan, namun bila kita ingin mengkritisi atau memberi masukan hendaknya dengan memperhatikan adab agar martabat atau izzahnya sebagai naqib tidak terlecehkan di hadapan orang lain.

C. Ma’al ikhwah
Terhadap sesama ikhwah atau a’dha jamaah kita pun dituntut untuk memiliki adab yang benar dalam berinteraksi. Beberapa hal di bawah ini penting diwujudkan dalam interaksi dengan sesama ikhwah agar suasana ukhuwah benar-benar tercipta di dalam jamaah kita.

1. Selalu husnuz zhan (bersangka baik) dan bahkan berusaha mencarikan alasan untuk membelanya jika ada orang lain yang menghujat ikhwah kita.
2. Memperlihatkan mahabbah atau rasa cinta pada mereka dan berusaha menahan emosi atau memaklumi kebodohan-kebodohan mereka.
3. Mendoakan mereka ketika kita berpisah atau sedang tidak bersama mereka. Dalam hadis disebutkan doa seorang muslim untuk saudaranya ketika berpisah atau sedang tidak bersamanya mustajab. Di sisi kepalanya ada malaikat yang setiap kali ia berdoa untuk saudaranya meminta kebaikan berkata malaikat: Amin dan bagimu hal yang seperti itu pula..
4. Tanashur, tolong-menolong sesama ikhwah sebagai realisasi ukhuwah. “Tolonglah saudaramu yang berbuat zhalim atau dizhalimi,” yakni engkau menghalanginya dari berbuat kezhaliman atau membebaskannya dari keteraniayaan.
5. Mengakui dan menghargai bantuan mereka di waktu lapang dan sempit, serta merasakan dan menyadari bahwa kekuatannya, tidak dapat bergerak dengan sendirinya tanpa andil dan bantuan ikhwah lainnya seperti problem yang dialami dalam masalah maisyah, penyimpangan atau terkena fitnah.
6. Tidak menyukai atau tidak rela jika saudaranya berada dalam bahaya dan bersegera berbuat untuk mencegah atau menolak dan menyelamatkan saudaranya tersebut dari bahaya.
7. Memberikan tadhiyah (pengorbanan) terhadap sesama ikhwah. Hasan Basri, ”Tidak ada yang kekal dalam kehidupan ini, kecuali tiga hal; Pertama saudaramu yang kau dapati berkelakuan baik. Kedua apabila engkau menyimpang dari jalan kebenaran ia meluruskanmu dan mencegahmu dari keburukan. Tidak ada seorang pun selainnya yang mengontrolmu. Ketiga shalat berjamaah menghindarkanmu dari melupakannya dan meraih ganjarannya.”

D. Ma’al Mu’ayidin (Bersama Muayid)
Seorang a’dha jamaah adalah seorang murabbi bagi para muayidinnya. Ia menjadi pintu gerbang yang akan menghantarkan muayidnya ke dalam jamaah. Agar bisa menjadi daya tarik dalam merekrut dan menghantarkan muayidnya ke dalam jamaah, ia dituntut agar bisa berinteraksi dengan baik dan tepat dengan mua’yidnya di antaranya ialah:

1. Menghargai dan menempatkan diri muayid secara seimbang atau proporsional. Mereka bukan segala-galanya atau yang paling hebat dan penting sehingga seolah olah tidak akan ada yang dapat menggantikan mereka. Tetapi tidak pula meremehkannya, merendahkannya atau menempatkannya secara tidak proporsional di tempat yang tidak bernilai atau rendah dan tidak sesuai dengan mereka. Sehingga terkesan tidak menghargai potensi dan bakat mereka.
2. Mendahulukan hal yang paling penting di atas hal yang paling penting atau menggunakan skala prioritas. Dan yang pertama harus dilakukan adalah menumbuhkan akidah di hatinya.
3. Berhemat dalam menasihati muayyid sehingga bisa masuk dan meresap.
4. Meninggalkan cara-cara yang keras atau kasar walau dengan hujah yang benar.
5. Menghindari jawaban langsung atau to the point dan sanggahan yang ketus atau mematahkan.
6. Menghindari penghancuran potensi dalam meng’ilaj atau mengatasi permasalahan ringan atau dengan jalan membebani dengan beban berat yang tidak proporsional dan tidak mendidik.
7. Hati-hati terhadap pemborosan tenaga. Hendaknya kita memperhatikan tingkat kecerdasan dan ilmu muayyid kita sehingga tidak perlu berpanjang-panjang dalam membahas hal yang sudah jelas.
8. Setiap perkataan memiliki tempatnya masing-masing dan setiap tempat memiliki jenis perkataan yang cocok. Rasulullah saw. bersabda: “Berbicaralah pada manusia sesuai dengan kemampuan akal mereka.”
9. Mempelajari kondisi mereka dan mengenali permasalahan –permasalahan mereka misalnya ia sebagai murabbi tidak langsung mencerca bila mad’u terlambat datang karena boleh jadi ada uzur syar’i yang tidak bisa diatasinya. Kemudian tidak mendikte dalam pekerjaannya dan tidak membebaninya dengan beban yang tidak sanggup ditanggungnya, karena pepatah mengatakan bahwa Madinah tidak dibangun dalam waktu satu hari.
10. Jadilah teladan baginya dalam segala situasi.
11. Kontinyu mendakwahinya sampai tampak hasilnya.

E. Ma’al Murabbi
Seorang akh atau a’dha bisa masuk ke dalam jamaah adalah karena jasa murabbinya. Hal itu tidak akan pernah terhilangkan dari catatan malaikat Raqib, sehingga seyogianyalah tidak terhapus dari benak a’dha tersebut.
1. Menghormati mereka karena bagaimanapun Allah telah menjadikan mereka sebagai sebab tergabungnya kita menjadi a’dha jamaah ini. Dengan kata lain merekalah yang telah menghantarkan kita masuk ke dalam jamaah ini, walaupun kini kita telah menyamai atau bahkan mungkin melebihi atau melampaui mereka dalam hal wazhifah tanzhimiyah misalnya.
2. Sesungguhnya mereka tetap gurumu dan bukan mantan guru atau sekadar orang yang pernah menjadi gurumu.
3. Terus mengingat-ingat kebaikan mereka dan melupakan kelemahan-kelemahan mereka jika memang ada.
Jika kesemua interaksi dengan keseluruhan elemen jamaah itu terjalin dengan baik, insya Allah akan terpeliharalah kekokohan iltizam kita dengan jamaah itu sendiri. Wallahu a’lam
santo

Rabu, 03 Juni 2015

Kedudukan orang tua

Kedudukan orang tua

������
AlQuran - An-Nisaa' (4): 11-12

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ۖ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ ۚ فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۖ وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۚ وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا ۚ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا

Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk) anak-anakmu, (yaitu) bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. QS.An-Nisaa' (4): 11

وَلَكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ أَزْوَاجُكُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِينَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۚ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ إِنْ لَمْ يَكُنْ لَكُمْ وَلَدٌ ۚ فَإِنْ كَانَ لَكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوصُونَ بِهَا أَوْ دَيْنٍ ۗ وَإِنْ كَانَ رَجُلٌ يُورَثُ كَلَالَةً أَوِ امْرَأَةٌ وَلَهُ أَخٌ أَوْ أُخْتٌ فَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَإِنْ كَانُوا أَكْثَرَ مِنْ ذَٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَاءُ فِي الثُّلُثِ ۚ مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصَىٰ بِهَا أَوْ دَيْنٍ غَيْرَ مُضَارٍّ ۚ وَصِيَّةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَلِيمٌ

Dan bagianmu (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istri-istrimu) itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan setelah dibayar) utang-utangmu. Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau seorang saudara perempuan (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu, setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris). Demikianlah ketentuan Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun. (QS. anNisa 11-12)

�� Tentang waris:

Annisa 11:
hak waris ibu Bapak Kandung ssorg, jk dia mninggal

Annisa 12:
Hak Waris utk ibu tiri jika ayah dari seseorang (suami ibu tiri) meninggal

������

QS.An-Nisaa' : 23

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ أُمَّهَاتُكُمْ وَبَنَاتُكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ وَعَمَّاتُكُمْ وَخَالَاتُكُمْ وَبَنَاتُ الْأَخِ وَبَنَاتُ الْأُخْتِ وَأُمَّهَاتُكُمُ اللَّاتِي أَرْضَعْنَكُمْ وَأَخَوَاتُكُمْ مِنَ الرَّضَاعَةِ وَأُمَّهَاتُ نِسَائِكُمْ وَرَبَائِبُكُمُ اللَّاتِي فِي حُجُورِكُمْ مِنْ نِسَائِكُمُ اللَّاتِي دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَإِنْ لَمْ تَكُونُوا دَخَلْتُمْ بِهِنَّ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ وَحَلَائِلُ أَبْنَائِكُمُ الَّذِينَ مِنْ أَصْلَابِكُمْ وَأَنْ تَجْمَعُوا بَيْنَ الْأُخْتَيْنِ إِلَّا مَا قَدْ سَلَفَ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَحِيمًا

Diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara-saudara perempuanmu sesusuan, ibu-ibu istrimu (mertua), anak-anak perempuan dari istrimu (anak tiri) yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu (menikahinya), (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu), dan (diharamkan) mengumpulkan (dalam pernikahan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.QS. An Nisa (4):23

��Tentang menikah:

AnNisa:23
Bapak tiri haram menikahi anak tiri dalam pemeliharaan, tapi... (ada terusannya silahkan baca ayatnya kembali)

Menjadi Penyejuk Pandangan Bagi

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Bunda-bunda sholihat... tema kita hari ini adalah

Akhlak Kepada Orang Tua

Sebelum memulai diskusi mari kita simak artikel berikut ini

Menjadi Penyejuk Pandangan Bagi Orang Tua

Sahabatku! Memandangi hamparan padi di sawah yang berwarna hijau sungguhlah menyejukkan hati, karena membawa sejuta harapan. Namun demikian, hijaunya padi yang semula nampak indah tidak lama lagi akan berubah warna menjadi kekuningan. Dan kala itu, kuningnya warna padi juga menyejukkan hati karena bukan lagi menjanjikan sejuta harapan, namun harapan petani kini benar benar telah menjadi kenyataan.

Di saat musim panen tiba, tiada seorangpun dari petani yang menyesali kepergian warna hijau yang beberapa hari lalu nampak begitu indah dan menyejukkan. Andai ada seorang petani yang meratapi kepergian indahnya warna hijau yang telah berganti dengan warna kuning, niscaya semua orang menganggap petani tersebut telah terperosok dalam kebodohan besar.

Namun, setiap petani pasti berduka yang mendalam andai kepergian warna hijau dan berganti menjadi coklat atau hitam karena serangan hama, sehingga gagal panen.

Demikianlah kehidupan dunia ini, kemaren anda adalah anak-anak yang lucu dan menggemaskan. Kedua orang tua anda begitu bahagia mendengar canda dan tawa anda. Apapun yang anda lakukan selalu saja nampak lucu dan menyenangkan.

Saya yakin kedua orang tua anda tidak pernah menyesali kepergian masa kekanak-kanakan anda, karena kini anda telah berubah menjadi lelaki atau wanita dewasa yang berhasil mewujudkan harapan mereka.

Walau penampilan anda yang imut telah sirna dan ulah anda yang lucupun tinggal kenangan, namun semua itu tidak mereka sesali, karena kini anda telah menjadi anak sholeh yang berbakti kepada orang tua. Kini anda menjadi penawar rasa lelah dan letih perjuangan mereka mendidik dan menafkahi anda. Dengan demikian anda senantiasa menjadi penyejuk dalam hidup mereka.

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang senantiasa berdoa: Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami penyejuk pandangan kami dari istri-istri dan anak-anak kami, dan jadikanlah kami sebagai pemimpin orang orang yang bertaqwa” (QS. Al Furqan 72)

Namun tentu penyesalan kedua orang tua anda tiada dapat digambarkan atau dibayangkan, bila hingga kini anda gagal mewujudkan harapan mereka, bahkan tiada henti anda menambah berat beban hidup mereka. Umur mereka yang telah lanjut dan fisik mereka yang telah lemah, namun demikian anda belum kunjung juga meringankan beban hidup mereka.

Saudaraku! Termasuk yang manakah anda saat ini?

Penulis: Dr. Muhammad Arifin Baderi, Lc., MA.

Sumber:

http://m.muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/menjadi-penyejuk-pandangan-bagi-orang-tua.html diakses 3 Juni 2015

RaLiKa

Tim Tema Diskusi HSMN
Hsmn.timtemadiskusi@gmail.com

〰〰〰〰〰〰〰〰〰
〰〰〰  HSMN  〰〰〰
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
facebook.com/hsmuslimnusantara

FP: Seminar Menuntun Anak Menyongsong Surga

FB: Seminar MAMS (HS Muslim Nusantara)

instagram: @hsmuslimnusantara

twitter: @hs_muslim_n

web:
hsmuslimnusantara.org

Ikuti acara HSMN 7 Juni 2015:
Semarang: Bincang Keluarga:  Asyiknya Belajar di Rumah.
Tangerang: Talent Mapping & play date

Bunda-Bunda sholihat, Bagaimana cara bunda-bunda menanamkan akhlaq kepada orang tua kepada buah hati, Bukan hanya pada orang tua kandungnya, tetapi juga kepada orang tua di sekitarnya?

Bagaimana mendorong anak utk mengamalkan ayat berikut?

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا ۖ وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۚ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.QS Al-'ankabut(29): 8

Mari kita bersama berbagi manfaat dan hikmah yang telah Alloh SWT beri...

MERAIH KETAQWAAN DI BULAN RAMADHAN hsmn depok

Notulensi Kajian HSMN Depok

Hari/ tgl       : Selasa, 19 Mei 2015
Waktu          : Pk. 08.30-11.00 WIB
Tempat        : Mesjid Nurul Faizin
Narasumber: Ustzh. Poppy Yuditya

�� MERAIH KETAQWAAN DI BULAN RAMADHAN��

Ramadhan: The Reflections

Coba ingat-ingat kembali, bagaimanakah Ramadhan kita tahun lalu??

�� Keutamaan Puasa

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Setiap amalan anak Adam akan dilipatgandakan pahalanya, satu kebaikan akan berlipat menjadi 10 kebaikan sampai 700 kali lipat. Allah berkata, ‘Kecuali puasa, maka Aku yang akan membalas orang yang menjalankannya karena dia telah meninggalkan keinginan-keinginan hawa nafsunya dan makannya karena Aku’.” (Sahih, HR. Muslim).

Hadits di atas dengan jelas menunjukkan betapa tingginya nilai puasa. Allah akan melipatgandakan pahalanya bukan sekadar 10 atau 700 kali lipat, namun akan dibalas sesuai dengan keinginan-Nya. Padahal kita tahu bahwa Allah Maha Pemurah, maka Dia tentu akan membalas pahala orang yang berpuasa dengan berlipat ganda.

● Amalan anak Adam

1. Pahala/ balasan yang besar itu ada di puasa. Puasa memurnikan hati.

2. Puasa itu untuk Allah swt; hanya umat islam yang melaksanakan puasa dengan memurnikan hati hanya untuk Allah swt. "Lillaahi" itu hanya punya muslim.

3. Pahala bisa terhapus karena dosa. Kecuali pahala puasa Ramadhan, tidaklah terhapuskan.

4. Puasa masuk ke dalam kategori ibadah yang paling agung. Puasa itu berat jika dilakukan dengan sebenar-benarnya. Maka Allah swt menisbatkan puasa hanya untukNya.

�� Ramadhan = Pasar Amal

Manusia "menjual" amal terbaik,
Allah swt "membeli" dengan balasan terbaik.

Ketika kita ingin memberikan yang terbaik kepada Allah swt. Maka siapkan diri kita.
Persiapan kita harus matang agar "dibeli" dengan mahal.
Jika Ramadhan kita berkata ketus, berwajah lesu, siapa yang mau "membeli" Ramadhan kita? Allah swt pasti akan "membeli" yang lebih ramah.

Bayangkan! Berjuta-juta orang berlomba untuk meraih pahala yang besar di hadapan Allah. Jangan sampai kita jadi yang terbelakang.

Persiapkan diri kita dengan luar biasa. Sambut dengan senyuman. Kitalah yang ingin menarik perhatian Allah swt dengan melakukan amal sebaik-baiknya.

�� Menggapai Derajat Taqwa

Firman Allah swt dalam QS. Al-Baqarah: 183

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,"

Puasa sudah ada sejak dulu. Tapi syariat puasa Ramadhan baru ada di zaman Rasulullah saw. Allah swt ingin melihat orang berpuasa di bulan Ramadhan berbeda dengan yang lain.

● Level Orang Puasa

1. Meninggalkan apa yang Allah swt larang padahal hati cenderung kepadanya = taqwa.

2. Khauf (Merasa Allah swt selalu mengawasi = Taqwa).
Jangan sampai kita termasuk orangtua yang mengajak anak berpuasa tapi dengan cara yang salah. Anak diajarkan berbohong sehingga tidak ada rasa takut.

3. Mencapai derajat taqwa.
Berlomba-lombalah  untuk taat kepada  Allah swt. Kalau lihat orang lain lebih taat, kita harus bisa melampaui mereka. Semangatlah dalam melakukan amal kebaikan.

Anak-anak kita sejak dini hendaknya diajarkan cinta pada Ramadhan, berlomba-lomba dalam beramal sehingga ketika dewasa mereka akan malu jika tidak berpuasa.

�� Meninggalkan  Syahwat Dunia

◆ Mengendalikan jiwa
◆ Hati sibuk dengan yang baik sehingga menjadi lembut
◆ Mensyukuri nikmat dengan berbagi
◆ Menyempitnya aliran darah = ruang untuk syaithon berkurang. Menghalangi syaithon untuk mengalir dalam  aliran darah kita.

�� Beranjak Menjadi Lebih Baik

● Hadits Abu Hurairah:

“Puasa bukanlah menahan dari makan, minum semata, tetapi puasa itu menahan diri dari perbuatan sia-sia dan keji.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan Al-Hakim).

● Pesan Para Ulama

"Sejelek-jelek kaum adalah yang mengenal Allah (rajin ibadah)  hanya pada bulan Ramadhan saja".

● Pesan Ka'ab

"Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan lantas terbetik dalam hatinya bahwa setelah lepas ramadhan akan berbuat maksiat pada Rabbnya, maka sungguh puasanya itu tertolak (tidak bernilai apa-apa).

● Kaji dan Pikirkan!

Kita ini sedang berlomba-lomba masuk surga. Tidak bisa enak-enakan. Minimal samakan langkah kita seperti Hajar, Aisyah, Fatimah, Khadijah, dan lainnya.

Setelah Ramadhan pertahankanlah amalan-amalan kita.

�� Kesempatan Berkasih Sayang dengan Si Miskin dan Merasakan Penderitaannya

Puasa menyebabkan seseorang lebih  menyayangi si miskin karena yang berpuasa pasti merasakan penderitaan lapar dalam sebagian waktunya.

�� Ramadhan Mubarak

Kegiatan-kegiatan di Bulan Ramadhan

● Qiyamulail
● Memberi buka puasa bagi yang berpuasa

�� Sahur

¤ Ingat, yang hebat itu yang  sahur karena di dalamnya ada keberkahan. Jangan sampai kita tidak sahur kemudian merasa bangga.

¤ Sahur membedakan puasa orang muslim  dengan puasa umat lain.

¤ Bersahurlah meski hanya dengan segelas air.

¤ Sebaik-baik makanan sahur orang mukmin adalah kurma tanger (kurma kering). Tapi ketika berbuka sebaik-baik berbuka adalah dengan ruthab (kurma basah). Kalau tidak ada, baru tanger, lalu air.

¤ Mengakhirkan sahur adalah sunnah. Jaraknya dari sahur ke azan subuh adalah 50 ayat. Usahakan diakhirkan. Hikmahnya kita jadi tidak berlebih-lebihan memasukkan sesuatu ke mulut kita.

�� Puasa adalah Perisai

“Puasa adalah perisai. Maka janganlah dia berkata-kata kotor dan berbudat bodoh. Apabila ada orang lain yang memerangi atau mencacinya, hendaklah dia katakan, ‘Aku sedang puasa’ (dua kali). Demi Tuhan yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah ta’ala daripada bau minyak kasturi. Dia rela meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipatnya.” (HR. Bukhari dalam Kitab as-Shiyam)

�� Ramadhan Highway Code

》DON'T DO!

● Tidak makan dan minum
● Tundukkan pandangan. Termasuk tidak menonton acara/ film yang menampakkan aurat.
● Tidak berdebat atau bertengkar, hindari dosa.
● Tidak merokok.
● Tidak buang-buang waktu melakukan kegiatan yang tidak berguna.
● Tidak dengarkan musik.

》DO!

● Shalat 5 waktu on time.
● Belajar dan mendalami ilmu Islam.
● Membaca dan mempelajari al Quran.
● Banyak berdzikir.
● Banyak berdoa.
● Berbagi dan membantu orang lain.

�� Adab Berbuka Puasa

● Berbuka secara sederhana; baca Bismillah, makan kurma, baca doa berbuka:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ، وثَبَتَ اْلأَجْرُ إِنْ شَاءَاللهُ

“Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah”

"Telah hilanglah dahaga, telah basahlah kerongkongan, semoga ada pahala yang ditetapkan, jika Allah menghendaki". (Hadits shahih, Riwayat Abu Daud [2/306, no. 2357]).

● Bersegera mengerjakan shalat maghrib setelah berbuka.
● Berbuka puasa dengan ruthab.
● Menjamu makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa.

�� Hikmah Setetes Air

Imam Ahmad dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari seorang tabi’in, Uqail bin Syumair ar-Riyahi, bahwasanya suatu saat sahabat Abdullah bin Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhuma meminum air dingin, tiba-tiba beliau menangis tersedu-sedu.

Kontan hal itu membuat orang-orang keheranan. Mereka bertanya kepada Ibnu Umar, “Apa yang membuat Anda menangis tersedu-sedu?”

Namun jawaban Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma lebih mengherankan lagi. Beliau berkata:

” ذَكَرْتُ آيَةً فِي كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: {وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ} فَعَرَفْتُ أَنَّ أَهْلَ النَّارِ لَا يَشْتَهُونَ إِلَّا الْمَاءَ الْبَارِدَ، وَقَدْ قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: {أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ}”

“Aku teringat dengan sebuah ayat di dalam kitab Allah Azza wa Jalla (Al-Qur’an):

{وَحِيلَ بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَا يَشْتَهُونَ}

“Dan diberi penghalang antara mereka (penduduk neraka) dan apa yang mereka inginkan…” (QS. Saba’ [34]: 54)

Maka aku mengerti bahwa penduduk neraka hanya menginginkan air dingin semata. Sebab Allah Azza wa Jalla telah berfirman:

{أَفِيضُوا عَلَيْنَا مِنَ الْمَاءِ أَوْ مِمَّا رَزَقَكُمُ اللهُ}

“[Dan penduduk neraka memanggil penduduk surga]: ‘Curahkanlah kepada kami sedikit air atau sedikit saja dari rizki yang Allah karuniakan kepada kalian.” –QS. Al-A’raf [7]: 50 – (HR. Ahmad dalam Az-Zuhd no. 1055 dan Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman no. 4294)

Alangkah ruginya kita jika tidak mengingat sebagaimana yang diingat Abdullah bin Umar.

● Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur'an. Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin." (HR. Bukhari).

● Baca al Quran, tadabburi dan hafalkan. Jadikanlah itu semua membuat jiwa kita bahagia, murah hati.

● Berhati-hatilah dengan sejadah yang makin lama makin besar, itu buatan yahudi. Jangan sampai karena sejadah, ketika  berjamaah ada celah yang bisa membuat setan masuk.

�� Berburu Lailatul Qadar

Riwayat Ibnu Umar
"Carilah di 10 hari terakhir, jika tidak mampu maka jangan  sampai terluput 7 hari sisanya" (HR. Bukhari 4/221 & Muslim 1165).

Jangan sampai sisa Ramadhan kita habis untuk berbelanja, membuat kue, dan sebagainya.

�� Siapkan Program Ramadhan

● Ingatkan suami  untuk itikaf. Makna itikaf adalah meninggalkan dunia supaya fokus ibadah.

______________________________

��Itikaf Perempuan; Tips Optimalisasi di Rumah:

¤ Usahakan di rumah sediakan mushola. Masalah optimalisasi adalah di hati.
¤ Tidur waktu isya, kondisikaan anak-anak.
Lalu bangun jam 1. Saling menguatkan suami dan istri untuk optimalkan malam-malam Ramadhan.
¤ Optimalisasi suami! Dorong suami untuk sama-sama menghidupkan malam. Bagi yang sangat berat, cobalah di malam ganjil. Jika tidak bisa di mesjid, bisa di kamar dan minta bantuan suami. Minimal 5 malam dalam 1 tahun kita membangkitkan malam. 5 dari 365 hari, pasti bisa! Komunikasikan dengan suami.

��Mengkondisikan Anak Berpuasa:

¤ Kisah Nabi dan Rasul harus sudah ada di inventori mereka.

¤ Kalau anak-anak tidak kuat, mulai dengan sahur dan buka bersama untuk dapat keberkahannya.

¤ Kalau anak dirasa bisa tapi belum kuat penuh, boleh buka saat adzan dzuhur. Beri makan dan minum secukupnya lalu puasa lagi hingga maghrib.

¤ Banyak berkisah dan penguatan. Motivasi yang luar biasa dari ibu.

¤ Kalau ibunya sedang tidak puasa, tidak usah berbohong. Katakan bahwa ada masanya perempuan dewasa dilarang Allah untuk berpuasa dan nanti harus membayar.
Mereka akan terima karena sudah dekat dengan Allah swt jadi lebih mudah untuk diberi penjelasan.

● Menjaga Puasa Ramadhan
¤ Puasa syawal. Teruskan puasa sunnah senin-kamis.
¤ Checklist ibadah selalu ada selama kita belum konsisten.
Kuatkan azzam kita, mudah-mudahan jadi orang yang teratur karena Allah suka orang yang itqon (rapu, teratur, terorganisir).

Cara nabi membuka dan menutup hari

����������������������

Bismillahirrohmaanirrohiim...

Bunda-bunda sholihat...

Dalam menjalani hari-hari, tentu kita mengharapkan memiliki waktu yg berkualitas. Artikel berikut memuat bagaimana Rasulullah membuka dan menutup hari. Mari kita simak.

Artikel #1

Cara nabi mengawali hari
Ditulis oleh Budi Ashari

Hari-hari penuh keberkahan yang dilalui Rasulullah sepanjang hidupnya menjadi pelajaran mahal bagi kita. Kali ini, kita akan mengetahui bagaimana beliau mengawali hari-harinya. Seperti apa beliau membuka siang harinya.

Menarik sekali memperhatikan pembukaan hari. Karena pembukaan bisa menentukan aktifitas sepanjang harinya. Lihatlah umpamanya hadits berikut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا وَيَقُولُ الْآخَرُ اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا
Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata,
“Tidaklah tiba pagi hari bagi para hamba kecuali ada dua malaikat yang turun. Salah satu di antara mereka berdua berkata: Ya Allah berikanlah ganti bagi orang yang berinfak. Yang lain berkata: Ya Allah berikanlah kehancuran bagi orang yang pelit.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan hadits itu, kita pahami bahwa membuka hari tidak boleh dengan kesalahan. Bukankah jika ada seseorang yang salah membuka harinya, ia akan hidup sepanjang hari dalam kutukan doa malaikat. Dan sebaliknya, bagi yang benar memulainya maka ia akan mendapatkan cahaya doa malaikat.

Jadi, mengawali hari sangatlah penting untuk keberlangsungan hari-hari yang baik dan penuh berkah.

Nah, bagaimana Nabi mengawali harinya sebelum matahari pagi menebarkan sinar terangnya.

DR. Abdul Wahhab bin Nashir Ath Thurairy dalam bukunya al Yaum an Nabawi mencoba mengumpulkan dari berbagai riwayat dalam kitab-kitab hadits mu’tabaroh (yang diakui para ulama). Kemudian dirangkai menjadi satu kesatuan, hingga jelas seperti apa hari-hari yang dilalui Nabi pada siang dan malam harinya.

Dan berikut rangkaian aktifitas Nabi yang dilakukan untuk mengawali hari,

Kemudian Nabi shalat Sunnah Qobliyyah Shubuh 2 Rokaat. Shalat dengan cepat. Hingga ada yang berkata: Apakah Nabi membaca Al Fatihah dalam shalatnya?
Karena begitu cepatnya. Di Rakaat pertama setelah Al Fatihah, beliau membaca Al Kafirun. Dan pada rakaat kedua membaca Al Ikhlas. Terkadang di rakaat pertama membaca Al Baqarah: 136 dan di rakaat kedua membaca Ali Imron: 64.
Jika telah selesai dari shalat tersebut dan istrinya sudah bangun, beliau berbincang dengannya dengan perbincangan penuh kenyamanan dan kebahagiaan.
Tapi jika istrinya masih tidur, beliau tiduran miring ke kanan (untuk istirahat) sampai tiba waktu shalat Shubuh.
Jika Bilal radhiallahu anhu melihat para sahabat telah berkumpul di masjid, dia mendatangi Rasulullah dan berkata: Shalat ya Rasulullah.
Rasul pun keluar (dari rumahnya) menuju masjid. (al Yaum an Nabawi h. 8-10)

Di Ramadhan 1433 H ini, buku al Yaum an Nabawi dijadikan acara televisi besar di timur tengah Al Resalah. Langsung disampaikan oleh penulisnya DR. Abdul Wahhab Ath Thurairy.

Ya, sebuah teladan yang sangat menarik. Agar hari ini berkah.

Adzan Fajar (Shubuh) yang dikumandangkan, pertanda siang hari dimulai. Saat itulah Nabi melakukan dua amal mulia untuk siang harinya. Bahkan matahari belum lagi menampakkan dirinya. Sinarnya belum lagi menyapa bumi dan penghuninya.

Nabi mengawali hablum minallah (hubungan dengan Allah), dengan melakukan shalat ringan dua rakaat (Qobliyyah Shubuh). Shalat sunnah yang satu ini sangat istimewa di bandingkan shalat-shalat rawatib (pengiring shalat wajib) lainnya. Sehingga ia merupakan shalat sunnah yang tidak ditinggalkan oleh Nabi saat semua shalat rawatib ditinggalkan ketika sedang safar (dalam perjalanan). Karena keutamaannya yang luar biasa,

عن عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
Dari Aisyah, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata,
“Dua rakaat (sebelum) Shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)

Semulia itulah shalat ringan yang mengawali hari-hari Nabi dan orang-orang beriman.

Dan untuk mengawali hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia), beliau mendatangi orang terdekat dan terkasih dalam hidupnya. Yaitu istrinya. Beliau menyambut pagi dengan merekahkan senyum bagi istrinya. Kalimat lembut yang hadir dari hati menyapa penuh makna.

Bayangkan seorang istri yang membuka cahaya harinya dengan perbincangan penuh kasih sayang dari suaminya! (DR. Abdul Wahhab Ath Thurairy)

Pasti sangat indah dan merekah hari keluarga itu. Saat suami terkasih menebar bunga-bunga dari hati yang terpancar dari lisan.

Pasti hari yang penuh semangat. Saat sang pemimpin dan pendidik itu menyapa lembut untuk bekal sang istri melaksanakan tugas berat sepanjang siang ini.

Nabi menyejajarkan dua amal mulia itu. Shalat dua rakaat yang lebih mulia dari dunia dan seisinya. Dan seutama itulah setidaknya, amal yang beliau sejajarkan; berbincang ringan dengan istri di pagi hari.

Jadi inilah kebiasaan ringan dan mudah yang dicontohkan oleh Nabi untuk membuka dan mengawali hari-hari penuh keindahan dan semangat.

Para suami, mari kita sapa para istri sebelum mentari pagi  menyapa.

Semoga hari-hari keluarga kita seberkah hari-hari keluarga Rasulullah.

Artikel (2)

Cara nabi menutup hari
Oleh: Budi Ashari

Shalat Asar sudah selesai. Nabi dan para sahabat terkadang masih berbincang sebentar di Masjid Nabawi setelah itu. Tidak sepanjang pembicaraan selepas Dzuhur memang.

Para sahabat pun segera bubar. Mereka meneruskan aktifitas siang yang belum selesai. Untuk selanjutnya kembali ke peraduan masing-masing. Melepas penat. Bertemu dengan keluarga.

Bagaimana dengan Rasulullah. Apa yang dilakukannya. Untuk menutup sepanjang satu hari. Dan untuk menyambut malam.

Perlahan matahari semakin rendah. Sinar semakin memerah. Waktu Asar sudah bergeser beberapa saat yang lalu. Pertanda Maghrib akan menggantikan posisi Asar.

Kita semua dianjurkan dan pasti dicontohkan langsung oleh Nabi agar membaca dzikir-dzikir sore. Agar siang kita akhiri dengan kalimat-kalimat thayyibah. Dan agar malam hari kita masuki gulitanya dengan dzikir dan doa perlindungan.

Di antara hadits yang menyampaikan hal tersebut adalah,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمْسَى قَالَ أَمْسَيْنَا وَأَمْسَى الْمُلْكُ لِلَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ
Dari Abdullah bin Mas’ud berkata: Rasulullah jika memasuki waktu sore beliau membaca,
“Kami masuki sore dan kerajaan milik Allah. Segala puji bagi Allah. Tiada Ilah kecuali Allah, Maha Tunggal, tiada sekutu bagi Nya.” (HR. Muslim)

Dalam Kitab Al Wabil Ash Shayyib, Ibnu Qoyyim menjelaskan kata Shobah (pagi) dan Masa’ (sore) yang diperintahkan untuk berdzikir,

“Yaitu antara Shubuh sampai matahari terbit dan antara Asar sampai terbenamnya matahari. Allah berfirman: (42) يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang.) Al Ahzab: 41-42.  Kata Ashila, Al Jauhari berkata: Yaitu waktu yang ada antara Asar sampai Maghrib.”

Maka Nabi akan menyibukkan diri untuk menutup hari itu dengan berdzikir setelah Shalat Asar. Lisan beliau akan basah membaca ayat demi ayat, dzikir demi dzikir dan doa demi doa. Menutup siang. Mengawali malam. Menguatkan keimanan. Mengokohkan tawakkal. Memohon perlindungan. Meminta kesehatan.

Selanjutnya Nabi pergi menemui semua istrinya, satu per satu.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحِبُّ الْحَلْوَاءَ وَالْعَسَلَ فَكَانَ إِذَا صَلَّى الْعَصْرَ دَارَ عَلَى نِسَائِهِ فَيَدْنُو مِنْهُنَّ
Dari Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam suka dengan manisan (kue) dan madu. Jika beliau telah selesai shalat Asar, beliau berkeliling menemui istri-istrinya dan mendekat ke mereka. (HR. Bukhari dan Muslim)

Satu per satu rumah istri beliau diketuk. Pintu dibuka. Senyum ramah menyambut. Suami tercinta itu hadir. Masuk dengan penampilan terbaik seorang laki-laki. Beliau masuk. Diciumnya sang istri. Dipeluknya (lihat ‘Umdatul Qori, Badruddin al ‘Aini). Kemudian berbincang. Memang tidak terlalu lama pertemuan itu. Kemudian beliau pergi dan mengetuk pintu berikutnya. Begitulah hingga 9 istri itu ditemui satu per satu. Dan beliau berakhir di rumah istri yang mempunyai jatah malam itu.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ يَوْمٍ إِلَّا وَهُوَ يَطُوفُ عَلَيْنَا جَمِيعًا امْرَأَةً امْرَأَةً فَيَدْنُو وَيَلْمِسُ مِنْ غَيْرِ مَسِيسٍ حَتَّى يُفْضِيَ إِلَى الَّتِي هُوَ يَوْمُهَا فَيَبِيتَ عِنْدَهَا
Dari Aisyah berkata: Tidak ada hari yang dilalui Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kecuali beliau berkelling kepada kami semua. Istri demi istri. Beliau mendekat, menyentuh tetapi tidak mencampuri. Hingga beliau berakhir pada istri yang mempunyai jatah malam itu. (HR. Ahmad)

DR. Abdul Wahhab Ath Thurairy menjelaskan dalam bukunya Al Yaum An Nabawi,

“Terkadang mereka berkumpul di rumah istri yang mempunyai jatah malam itu. Di mana waktu Asar tidak cukup untuk beliau mengelilingi semua istrinya, maka mereka pun berkumpul di rumah istri yang mempunyai jatah malam itu.

Nabi dan para istri pun berbincang bersama dengan semua drama terindah dalam rumah terindah di dunia itu. Para sahabat terkadang mengirimkan hadiah bagi keluarga Nabi pada saat-saat seperti itu."

عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعُ نِسْوَةٍ فَكَانَ إِذَا قَسَمَ بَيْنَهُنَّ لَا يَنْتَهِي إِلَى الْمَرْأَةِ الْأُولَى إِلَّا فِي تِسْعٍ فَكُنَّ يَجْتَمِعْنَ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي بَيْتِ الَّتِي يَأْتِيهَا
Dari Anas berkata: Bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam mempunyai 9 istri. Cara beliau membagi harinya adalah beliau tidak mendatangi istri urutan pertama kecuali setelah selesai yang kesembilan. Mereka berkumpul setiap malam di rumah istri yang mempunyai jatah malam.

Perbincangan ringan antara Rasulullah dengan istrinya juga direkam dengan baik oleh hadits. Ini salah satu contoh perbincangan sore itu di rumah Hafshah radhiallahu anha,

أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ أَخْبَرَتْنِي أُمُّ مُبَشِّرٍ
أَنَّهَا سَمِعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عِنْدَ حَفْصَةَ لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا قَالَتْ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَانْتَهَرَهَا فَقَالَتْ حَفْصَةُ
{ وَإِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا }
فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
{ ثُمَّ نُنَجِّي الَّذِينَ اتَّقَوْا وَنَذَرُ الظَّالِمِينَ فِيهَا جِثِيًّا }
Bahwa Jabir bin Abdillah berkata: aku diberitahu oleh Ummu Mubasyir bahwa dia mendengar Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata saat sedang bersama Hafshah:
“Insya Allah tidak akan masuk neraka mereka yang ikut baiat di bahwa pohon (Hudaibiyah).”
Hafshah berkata: Tidak begitu ya Rasulullah
Rasul pun menegurnya.
Hafshah membaca ayat:
(Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.) Maryam: 71
Nabi pun menjawab: Allah azza wajalla berfirman:
(Kemudian Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertakwa dan membiarkan orang-orang yang zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut.) Maryam: 72
(HR.Muslim)

Perhatikanlah semua riwayat di atas. Nabi menutup harinya dengan berdzikir dan berdoa. Dan doa adalah inti dari ibadah. Agar selalu berhubungan dengan Allah. Baik saat mengawali siang ataupun mengawali malam.

Dan lihatlah selanjutnya. Satu per satu rumah istri beliau diketuk. Didatangi dengan sebaik suami yang membawa sebongkah kebahagiaan. Dari senyuman, ciuman, pelukan bahkan hadiah yang terkadang dibawa oleh para sahabat untuk Nabi dan istri-istrinya. Kemudian perbincangan sepasang suami istri yang disaksikan oleh sore itu begitu bermakna. Bukan saja keakraban dan kemesraan yang terbangun. Perbincangan pun begitu berisi. Membahas ayat, kebaikan, kemuliaan.

Dan begitulah sore yang khusyu’ dan syahdu berpadu dengan cinta dan kemesraan. Untuk menutup hari itu. Menyambut gelapnya malam. Dan kemudian merebahkan punggung setelah penat seharian dalam perjuangan dan da’wah.

Dan selimut malam pun hadir. Dengan keridhoan dan kebahagiaan yang merasuki jiwa istri. Sebagai hadiah dari suami terbaik.


Sumber:
1. http:// www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel--keluarga/untuk-keluarga-parenting-nabawiyah/101-cara-nabi-mengawali-hari
2. http://www.parentingnabawiyah.com/index.php/artikel--keluarga/untuk-keluarga-parenting-nabawiyah/102-cara-nabi-menutup-hari


RaLiKa

Tim Tema Diskusi HSMN
Hsmn.timtemadiskusi@gmail.com

〰〰〰〰〰〰〰〰〰
〰〰〰  HSMN  〰〰〰
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
��facebook.com/hsmuslimnusantara

��FP: Seminar Menuntun Anak Menyongsong Surga

��FB: Seminar MAMS (HS Muslim Nusantara)

�� instagram: @hsmuslimnusantara

�� twitter: @hs_muslim_n

�� web:
hsmuslimnusantara.org

����������������������

Mari kita bersama berbagi manfaat dan hikmah yang telah Alloh SWT beri...

Senin, 01 Juni 2015

Mendesain Anak untuk Kehidupan Islami hsmn resume

����RESUME DISKUSI GROUP HSMN 8����

⏰Sabtu, 30 mei 2015 jam 20.00-22.00
��Ust. Nopriadi
��Tema : Mendesain Anak untuk Kehidupan Islami
��Moderator : Zulaihah
��Notulen : Rani KW

�� PROFIL NARASUMBER
Nama lengkap: Nopriadi
Profesi: Dosen (Teknik Fisika UGM), penulis buku The MODEL, buku pengembangan diri spiritual ideologis
FB: www.facebook.com/buku.themodel
Jumlah anak: 3

��PROLOG��
Bunda yang budiman,

Sebagai sajian pembuka izinkanlah saya berbahasa dengan bahasa rasa. Tuk menggedor pikiran kita sekeras mungkin demi buah hati tercinta.  Agar mereka mampu berdiri menjadi penyelamat kehidupan. Saling bahu membahu mengembalikan kehidupan Islam.
Masih ingatkah Bunda saat romansa indah bertahun yang lalu? Saat tubuh dan jiwa Bunda terasa terguncang, perih, teragitasi dan tiba-tiba buyar seketika saat hadiah terindah itu tiba. Tubuh mungil dan hangat itu berada di dada Bunda, menatap pendek, hening dan menyampaikan kehadirannya dengan gerak yang begitu pelan. Dialah makhluq paling mempesona sebagai hadiah istimewa dari Sang Pencipta.

Bunda yang berbahagia,

Saya tidak sepenuhnya setuju dengan puisi Khalil Ghibran yang berjudul "Anak-anakmu".

Dia mengatakan, “Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu”.

Tidak! mereka adalah anak-anak kita yang diberikan oleh-Nya dengan haq. Bayi mungil itu kemudian membesar dan sebelum baligh mereka adalah anak-anak kita yang dihibahkan oleh-Nya. Tidak sekedar untuk dimiliki, tapi sebagai amanah besar yang ditaruh di atas pundak kita. Terasa begitu berat. Terlebih di zaman yang rusak hari ini.

Ingatlah tubuh-tubuh mungil yang terlihat lemah itu.  Suatu masa mereka menjelma menjadi sosok-sosok hebat penyelamat kehidupan.

Dari tubuh yang kecil itu pernah menjadi seorang Umar Bin Khattab, Sang Pemimpin sejati. Pernah menjadi Muhammad Al-Fatih, Sang Pembebas. Pernah menjadi Khalid bin Walid, Panglima Perang tiada dua. Pernah menjadi Imam Malik, Imam Hambali, Imam Hanafi, Imam Syafii dan banyak lagi ulama-ulama super cerdas. Pernah juga menjadi Ibnu Khaldun, Khawarizmi, Al-Kindi, Al Jabar, dan banyak lagi ilmuan-ilmuan yang super cerdas.

Tubuh mungil itu bisa menjelma menjadi siapa saja…

Ini sebuah keajaiban bukan?

Bunda yang shalehah,

Kalau boleh jujur akan dijadikan apa anak-anak Bunda di masa depan nanti?

Bukankah ada pepatah berharga di dunia pengembangan diri yg perlu kita ingat dan renungkan,

“Everything is created twice, first in the mind and then in reality”.

Segala sesuatu dibuat dua kali. Pertama dalam pikiran (perencanaan) dan kedua dalam kenyataan (realisasi).

Cobalah lihat segala hal di sekitar kita!
Sebelum rumah dibangun, dimulai dari tahap desain. Sebelum jembatan indah terwujud, juga dimulai dari desain. Sebelum pesawat terbang mengudara, maka dia berawal dari desain. Sebelum reakor nuklir dibangun, juga dimulai dari tahap desain.

Segala hal dikreasi dua kali bukan?

Bunda,

Saya ingin melengkapi kata-kata inspiratif tentang pentingnya dua tahap kreasi di atas.

Semakin penting segala sesuatu, maka kita semakin serius dalam kreasi pertama. Semakin berharga segala sesuatu maka kita sangat serius dalam tahap desain.

Setujukah Bunda dengan kalimat ini?

Bila setuju sekarang mari bertanya dalam diri kira.

Apakah kita telah memiliki desain diri untuk anak-anak kita????

Apakah kita telah menyiapkan desain diri utk mereka?

Apakah mereka penting dan berharga?

Seriuskah desain yang telah kita buat?

Atau selama ini kita ternyata ‘sekedar’ berbuat baik sehari-hari pada mereka sambil berharap mereka baik-baik saja. Berharap mereka menjadi pribadi yang baik.  Pribadi baik seperti apa? Pribadi baik untuk siapa?

Jadi, sudah jelaskah desain diri untuk mereka???

Bunda,

Bila kita tidak memiliki desain diri yang jelas untuk anak-anak kita, bukankah itu berarti kita memperlakukan mereka sebagai sesuatu yang tidak penting dan tidak berharga?
Bukankah kita memperlakukan pribadi dan kehidupan mereka sebagai sesuatu yang tidak penting dan tidak berharga?

Kita bisa saja mengatakan keberadaan mereka itu penting dan berharga.  Tetapi dengan absennya desain diri untuk mereka berarti sejatinya kita perlakukan pribadi dan kehidupan mereka sebagai sesuatu yang tidak istimewa.

Bunda yang berhati mulia,

Sebelum baligh mereka sepenuhnya miliki kita. Mereka kita jaga dengan amanah. Namun setelah mereka menjadi mukallaf, saat mereka terkena beban hukum, maka mereka milik siapa???

Apakah diri mereka menjadi milik mereka sendiri dengan alasan mereka sudah bertanggung jawab untuk terhadap dirinya?

Tidak Ayah Bunda. Jangan ajarkan mereka egois.  Jangan ajarkan mereka untuk menjadi pribadi yang sekedar mampu meraih impiannya. Mampu mengejar cita-cita tinggi yang diidam-idamkan untuk kehidupan pribadinya. Bahkan, jangan biarkan mereka sekedar menjadi pribadi yang baik.

Ingatlah, “A bad system can destroy good people.” Demikian kata Gary Mottershead.

Orang baik bisa dihancurkan sistem kehidupan yang rusak. Orang baik bisa digilas oleh zaman.

Bunda,
Mungkin ada yang bertanya bagaimana desain diri mereka seharusnya?
Desain diri seperti apakah seharusnya kita berikan untuk pribadi unik mereka?

Saat mereka baligh, jadikanlah pribadi-pribadi anak kita sebagai milik kehidupan. Jadikan mereka penyelamat kehidupan dengan perjuangan Islam.

Ingatlah kembali cerita lama saat satu persatu pribadi-pribadi agung telah bergabung dalam perjuangan Islam. Sebuah agenda agung menyelamatkan dunia dengan kalamullah.

Ali bin Abi Thalib dan Zubair bin Awwam bergabung dalam barisan membangun kehidupan Islam di usia 8 tahun.
Thalhah bin Ubaidillah  bergabung di usia 11 tahun.
Al Arqam bin Abi Al Arqam bergabung di usia 12 tahun. 
Abdulah bin Mas’ud bergabung di usia 14 tahun.
Sa’ad bin Abi Waqqash di usia 17 tahun. 
Ja’far bin Abi Thalib di usia 18 tahun.
Zaid bin Haritsah di usia 20 tahun.
Ustman bin Affan di usia 20.
Mush’ab bin Umair di usia 24 tahun.
Umar bin Khattab di usia 26 tahun.

Bunda yang berhati mulia,

Buatlah desain diri untuk anak-anak kita karena sayang kita. Seriuslah membuat desain diri untuk mereka karena amanah dari Allah swt.

Milikilah desain diri agar anak-anak kita tidak hanya  menjadi pribadi baik, tapi menjadi manusia hebat.

“A bad system can destroy good people, but it can't destroy the great ones”

Sistem yang buruk dapat merusak orang-orang baik, tapi dia tidak bisa merusak orang-orang hebat.

Desainlah agar mereka tidak hanya memiliki dirinya sendiri, tapi mereka menjadi milik kehidupan masa depan. Kehidupan Islam di masa depan yang dinanti umat manusia. Jadikan mereka sebagai orang-orang yang berkontribusi merangkai peradaban Islam masa depan. Menjadi pengemban dakwah demi kehidupan akhirat yang panjang… ✅

��TANYA JAWAB��

1⃣ Uni_Pekalongan:
Kapan waktu yg paling pas dalam menentukan desain diri pada anak.dan cara membuatnya,bagaimana.misal...apakah dengan mengenali bakat dan kemampuan kemudian kita kompromi dg anak2 dulu atau bagaimana?
mohon pencerahan dr ustadz, jazakallah✅

2⃣ Ummi Afita_Medan:
Assalamualaikum ustadz
Alhamdullilah bisa kuliah OL dgn ustadz..
Pertanyaanya apakah merancang desain anak sama dengan mmbuat visi misi keluarga?klu tdk sama dimulai dari mana kah klu kita mau mmbuat desain anak?
Jzk khoir ustadz��✅

3⃣ Mega-Samarinda:
Ustadz saya masih belum paham tentang desain itu lebih ke hal apa? Kepribadian atau bagaimana? Mengingat ketika anak2 sudah dewasa tentunya mereka punya keinginan/cita2 sendiri. Dan sejauh ini pengalaman ustadz dalam mendesain ketiga anak ustadz bagaimana? Apakah sesuai rencana ✅

JAWAB:

Alhamdulillah saya mendapat pertanyaan-pertanyaan super dari bunda-bunda shalehah. Pertanyaan saya kira senada. Saya langsung jawab ketiga pertanyaan dg panjang lebar ya...

Perlu dipahami desain diri yang saya maksud adalah berbagai komponen yang harus ada pada pribadi anak-anak kita. Kapan memulai desain diri itu? Sejatinya desain dasarnya dimulai sebelum mereka terlahir. Mengapa? Karena desain diri itu juga harus kita miliki. Bukankah diri kita juga penting dan berharga?

Nah, desain dasar harus ada untuk kita, anak-anak dan keluarga kita. Desain dasar ini harus ada sekarang sampai akhir hayat nanti.

Setelah desain diri dasar terbentuk maka dapat kita lengkapi  dengan desain tambahan. Desain tambahan ini yang bisa disesuaikan dengan minat, passion dan 'bakat' atau kecenderungan anak-anak kita.

Perlu dicatat, dalam membuat desain diri untuk anak-anak kita maka kita harus mengacu pada diri Rasulullah saw dan para sahabat. Bukan mengacu pada ahli2 pengembangan diri. Kita bisa mengambil pendapat ahli dalam aspek yang dibolehkan secara syar'i.

Sekarang saya ingin berbagi langkah dalam membuat desain diri untuk mencetak anak-anak hebat hebat. 

Saya membuat desain utk anak2 saya mengacu pada buku yang saya tulis, yaitu The MODEL.

The MODEL ini adalah nama desain diri yang saya syiarkan. Bukan hanya utk anak saya saja tapi juga untu saya pribadi, keluarga & orang-orang yang saya bina.
Kalau ada yang bertanya apakah desain diri untuk anak itu telah berjalan? Alhamdulillah sampai hari ini semakin terwujud pada anak-anak.

Berikut ini adalah garis besar langkah dalam membuat desain diri. Mohon maaf tidak mungkin detil karena keterbatasan ruang.

1) kita harus mendefinisikan atau memahami dulu konteks zamam anak kita dibesarkan dan konteks masa depan mereka hidup nanti.
Saya menyimpulkan saat ini kita hidup di era kegagalan. Inilah konteksnya.
Cirinya: banyak orang gagal menata kehidupan pribadi atau tidak bahagia. Ciri kedua adalah manusia scr kolektif gagal menata peradaban dunia sehingga umat manusia mengalami krisis multidimensi.

Di setting konteks inilah kita membuat desain diri anak kita.

2) Kita harus tahu secara persis goal setting dari desain yg diuat.
Desain diri utk keluarga saya adalah mampu meraih sukses-bahagia dan kontributif dlm membangun peradaban. Ini adalah jawaban dari konteks zaman anak dibesarkan dan konteks masa depan mereka seperti pada poin 1.

3) menetapkan komponen apa saja yang harus ada pada anak-anak kita yang sesuai konteks dan mengacu pada goal setting yang dibuat.

Kalau dalam desain diri The MODEL,  komponen yang harus ada adalah: Prinsip, Visi, Karakter dan Tanggung Jawab.

4) Mewujudkan komponen-komponen di desain diri tersebut ke dalam pribadi anak2 saya, termasuk kami sekeluarga.

Cara untuk mewujudkannya adalah dengan berbagai teknik Tuning. Tuning adalah istilah yg saya perkenalkan, diadopsi dari istilah tuning dlm dunia kecerdasan robot.  Bidang saya saat S3 di Jepang.

Saya akan jelaskan singkat tentang komponen-komponen tersebut.

Pertama komponen prinsip. Anak kita harus menjalani hidup berpegang pada prinsip.
Prinsip yang saya maksud adalah Prinsip Islam dan Prinsip Ilmu Sunatullah.
Dua prinsip ini harus menjadi pegangan hidup mereka.

Kalo prinsip Islam saya pikir kita semua sudah tahu.
Secara garis besar Islam terdiri dari aqidah dan Syariah. Aqidah untuk menjadi pondasi keyakinan mereka serta membentuk jiwa yang kuat dan tahan banting. Sementara syariah adalah untuk menata prilaku mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup.

Adapun prinsip kedua berupa ilmu sunatullah adalah ilmu yg terkait sebab akibat dan proses. Dalam bahasa pendidikan terdiri dari hardskill dan softskill. Ilmu sunatullah akan membuat hidup mereka menjadi lebih efektif.

Disamping prinsip, mereka juga harus memiliki visi dalam hidup. Dalam hidup mereka memiliki agenda yang ingin diraih.

Visi itu adalah visi akhirat dan visi dunia.

Inspirasi mereka dengan dua jenis visi ini.

Namun, harus diingat bahwa visi tanpa aksi adalah halusinasi.

Oleh sebab itu, aksi utk kedua visi ini adalah dengan mewujudkan karakter yang khas, berupa kepribadian Islam dan karakter efektif.

Setelah memiliki prinsip, visi dan karakter maka mereka harus menggenggam tanggung jawab.
Ajarkan mereka bertanggung jawab dalam menunaikan setiap peran di dalam hidup. Bila mereka mampu menjalani setiap peran dalam hidup (peran sebagai anak, profesional, orang tua, pasangan, dll) maka dia adalah orang baik.

Adapun peran kedua adalah peran yang membuat mereka hebat. Yaitu tanggung jawab dalam berkontribusi merubah peradaban. ✅

��PROFILE BUKU THE MODEL��

The MODEL adalah sebuah buku pengembangan diri Islami pertama (di dunia) yang bersifat spiritual-ideologis. Buku yang terdiri dari 23 bab ini mengupas secara komprehensif bagaimana merancang desain diri dan mewujudkannya pada kehidupan untuk meraih sukses pribadi dan peradaban. Sangat relevan dengan keadaan dunia kita hari ini, yaitu Era Kegagalan (The Failure Era). Sebuah zaman dimana banyak orang gagal menata kehidupan pribadi dan gagal secara kolektif menata peradaban sehingga mengalami krisis multi-dimensi.

The MODEL menggunakan sintesis tiga disiplin keilmuan, yaitu: paradigma mesin cerdas (machine learning), kajian pengembangan diri (self-help) dan konsep Islam. Beberapa keunikan The MODEL dibandingkan buku pengembangan diri yang ada adalah berakar pada falsafah hidup yang kuat (aqidah); menjadikan Islam dan sunatullah sebagai prinsip; menjanjikan visi akherat dan dunia sekaligus; menawarkan karakter yang holistik untuk meraih kedua visi tersebut; dan mengemban dua tanggung jawab yang harus ditunaikan. Yang paling unik adalah sifat spiritual-ideologis pada The MODEL sehingga menjadikannya sebagai genre baru di dunia pengembangan diri. Sebuah inovasi pengembangan diri yang tidak hanya berorientasi pada kesuksesan pribadi tapi berporos pada kontribusi mewujudkan peradaban barokah. Jaminan keberhasilan konsep The MODEL adalah menjadikan Muhammad saw sebagai role model

Buku ini dipersembahkan untuk siapa saja yang ingin mensketsa ulang pribadi dan kehidupannya. Sangat cocok untuk kalangan terdidik dari mahasiswa, profesional, pengusaha, intelektual, guru, dosen, dan juga ibu rumah tangga yang serius mencetak generasi unggul. Bahkan, sangat direkomendasikan untuk para trainer, motivator, inspirator yang selama ini telah malang melintang di dunia teknologi transformasi diri.

-----------------------------------------------------

Baca Kata Pengantarnya di: http://tinyurl.com/KataPengantar

Simak Audionya di http://tinyurl.com/The-MODEL-On-Air

Kata Pengantar

Bermula dari Tokyo Institute of Technology

Hari itu saya duduk termenung di ruang riset. Di atas meja banyak tumpukan buku, kertas dan oretan hasil penelitian. Di partisi meja kerja terpampang data hasil eksperimen yang telah diperjuangkan selama ini. Sebuah perjuangan panjang yang dibalut cerita gembira, sedih, dan penuh harap kepada Allah swt. Namun, saya termenung bukan memikirkan kesulian riset selama ini. Ada pertanyaan besar yang belum terjawab dan masih mengganjal hati nurani. Apa kontribusi riset yang telah dilakukan untuk perubahan dunia yang lebih baik?

Sudah sekitar tiga tahun saya berkutat dengan dunia machine learning (mesin cerdas). Sebuah bidang yang mempelajari bagaimana membuat sebuah mesin, misalnya robot, melakukan proses belajar sehingga menjadi cerdas. Mempelajari cara berpikir benda mati sehingga mampu merespon lingkungan seperti makhluk hidup. Saya menggeluti bidang ini dalam rangka menyelesaikan program doktoral di Tokyo Institute of Technology, Jepang, di bawah bimbingan Profesor Yukihiko Yamashita. Di laboratorium sang professor inilah kami menemukan dan mengembangkan sebuah pendekatan baru. Kami menawarkan sebuah rumusan model matematis baru yang bisa ‘ditanam’ pada mesin. Hasil penelitian kami telah saya publikasikan di dua konferensi internasional di Izmir (Turki) dan Brisbane (Australia). Pertemuan ilmiah para ilmuan mesin cerdas, dari seluruh dunia, mendesiminasikan hasil riset mereka. 

Lantas apa kontribusi riset selama tiga tahun ini untuk kehidupan yang lebih luas? Apakah saya harus menghasilkan banyak tulisan ilmiah lagi, kemudian dipublikasikan pada jurnal-jurnal internasional? Atau mendalami bidang ini sedalam-dalamnya sehingga bisa mengajarkannya kepada mahasiswa sebaik-baiknya? Atau menjadikannya sebagai modal untuk mendapatkan prestise dan proyek demi pundi-pundi rupiah? Setelah dipikir-pikir semua ini bukanlah kontribusi signifikan yang berdampak luas, amal shaleh yang berlimpah, apalagi turut berkontribusi mewujudkan tata dunia yang lebih baik. Walaupun demikian saya tidak memungkiri bahwa aktivitas riset, menulis jurnal dan berbagi ilmu pada mahasiswa adalah pekerjaan mulia, menyenangkan dan berbuah amal shaleh. Namun, tetap saja ini bukan jawaban yang memuaskan pikiran dan perasaan.

AlhamduliLLah kegundahan saya terjawab di sela-sela kesibukan menyelesaikan disertasi doktoral. Saya adalah seorang pendidik (educator), baik di rumah, masyarakat, keluarga besar, tempat kerja, organisasi dan di berbagai lingkaran kehidupan saya. Profesi inilah yang saya kira memantik inspirasi untuk menggabungkan paradigma mesin cerdas ke dalam dunia pengembangan diri dan kajian keIslaman yang telah saya geluti bertahun-tahun. Saya melihat sebuah peluang mengkolaborasikan tiga bidang ini untuk kepentingan edukasi peningkatkan kualitas diri. Bila saya dapat membuat ‘robot’ menjadi lebih cerdas, mengapa tidak untuk manusia? 

Jauh sebelum cerita kegundahan ini saya telah memiliki konsep pengembangan diri yang bernama the whole moslem model. Saya telah ‘memasarkannya’ ke berbagai forum diskusi, kajian, tulisan, dan training. Pernah juga menjadi materi di sebuah radio swasta dengan segmen para profesional muda. Saya melihat paradigma mesin cerdas dapat melengkapi, mempertajam dan memudahkan internalisasi konsep ini. Usaha asimiliasi ini kemudian saya tuangkan ke dalam sebuah manuscript, yang kemudian menjelma menjadi sebuah buku dengan judul The MODEL. Buku yang Anda baca saat ini.

The MODEL adalah hasil sintesis paradigma cerdas, konsep pengembangan diri dan kajian keIslaman. Paradigma mesin cerdas membantu memahami bagaimana membentuk kecerdasan manusia berdasarkan filosofi belajar pada mesin (training & learning). Paradigma ini mempermudah kita mengetahui bagaimana kualitas berpikir, rasa, tindakan dan fisik manusia dibentuk melalui pengetahuan, pengalaman, kebiasaan, keluarga, lingkungan dan berbagai peristiwa yang terjadi di lingkaran kehidupan. Kajian pengembangan diri menawarkan teknik-teknik efektif merubah pribadi. Berbagai teknik ini memperkaya wawasan bagaimana paradigma mesin cerdas bekerja untuk manusia. Sementara kajian ke-Islaman menjadi semacambackbone dan sumber nilai untuk perubahan pribadi yang ditawarkan. Sebuah pribadi yang memahami hakekat kehidupan dan memiliki impian sukses dunia dan akherat; pribadi yang berkarakter dan berpegang teguh pada prinsip; pribadi yang mampu meraih kebahagiaan dan keberhasilan dalam hidup serta berkontribusi dalam perubahan masyarakat dan tata dunia yang lebih baik. 

The MODEL menawarkan konsep pribadi yang Anda butuhkan di era kegagalan saat ini. Ini adalah buku pertama tentang pengembangan diri yang bersifat spiritual-ideologis dan disajikan secara komprehensif. Karakter spiritual-ideologis membuat The MODEL berbeda dengan buku pengembangan diri umumnya. Tidak hanya berorientasi meraih kesuksesan pribadi, tapi lebih berporos pada kontribusi membentuk tata dunia yang lebih barokah berdasarkan Islam. Tidak sekedar berisi konsep teoritis, tapi memberikan panduan praktis bagaimana hidup di era kegagalan.

Dengan karakter spiritual-ideologis ini, maka The MODEL menjadi genre baru dalam dunia pengembangan diri. Sekaligus menjadi ajakan kepada para aktivis di dunia self-help, how to, bahkan psychology, agar berlomba menciptakan kreasi-kreasi baru teknik ‘rekayasa’ kepribadian manusia. Sebuah kreasi yang berorientasi pada tata dunia yang lebih baik, bukan melulu menjanjikan pribadi yang berpengaruh, rezeki berlimpah, kebebasan finansial, bisnis langgeng, prestasi puncak, penurunan berat badan dan berbagai kesuksesan duniawi lainnya. 

The MODEL bukan sekedar sebuah buku, tapi legacy hidup saya. The MODEL bukan sekedar perwujudan impian, tapi menjadi bagian dari hidup saya. Pikiran dan perasaan saya tersatukan dalam perjalanan pembuatannya. Banyak diskusi bersama sahabat yang mengalir mengiringi setiap bait gagasan di dalamnya. Pikiran dan pengalaman hidup mereka telah memperkaya isi buku ini. 

Inilah secuil latar belakang sejarah, isi, differensiasi dan nafas karya ini. Saya berharap mendapatkan kritik konstruktif untuk penyempurnaan konsepThe MODEL. Saya berharap mendapat limpahan pahala setelah Anda membaca dan mengamalkan isi buku ini. Menjadikannya sebagai panduan dalam berbenah diri dan berbagi inspirasi kepada orang yang Anda cintai. 

Terakhir saya berterimakasih kepada kedua orang tua yang telah membesarkan saya dengan pengorbanan dan pengalaman hidup yang berharga, serta selalu mendukung dengan do’a dan harapan. Kepada Tin Rahmawati, istri tercantik di dunia, yang tanpa lelah mendorong realisasi buku ini. Kepada ketiga anakku, Shafa, Althof dan Kautsar yang menjadi ‘eksperiment’ pertama dari konsep The MODEL. Juga kepada teman-teman di Jepang, Brisbane, Banjarmasin, Kendari dan Yogyakarta yang telah bersedia menikmati materi The MODEL sebelum dikemas menjadi buku. Terakhir, kepada para guru dan sahabat, tidak bisa disebutkan satu persatu, yang telah membantu terbitnya buku ini. 

Hanya kepada Allah swt saya berharap ridho-Nya. Dengan sifat Rahman dan Rahim-Nya semoga Allah swt berkenan menjadikan The MODEL sebagai ilmu bermanfaat dan menjadi investasi yang mengalirkan pahala di akhir hayat nanti hingga yaumil hisab. Aamiin.

Kanagawa-Yogyakarta, Oktober 2014

Nopriadi Hermani

��EPILOG��

Bunda hebat yg berbahagia,

Alhamdulillah kita telah dipertemukan oleh Allah swt dlm forum yg mulia ini. Senang rasanya bisa berbagi dengan bunda sekalian.

Marilah kita serius dlm merancang desain diri untuk anak2 kita. Supaya apa? Agar mereka menjadi pribadi sukses-bahagia dan berkontribusi dalam membangun peradaban berkah berupa kehidupan Islam. Anak kita dilahirkan dlm keadaan istimewa dan takaran kehebatannya tergantung tekad kita.

Marilah juga berikhtiar secara sungguh2 dalam memantaskan diri menjado orang tua dari generasi hebat dan istimewa di masa depan.

Jangan lupa berdo'a kpd Allah swt, Pencipta manusia dan kehidupan. Bila ada salah mohon dimaafkan.
Assalamu'alaikum wr wb ✅

������ SELESAI ������