Sabtu, 16 Mei 2015

80% org sakit bukan krn fisiknya tapi krn EMOSInya.-------------------------------------------- PIKIRAN NEGATIF TERNYATA TDK BAIK BAGI KESEHATAN.

80% org sakit bukan krn fisiknya tapi krn EMOSInya.--------------------------------------------
PIKIRAN NEGATIF TERNYATA TDK BAIK BAGI KESEHATAN.

*1. MARAH selama 5 menit akan menyebabkan sistem imun tubuh kita mengalami depresi selama 6 jam.
* .2. DENDAM & MENYIMPAN KEPAHITAN akan menyebabkan imun tubuh kita mati.. Dari situlah bermula segala penyakit, spt STRESS, KOLESTEROL, HIPERTENSI, SERANGAN JANTUNG, RHEMATIK, ARTHRITIS, STROKE (perdarahan / penyumbatan pembuluh darah).
*3. Jika kita sering membiarkan diri kita STRESS, maka kita sering mengalami GANGGUAN PENCERNAAN..
*4. Jika kita sering merasa KHAWATIR, maka kita mudah terkena penyakit NYERI PUNGGUNG.
*.5. Jika kita MUDAH TERSINGGUNG, maka kita akan cenderung terkena penyakit INSOMNIA (susah tidur).
*6. Jika kita sering mengalami KEBINGUNGAN, maka. kita akan terkena GANGGUAN TULANG BELAKANG BAGIAN BAWAH.
*7. Jika kita sering membiarkan diri kita merasa TAKUT yg BERLEBIHAN, maka kita akan mudah terkena penyakit GINJAL.
*8. Jika kita suka ber-NEGATIVE THINKING, maka kita akan mudah terkena DYSPEPSIA (penyakit sulit mencerna).
*9. Jika kita mudah EMOSI & cenderung PEMARAH, maka kita bisa rentan terhadap penyakit HEPATITIS.
*10. Jika kita sering merasa APATIS (tdk pernah peduli) terhadap lingkungan, maka kita akan berpotensi mengalami PENURUNAN KEKEBALAN TUBUH.
*11. Jika kita sering MENGANGGAP SEPELE semua persoalan, maka hal ini bisa mengakibatkan penyakit DIABETES..
*12. Jika kita sering merasa KESEPIAN, maka kita bisa terkena penyakit DEMENSIA SENELIS (berkurangnya memori dan kontrol fungsi tubuh).
*13. Jika kita sering BERSEDIH & merasa selalu RENDAH DIRI, maka kita bisa terkena penyakit LEUKEMIA (kanker darah putih)Sumber : Buku “The Healing & Discovering the Power of the Water”. (by : Dr. Masaru Emoto)

Oleh-Oleh Dari Seminar ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’

Oleh-Oleh Dari Seminar ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’

Ceritanya, april yang lalu, saya berkesempatan berada sepanggung dengan beberapa ibu hebat, dalam sebuah seminar parenting yang temanya adalah ‘Kekuatan Sentuhan Cinta’. Para ibu hebat itu adalah:Ibu Siti Oded (Istri wakil walikota Bandung), Bunda Ria Mulianti (Istrinya Kak Eka Wardhana-Rumah Pensil Publisher), dan Teh Ninih Muthmainnah (Istri Aa Gym).
Masya Allah…

Bunda Ria Mulianti…menceritakan pengalaman beliau dalam mendidik keempat putranya. Beliau adalah seorang yang cukup sibuk diluar rumah…karena punya amanah di Rumah Pensil Publisher , sanggar gambar rumah pensil, dan juga menggawangi creative women community.
Tapi,kesibukan beliau tidak membuat beliau lupa untuk mendidik anak-anaknya untuk mencintai dan meneladani Rasulullah dan sahabat2nya. Hasilnya…anak pertama beliau adalah anak yang sangat ingin berjihad ke palestina, bahkan di usia 12 tahun, bilang ke bundanya: “bun, aku sudah menabung…ini celengan aku, tolong izinkan aku berangkat ke palestina ya. Aku sedih melihat anak-anak palestina tidak bisa sebahagia aku disini.” Bunda Ria akhirnya mengarahkan anaknya, untuk berjihad dengan pena…anak tsb diarahkan untuk menulis buku, dan ia akhirnya menulis satu seri buku cerita anak tentang jihad dan anak2 palestina. Buku tersebut sudah habis terjual 1000exp dalam 10 hari saja!! Menurut pengalaman bunda Ria, cara paling efektif untuk mengajarkan anak nilai2 kebaikan adalah dengan cara mendongeng (selain keteladanan tentunya). Sehingga beliau tidak pernah melewatkan malam tanpa mendongengkan kisah rasul dan para sahabat kepada anak-anaknya. Mendongeng, tidak harus dengan style pendongeng yang sangat ekspresif, yang mungkin sulit kita tiru….tapi lakukanlah dengan cinta….sehingga dongeng kita akan sampai ke hatinya..
Prinsipnya, kalau anak-anak sudah mengenal Tuhannya, Rasulnya (melalui dongeng)…maka insya Allah mereka akan mencintai Allah dan RasulNya. Bukankah itu yang kita harapkan?? Anak-anak yang mencintai Allah dan RasulNya, sehingga mereka tidak akan melakukan hal yang tidak disukai oleh kekasihnya itu?
Disini, yang terpikir oleh saya adalah “duh….sudah sejauh mana saya mengenalkan Allah dan juga Shiroh kepada anak-anak? Mengenalkan mungkin sudah…tapi sudahkah saya secara konsisten berikhtiar menumbuhkan cinta mereka pada Allah dan Rasul serta para sahabat?? (hiks…tamparan pertama)'”

Lalu…Umi (Bu Siti Oded), menceritakan dahsyatnya dampak rumah cinta. Beliau menceritakan fenomena anak2 di sukabumi (kota kecil) yang 60% dari 200 anak usia remaja yg dijadikan objek penelitian, ternyata sudah melakukan hubungan seks dengan pacarnya. Astaghfirullah….astaghfirullah…..kalau di kota kecil saja begitu? Gimana kabarnya dengan anak2 kita yang hidup di kota2 besar? Tambahannya…Umi cerita, bahwa ketika berkunjung ke beberapa pesantren, lalu bertanya kepada para SANTRI tentang siapa idola mereka….rata2 jawabannya adalah para artis (lokal dan korea). Duh….apakah mereka tidak mengenal Rasulullah? Sang manusia mulia nan sejati cintanya…
Itulah sebabnya….Umi menekankan…bahwa cinta, adalah dasar dari pendidikan dalam keluarga. Hanya dengan bangunan cinta yang kokohlah, anak tidak akan keluar dari pakem yang disepakati dalam keluarga. Sehingga, kata-kata “membentengi” anak….sejatinya bukanlah membentengi secara fisik (memproteksi fisik anak dari lingkungan yang tidak baik, dll)…melainkan membangun benteng tsb dalam diri anak, sehingga tercipta resiliensi (kemampuan anak untuk selalu berada dalam pakemnya, dalam koridor yang ditetapkan menjadi nilai terbaik untuk dirinya dan keluarganya) dimanapun anak berada…dengan siapapun anak bergaul. Resiliensi ini hanya akan terkokohkan dalam diri anak, bila di rumah cintanya sudah terbangun, sehingga tidak ada tempat lain yang lebih nyaman bagi si anak, selain di rumahnya sendiri.

Berikutnya, yang selalu harus menjadi pegangan utama dalam mendidik anak, dan kembali diingatkan oleh teh Ninih: “Yaa Bunayya…Laa Tusyrik Billah”. Teteh cerita….sebelum ke hal lainnya, pastikan dulu bab ini sudah mantap. Bab ketauhidan, yang menjadi dasar dari agama islam. Sehingga, insya Allah pertanggung jawaban kita kelak akan lebih ringan.
Lalu…yang orangtua sering lupa: TAUBAT!!

Kita sering merasa anak sulit diatur…anak banyak membantah…anak tidak sesuai harapan. Lalu saat perasaan itu hadir, seringkali kita merasa, itu adalah ‘salahnya’ anak. Padahal….sejatinya, itu adalah kesalahan kita dalam mendidik. Maka,TAUBAT adalah bagian terpenting dalam proses mendidik anak. Jangan hanya banyak harapan thdp anak….tapi, perbanyak taubat, perbanyak tafakur.

Teteh cerita, bagaimana dulu Ghaza (putra ke-6 tth), adalah anak yang kerjanya main PS…gak semangat belajar….sampai harus mengenakan kacamata dengan silindris 6 karena hobinya itu. Teteh saat itu merasa berdosa….karena tidak tegas dan tidak banyak menghabiskan waktu bersama Ghaza. Lalu…saat berkesempatan umroh, teteh menangis di multazam….bertaubat…mengakui kesalahannya dalam mendidik anak, dan memohon agar Allah mengampuni. Sepulang umroh….Ghaza ditanya oleh salah seorang ustadz di DT, mau tidak Ghaza menghafal qur’an? Ghaza langsung jawab mau…tanpa ba-bi-bu. Padahal, sebelumnya….sulit sekali tth mengarahkannya. Singkat cerita….dalam waktu 6 bulan…Ghaza menyelesaikan 27 juz hafalan qur’annya….dan tuntas 30 juz hanyadalam waktu 8 bulan saja.

Sehingga, benarlah…taubat kita, adalah pembuka jalan. Ketika kita bertaubat…memohon ampunan Allah atas kefakiran ilmu kita dalam mendidik anak, Allah akan bukakan jalan.

Selain itu…mencintai anak, artinya mendoakannya dengan penuh cinta. Bukan sekedar kata-kata tak berarti….melainkan kata-kata yang lahir dari hati. Saya mempraktekkannya sejak punya anak pertama 11 tahun yang lalu….ilmu ini pun saya peroleh dari teh Ninih, waktu saya masih nyantri di DT: Setiap Sholat malam….usahakan sholat dengan rakaat 2-2-2-2-…., agar kita memiliki banyak waktu untuk mendoakan anak dan suami. Ba’da dua rakaat pertama…doakan orang tua dan suami dengan penuh cinta.

Lalu…ba’da dua rakaat kedua, doakan anak yang pertama. Ba’da dua rakaat ketiga, doakan anak yang kedua, dst….

Perhatikan….setiap kali iman kita sedang baik, cinta kita sedang penuh….anak akan menjadi sesuai dengan apa yang kita harapkan. Sebaliknya….setiap kali iman kita sedang lemah….kita sedang futur, anak pun akan terasa sulit diatur, dll. Maka….penuhi diri dengan energi iman….sehingga cinta akan lahir tanpa diminta.

Anak-anak yang dibesarkan dengan cinta, insya Allah akan menjadi pribadi yang penuh cinta pula.
Dengan Cinta kita mendidik anak….dengan ilmu kita mengasuhnya….

Sungguh, berada disana bersama para ibu luar biasa ini, menyadarkan saya betapa luasnya ilmu Allah dan betapa sedikit ilmu yang sudah saya tahu dan amalkan..
Semoga bermanfaat ^_^

Jumat, 15 Mei 2015

Lomba Hifdzil Qur'an Tingkat RA/TK & SD/MI Se JABODETABEK

Ayoo... Ikuti !!

Lomba Hifdzil Qur'an
Tingkat RA/TK & SD/MI
Se  JABODETABEK
-------------------
*idea* Persyaratan

1. Siswa/i RA/TK & SD/MI
2. Usia 5 s/d 12 Tahun
3. Domisili JABODETABEK
4. Mengisi Formulir Pendaftaran
5. Membawa / Melengkapi dengan foto.         peserta 4X6 dan akte kelahiran pada saat pemberkasan.
6. Berkas dikumpulkan dalam amplop/map warna merah serta ditulis nama peserta dan no telp/hp yang bisa dihubungi.

*idea* Waktu Pendaftaran:?

Gelombang I
Tanggal. :  13 Mei s/d 30 Mei 2015 M
Waktu    :  Jam 08.00 s/d 17.00 WIB
Gelombang II
Tanggal. : 1 Juni s/d 10 Juni 2015 M
?Waktu.   : Jam 08.00 s/d 17.00 WIB

?*idea*  Tempat Pendaftaran : Masjid Jami' Al-Sofwa, Jl. Raya Lenteng Agung Barat No. 35 Jagakarsa Jakarta Selatan.

*idea* Babak Penysihan
Tanggal: 13 s/d 15 Juni 2015
?*idea* Babak Final
Tanggal: 28 Juni 2015
 
*idea* Hadiah Peserta
Total hadiah senilai Rp. 13.500.000,-
Juara Pertama.    : Rp. 3.500.000,-
Juara Ke-Dua.      : Rp. 3.000.000,-
Juara Ke-Tiga.      : Rp. 2.500.000,-
( Hadiah sudah termasuk tablet Rp. 1.000.000,- ).                                       Juara Harapan I.  : Rp. 2.000.000,-        Juara Harapan II. :Rp.  1.500.000,-       Juara Harapan III : Rp. 1.000.000,-                       
* Apabila peserta sudah mencapai jumlah maksimal 150 anak maka pendaftaran ditutup.

�� CONTACT PERSON : 

Faizin Muarrif.      0819 1840 7732 
Ashri Hamdani.    0851 1039 0440
Sigit.                    0838 0600 6852. Yayasan Al-Sofwa,021 788 363 27

> Silakan sebarkan informasi ini, semoga Allah mencatatnya sebagai amal shalih. Aamiin.

www.alsofwa.com/www.alsofwah.or.id
Situs Dakwah & Informasi Islam
__________________

(Sumber: Pesan ini disebarluaskan oleh DepSos Al Sofwa PIN 29F2D920)

Dongeng untuk anak menikmati sholat


DONGENG UNTUK ANAK
berbagi cerita, kisah dan kiat mendongeng untuk dunia anak yang ceria

MENIKMATI SHOLAT
          Sepulang sekolah, Untari bergegas menuju rak buku ayahnya. Baju seragam masih melekat di tubuhnya. Di rak buku, diambilnya beberapa buku tuntunan sholat milik ayahnya. Lalu selembar demi selembar buku  yang membahas tentang sholat dibacanya. Setiap kali selesai membaca buku ia menaruhnya dengan wajah cemberut. Ada rasa kecewa di wajahnya. Sepertinya apa yang dicarinya tidak ditemukan juga.
           "Uuuh...dimana sih?" gumam Untari berkali-kali, sampai-sampai dia tidak menyadari kalau ibunya sudah berada di hadapannya.
          "Lho...Untari masih belum ganti baju, belum makan dan belum sholat kok sudah baca-baca buku?" sapa ibunya "Hayoo...gak mau jadi anak sholehah lagi ya?
          "Iya, sebentar Bu... lagi tanggung nih. Tinggal satu buku lagi!" jawab Untari.
          "Duuh...sayangku lagi cari apa sih kok sampai lupa makan dan sholat?" sapa ibunya sambil duduk disamping Untari. Rambut Untari yang nampak kusut dibelai-belai sambil dirapikannya. Tidak lupa kecupan sayang ibunya mendarat di kedua pipi Untari.
          "Bu, tadi guru agama Untari bilang kita disuruh menikmati sholat. Nah...Untari jadi penasaran. Apa benar sholat bisa dinikmati? Emangnya sholat itu makanan ya?
          Mendengar penuturan Untari membuat ibunya tersenyum dalam hati. Dia bangga ternyata anak gadisnya sangat perhatian dalam masalah sholat yang menjadi kewajiban setiap muslim.
          "Kamu itu lucu, Untari. Sholat kok disamakan dengan makanan."
          "Tapi......"
          "Iya deh...begini saja, sekarang kamu ganti baju dulu, sholat lalu jangan lupa makan. Biarlah nanti kita tanyakan ayah saja ya."
          "Baik, Bu" jawab Untari sambil memunguti buku ayahnya untuk dikembalikan ke tempatnya. Dan secepat kilat ia masuk ke kamarnya untuk ganti baju, lalu mengambil air wudlu dan mengerjakan sholat.

***

          Sore hari, setelah sholat ashar, Untari bergegas hendak menemui ayahnya di ruang keluarga. Di sana sudah berkumpul ayah, ibu dan kakaknya. Ketika Untari datang, ayahnya sudah tersenyum dan mengetahui maksud anaknya sebab istrinya telah menceritakan kejadiannya.
         "Jadi...anak ayah mau menikmati sholat ya," kata ayah Untari sebelum anaknya menyampaikan maksudnya.
         "Iiih, ayah...tahu aja maksud kedatanganku," jawab Untari sambil merangsekkan tubuhnya diantara ayah dan ibunya. "Tapi benar khan  pak, kalau sholat itu tidak sama dengan makanan? Kok pak guru bilang menikmati sholat? Apa sholat sama dengan martabak bisa dinikmati?"
         "Hahahahaha.....bisa saja kamu!" kata ayah, ibu dan kakak hampir bersamaan.
         "Awas dosa lho kalau kamu bilang sholat sama dengan martabak," kakaknya menyela pembicaraan mereka.
         "Tapi aku khan gak salah. Bapak guru yang bilang begitu," jawab Untari tidak mau kalah.
         "Begini Untari, apa yang dibilang gurumu itu tidak salah. Memang seorang muslim harus bisa menikmati sholatnya. Bukankah di dalam Al-qur'an ada ayat yang mengatakan bahwa kita dianjurkan mengerjakan sholat dengan khusyuk yaitu sholat yang dilaksanakan dengan penuh kesadaran bahwa kita berhadapan dengan Alloh SWT. Dalam Al-qur'an surat Al-mu'minun ayat 1 dan 2 disebutkan bahwa "Sesungguhnya beruntunglah orang-orang beriman (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sholatnya". Jadi melaksanakan sholat sebaiknya tidak dilakukan dengan tergesa-gesa, tapi harus tumakninah."
         "Apa bisa dikatakan menikmati sholat itu sama dengan khusyu' dalam melaksanakannya, pak?"
         "Insyaaloh demikian maksud bapak gurumu," lanjut ayahnya.
         "Oooo jadi begitu. Alhamdulillah akhirnya rasa penasaranku terjawab sudah. Terimakasih, ayah."
         "Nah, kalau Untari sudah mengerti cara menikmati sholat, sekarang gantian kita menikmati oleh-oleh ayah," kata ibu Untari sambil membuka kotak bertuliskan Martabak spesial.
         "Alhamdulillah.....horeee....horeeee....horeeee...kita menikmati martabak spesial!" teriak Untari dan kakaknya kegirangan. Dan sore itu mereka menikmati Martabak spesial bersama-sama.

selesai-
     

Kamis, 14 Mei 2015

Tenungan felix siauw

Zaman sekarang memang zaman yang aneh, ada orang yang mengaku aktivis dakwah, teriak-teriak tentang Khilafah, pendirian negara yang berdasarkan syariat Allah, negara yang menerapkan Al-Qur'an dan As-Sunnah, rindu dengan penerapan Islam secara kaaffah tapi subuh dia nggak hadir di Masjid, jarang puasa senin-kamis, tahajjudnya setahun bisa dihitung jari, dan baca Al-Qur'an juga malas, semua hal dikiritik olehnya, sampai-sampai seolah tidak ada kebaikan pada orang lain bila tidak berdakwah tentang Khilafah.

Sama anehnya dengan orang-orang yang mengaku ikut kajian sunnah, senantiasa menganggap bahwa dirinyalah yang bertauhid, tapi tauhid ini tidak menyelamatkan saudaranya dari kekasaran lidahnya, dan bahkan tak memahami sunnah yang paling mudah yaitu menyenangkan saudaranya, mencintai saudaranya karena Allah, atau dia menganggap bahwa saudaranya hanya yang cingkrang celananya dan subur janggutnya, kalangannya saja.

Aneh juga seperti orang-orang yang merasa bahwa dirinya mengikuti tarbiyah dan metode rabbaniyyah Rasulullah, namun menganggap bahwa kerja itu hanya dengan politik dan parlemen, selain itu berarti tidak berdakwah dan tidak berjuang, berarti hanya penonton yang selalu dianggap salah dan tidak ada betulnya

Lebih anehnya lagi, ternyata sifat-sifat diatas itu ternyata ada pada diriku, itu aku.

Tapi zaman sekarang, ada juga orang-orang yang benar-benar sempurna tarbiyahnya, lembut tuturnya dan santun lisannya, sayangnya pada manusia tak dapat disembunyikan walau dengan cara apapun. Merangkul saudaranya satu demi satu, mempergauli mereka dengan ihsan, menjamu mereka layaknya tamu agung, rabbaniyyah sama semisal ajaran Rasulullah.

Di zaman ini juga kami temukan mujahid-mujahid yang cinta sunnah, rapat janggutnya serapat dalil yang kuat yang dia pelajari dengan serius, dia bersabar dalam memperbaiki diri juga memperbaiki orang lain, saat berjumpa dengan Muslim yang lain ia memberikan tatapannya yang paling teduh dan senyum yang paling manis, walau ilmunya jauh lebih tinggi, tapi ia selalu bisa menemukan cara untuk belajar pada saudaranya sesama Muslim, akhlaknya itu sunnah, tauhidnya ada pada akhlaknya.

Juga di zaman ini, pejuang Khilafah dan Syariah yang sangat mencintai sesamanya, dekat dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah, mencintai para ulama sebagaimana dia mencintai saudara-saudaranya, dia cinta pada sejarah Islam sebagaimana cinta pada bahasa Al-Qur'an, dia bukan hanya meramaikan Masjid, namun dialah yang memakmurkannya, siang harinya laksana singa dan malamnya seperti rahib, tak keluar dari lisannya kecuali ayat dan hadits, tak didengarnya kecuali kebaikan demi kebaikan.

Dan aku ingin sekali seperti mereka.

Kadangkala, kesedihan meliputiku saat aku mengetahui kebodohan diriku dan angkuhnya sikapku padahal aku kurang ilmu, disitu aku merasa kebangkitan Islam takkan Allah berikan padaku.

Tapi, saat aku melihat wajah-wajah yang bercahaya dengan ilmu, dan agung akhlaknya itu, aku tahu bisa jadi Allah memperhitungkan mereka untuk memberikan kebangkitan Islam, dan aku berharap aku dapat sedikit saja memiliki kemuliaan mereka, dengan mencintai mereka.

Ya Allah, satukanlah hati kaum Muslim..

[Oleh: Felix Siauw]

Senin, 11 Mei 2015

Di manakah posisi kita.. Apa Kiranya Perasaan..?

Di manakah posisi kita..

Apa Kiranya Perasaan..?

By Salim A. Fillah

▶ Apa kiranya perasaan Ash Shiddiq saat Nabiﷺ bersabda, “Andai kuambil kekasih di antara insan; pasti kujadikan Abu Bakr sebagai Khalilku”?

▶Apa kiranya perasaan ‘Umar, saat dia berpamit ‘umrah & Nabiﷺ bersabda padanya, “Jangan lupakan kami dalam doamu duhai saudara tersayang”?

▶ Apa kiranya perasaan ‘Utsman saat membekali pasukan Tabuk & Nabiﷺ bersabda, “Tiada bahayakan ‘Utsman apapun yang ia lakukan setelah ini”?

▶ Apa kiranya perasaan ‘Ali kala Nabiﷺ bersabda, “Hanyasanya kedudukanmu di sisiku laksana Harun di sisi Musa, tapi tiada Nabi sesudahku”?

▶ Apa kiranya perasaan Thalhah saat Nabiﷺ bersabda, “Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di atas bumi, lihatlah Thalhah”?

▶ Apa kiranya perasaan Az Zubair saat RasuluLlahﷺ bersabda, “Setiap Nabi memiliki Hawari, dan Hawariku adalah Zubair ibn Al ‘Awwam”?

▶ Apa kiranya perasaan Abu ‘Ubaidah saat Nabiﷺ bersabda, “Setiap ummat memiliki Amin, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu ‘Ubaidah”?

▶  Apa kiranya perasaan ‘Abdurrahman ibn ‘Auf saat dirinyalah dimaksud oleh sabda Nabiﷺ kepada Khalid ibn Al Walid, “Jangan cela sahabatku....Demi Allah andai kalian berinfak emas seberat gunung Uhud; hal itu takkan menyamai shadaqah segenggam atau setengah genggam tepungnya.”

▶ Apa kiranya perasaan Sa’d ibn Abi Waqqash saat Nabiﷺ bersabda, “Panahlah duhai Sa’d, panahlah! Ayah & Bundaku sebagai tebusan bagimu”?

▶ Apa kiranya perasaan Mu’adz ibn Jabal, di saat RasuluLlahﷺ bersabda padanya, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu”?

▶  Apa kiranya perasaan Ibn ‘Abbas, saat Nabiﷺ merengkuh & mencium kepalanya lalu berdoa, “Ya Allah faqihkan dia & ajarkan tafsir padanya”?

▶ Apa kiranya perasaan Ubay ibn Ka’b, saat Nabiﷺ berkata padanya, “Allah memerintahkanku tuk membacakan Surat Al Bayyinah ini kepadamu”..hingga dengan wajah berseri-seri dia bertanya, “Ya RasulaLlah; benarkah Allah menyebut namaku kepadamu?” & Nabiﷺ menjawab, “Benar!”?

▶ Apa kiranya perasaan Abu Musa Al Asy’ari, di saat Nabiﷺ bersabda, “Esok datanglah menjumpaiku, aku ingin mendengarkan bacaan Quran-mu”?

▶Apa kiranya perasaan ‘Aisyah, saat Nabiﷺ menyebut namanya tanpa ragu di urutan pertama, kala ditanya ‘Amr siapakan yang paling dicintai?

▶Apa kiranya perasaan Ibn Mas’ud, kala betis kecilnya ditertawakan; maka Nabiﷺ bersabda, “Betis itu di sisi Allah lebih berat dari Uhud”?

▶Apa kiranya perasaan ‘Ukasyah, saat disebut 70.000 orang masuk ke surga tanpa hisab & Nabiﷺ berkata, “Engkau termasuk di antara mereka”?

▶ Apa kiranya perasaan Bilal ibn Rabah, saat Nabiﷺ bersabda, “Ceritakan padaku hai Bilal, ‘amal apakah yang paling kau jaga dalam Islam..sebab sungguh aku mendengar bunyi terompahmu di surga?”, lalu dia menjawab tersipu, “Menjaga wudhu’ & dua raka’at syukur atas wudhu'”?

▶ Apa kiranya perasaan orang-orang Anshar, di kala Nabiﷺ bersabda, “Jika manusia memilih jalan melalui sebuah lembah, sedang kaum Anshar mengambil suatu celah, niscaya aku turut serta di celah yang dilalui para Anshar. Ya Allah rahmatilah Anshar & anak-cucu kaum Anshar”?

▶ Apa kiranya perasaan para sahabat semuanya, yang mereka berjumpa Nabiﷺ pada petang & pagi, berjalan mengiringi, beroleh senyum & doanya?

▶ Yang lebih penting dari itu semua; bagaimana dengan kita? Apa kiranya perasaan kita saat kelak bertemu Nabiﷺ & para sahabatnya?

▶ Adakah Nabiﷺ kan bersabda, “Kaliankah orangnya, yang telah membuatku menangis karena rindu, yang telah membuat para sahabatku cemburu”?
“Kaliankah orangnya; yang beriman kepada apa yang kubawa meski kita tak berjumpa; yang mengucap shalawat atas namaku meski tak bertemu?” Ini kami Ya Rasulallah; yang rindu tapi malu, membaca shalawat dengan lidah kelu; adakah kami layak jadi ummatmu, & beroleh syafaa’atmu?

▶ Ya Allah, limpahkan shalawat pada Muhammad saw, sampaikan salam kami padanya. Pula ridhaMu atas semua sahabat; jadikan kami bersama mereka.

▶ Ya Allah, jadikan kami bersama mereka. Amiin..

Silahkan Tinggalkan ODOJ

��Silahkan Tinggalkan ODOJ

“..Kami keluarkan kamu sebagai bayi, kemudian (dengan berangsur-angsur) kamu sampailah pada kedewasaan, dan di antara kamu ada yang diwafatkan dan (adapula) di antara kamu yang dipanjangkan umurnya sampai pikun, supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang dahulunya telah diketahuinya...” QS Al Hajj : 5

Kuntum tanpa tilas

Kuntum-kuntum itu berguguran...Helai-helai itu berjatuhan...Satu demi satu ODOJers meninggalkan barisan... namun ada yang terus bertahan dalam segala rintangan. Berusaha membersamai ODOJ hingga Allah memberlakukan takdir-Nya.

Manusiawi  jika ada keluhan, kelelahan, kejenuhan menyapa hati yang pasang surut. Tapi lelah, keluh dan jenuh tak akan betah bertahan jika kita tak membiarkannya berlama-lama di hati kita.

Memang Allah yang membolak-balikkan hati, tapi berada dalam gerbong ODOJ adalah suatu pilihan kebaikan. Tak ada paksaan ikut ODOJ, tapi seringkali kebaikan memang harus dipaksa.

Siapa pun pasti pernah terjatuh dan kalah... tapi selama kita punya Allah, siapa yang sanggup mencegah kita bangkit dari terpuruk ?

Kadang jawabannya adalah : diri kita sendiri yang menikmati keterpurukan.

Saat diri malas, saat kebeningan hati tergilas, saat kebesaran jiwa meranggas...paksa...paksa diri membuka mushaf. Tilawah !
Benamkan hati dalam indahnya firman-Nya.

Tapi jika tilawah tak mampu membuat malas lepas dari jiwa, coba buka terjemahan Al Quran. Baca artinya satu demi satu, dan jangan pernah memungkiri hati, jika di sana Allah menyapa. Pasti akan kau temui jawaban dari masalah yang kau hadapi. Namun seringkali buramnya hati tak mampu juga mengenali Allah sedang menyapa atau tidak.

Wadah dan Isi

ODOJ hanyalah wadah kebaikan. ODOJ hanyalah sarana pengantar keridhoan-Nya. ODOJ tak akan pernah rugi jika para pengisinya berguguran, sebab Allah in syaa Allah yang akan menjaga ODOJ. Allah yang akan mendatangkan pengganti jika ada yang berguguran, sebagaimana firman-Nya :

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah dan yang tidak takut celaan orang yang suka mencela. itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Allah maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” QS Al Maidah : 54.

Ada pilihan lagi : menjadi generasi ‘pengganti’ atau ‘yang tergantikan’ ?

Duhai, ODOJers salih-salihah...

Apa yang membuatmu lelah
Jika desah hatimu saja didengar oleh Allah

Apa yang membuatmu jengah
Jika kau punya Allah yang maha indah

Apa yang membuatmu lemah
Jika kau punya Allah yang maha gagah

Apa yang membuatmu menyerah
Jika Allah membekalimu dengan hamasah*

Apa yang membuatmu bertahan dalam gelisah
Jika telaga cinta-Nya selalu basah

Apa yang membuatmu putus asa karena masalah
Jika masalah adalah tangga kenaikan marhalah

Apa yang membuatmu marah
Jika hatimu kau bungkus qonaah

Apa yang membuatmu berbalik arah
Jika kau berpikir semua kebaikan adalah amanah

Apa yang membuatmu memilih lepas dari dakwah
Jika jiwamu pun tak ada sebiji zarrah

Istiqomah memang tak mudah
Istiqomah memang susah
Dan seringkali harus berlumur darah

Kalianlah kesatria peluncur panah
Panah kejayaan Islam yang tak boleh punah

Kalianlah tameng penjaga izzah
Walau kadang harus berkalang tanah

Tak akan pernah ada kata kalah
Selagi kekuatan bertumpu pada sajadah

ODOJ tak akan pernah berubah
Selagi kilau semangat itu menjangkau jannah

Silahkan tinggalkan ODOJ, salih-salihah... !
Jika sendiri lebih mampu membuatmu bertahan tanpa berjama’ah...